
Mobil yang ditumpangi Darren, Asya dan Jiyo berhenti di halaman rumah Edo. Suami istri itu menggandeng Doni sambil berjalan memasuki rumah.
"Mama," Asya langsung memeluk Ibunya yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Iya sayang. Mama senang kalian berkunjung." Irene membalas pelukan putrinya.
Setelah pelukan itu terlepas, gantian Darren yang mencium tangannya. Doni juga ikut menyalimi wanita itu.
"Anak tampan. Apa kabar, sayang?"
"Baik, Nek." Balas Doni.
Irene tersenyum. "Ayo,duduk!" Darren, Asya dan Doni langsung duduk bersama Irene. Posisi Doni paling dekat dengan Irene.
"Bagaimana sekolah baru mu?" Irene mengusap rambut Doni.
"Bagus, Nek."
"Sudah punya teman?"
Doni mengangguk. "Sudah, Nek."
"Boleh Nenek tahu namanya?"
"Roy." Jawab anak itu, polos.
"Roy anaknya Gio?" Irene menatap Asya dan Darren. Kedua orang itu mengangguk mengiyakan.
"Doni sayang, kamu sama Roy kan sudah kenal sebelum sekolah. Roy itu teman lama. Maksud Nenek, teman baru Doni."
"Tapi, Doni benar juga kan, Ma. Yang Mama tanya teman. Roy kan termasuk teman Doni juga."
"Hehehe... Iya. Seharusnya Mama tanya teman baru kan?" Asya mengangguk sambil tersenyum.
"Cuman Roy teman Doni?" Anak itu mengangguk.
"Nggak ada yang lain?" Lagi-lagi Doni mengangguk.
Darren dan Asya saling menatap. Yang dikatakan Carla dan almarhum Kakek Nenek Doni memang benar. Anak itu sulit untuk berbaur dengan orang lain.
"Nggak apa-apa. Nanti lama kelamaan juga punya teman selain Roy." Irene lagi-lagi mengusap lembut kepala Doni.
"Dimana Papa?" Tanya Darren. Lelaki itu tidak melihat Papa mertuanya dari tadi.
"Papa lagi mandi." Darren mengangguk mendengar jawaban Ibu mertuanya. Mereka kemudian berbincang-bincang, terutama Asya dan Irene. Ibu dan anak itu ada saja bahan obrolannya.
Setelah beberapa saat, Edo menghampiri mereka. Lelaki itu langsung mendekati putrinya. Edo memeluk Asya penuh sayang.
"Anak Papa. Kamu sama calon cucu Papa baik-baik kan?"
"Baik, Pa. Baik banget." Balas Asya sambil tersenyum.
__ADS_1
Edo melonggarkan pelukannya, lalu mengecup kening sang putri. Sontak tindakan Edo itu membuat Darren kesal. Jika ia tidak memikirkan kalau Edo adalah mertuanya, sudah pasti ia menarik lelaki itu menjauh.
Edo kemudian mendekat ke arah Doni yang duduk di samping istrinya. Lelaki itu duduk dan mengangkat Doni ke pangkuannya.
"Hai, boy. Cucu kakek yang paling tampan." Edo mengecup pipi Doni dengan gemas. "Bagaimana sekolahmu? Nggak ada yang jahatin kamu kan?"
"Enggak, Kek."
"Baguslah. Kalau ada yang jahat sama kamu, balas mereka lebih parah dari yang mereka lakukan."
"Papaaa..." Asya langsung menegur Papanya. Orang tua itu mengajar hal buruk pada Doni.
"Hehehe... Papa hanya bercanda, sayang." Balasnya. "Papa yakin, Doni anak yang nggak mudah di tindas. Dia pasti tahu caranya melawan orang berbuat jahat padanya." Ujar Edo.
"Dimana Jiyo?" Edo baru sadar, Jiyo belum ada di ruangan itu. Sebenarnya mereka ingin membicarakan pergantian pemimpin Yunanda Group sebelum mengadakan rapat di perusahaan nanti.
"Masih di perjalanan."
"Kalian menginap?" Irene menatap Darren dan Asya bergantian.
"Iya. Kita menginap. Iya kan, sayang?"
Darren mengangguk. "Ya, kita menginap. Aku ambil barang dulu di mobil."
"Eh, sayang. Biar pelayan saja." Tahan Asya.
"Nggak apa-apa. Aku saja." Darren mengusap lembut rambut Asya.
Saat Darren menutup bagasi, mobil Jiyo tiba. Lelaki itu berdiri menunggu Jiyo turun. Jiyo keluar dari mobilnya tanpa melirik Darren. Dia masih cukup kesal dengan sahabatnya itu. Setelah makan mangga muda yang disuruh Darren, dia mengalami sakit perut. Dan hari esoknya, dia tidak masuk kerja. Setelah masuk kerja, Jiyo dan Darren tak bertegur sapa kecuali urusan pekerjaan. Dan hari ini adalah hari ketiga mereka tidak saling menyapa.
Darren juga tidak berniat menyapa. Keduanya berjalan berjauhan.
"Akhirnya kamu datang." Ujar Edo saat melihat Jiyo. Lelaki itu menyalimi Edo dan Irene. Tangannya lalu mengusap rambut Doni.
Darren memberikan barang-barangnya pada pelayan, kemudian bergabung bersama mereka.
"Tidak biasanya Paman memanggilku kemari. Ada apa, ya?"
Edo menatap Darren. Saat menantunya itu mengangguk, Edo mulai berbicara. "Begini, Jiyo. Kamu tahu kan? Asya sedang hamil?"
"Tahu, Paman. Aku sudah jadi korban ngidam palsu Asya." Jawab Jiyo, melirik sinis Darren.
"Jangan diungkit, Jiyo."
"Memang benarkan?"
"Ya, aku minta maaf." Ucap Darren, tak ingin memperpanjang masalah.
"Lanjut, Paman. Maaf aku potong pembicaraannya." Ucap Jiyo. Mendengar ucapan maaf Darren tadi, sedikit membuat Jiyo luluh.
"Begini Jiyo, karena Asya hamil, Darren melarang Asya untuk bekerja. Paman juga setuju dengan keputusan Darren itu. Jadi, Paman ingin kamu yang membantu Paman untuk mengurus Yunanda Group."
__ADS_1
"Maksud Paman?"
"Maksud Paman, Paman ingin kamu menajadi CEO di Yunanda Group, menggantikan Asya."
"A-aku, Paman?"
"Iya."
"Ta-tapi... Ke-kenapa aku? Aku harus bekerja untuk Grisam Group."
"Tidak perlu bekerja untuk Grisam Group lagi." Timpal Darren.
"Kenapa? Kau marah karena aku kesal padamu?"
"Jiyo, apa yang kamu pikirkan? Darren nggak mungkin seperti itu." Ucap Asya.
"Ya, istriku benar. Kita sudah bersahabat sejak lama. Apa hanya karena masalah itu, aku mengeluarkan mu dari Grisam Group?" Jiyo terdiam, mendengar Darren. "Aku tahu, kamu punya kemampuan. Karena itu, aku sendiri yang memilihmu untuk membantu Papa mertua. Aku percaya padamu."
"Paman juga percaya padamu." Sahut Edo.
"Tante juga percaya padamu, Jiyo." Sambung Irene.
"Aku juga percaya padamu, Jiyo. Kamu lah orang yang paling ku percaya untuk bertanggung jawab pada Yunanda Group. Dan..." Asya menjeda ucapannya.
"Dan apa?"
"Dan kamu bisa ketemu terus sama Nita."
Jiyo terdiam. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Karena Paman dan kalian semua memaksa, aku setuju." Jawab Jiyo. Ia seolah mendapat angin segar mendengar nama Nita.
"Ingat Jiyo! Kamu dipilih untuk menjadi CEO Yunanda Group. Bukan untuk menggoda sekretaris CEO Yunanda Group." Ucap Darren.
"Iya. Aku bersungguh-sungguh menerimanya. Bukan karena niat untuk menggoda Nita. Aku akan melakukan pekerjaanku dengan baik. Aku tidak akan mengecewakan kalian, terutama Paman." Ucap Jiyo, sungguh-sungguh.
Mendengar jawaban Jiyo, semua tersenyum. Jiyo menatap Darren.
"Terima kasih." Jiyo langsung memeluk Darren, yang juga dibalas oleh lelaki itu.
"Kenapa harus terima kasih? Kita sahabat, keluarga."
"Maaf sudah membuat mu kesal."
"Nggak masalah."
***
Hari mulai gelap. Setelah makan malam, Jiyo berpamit pulang. Keluarga kecil itu kembali berbincang-bincang sebelum kantuk menyerang. Dan tanpa sadar, Doni yang ikut bergabung bersama mereka, sudah tertidur.
"Ternyata sudah tidur." Asya mengusap rambut Doni dengan lembut.
Darren menatap putranya itu. "Kalau begitu, kita cukup dulu. Sudah waktunya istirahat."
__ADS_1
Edo dan Irene mengangguk. Asya dan Darren pun bergegas menuju kamar, dengan Darren yang menggendong Doni.