
Setelah diperiksa dokter ginekologi, Asya di pindahkan ke ruang rawat VIP. Awalnya, Asya ingin pulang ke apartemen. Namun, Darren yang khawatir dengan kondisi sang istri, tidak membiarkan wanita itu kembali. Asya harus di rawat beberapa hari di rumah sakit.
Darrel mengajak Doni untuk makan siang di cafe yang berada tak jauh dari rumah sakit. Sekalian, Darren meminta Darrel mengantar anak itu pulang ke rumah Kakeknya. Setelah Asya sehat nanti, mereka akan menjemputnya kembali untuk menginap di apartemen beberapa hari, sebelum mereka kembali ke negara A.
Belum sempat langkah Darrel dan Doni memasuki cafe, handphone Darren bergetar.
"Paman angkat telpon dulu." Ucap Darrel, sambil mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Iya, paman."
Darrel segera menjawab telpon yang ternyata dari istrinya.
"Hallo, sayang?"
"Hallo. Sayang, bagaimana keadaan Asya?"
"Asya, baik-baik saja." Darrel meraih tangan Doni dan membawanya kembali ke mobil yang diparkir. Berada di dalam mobil lebih baik untuknya dan Doni, dari pada berbicara sambil berdiri di depan cafe.
"Syukurlah. Tapi, Doni bilang Asya berdarah."
"Ya. Asya mengalami pendarahan. Tapi, janinnya masih bisa tertolong."
"Janin? Maksudmu, Asya hamil?"
"Iya. Asya hamil. Sudah 7 minggu."
"Ya Tuhan, syukurlah." Ucap Aurel, bahagia.
"Kak Asya hamil, Kak Aurel?" Suara Alisha terdengar, bertanya pada Aurel.
"Iya, Asya hamil. Sudah 7 minggu." Jawab Aurel, dengan penuh rasa gembira.
Darrel dan Doni yang mendengar kata-kata bernada gembira dari Aurel dan Alisha pun tersenyum. Kedua perempuan itu terdengar sangat bahagia.
"Sayang, kapan Asya pulang dari rumah sakit?"
"Entahlah. Mungkin dua atau tiga hari lagi. Meskipun Asya bilang dia nggak apa-apa, Darren masih tetap khawatir. Jadi, dia memilih agar Asya di rawat di rumah sakit."
"Tadi, Ayah dan Ibu menelpon. Alisha memberitahu mereka. Jadi, Ibu dan Ayah akan datang. Kemungkinan Papa dan Mama akan datang juga. Tadi, mereka menelponku." Ujar Aurel.
Darrel menarik nafasnya. Jika para orang tua itu sudah memutuskan, dia tidak akan bisa menghalangi mereka.
"Sudahlah. Orang-orang tua itu nggak akan bisa kita hentikan. Berdoa saja, semoga mereka tiba dengan selamat."
"Iya." Jawab Aurel. "Oh ya, kamu udah makan?"
__ADS_1
"Ini, aku sama Doni udah di depan cafe."
"Doni sama kamu?"
"Iya."
"Astagaa... Maafin aunty, Doni. Aunty nggak tahu kalau kamu sama Paman. Maaf ya, udah buat kamu menunggu."
"Nggak apa-apa, aunty. Doni juga belum terlalu lapar."
"Kamu makan yang banyak, ya. Biar cepat tumbuh besar."
"Iya, aunty."
"Ya sudah, sayang. Aku tutup dulu."
"Iya."
"Doni, aunty tutup dulu, ya?"
"Iya, aunty."
Setelah penggilan terputus, Darrel dan Doni segera turun dari mobil. Darrel menggandeng tangan Doni, dan membawa anak itu masuk cafe.
***
Darren mengecup punggung tangan Asya. Asya tidak tahu lagi, ini kecupan yang ke berapa kalinya sejak ia dipindahkan ke ruang VIP.
"Aku masih nggak nyangka, dia udah 7 minggu berada disini." Kini tangan Darren bergerak mengusap perut Asya. Membuat Asya tersenyum manis ke arahnya.
"Berarti waktu aku cobain dress hamil dari tante Elisa itu, baby nya udah ada." Ucap Asya yang diangguki Darren. "Lucu, ya? Kita terus saja bilang semoga dia cepat ada. Dan kita nggak tahu kalau dia sudah ada. Jangan-jangan, dalam perut, anak kita bilang gini, 'Mama! Papa! Hei! Aku sudah ada di perut Mama. Kenapa kalian terus bilang somoga cepat ada? Huh! Mama dan Papa aneh!' Pasti anak kita bilang begitu." Ujar Asya, menirukan gaya anak kecil, yang sialnya, dia terlihat sangat imut di mata Darren.
Darren terkekeh. Ia mencondongkan tubuhnya, dan mengecup pipi istrinya. "Gemas sekali calon Ibu ini." Ujar Darren.
Asya tersenyum. Namun, beberapa detik kemudian, wajahnya berubah sendu. "Seandainya aku menyadarinya lebih cepat, dia nggak akan terancam seperti ini. Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama yang sudah lengah menjaga kamu." Ucap Asya, mengusap perutnya.
"Jangan terus menyalahkan dirimu. Jika kamu mengatakan itu, aku lebih buruk dalam menjaga kalian."
Asya menatap wajah suaminya. "Baiklah. Ini kesalahan kita bersama. Tapi, ayo sama-sama berjanji! Kita akan selalu melindungi anak-anak dan satu sama lain." Asya mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji. Aku yang akan menjadi perisai pertama untuk kalian." Ujar Darren, menautkan jari kelingkingnya pada jari Asya, yang lagi-lagi membuat wanita itu tersenyum.
"Oh ya, sayang. Kira-kira, aku ini bodoh atau apa? Tamu bulananku nggak datang sama sekali hampir dua bulan. Tapi, aku nggak sadar kalau itu karena aku hamil. Aku malah mengabaikannya dan menganggapnya hal biasa. Karena waktu kuliah aku pernah mengalami hal yang sama."
"Eeemm... Sepertinya, kamu bodoh deh, sayang." Ujar Darren, membuat Asya melotot padanya.
__ADS_1
"Kok bodoh sih?"
"Ya... Kamu kan yang tanya? Jadi, aku jawab."
"Ya, nggak bodoh juga sayang."
"Aku bilang bodoh karena kamu nggak bisa bedain. Tamu bulanan kamu telat datang yang sekarang sama yang waktu kuliah itu beda, sayang. Waktu kuliah, kamu belum punya suami. Kalau sekarang kamu udah punya suami. Apalagi, kita sering me... Shhh... Sakit, sayang."
"Nggak apa-apa. Ini baru ku cubit. Belum ku pukul."
Darren tersenyum. Ia lalu mengusap lembut pipi istrinya. "Ibu hamil nggak boleh marah-marah."
"Ya udah. Kalau nggak boleh marah, aku mau peluk." Asya pura-pura memalingkan wajahnya.
Darren tersenyum mendengar permintaan istrinya. Menggemaskan sekali melihat istrinya yang berpura-pura acuh ini. Apa beberapa minggu terakhir ini, sifat aneh Asya karena bawaan bayi mereka? Menepis pikiran itu, Darren kembali mencondongkan tubuhnya memeluk Asya. Namun, reaksi Asya membuat Darren mengerutkan keningnya. Wanita itu malah menahannya, seolah melarangnya untuk memeluk.
"Kenapa?"
"Aku nggak mau dipeluk seperti ini." Ujar Asya, manja.
"Lalu?"
"Aku mau, kamu juga ikut berbaring disini. Tidur sambil pelukan." Asya menunjuk tempat kosong disampingnya.
"Benaran? Nanti kamu sesak. Aku nggak mau kamu sama calon anak kita kenapa-kenapa."
"Enggak akan kenapa-kenapa. Tempatnya kan masih luas. Lagian, kamu udah janjikan, akan jagain kita. Jadi, kamu nggak mungkin nyakitin kita."
"Baiklah. Untuk istri dan calon anak tercinta." Ujar Darren, lalu menaiki ranjang pasien dan berbaring di samping sang istri. Keduanya saling berhadapan. Tangan Darren terulur memeluk istrinya. Pelukan hangat yang tidak begitu erat. Darren menyisakan ruang diantara mereka. Ia takut pelukan eratnya akan berdampak buruk pada calon anaknya. Dan sudah pasti akan berimbas pada sang istri juga.
Asya terkekeh melihat suaminya yang begitu berhati-hati. "Kamu kenapa, sayang?"
"Aku khawatir pelukanku akan menyakiti calon anak kita."
"Nggak akan. Ku rasa, ini juga yang dia mau. Peluk aku tanpa jarak. Tapi, jangan terlalu erat. Sama seperti yang kamu lakukan sekarang."
"Baiklah." Jawab Darren. "Nak, katakan saja apa yang kamu inginkan. Papa pasti akan berusaha memenuhinya." Lanjutnya yang membuat Asya terkekeh. Wanita itu lalu merubah suaranya seperti seorang anak kecil.
"Aku ingin tidur, Papa."
"Baiklah. Papa akan mengusap rambut Mama, hingga kamu dan Mama akan tertidur lelap."
Asya semakin terkekeh. Senang sekali melihat Darren ikut bercanda seperti ini. Ia lalu bergerak mengecup bibir suaminya.
"Selamat tidur, sayang." Ujarnya.
__ADS_1
"Selamat tidur, istriku." Balas Darren. Lelaki itu mengecup seluruh wajah istrinya. Dan beberapa saat kemudian, wanita itu sudah terlelap dalam pelukannya.
Terima kasih, Tuhan, sudah mengirimkan calon malaikat kecil untuk kami. Batin Darren.