Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 142


__ADS_3

"Kita ke perusahaan atau ke rumah mu?" pertanyaan Jiyo tak membuat Nita menoleh padanya. Gadis itu menatap keluar jendela tanpa satu kata yang terucap dari mulutnya.


Jiyo menarik nafas dan menghembuskannya. Ia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Apa hubungan Nita dengan sekretaris baru Darren itu.


Saat Jiyo hendak berbicara lagi, tiba-tiba handphone Nita berdering. Dengan malas gadis itu menatap handphonenya. Namun saat nama 'Rumah sakit' yang tertera di layar handphonenya, Nita menegakkan badannya. Jantungnya berpacu cepat seiring gerakan jarinya yang menekan tombol hijau, menjawab telpon tersebut.


"Hallo."


"Hallo, nona Nita. Keadaan Ibu anda kritis. Nona diminta untuk segera ke rumah sakit."


"Iya, Sus."


Jiyo yang mendengarnya menoleh. Wajah pucat Nita yang semula sudah mulai menghilang kini kembali muncul. Bahkan tangan gadis itu gemetaran.


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit."


Nita mengangguk. "Maaf merepotkan tuan."


"Nggak masalah."


Jiyo memacu mobil lebih cepat. Sesekali ia melirik Nita yang tidak tenang di kursinya. Setelah beberapa menit, mereka tiba. Nita keluar dan segera berlari ke ruangan sang Mama.


"Nita!!" panggilan Jiyo tak ia hiraukan. Yang ada di pikirannya adalah segera sampai di ruangan Ibunya.


Jiyo juga ikutan berlari mengejar Nita hingga akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan, tepat di sebelah Nita. Ia melirik gadis itu. Satu tetes air mata menetes di pipi Nita.


"Nggak apa-apa, Mama kamu pasti baik-baik saja." Jiyo mengusap air mata Nita, lalu menarik gadis itu dalam pelukannya. Melihat Nita menangis, ia juga merasakan sakit.


"Aku takut..." lirih Nita.


"Nggak apa-apa. Semua akan baik-baik saja." Jiyo mengusap lembut rambut Nita.


Ceklek...


Dokter keluar dari ruangan tersebut dan menghembuskan nafasnya. Segera Nita melepas diri dari pelukan Jiyo dan mendekati dokter.


"Bagaimana keadaan Mama saya, Dok?"


"Syukurlah. Ibu anda sudah melewati masa kritisnya."

__ADS_1


Nita menghembuskan nafasnya. Rasanya sebagian beban dalam hatinya terlepas. "Apa saya bisa melihatnya sekarang."


"Ibu anda masih dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya, Nona. Tapi, anda boleh melihatnya."


"Terima kasih, Dok."


Setelah mendapat anggukkan dari Dokter, Nita langsung memasuki ruang rawat Ibunya. Jiyo juga ikut masuk.


Air mata Nita kembali meluncur saat melihat sang Mama yang terbaring tak sadarkan diri. "Ma, Mama yang kuat, Ma. Nita nggak punya siapa-siapa lagi. Hanya Mama satu-satunya yang Nita punya." Gadis itu menggenggam tangan Mamanya.


Jiyo yang melihatnya merasakan hatinya sakit. Ia tak menyangka, dibalik sifat Nita yang acuh dan terlihat kuat, tersimpan sisi lain Nita yang rapuh.


"Tuan, hari ini saya izin nggak masuk kerja." Nita menatap Jiyo yang berdiri di sampingnya.


Jiyo menghembuskan nafasnya pelan. Nita kembali bersikap formal padanya. "Ya, aku juga masih ingin disini."


Nita tak menjawab lagi. Gadis itu menarik kursi dan duduk di sebelah brankar Ibunya. Tangannya masih terus menggenggam tangan sang Mama. Jiyo bergerak duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.


"Sebenarnya, Mama kamu kenapa?" Nita terdiam. Dirinya seolah tidak ingin mencaritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Mamanya. "Kalau kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa," lanjut Jiyo.


Lagi-lagi Nita hanya diam. Matanya terus fokus pada sang Mama yang tengah berbaring.


"Mama mu pasti akan sadar. Kamu yakin lah."


"Saya selalu yakin kalau Mama akan kembali seperti semula. Tapi, keyakinan saya selalu goyah saat Mama mulai kritis."


Jiyo terdiam seraya menatap Nita yang masih fokus menatap Mamanya. Dalam hatinya berjanji, dia akan memberikan yang terbaik untuk perawatan Ibu Nita.


***


Malam semakin pekat. Di dalam kamarnya, Alisha masih belum memejamkan mata. Dia terus terdiam dengan berbagai macam pikiran yang memenuhi otaknya.


Bukan hanya Alisha. Alula, Asya dan Aurel juga masih terjaga dalam kamar masing-masing. Alula mencemaskan suami dan kedua putranya yang masih belum kembali, begitu juga dengan Alula dan Aurel yang mencemaskan suami-suami mereka dan sang ayah mertua.


Bedanya, Alula mengetahui apa yang mereka lakukan sementara Asya dan Aurel tidak tahu apa-apa, begitu juga dengan Alisha yang terus penasaran sejak pertama kali ayah dan kedua kakaknya pergi.


"Apa aku telpon kak Darrel aja, ya?" gumamnya. "Tapi, kak Darrel pasti nggak akan angkat. Ck. Menyebalkan sekali."


Alisha beranjak keluar menuju dapur. Tapi, langkahnya kembali ia hentikan sebelum ia meraih gagang pintu. Ia berbalik dan menghempaskan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan, terjadi sesuatu di kantor sampai ayah sama kak Darren dan kak Darrel belum pulang di jam segini? Tapi, kenapa Ibu nggak ngomong apa-apa?"


Alisha menarik nafasnya dan menghembusnya pelan. Gadis itu berguling-guling di ranjangnya. Dan tanpa terasa, ia memejamkan matanya dan tertidur.


Pukul 5 pagi, Alisha maupun Doni sudah terbangun. Setelah siap-siap, keduanya bersama menuju ruang makan.


"Ayah," Alisha langsung berlari ke arah Gara. Dia sangat khawatir pada Ayahnya semalam. "Ayah sama Kakak kembar kemana semalam? Alisha khawatir," ucapnya masih memeluk leher Gara yang duduk tegap di kursi meja makannya.


"Ayah sama kedua Kakak mu ada urusan. Kita baik-baik saja semalam. Lihatkan? Nggak ada luka atau apa."


Sementara Doni, dia juga berlari mendekati Darren, dan memeluk lengan Darren. "Papa," panggilnya pelan. Sontak Darren mengangkatnya dan mendudukkan anak itu di pangkuannya. Darren mengecup kepala putranya sekali, lalu menatap wajah polos yang terus menatapnya.


"Kamu nggak tidur semalam?"


Doni menggeleng. "Aku tidur, Pa."


"Lalu, kenapa matamu menjadi mata panda seperti ini?" pertanyaan Darren berhasil membuat Doni gelagapan. Wajah polosnya yang lucu, membuat semua yang ada di meja makan terkekeh.


"Doni nggak bisa tidur, Pa. Semua orang khawatir sama Papa sama Kakek juga Paman. Doni juga khawatir. Doni takut terjadi sesuatu pada Papa, Kakek dan Paman."


"Paman sama Papa dan Kakek orang-orang kuat. Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu tenang saja," ucap Darrel sambil menekuk tangannya, memperlihatkan otot lengannya.


"Kakek Doni dulu juga bilangnya kuat dan akan terus tinggal di sisi Doni. Tapi, Kakek malah tinggalin Doni. Nenek juga tinggalin Doni sama Mama Carla." Doni menunduk sendu. Semua yang ada di meja makan terdiam mendengar ucapan anak kecil itu.


"Sudah-sudah. Ayo, kita sarapan dulu. Ayo, cucu Kakek sarapan dulu." Gara mengusap kepala Doni yang duduk berdekatan dengannya. "Kapan-kapan kita jalan-jalan. Doni, Kakek sama Nenek," lanjut Gara.


"Yang lain enggak, Kek?"


"Enggak. Hanya kita bertiga. Doni mau kemana aja, Kakek sama Nenek akan temani."


Doni menatap ke arah Alula. "Benaran, Nek?"


"Iya, sayang. Sekarang sarapan dulu, ya?"


"Iya, Nek."


Doni bergerak turun dari pangkuan Darren hendak ke kursinya. Namun, Darren menahannya dan meminta anak itu tetap duduk di pangkuannya. Darren juga menyuapi Doni sarapan. Senyum mengembang terukir di bibir setiap orang yang ada di meja makan tersebut. Darren menunjukkan sisi lembutnya sebagai seorang Ayah.


Asya yang berada tepat disampingnya merasa sangat bahagia. Suaminya, meski berwajah dingin, tapi menghangatkan hati dengan perhatian dan kasih sayangnya.

__ADS_1


__ADS_2