Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 42


__ADS_3

Hari-hari terus berganti. Sesuai yang Edo dan Gara rencanakan. Setelah kepulangan Darren dan Asya dari meninjau lokasi proyek, mereka akan melangsungkan liburan mereka. Gara dan Alula juga Edo dan Irene. Dua pasang suami istri yang tidak lagi muda itu akan berlibur di negara L.


"Ayah sama Ibu senang-senang ya, disana. Jangan lupa bawain oleh-oleh buat Alisha."


"Iya, sayang." Balas Gara.


"Sini, peluk Ibu sama Ayah." Alisha langsung memeluk Ibu dan Ayah nya.


Setelah Alisha, Darren memeluk Ayah dan Ibunya. "Hati-hati." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Darren. Laki-laki itu kemudian melepas pelukannya.


Darrel berdiri diantara kedua orang tuanya, lalu memeluk mereka bersamaan. Tubuhnya berada di tengah-tengah antara Gara dan Alula. Ia menolehkan kepalanya hingga berada tepat di telinga Gara.


"Ayah, ini kesempatan untukmu. Aku tahu, ini bulan madu berkedok liburan. Tapi, aku tidak keberatan memiliki satu adik lagi." Bisiknya membuat sudut bibir Gara terangkat membentuk senyuman kecil.


Darrel lalu kembali meluruskan kepalanya, dengan senyum jailnya, ia mengucapkan sesuatu.


"Aku harap bisa mendapatkan adik bayi dari hasil liburan kalian." Bisiknya lalu melepas pelukannya.


Wajah Alula langsung memerah mendengar ucapan Darrel. Sementara Gara tersenyum senang dan bisa dikatakan sangat bersemangat.


"Ayah akan usahakan."


"Gara!"


"Apa, sayang?"


"Menyebalkan." Kesal Alula. Ia lalu menatap putra putrinya. " Ibu sama Ayah berangkat dulu. Kalian baik-baik di rumah."


"Iya, Bu." Jawab mereka serentak.


"Kalau ada apa-apa, cepat beritahu Ayah."


"Iya, Yah." Lagi-lagi mereka menjawab dengan kompak.


Setelah mobil yang ditumpangi Alula dan Gara tak terlihat lagi, Darren, Darrel dan Alisha segera memasuki rumah.


"Kak, apa yang Kakak katakan pada Ayah sama Ibu?" Tanya Alisha, penasaran.


"Nggak ada. Hanya candaan kecil. Anak kecil sepertimu gak perlu tahu."


"Ck. Kakak nyebelin!" Ucap Alisha sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat si kembar tersenyum gemas melihatnya.


***


Alisha langsung menuju kelasnya tanpa peduli apa yang Darrel bicarakan pada Axel. Akhir-akhir ini, ia melihat Darrel mulai dekat dengan Axel. Ia yakin, Kakaknya itu tidak akan mencelakai Axel.


"Tumben Nadia sama Yana gak datang pagi-pagi." Gumamnya sambil mengalihkan pandangannya ke depan.


Deg... Tubuh Alisha membeku saat melihat Hardi berdiri di depan sana, tak jauh darinya. Dengan segera Ia berbalik dan hendak lari. Namun, Hardi lebih cepat menjangkaunya.


"Hardi, lepasin aku!"


"Huh. Jangan harap!" Ujarnya, lalu menyeret Alisha pergi.


Alisha benar-benar ketakutan sekarang. Keadaan sekolah masih cukup sepi pagi ini.


"Hardi! Lepaskan!" Tegas Alisha.


"Nggak akan!"


"Hardi! Kenapa kamu terus menggangguku? Aku... Apa aku ada salah sama kamu?"


"Nggak ada!" Hardi semakin menarik Alisha. Tangannya dengan sangat erat mencengkram tangan Alisha. Membuat gadis itu merasa sakit.


"Hardi. Shhh... Sakit!"


"Diam!!" Bentaknya. "Lo pantas dapat ini semua! Gue benci sama lo!" Wajah Alisha berubah pucat saat di bentak Hardi. Ini kali pertama ia mendapat bentakkan dari seseorang.


Sementara di koridor sekolah, Axel mengedarkan pandangannya mencari Alisha. Dia sudah tiba di kelas, namun tidak mendapati Alisha ataupun tasnya disana.


"Lo liat Alisha gak?" Axel menahan seorang siswi. Membuat gadis itu terkejut.


"A-Alisha ditarik Hardi ke arah sana." Ucapnya sambil menunjuk ke arah Hardi membawa Alisha.


"Sial!" Umapat Axel, kemudian berlari ke arah yang ditunjuk. Gadis yang memeberitahu Axel bergidik saat melihat wajah penuh amarah Axel.

__ADS_1


"Benar-benar menakutkan." Gumamnya lalu pergi.


Axel mengedarkan pandangannya. Tidak ada Alisha di belakang sekolah tersebut. Saat dia akan melangkah pergi, terdengar teriakkan dari arah kiri.


"Hardi! Lepaskan!"


"Nggak-nggak! Jauhkan hewan itu dariku!"


Dengan cepat Axel ke sumber suara. Wajahnya semakin menggelap saat melihat Alisha yang duduk di kursi dengan tangan dan kaki yang di ikat. Dan lagi, Hardi mendekatkan seekor ular yang melilit tangannya yang bersarung tangan pelindung, kepada Alisha.


"Hardi!" Geram Axel dan langsung menghajar Hardi.


Bugh... Tubuh Hardi tersungkur. Ular di tangannya tak terlepas.


Axel menatapnya dengan garang. Ingin sekali dia menerjang Hardi dan memukulnya sampai babak belur. Tapi, Alisha lebih penting untuknya sekarang.


Axel bergerak cepat membuka ikatan Alisha. Setelah semuanya berhasil ia membawa Alisha pergi. Tapi sebelum itu, dia menendang kaki Hardi, membuat lelaki itu hanya bisa meringis. Dia tahu kemampuan Axel, dan dia tidak bisa menandinginya. Daripada wajah tampannya rusak parah, lebih baik hanya sedikit memar.


Gue memang gak punya kekuatan fisik kayak lo. Tapi, gue punya otak yang masih kuat berpikir untuk menyakiti Alisha.


***


Sejak pulang sekolah, Alisha terus mengurung dirinya di kamar. Itulah informasi yang Darren dan Darrel dapatkan saat pulang kantor. Kedua laki-laki itu langsung menuju kamar Alisha.


Tok... Tok... Tok...


"Dek!" Panggil Darren.


Tok... Tok... Tok...


"Dek! Alisha! Buka pintunya dek!"


Tidak ada sahutan dari dalam membuat Darrel ingin mengetuk lagi. Saat tangannya terangkat dan hendak menyentuh daun pintu, Alisha membuka pintunya.


Ceklek...


"Ada apa, Kak?" Tanyanya dengan wajah bantalnya.


"Kamu mengurung diri?" Tanya Darren, tanpa basa-basi. Alisha melototkan matanya. Kenapa Kak Darren nya yang tampan ini sangat kaku?


Alisha menarik nafasnya. "Aku nggak apa-apa. Kakak gak perlu khawatir. Aku hanya sangat lelah, dan ingin tidur sepanjang hari."


"Tanpa makan?" Darren menatap adiknya itu. Dia sangat tidak suka jika Alisha melewatkan makannya.


"Dek. Sekarang turun dan makan! Okey?" Ucap Darrel menepuk pelan kepala Alisha. Gadis itu mengangguk. Darrel kemudian berlalu ke kamarnya.


Darren masih berdiri menatap adiknya. Tangannya lalu terulur mengusap rambut Alisha. "Kakak akan mendengarkanmu saat kamu siap bercerita." Ujar Darren. Alisha tersenyum dan kembali mengangguk. Setelah itu, Darren juga berlalu dari hadapan Alisha.


Di kamarnya, Darrel meraih handphone dan mengirim pesan pada Axel. Beruntung mereka sudah bertukar nomor ponsel.


^^^Darrel ^^^


^^^Alisha mengurung diri dari ^^^


^^^pulang sekolah sampai malam. ^^^


^^^Apa yang terjadi? ^^^


Axel


Alisha diganggu Hardi.


^^^Darrel ^^^


^^^Siapa Hardi? ^^^


Axel


Nggak tahu.


^^^Darrel ^^^


^^^Kenapa baru memberitahuku ^^^


^^^sekarang? ^^^

__ADS_1


Axel


Alisha gak bolehin gue


bocorin soal itu.


^^^Darrel ^^^


^^^Nah. Kenapa sekarang ^^^


^^^kamu bocorin? ^^^


Axel


Karena lo tanya.


Gue janji bakal kasi tahu lo


apa yang gue tahu saat lo tanya.


Darrel menarik nafasnya. Dia ingat jika tadi dia mengatakan agar Axel memberitahu semua yang ia tanyakan. Karena dia sudah berjanji, jadi dia menepatinya.


^^^Darrel ^^^


^^^Kamu juga janji kan ^^^


^^^sama Alisha. ^^^


Axel


Gue diam.


Darrel kembali menarik nafasnya. Mengesalkan sekali berbalas pesan dengan Axel.


^^^Darrel ^^^


^^^Ya, sudah. Gue mau ^^^


^^^temuin Alisha. ^^^


Axel


Hmm


Darrel melotot garang pada layar hp, seolah-olah layar itu adalah Axel.


"Apa dia nggak takut aku bilang ke Alisha jika dia yang memberitahuku soal penyebab Alisha mengurung diri? Ck. Benar-benar si Axel." Gumam Darrel.


"Tapi, aku jadi heran. Kenapa sifat Axel dan Darren bisa sama? Aku yang kembaran Darren saja nggak sama." Imbuhnya.


"Sudahlah. Aku harus memberitahu Darren soal ini." Darrel segera ke kamar Darren. Dia menceritakan semuanya pada Darren.


"Axel?" Tanya Darren setelah Darrel menceritakan semuanya.


"Ya. Kenapa? Ada masalah? Axel anak baik, Darren."


"Ya."


"Ya? Maksudnya?"


"Axel anak baik."


"Kau juga mengakuinya. Sekarang juga ayo, kita cari tahu siapa Hardi itu?"


"Temani Alisha makan dulu. Untuk masalah Hardi, aku akan mengurusnya."


"Ya, aku setuju. Aku juga akan menempatkan kembali pengawal-pengawal di dekat Alisha."


"Ya."


"Aku akan menempatkan Axel juga untuk menjaga Alisha di lingkungan dalam sekolah. Nggak mungkin para pengawal mengikuti Alisha ke kelas."


"Ku serahkan padamu. Besok, suruh Axel ke kantor setelah pulang sekolah."


"Baiklah. Ayo, ke ruang makan!"

__ADS_1


Darren dan Darrel segera menuju kamar Alisha, mengajaknya makan. Mereka turun bersama menuju ruang makan. Tidak ada diantara Darren dan Darrel yang menyinggung soal Hardi. Mereka tidak ingin membuat Alisha mengingat kejadian di sekolah tadi.


__ADS_2