
Darrel menatap seorang yang ada di depannya. Begitupun dengan orang tersebut. Matanya tak berkedip. Tubuhnya ikut menegang melihat sosok Darrel yang ada di depannya. Hingga beberapa detik kemudian, dia tersadar. Dia menundukkan kepalanya menatap troli makanan yang ia dorong.
"Maaf, tuan. Ini pesanan anda." Gadis itu mengangkat makanan dan memberikannya pada Darrel.
Mata Darrel masih melekat menatapnya. Tangannya terangkat, bukan untuk meraih makanan, tapi dia mencekal tangan gadis itu.
"Tuan, ap..."
"Aurel," Suara Darrel pelan, namun terdengar dingin.
Mendengar namanya disebut, gadis itu menatap mata Darrel. Dengan suaranya yang lembut namun tegas, ia menjawab Darrel.
"Anda salah orang. Aku bukan Aurel."
"Kau ingin membohongiku?"
"Tidak. Aku memang bukan Aurel."
"Aku mengenalmu dengan baik." Darrel berkata serius.
Mata gadis itu berkaca-kaca. Jika kau mengenaliku dengan baik, kenapa kau begitu dingin saat bertemu aku waktu itu? Batin Aurel.
"Aurel,"
"Aku bukan Aurel!!" Gadis itu sedikit berteriak membentaknya.
"Aku tahu kau berbohong. Aku yakin kau adalah Aurel. Aku sangat mengenalmu."
"Jika kau sangat mengenaliku, kenapa kau begitu dingin padaku waktu itu!! Kau begitu acuh saat bertemu dengan ku!!" Gadis itu kembali berteriak di depan Darrel. Ia menghempaskan tangan Darrel, dan kembali meraih trolinya.
"Maaf telah meneriaki mu, tuan. Ini makanannya. Saya permisi." Aurel mendorong troli makanannya, menjauh dari Darrel.
Darrel hanya terdiam mendengar perkataan Aurel. Ingin mengejar gadis itu. Namun, kakinya seolah merekat pada lantai dan tidak bisa digerakkan. Darrel berbaik dan menutup pintunya sedikit kasar. Sambil membawa makanannya, Darrel menuju sofa. Meletakkan makanannya di atas meja, lalu terduduk bersandar di sofa.
"Bersikap dingin padanya? Kapan? Aku bahakan tidak pernah bertemu dengannya setelah kelulusan. Dia seperti menghilang begitu saja. Apakah dia pernah bertemu Darren?" Gumam Darrel.
"Akhhh... Aurel. Kenapa kau bekerja seperti ini? Bukankah keluargamu memiliki perusahaan? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Gumamnya lagi, sambil mengacak rambutnya.
Darrel melirik makanan yang ada di atas meja. Rasa laparnya lenyap begitu saja. Ia tidak berselera lagi. Tubuhnya pelan-pelan merosot diatas sofa. Ia memejamkan matanya. Hingga tanpa sadar, dia benar-benar kembali tertidur.
***
Sejak hari dimana Darrel dan Jiyo memukul telak dirinya dengan banyak kenyataan yang ia lakukan untuk Asya, sejak itu pula Darren terus memikirkan tentang perasaannya.
Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menengadahkan kepalanya. Mengingat perkataan Darrel jika Asya memiliki masalah di kampusnya dan juga, memiliki banyak teman laki-laki, membuat Darren merasakan emosinya.
Sementara di lobi kantornya, Naomi masih berdebat dengan dua karyawan resepsionis. Dia terus memaksa untuk menemui Darren.
"Maaf, nona. Anda tidak diizinkan menemui tuan muda tanpa membuat janji terlebih dahulu." Kata karyawan pertama.
"Ck. Sudah ku bilang. Aku tidak perlu membuat janji!" Bantaknya.
"Seharusnya nona sudah tahu prosedur perusahaan. Nona juga bekerja di perusahaan kan? Kenapa nona memaksa seperti ini?" Ucap karyawan kedua.
"Cih. Kalian hanya karyawan rendahan. Kenapa kalian sangat sombong?"
"Nona juga bukan orang penting di perusahaan ini. Kenapa nona sangat angkuh?" Karyawan kedua tidak bisa bersabar lagi. Emosinya benar-benar tersulut oleh tingkah memaksa Naomi.
"Ada apa ini?" Suara rendah yang begitu datar terdengar. Membuat ketiga wanita tersebut menoleh ke sumber suara. Sementara, beberapa karyawan yang menonton kembali ke tempatnya masing-masing.
"Tuan sekretaris." Dua karyawan tersebut berkata bersamaan sambil membungkukkan badan mereka.
"Ada apa ini?" Jiyo mengulangi pertanyaannya.
"Maaf, tuan. Nona ini memaksa untuk bertemu tuan muda. Tapi, dia belum membuat janji, tuan." Ucap karyawan kedua dengan lantang. Membuat Naomi mendelik tajam ke arahnya.
Jiyo mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia lalu mengeluarkan handphonenya dan menelpon Darren.
"Hallo, tuan."
"Katakan."
"Nona Naomi ingin bertemu anda."
Keadaan menjadi hening. Jiyo juga ikut terdiam sambil menanti jawaban Darren.
"Bawa dia kemari!"
Senyum mengembang langsung muncul di bibir Jiyo saat mendapat jawaban Darren. Dengan cepat, ia membalas ucapan Darren.
__ADS_1
"Baik, tuan."
"Lihatlah! Sekretaris Jiyo saja tersenyum mendukungku. Aku rasa, Darren mengizinkanku menemuinya." Bisik Naomi begitu sombong pada kedua karyawan tersebut.
Jiyo menyimpan kembali handphonenya dan mendekati Naomi. "Mari, nona. Akan saya antar ke ruangan tuan."
"Baiklah." Balas Naomi, sambil melirik kedua karyawan tersebut. Ia kemudian pergi bersama Jiyo.
"Semoga saja tuan membentaknya dan mengusirnya!" Ucap karyawan kedua.
"Kita lihat saja hasilnya. Ayo, kembali bekerja." Karyawan pertama masih begitu mampu mengendalikan emosinya.
Naomi menghentikan langkahnya saat Jiyo menuntun ia ke lift karyawan. Jiyo berbalik menatap Naomi yang berdiri diam di tempat.
"Kenapa berdiri disitu?" Tanya Jiyo dengan kening mengerut.
"Itu bukan lift yang Darren gunakan."
Jiyo tersenyum miring. "Huh. Nona, kau harus tahu. Lift yang tuan gunakan hanya khusus untuknya. Karena nona bukan klien atau tamu yang membuat janji dengan tuan, nona hanya bisa menggunakan lift karyawan." Ucap Jiyo dengan senyum setengah mengejek.
"Mari, nona!" Jiyo menggerakkan tangannya mempersilakan Naomi masuk lift. Gadis itu mendengus kesal lalu berjalan masuk.
Haaah, akan ada hal menyenangkan yang terjadi. Batin Jiyo.
Lift berhenti di lantai teratas gedung tersebut. Jiyo keluar bersamaan dengan Naomi.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi, tuan. Saya sudah membawa nona Naomi."
"Masuk!" Balas Darren dari dalam.
"Silakan, nona. Saya hanya mengantar anda sampai disini. Selanjutnya urusan nona dan tuan."
"Ya. Aku juga lebih suka jika hanya kami berdua yang ada di dalam." Jawab Naomi, sombong. Ia mendorong pintu lalu masuk.
Cih. Sombong sekali. Akkhhh... Aku nggak sabar lihat ekspresi Naomi saat keluar nanti. Batin Jiyo tersenyum senang.
Naomi berjalan mendekati Darren dengan gaya sensual. Ia berdiri tepat di depan meja Darren.
Darren menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Matanya dingin menatap Naomi.
Naomi tersenyum manis. Namun, terlihat memuakkan bagi Darren.
"Kamu begitu terburu-buru. Setidaknya, pesilakan aku duduk terlebih dulu. Aku ini tamu mu." Ucap Naomi. Tangannya bergerak melepaskan blazer yang ia kenakan. Menggantungnya di kursi, menyisakan dalaman yang agak terbuka di bagian dadanya.
Senyum Naomi mengembang saat Darren tak memalingkan wajahnya. Meski sorot matanya dingin, tapi ia yakin, Darren pasti tergoda.
Kamu akan menjadi milikku, Darren. Batinnya.
Darren masih terus menatap Naomi. Tatapannya masih tertuju pada satu titik sejak tadi. Wajah Naomi.
Jidatnya jelek. Wajahnya juga jelek. Batin Darren.
"Kenapa kamu terus menatapku?" Tanya Naomi, sedikit menunduk malu. "Apa aku lebih cantik saat melepas blazer ini?"
Cih. Menjijikkan.
"Katakan saja. Kenapa kau kemari?"
Huh. Kamu sudah tergoda padaku, tapi masih bersikap angkuh? Baiklah, aku akan menceritakan sesuatu tentang Asya. Semoga cerita ku ini bisa menghancurkan hubungan kalian.
"Baiklah. Aku mau memberitahumu sesuatu. Semalam, aku memergoki Asya berjalan dengan seorang laki-laki. Mereka bergandengan tangan."
"Memergoki, atau kau mengikutinya?"
"Hah? Y-ya, bisa dibilang aku mengikutinya." Jawabnya, gugup. "Ekhm... Semalam aku melihat Asya berjalan bersama seorang laki-laki. Aku juga tidak tahu, kemana Asya dan laki-laki itu pergi. Aku kehilangan jejak mereka. Yang jelas, Asya pulang pukul 3 pagi. Ku rasa, dia menghabiskan malamnya dengan laki-laki itu."
Cih. Cerita murahan. Decih Darren dalam hati.
Naomi kembali tersenyum senang saat melihat wajah Darren yang semakin dingin. Rahang Darren yang mengeras dan tangan Darren yang terkepal kuat membuat Naomi bersorak dalam hati. Ia yakin, amarah Darren akan meledak saat bertemu Asya. Dan dari situlah, hubungan mereka akan hancur.
"Kemarilah!" Darren menjentikkan jarinya agar Naomi mendekat. Hal itu membuat Naomi terpekik senang dalam hati.
Dengan senyum mengembang, Naomi mendekati Darren.
Plak
"Darr..."
__ADS_1
Plak
"Darr... Akkhh..." Darren menarik rambut Naomi.
"Akhh... Darren. Ap-apa yang kamu lakukan?" Kedua tangan Naomi mengenggam tangan Darren, berusaha melepaskan tangan itu dari rambutnya.
"Huh. Apa yang saya lakukan? Kau membuat banyak kesalahan hari ini. Jadi, ini hukumannya." Bisik Darren, semakin menarik rambut Naomi, hingga kepala gadis itu mendongak.
"Akkhh... Lepaskan, Darren!"
Darren mengabaikannya. "Kau tahu, apa saja kesalahanmu?"
"Akhh... Darren. Lepaskan tanganmu. Kepalaku sangat sakit."
"Kesalahan pertama," Darren berkata seolah tidak mendengar ucapan Naomi. "Kau tidak mematuhi peraturan saya." Darren lagi-lagi menarik rambut Naomi.
"Akhhh..."
"Berhentilah bersuara!" Bentak Darren, membuat Naomi bungkam. Ia menggigit bibirnya, menahan rasa sakit. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Kesalahan kedua, kau melawan kedua karyawan saya."
"Darr..."
"Ketiga, kau tidak menghargai Jiyo."
"Lepaskan Darr..." Suara Naomi kembali terhenti saat sebelah tangan Darren bertengger di lehernya.
"Sekali lagi kau bersuara, saya akan mencekikmu!" Ucap Darren.
Naomi menahan nafasnya. Darren benar-benar menakutkan. Dia harus menahan suaranya agar tidak terdengar lagi. Dia masih ingin hidup.
"Keempat, kau berusaha menggoda saya. Huh, kau pikir, saya tertarik? Cih. Jidatmu sangat jelek. Begitupun wajahmu!"
"Dan terakhir," Darren mulai mengeraskan tangannya yang ada di leher Naomi. Membuat gadis itu melotot.
"Da..."
"Masih ingin hidup?" Pertanyaan itu membuat Naomi berhenti bersuara. Darren kembali menekan leher Naomi dengan tangannya. Membuat wajah gadis itu perlahan tegang dan memucat.
"Yang terakhir, kau merendahkan Asya. Kesalahan paling fatal yang kau lakukan. Kau tahu, Asya memang keluar semalam. Lelaki yang bersamanya, adalah suruhan saya. Saya dan Asya berada di tempat yang sama semalam. Dia kembali sebelum pukul 11 malam. Saya sendiri yang mengantarnya." Darren mendorong tubuh Naomi setelah menyelesaikan ucapannya.
Tubuh gadis itu tersungkur di lantai dengan nafas tersengal. Naomi meraup banyak oksigen setelah di cekik oleh Darren.
Darren yang banyak bicara lebih menakutkan daripada Darren yang diam. Batin Naomi.
Darren meraih tisu dan mengusap tangan dan jasnya yang memiliki bekas Naomi. Kemudian melemparkan tisu itu ke wajah Naomi.
"Jika kau masih ingin hidup, keluar dari sini!" Suara Darren terdengar sangat dingin.
Naomi yang mendengarnya bergegas berdiri meski nafasnya masih tersengal. Saat kakinya hendak melangkah, suara Darren kembali terdengar.
"Bawa keluar barangmu itu!" Ucap Darren, tanpa melihat blazer Naomi yang tergantung di kursi.
Naomi meraihnya dan segera berjalan keluar. Di depan pintu, Jiyo sudah berdiri menunggunya.
"Nona, kenapa rambutmu seperti bulu singa?" Tanya Jiyo dengan wajah tanpa dosa. Membuat Naomi mendengus kesal.
"Diam kau!"
"Ck. Cukup rambutmu yang seperti bulu singa. Jangan sampai kau juga garang seperti singa."
"Kau..."
"Mari, saya antar ke lift nona." Jiyo langsung memotong ucapannya, dan berjalan terlebih dahulu menuju lift karyawan.
Naomi menyentakkan kakinya, tak suka. Walaupun begitu, ia tetap mengikuti Jiyo. Ia masuk lift dengan tatapan kesal yang ia layangkan untuk Jiyo. Saat pintu lift perlahan tertutup, Jiyo melambaikan tangannya dan tersenyum tengil.
"Sampai jumpa. Lain kali, datang lagi, ya? Saya sangat menikmati pertunjukkannya." Teriaknya, sebelum pintu lift benar-benar tertutup.
"Hahaha... Aku sangat senang melihat Naomi seperti tadi. Meski aku tidak melihat apa yang Darren lakukan, aku yakin, dia memberikan pelajaran yang menyenangkan untuk gadis itu." Gumam Jiyo, senang.
Handphone yang bergetar membuat Jiyo segera merogoh saku jasnya.
"Suruh seseorang membersihkan ruanganku." Perintah Darren terdengar.
"Baik, tuan."
Setelah panggilan terputus, Jiyo segera meminta office boy untuk membersihkan ruangan Darren.
__ADS_1