
Jiyo duduk diam sambil membaca informasi soal Iwan yang ia dapatkan dari Darren. Di saat ia bertanya pada Nita soal Iwan, gadis itu selalu bungkam.
Hubungannya dengan Nita sedikit membaik sejak hari dimana Mama Nita drop. Dia juga memberi keringanan pada Nita untuk pulang lebih cepat dari jam kerjanya.
"Dia pernah melecehkan kekasihnya?" gumam Jiyo. Kening laki-laki itu mengerut sambil menatap layar tablet nya.
"Apa kekasihnya itu Nita?" lanjutnya bergumam.
"Aku harus tanya sendiri pada Nita."
Jiyo beranjak dari duduknya dan keluar menuju ruangan Nita. Namun, saat ia tiba, ia baru sadar jika Nita izin hari ini untuk menemani Mamanya. Semalam, dokter menelpon jika Mamanya ada kemajuan. Jari-jari tangan Mamanya bergerak.
"Ck. Aku lupa kalau Nita nggak masuk hari ini," ujar Jiyo. Dia lalu kembali berbalik menuju ruangannya.
Sementara di rumah sakit, Nita duduk diam sambil menggenggam tangan Mamanya. Mendengar Mamanya ada kemajuan, Nita sangat bahagia.
"Ma, Mama cepat sadar ya. Nita udah kangen banget mau ngomong sama Mama. Mau ceritain semua yang Nita alami ke Mama. Nita selalu tunggu Mama." Gadis itu menggenggam tangan Mamanya dan mengecup punggung tangan wanita itu.
Nita mengulas senyum tipis. Ia lalu menatap jam yang melingkar di tangannya. Sudah waktunya makan siang.
"Ma, Nita tinggal sebentar ya? Nita mau beli makanan di kantin rumah sakit."
Gadis itu mengecup kening Mamanya lalu keluar dari ruangan tersebut. Dia segera menuju kantin rumah sakit. Setelah selesai membeli, ia segera kembali ke ruangan Mamanya. Hingga matahari tenggelam, gadis itu baru berpamitan pada sang Mama untuk kembali ke apartemen nya.
"Nita pulang dulu ya, Ma? Besok Nita kesini lagi," ujarnya lalu mengecup kening Mamanya.
Nita memasuki taksi online yang sudah dipesannya. Tak butuh waktu yang begitu lama. Hanya 15 menit, gadis itu sudah tiba di apartemen nya. Gadis itu menaiki lift menuju unit apartemennya di lantai 4. Ada 1 orang di dalam lift tersebut dengan sebagian wajah tertutup masker.
"Nita!"
Deg...
Gadis itu melototkan matanya. Ia mengenali suara itu. Suara seseorang yang membuatnya takut untuk menjalin hubungan dengan laki-laki.
Nita menoleh dan mendapati laki-laki itu menurunkan maskernya. Membuat Nita bisa melihat wajah orang itu.
"I-Iw-Iwan."
"Iya. Ini aku sayang," ucap Iwan sambil tersenyum.
"Pergi! Apa yang kamu lakukan di dalam sini?"
"Aku menunggumu, Nita."
"Pergi!!"
"Bagaimana aku bisa pergi? Liftnya belum berhenti," ucap lelaki itu santai. Laki-laki itu mendekat sambil menunjukkan smirknya. Membuat Nita takut dan spontan mundur.
"Jangan mendekat!!"
"Kenapa takut, sayang?" tanyanya sambil terus mendekat.
Ting...
Lift berhenti, membuat langkah Iwan juga berhenti. Nita dengan cepat keluar. Namun, Iwan juga tak kalah cepat. Ia menangkap tangan Nita dan menarik gadis itu menuju unit milik Nita.
"Lepas!!" teriak Nita.
"Diam!!" bentak Iwan, membuat Nita takut. Laki-laki itu menyeret Nita, dan membawanya hingga ke depan pintu unit apartemen gadis itu.
"Buka." Nita terdiam. Ia mengabaikan perintah Iwan.
__ADS_1
"Buka!!" bentakan tersebut membuat Nita terkejut. Dengan air mata yang menetes dan tangan yang gemetaran, Nita menuruti perintah Iwan. Ia membuka pintu tersebut, namun dengan gerakan perlahan. Dia berharap ada penghuni unit lain yang melihatnya dan menolongnya.
Ya Tuhan, kenapa hari ini sepi sekali. Tolong aku ya Tuhan.
"Cepat buka!!"
Klak... Pintu berhasil Nita buka. Dan dengan kasarnya Iwan langsung mendorong masuk Nita, dan menutup kembali pintu.
"I-Iwan, ja-jangan begini. Lepaskan aku."
"Huh. Lepaskan kamu? Mimpi saja!"
Iwan kembali menarik Nita dan mendorong gadis itu hingga terlentang di sofa. Nita memberontak, namun dia segera menaiki tubuh Nita dan menahan tangannya.
"Ku rasa, kamu masih berguna. Selain untuk memenuhi keinginanku, kamu bisa menghasilkan uang untukku." Laki-laki itu tersenyum jahat, lalu hendak mencium Nita. Namun, gadis itu berusaha menghindarinya.
"Tolooong!"
"Diam!!" bentak Iwan.
"Lepaskan aku, Iwan!!"
"Huh, nggak akan!!" Iwan terkekeh lalu kembali berusaha mencium Nita.
"Iwan!!"
Brak...
Dentuman pintu yang didorong keras membuat Iwan menghentikan perbuatan kurang ajarnya. Jiyo yang merupakan orang yang mendorong pintu itu, mendekati mereka dengan nafas memburu.
"Kurang ajar!!" Jiyo langsung menarik Iwan dan memukul wajah lelaki itu.
Satu bogeman mendarat di wajah Iwan, membuat lelaki itu tersungkur. Jiyo maju dan hendak memukulnya lagi, namun Iwan dengan cepat menendang perut Jiyo, membuat lelaki itu mundur sambil memegang perutnya. Iwan bangun dan berlari keluar dari apartemen tersebut.
"Sial!!" umpat Jiyo saat Iwan berhasil kabur. Ia berbalik dan mendekati Nita yang duduk meringkuk di sofa. Gadis itu menangis sesenggukan.
"Nita," panggil Jiyo pelan, membuat gadis itu semakin menunduk.
"Ini alasan aku takut pada Iwan. Hiks... Dia orang dari masa lalu ku yang membuatku takut untuk dekat dengan laki-laki. Dia membuatku takut membuka hati dan menerima cinta laki-laki yang akhirnya hanya mempermainkanku. Hiks... Dia, orang yang hampir melecehkanku." Air mata semakin banyak membasahi pipi Nita. Gadis itu kembali teringat dengan perbuatan Iwan 3 tahun lalu.
Jiyo terdiam di tempatnya. Ia menatap Nita yang terus tertunduk dalam. Dan beberapa saat kemudian, ia menarik nafasnya, dan duduk di jarak yang sedikit jauh dari Nita.
"Kamu trauma?" Nita mengangguk pelan.
"Jadi, ini alasan kamu salalu menghindar dariku?" Nita terdiam. Tidak ada suara atau gelengan yang ia tunjukan.
"Menikahlah denganku, Nita."
Deg...
Jantung Nita seolah berhenti. Ia mendongakan wajahnya menatap Jiyo yang kini juga menatapnya.
"Aku nggak akan mempermainkan mu. Aku akan selalu mendukungmu. Kita sembuhkan trauma mu sama-sama."
"Tuan aku—"
"Kamu cukup menjadi istriku. Aku nggak akan memaksamu mengenai segala hal. Cukup mejadi istriku."
Nita terdiam. Jiyo adalah laki-laki baik, meskipun dulu adalah seorang yang suka berganti pacar. Tapi, selama Jiyo menjadi atasannya, dia belum pernah mendengar kabar jika Jiyo memiliki kekasih.
"Kamu nggak perlu menjawabnya sekarang. Cukup beritahu aku saat kamu sudah menemukan jawaban pastinya," ucap Jiyo.
__ADS_1
Nita terdiam, begitu juga Jiyo. Gadis itu masih sesenggukkan. Jiyo ingin memeluk gadis itu dan menenangkannya. Tapi, melihat reaksi Nita yang semakin meringkukkan tubuhnya saat ia mendekat tadi, membuat Jiyo mengurungkan niatnya.
"Tenanglah, dia sudah pergi. Aku akan mengurusnya agar kamu merasa tenang," ucap Jiyo, berusaha menenangkan Nita.
Jiyo menarik nafasnya saat Nita tak berkata apapun. Dia jadi merasa bersalah. Nita baru saja mengalami hal buruk, dan dia langsung mengutarakan inginnya untuk menjadikan Nita istrinya.
"Kamu lebih baik istirahat. Aku akan meminta beberapa orang berjaga di depan apartemen mu. Setelah mereka datang, aku akan pulang."
Nita lagi-lagi diam. Tak lama kemudian, ia berjalan ke kamarnya dengan kepala yang masih tertunduk. Jiyo hanya menatapnya dalam diam. Setelah tubuh gadis itu menghilang di balik pintu kamar, Jiyo merogoh handphonenya dan mendial nomor Darren. Namun, nomor laki-laki itu tidak bisa dihubungi. Ia lalu menelpon Darrel.
"Hallo,"
"Hallo, Rel."
"Ada apa?"
"Kamu di rumah?"
"Iya."
"Darren?"
"Darren juga di rumah. Kenapa?"
"Aku mau bicara dengannya. Handphonenya nggak bisa dihubungi."
"Ada apa emangnya?"
"Ck. Banyak tanya sekali. Nita hampir dilecehkan sekretaris baru Darren itu!"
Darrel yang berada di seberang sana meneguk ludahnya. Tanpa banyak tanya lagi, dia langsung menuju kamar Darren.
Bisa Jiyo dengar ketukan pintu yang dilakukan Darrel. Dan beberapa saat kemudian terdengar suara Darren.
"Darren,"
"Hmm."
"Sekretaris mu hampir melecehkan Nita."
"Aku akan mengurusnya."
"Tolong kirimkan pengawal untuk berjaga-jaga di depan apartemen Nita. Dia sangat takut saat ini."
"Aku akan mengirimnya."
"Terima kasih."
"Hmm... Kirimkan alamat apartemen nya."
"Iya. Biarkan aku punya andil menghukum Iwan itu."
"Ya."
Setelah obrolan itu, dan pengawal yang dikirim Darren tiba, Jiyo mendekati kamar Nita. Ia mengetuk pelan kamar itu.
"Nita," panggilnya pelan.
"Aku pulang dulu. Kamu sudah aman. Pengawal sudah berjaga-jaga di depan unit mu. Aku juga sudah memesan makanan dan menyiapkannya di meja."
Tak ada respon dari dalam. Jiyo lagi-lagi menarik nafasnya, lalu berbalik berjalan menuju pintu. Ia meninggalkan apartemen Nita dengan 4 pengawal yang berjaga.
__ADS_1