
Gara, Edo, Darren dan Darrel tiba di rumah saat hari masih begitu pagi. Alula dan Irene sedang berada di dapur, membantu para pelayan menyiapkan sarapan. Sementara kedua adik iparnya dan menantu-menantunya mengurus anak-anak mereka. Sang putri, Alisha, juga sedang bersiap untuk ke sekolah.
"Sayaaang!" teriak Edo saat memasuki pintu dapur. Membuat Alula dan Irene serentak menoleh. Wanita yang dipanggil namanya oleh Edo itu segera menghampiri suaminya dan memeluknya erat.
"Kalian kemana semalaman? Aku khawatir," ucap Irene tanpa melepas pelukannya.
Edo mengusap kepalanya dan mengecup keningnya sekilas. "Ada urusan yang sangat penting yang harus kami selesaikan."
Sementara di belakang mereka, Alula dengan erat memeluk suaminya. Begitu juga Gara yang balas memeluknya. Laki-laki itu mengecup kening istrinya berkali-kali. Semalaman tidak bertemu, membuatnya sangat merindukan sang istri.
"Syukurlah kalian kembali dalam keadaan selamat. Aku sangat khawatir." Suara Alula terdengar bergetar saat mengatakannya. Gara tahu, istrinya itu sedang menahan tangis. Meregangkan pelukannya, Gara menunduk dan mengecup sekilas bibir Alula.
"Ekhhmm!!" Darrel langsung berdehem keras melihat aksi kilat Ayahnya. Dia dan Darren sengaja masih berada di ruangan itu untuk menunjukkan pada sang Ibu, jika mereka baik-baik saja.
Gara melirik kedua putranya sekilas, lalu kembali merengkuh tubuh sang istri tercinta.
"Mereka baik-baik saja kan? Semuanya baik-baik saja kan?"
"Putra kita baik-baik saja. Yang lain juga. Hanya saja, ada berita buruk mengenai Nadia."
Alula mendongak. "Nadia kenapa?"
"Kita ke kamar dulu, baru ku ceritakan."
Alula mengangguk. Ia bersama Gara bergegas ke kamar. Tapi, ia berhenti sejenak saat sejajar dengan kedua putranya. Dan mengecup kening masing-masing putranya.
Begitu juga dengan Irene yang mengusap lembut rambut kedua menantunya. Walaupun ia tidak tahu apa-apa, tapi Edo sudah berjanji akan bercerita padanya.
***
Darren mendorong pelan pintu kamarnya dan masuk. Langkahnya langsung menuju ranjang si kembar. Senyum tipis terukir di bibirnya saat putra dan putrinya menatap ke arahnya. Keduanya sudah bersih dan wangi.
"Ayah pulang," ucapnya pelan. Tidak ada ciuman atau usapan lembut untuk kedua anaknya. Tubuhnya masih kotor dan bisa jadi, bakteri-bakteri yang menempel di tubuhnya akan berpindah pada anak-anak nya.
Grep...
Sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya, membuat ia tersenyum.
"Kenapa semalam nggak pulang? Aku sangat khawatir," ucap Asya, sembari mengecup punggung suaminya.
Darren berbalik dan balas memeluk Asya. Ia mengecup puncak kepala sang istri dengan lembut. "Akan aku ceritakan nanti. Aku ingin mandi sekarang."
"Mau ku siapkan air hangat?" Asya mendongak menatap wajah suaminya. Darren balas tersenyum padanya.
"Ayo mandi bersama!"
__ADS_1
"Hah? Aku sudah mandi." Asya membulatkan matanya karena terkejut. Apa suaminya ini tidak lihat, ia memakai bathrobe? Ini sudah jelas jika dia baru selesai mandi.
"Kamu sudah memelukku. Bakteri di tubuhku menempel padamu. Sudah seharusnya kamu mandi lagi."
Asya tersenyum. Bisa saja suaminya ini memberi alasan. "Baiklah, aku mau mandi bersama. Tapi, janji! Hanya mandi, nggak lebih!"
"Janji."
"Tapi, si kembar?" Asya menatap putra dan putrinya yang terbaring di ranjang masing-masing.
Darren ikut menoleh. "Papa sama Mama mandi dulu. Hanya sebentar. Kalian tenang disini ya?" Darren berujar lembut, lalu merangkul pinggang istrinya dan berjalan menuju kamar mandi.
Sementara Darrel, laki-laki itu sedang berjongkok di lantai, tepatnya di samping ranjang, sambil memperhatikan Meeya yang sedang asyik dengan mainannya. Putrinya itu sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan boneka kecil nya.
"Meeya," panggilan lembut Darrel tak membuat Meeya menoleh. Ia benar-benar fokus pada apa yang ia pegang.
"Meeya, kamu nggak kangen Papa?" Anak itu menoleh sekilas lalu kembali fokus pada apa yang ia lakukan.
"Sayaaaang, kok Meeya nggak peduli sama aku? Masa aku dicuekin sama anak sendiri?"
Aurel yang sedang di kamar mandi menyiapkan air hangat pun segera keluar mendengar teriakannya.
"Ada apa sih, sayang? Kok teriak-teriak? Aku lagi siapin air hangat buat kamu lho."
"Ini, Meeya kok acuh gitu sama aku? Masa sama Papa sendiri begitu? Aku ini kangen lho semalaman nggak ketemu."
Darrel yang mendengarnya pun tersenyum. Ia paham sekarang. Ini bukan soal Meeya lagi. Tapi, soal Aurel yang mungkin kesal padanya kareana tidak memberi kabar.
Darrel bangun dari jongkoknya, lalu mendekati Aurel. Ia mencondongkan tubuhnya lalu berbisik tepat di telinga Aurel. "Mau dengar aku cerita soal semalam nggak?" bisiknya, kemudian menegakkan kembali tubuhnya.
Aurel menatapnya dengan wajah cemberut. Namun, ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi semalam. "Apa?" tanyanya.
"Cium dulu, baru aku cerita."
"Ish." Aurel mencubit pelan lengan suaminya karena kesal. Tapi, ia tetap mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Darrel sekilas. "Udah. Ayo, cerita!"
"Bayaran cubit di lengannya mana?" tanya Darrel dengan tampang polosnya.
Aurel menarik nafasnya. Untuk sekedar mendengar cerita saja, ribet sekali. Darrel memang pandai memanfaatkan kesempatan.
"Kalau nggak jadi cerita, awas kamu! Jangan dekat-dekat aku sama Meeya lagi!"
"Janji, aku ceritain."
Aurel kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Darrel sekali lagi. Membuat suaminya itu tersenyum senang. "Setelah mandi, aku ceritain," ucapnya, lalu secepat kilat berlari ke kamar mandi. Sudah pasti Aurel sangat kesal padanya.
__ADS_1
***
Setelah selesai bersiap, Alisha bergegas menuju ruang makan untuk sarapan. Senyum manis seketika terukir dibibirnya saat melihat sang Ayah, Edo dan kedua kakaknya sudah berada di meja makan. Dengan berlari kecil ia menghampiri sang Ayah dan memeluknya.
"Ayah kapan pulang? Kenapa nggak kasi tahu Alisha?" tanyanya tanpa melepas lingkaran tangannya di leher sang Ayah.
"Tadi pagi. Mungkin kamu masih mandi."
"Papa Edo sama Kakak kembar juga tadi pagi pulangnya?"
Ketiga orang yang ditanya Alisha hanya mengangguk. Semua orang dewasa yang ada di ruangan tersebut hanya menyaksikan tingkah Alisha dalam diam. Semuanya sudah tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Hanya Alisha, Dafa, Doni, Roy dan Lala yang tidak tahu apa-apa.
"Ayo duduk dulu. Setelah makan, Ayah mau ngomong sesuatu sama kamu."
Alisha tersenyum. " Iya, Yah."
Gadis itu segera duduk di kursinya dan mulai melahap makanannya. Ia senang karena keluarganya pulang dalam keadaan baik-baik saja. Mimpinya semalam membuatnya takut terjadi sesuatu pada mereka.
"Pelan-pelan aja makannya," ucap Gio, saat melihat Alisha dengan cepat berusaha menghabiskan sarapannya.
"Hehehe... Iya, Paman."
Setelah menyelesaikan sarapan, semuanya berkumpul di ruang tamu. Jam 6 : 15, masih tersisa 50 menit lagi sebelum bel masuk sekolah. Alisha duduk diantara Ayah dan Ibunya. Ia sangat penasaran dengan apa yang akan Ayahnya katakan.
"Ayah mau ngomong apa?" tanya Alisha.
"Kamu nggak usah sekolah hari ini."
"Hah? Kenapa? Nggak biasanya Ayah nggak bolehin Alisha sekolah."
"Nadia meninggal."
Deg...
Alisha tersentak. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Ay-Ayah be-bercanda, kan? Na-Nadia nggak mungkin..." lirihnya tak dapat melanjutkan ucapannya.
"Ayah nggak bercanda. Kedua Kakak kamu yang mengurus jenazahnya di rumah sakit. Axel sama Hardi juga bantu mengurusnya."
Air mata Alisha menetes. "Tapi, Ayah, kemarin Nadia chattingan sama Alisha. Telponan juga sama Alisha sama Yana juga. Hiks...."
Alula merangkul pundak putrinya. Gara mengulurkan tangannya mengusap air mata Alisha. Sedih sekali melihat putrinya menangis seperti ini.
"Itu orang suruhan Ayah. Hari dimana Nadia nggak sekolah adalah hari dimana Nadia diculik. Ayah nggak mau kamu khawatir. Ayah meminta seseorang yang pandai dalam meniru suara untuk menggantikan Nadia. Ayah yakin akan bisa menemukan Nadia kembali. Tapi, kami semua terlambat menemukannya."
Isakan Alisha semakin terdengar saat Ayahnya bercerita. Alula, Irene, Ana, Vera, Asya dan Aurel ikut meneteskan air mata melihat tangisan Alisha.
__ADS_1
"Ayo, sekarang kita ke rumah Nadia. Kita ikut ke pemakaman nya," ucap Gio yang diangguki semuanya.