Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 65


__ADS_3

Rencana pertunangan Darrel dan Aurel sudah tersebar di keluarga Grisam. Ginanjar, Zarfan dan Disa sudah tiba di kediaman Gara. Ketiga orang itu merasa sangat bahagia atas berita pertunangan Darrel tersebut.


"Eh, kalian berdua mau kemana?" Tanya Disa, saat melihat Darrel dan Aurel berjalan menuju pintu rumah.


"Kita mau ke makam Nenek, sama Kakek dan Nenek buyut." Ujar Darrel.


Wanita itu berjalan mendekati keduanya. Tangannya terulur mengusap rambut Aurel.


"Nak, Nenek tidak melarangmu pergi. Tapi, jaga dirimu. Kamu jangan terlalu kelelahan."


"Iya, Nek. Aku berjanji nggak akan terlalu kelelahan."


Disa tersenyum manis pada Aurel. Namun, tatapannya seketika berubah saat menatap Darrel. Ia melotot pada cucunya itu.


"Kamu! Nenek nggak mau terjadi apa-apa pada cucu mantu Nenek. Awas! Nenek akan menjewer telingamu sampai putus!" Acam Disa, membuat Darrel terkejut.


"Nggak akan terjadi apa-apa, Nek! Aku akan jagain calon istri dan anakku. Jangan khawatir."


"Ck. Giliran denganku saja, selalu marah-marah." Gumam Darrel.


"Apa kamu bilang?!"


"Enggak. Aku nggak bilang apa-apa. Nenek salah dengar."


"Pendengaran Nenek masih jelas."


"Sudahlah, Nek. Aku sama Aurel pamit dulu." Darrel langsung menarik tangan Neneknya dan menciumnya, diikuti Aurel.


"Ingat ya, Nak. Hati-hati." Ucapanya sekali lagi pada Aurel.


"Iya, Nek."


Pasangan kekasih itu bergegas keluar dari rumah. Disa masih terus menatap mereka hingga mobil yang ditumpangi cucu dan calon cucu mantunya keluar dari pagar rumah.


"Bu,"


"Eh, sayang. Ada apa nak?" Tanyanya, saat mendapati Alula berjalan ke arahnya.


"Kenapa Ibu disini? Ayah mencari Ibu tadi."


"Ibu sedang melihat Darrel dan Aurel pergi."


"Oh, mereka ke makam Ibu mertua sama makam Kakek dan Nenek."


"Iya, mereka juga memberitahuku tadi."


"Ayo, kita ke ruang keluarga. Mereka sudah menunggu."


Kedua wanita itu bergegas menuju ruang keluarga. Sebelum mereka tiba disana, kedua orang itu bertemu Darren.


"Kamu akan ke kantor?" Tanya Alula pada putranya.


"Tidak. Aku ada janji bersama klien."


"Hati-hati ya, nak, mengendarai mobil." Ucap Disa. Dia menatap cucunya yang selalu berwajah dingin itu.


"Nenek jangan khawatir." Balasnya pada sang Nenek.


"Pulanglah lebih cepat." Ucap Alula.


"Akan aku usahakan." Jawab Darren. Ia lalu menoleh ke arah ruang keluarga sejenak, kemudian mengecup kening Ibu dan Neneknya.


Alula tersenyum mendapat perlakuan manis dari putranya. Darren sangat jarang seperti ini. Hanya jika tidak ada Gara, dia akan mencium kening dan pipi Ibunya. Walaupun anaknya tidak pernah membaritahu alasan mengapa ia seperti itu, tapi Alula tahu, Darren berusaha menjaga Ayahnya agar tidak merasa kesal. Berbeda dengan Darrel yang selalu tidak tahu tempat dan terus memancing amarah sang Ayah.


"Aku pergi dulu." Ujarnya, kemudian berlalu dari hadapan kedua wanita itu.


***


Darrel menggenggam erat tangan Aurel dan menuntun calon istrinya itu menuju makam Neneknya terlebih dahulu. Sinar matahari yang terhalang awan membuat mereka terhindar dari terik matahari.


"Ini, makam Nenekmu?"


"Akan jadi Nenekmu juga." Balas Darrel, membuat Aurel terdiam. "Aku nggak pernah melihat wajahnya secara langsung. Jangankan aku. Paman Gio saja nggak ingat bagaimana wajah Nenek jika nggak dikasi fotonya."


"Bagaimana bisa begitu?"


"Akan ku ceritakan saat di rumah nanti." Ujarnya, lalu berjongkok di sisi makam tersebut.


"Kamu berdiri saja. Dengan kondisimu sekarang, akan sangat sulit duduk jongkok seperti ini." Ucap Darrel. Aurel hanya mengangguk dan tersenyum.


Darrel mengenalkan Aurel, kemudian keduanya memanjatkan doa. Setelah itu, keduanya menghampiri makam Kakek dan Nenek buyut. Kedua orang tua itu meninggal setelah enam bulan Darren pulang dari luar negeri. Saat itu, Darrel masih berada di luar negeri bersama Asya.


Setelah dari pemakaman, Darrel langsung membawa kembali Aurel ke rumah, sesuai dengan pesan Ibunya, Alula.


Sementara di sebuah restoran, Darren tidak fokus pada penjelasan dari sekretaris kliennya. Tatapannya selalu mengawasi Asya setiap beberapa detik.


"Darren, klien kita dan sekretarisnya sedang berbicara. Kenapa kau seperti nggak fokus seperti ini?" Bisik Jiyo.

__ADS_1


"Diamlah, Jiyo!" Balasnya.


Jiyo langsung terdiam dan tersenyum kaku pada klien dan sekretarisnya. Sementara Darren, ia sudah mengepalkan tangannya saat melihat Asya tersenyum pada lelaki yang duduk di seberangnya.


Saat masuk restoran tadi, semua baik-baik saja. Tapi, setelah 30 menit, Darren mulai bersikap aneh. Lelaki itu melihat Asya masuk bersama seorang laki-laki. Keduanya saling berbincang seperti sudah cukup mengenal.


"Tuan muda. Bagaimana menurut an..."


"Kau urus saja, Jiyo. Saya ada urusan penting." Ujar Darren, beranjak dari tempat duduknya, kemudian pergi begitu saja.


"Hehehe... Kalian pasti tahu, bagaimana tuan muda. Dia memutuskan semuanya sesuai moodnya." Ujar Jiyo, berusaha memperbaiki semuanya.


"Tidak apa-apa. Kami membutuhkan kerja sama ini. Semuanya tidak masalah asal kami bisa bekerja sama dengan Grisam Group."


"Ya, hehehe..."


Terkutuklah kau Darren. Bisa-bisanya kau meninggalkan ku dengan keadaan seperti ini. Jika terus begini setiap bertemu klien, aku pasti nggak bisa bernafas lagi. Batin Jiyo.


Asya yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki seketika menghentikan perbincangan mereka saat mendengar suara yang begitu ia kenal.


"Darren?" Gumamnya pelan, dengan ekspresi terkejut.


"Kenapa? Kaget aku ada disini?" Balas Darren, membuat Asya langsung menggeleng.


"Asya, siapa dia?" Tanya lelaki yang bersama Asya.


"Dia..."


"Suami Asya." Sela Darren, membuat Asya menatap wajah seriusnya. Darren tak peduli, dan malah menarik kursi di sebelah Asya. Lelaki itu juga mengecup pipi Asya sebelum duduk di sebelah gadis itu.


"Se-sejak kapan kamu menikah? A-aku tidak percaya."


"Tidak peduli percaya atau tidak. Itu bukan masalah." Jawab Darren. Ia mengusap bibir Asya yang basah karena minumannya.


Asya yang merasa tidak enak, memegang tangan Darren, dan menjauhkannya dari bibirnya.


"Oh ya, Darren. Perkenalkan, dia Johny, temanku saat kuliah dulu. Dia juga klien Yunanda Group."


"Ya." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Darren.


"Maaf Asya. Apa dia benar-benar suami mu? Aku rasa, karakternya tidak cocok denganmu yang lembut."


"Apa anda tidak malu memuji istri orang?" Balas Darren. Dia merasa kesal saat lelaki itu mengatakan Asya yang lembut. Apa Asya bersikap lembut pada lelaki itu? Benar-benar menyebalkan.


"Huh, apa anda takut saya akan merebut Asya?"


"Istri saya sangat mencintai saya. Kenapa saya herus takut?" Balas Darren, membuat lelaki itu bungkam. Ia bisa melihat cinta yang begitu besar yang terpancar dari mata Asya untuk Darren. Selain itu, dia juga tahu jika Asya terus tersenyum saat mendapatkan telpon dari Darren, saat mereka masih kuliah dulu. Dia tahu, karena diam-diam dia memperhatikan Asya.


"Tuan muda."


"Hmm..."


Ya Tuhan, kenapa tuan muda Darren bisa ada disini? Jangan sampai dia cemburu karena melihat nona dan tuan Johny. Batin Nita.


"Nita..."


"Iya, nona."


"Apa kamu ingin terus bungkuk seperti ini?"


"Hah?" Gadis itu langsung menegakkan badannya. "Ma-maafkan saya." Ujarnya canggung.


Sementara Jiyo, dia sudah menyelasikan urusannya dengan klien. Kini, ia mencari keberadaan Darren. Saat menemukannya, dia langsung menghampiri. Niatnya, ingin memarahi Darren. Namun, semuanya sirna saat ia tiba di meja tersebut dan melihat Nita disana.


"Tuan muda, ternyata anda disini. Hallo, nona Asya. Hallo, sekretaris Nita. Hallo, tuan." Sapanya pada semua yang ada di meja.


"Boleh aku bergabung?"


"Jiyo..."


"Gabung saja." Sela Darren, memotong ucapan Asya.


Jiyo dengan tanpa bebannya menarik kursi tepat di samping Nita, dan duduk. Dia tersenyum pada Nita, tapi gadis itu hanya acuh padanya.


"Maaf Asya, saya rasa pembicaraan kita di tunda dulu." Ucap Johny.


"Kenapa?"


"Tidak ada. Hanya saja..."


"Bicara saja. Tidak ada kesempatan lain selain hari ini. Jika kau tidak mau bekerja sama, putuskan saja kerja samanya."


"Darren...!"


"Kamu jangan khawatir, sayang. Aku bisa mengurus semuanya." Ucap Darren. Ia mengusap sayang rambut Asya.


Nita maupun Jiyo terkejut mendengar Darren memanggil Asya sayang dengan sikapnya yang lembut. Dimana Darren yang begitu dingin itu?

__ADS_1


"Baiklah. Kita selesaikan hari ini." Johny mengalah.


Asya, Nita dan Johny mulai membicarakan mengenai kerja sama mereka. Setelah selesai, Johny langsung berpamit pergi. Ia merasa tidak tahan dengan perilaku Darren yang terus memainkan rambut Asya.


"Ayo, pulang!" Ajak Darren setelah membayar. Wajahnya kembali dingin seperti saat pertama dia menemui Asya tadi.


"Aku bawa mobil, Darren."


"Jiyo. Bawa mobil Asya! Dia pulang bersama saya."


"Baik, tuan muda." Jawab Jiyo dengan senyum mengembang. Ia kemudian meraih kunci mobil Asya.


Jika Darren bersama Asya, maka Nita akan bersamaku. Gadis ini pasti datang bersama Asya. Ternyata ada untungnya mobilku tiba-tiba mogok. Batin Jiyo.


"Ayo!"


Asya tidak membantah lagi. Dia mengikuti Darren menuju parkiran. Darren membuka pintu mobilnya untuk Asya, kemudian menuju kursi pengemudi.


Wajah Darren masih terlihat dingin. "Siapa dia tadi?"


"Teman kuliah ku."


"Aku tidak suka padanya. Aku tidak suka kamu tersenyum padanya."


"Jika kamu tidak suka, katakan saja padaku. Kenapa kamu malah berbuat aneh-aneh seperti tadi. Ucapanmu juga tidak sopan. Apa itu seorang Darren Alvaro Grisam?"


Darren sedikit terkejut melihat reaksi Asya. Tidak menyangka Asya akan marah seperti ini.


Seharusnya aku yang marah. Kenapa bergantian seperti ini? Batin Darren.


Darren menarik nafasnya. Ia mendekati Asya dan langsung mengecup kecingnya. Lalu, tangannya meraih seatbelt dan memakaikannya untuk Asya.


"Maafkan aku. Jangan marah seperti ini." Ujarnya, dengan tangan yang sibuk memakaikan seatbelt untuk Asya.


Deg.


Jantung Asya berdengup kencang. Selain karena jarak Darren yang begitu dekat, permintaan maaf Darren yang tulus juga menjadi penyebabnya.


Asya juga sadar, ia tenggelam dalam amarahnya. Darren tidak sepenuhnya salah. Dengan penuh kelembutan, Asya memeluk Darren.


"Maafkan aku juga."


"Iya. Aku memaafkan mu. Tapi, jangan tersenyum seperti tadi lagi pada lelaki lain."


"Aku akan berusaha melakukannya."


Darren tersenyum, mengacak lembut rambut Asya, kemudian menjauh dari Asya dan kembali ke tempat duduknya.


"Rambutku jadi rusak." Ucap Asya sambil cemberut.


"Kamu tetap cantik meskipun rambutmu rusak seperti itu."


Asya memutar bola matanya, membuat Darren terkekeh dan kembali mengacak rambutnya.


"Darreeenn..."


"Iya-iya."


"Ish." Kesalnya. "Kita mau kemana?" Lanjut Asya dengan wajah yang masih cemberut.


"Ke makam Nenek. Makam Kakek sama Nenek buyut juga."


"Benarkah?"


"Iya."


"Makasih Darren."


"Iya." Jawab Darren. Dia senang melihat Asya senang. Selain itu, dia sudah ingin mengunjungi keluarganya itu sejak kemarin. Dan hari ini baru ia memiliki kesempatan.


Sementara di dalam restoran, Jiyo terus mengajak Nita pulang. Namun, gadis itu menolaknya.


"Ayolah, pulang bersamaku."


"Maaf Sekretaris Jiyo. Saya tidak mau. Saya bisa pulang sendiri."


"Sudah ku bilang berkali-kali, jangan terlalu formal. Panggil aku Jiyo saja, seperti aku memanggilmu, Nita."


"Maaf, kita tidak akrab. Tidak sopan jika hanya memanggil nama." Ucap Nita, lalu meraih tasnya dan pergi.


"Astaga, Nita!"


"Nita!"


"Nita! Ayolah, pulang bersamaku." Ucap Jiyo saat sudah menyamakan langkahnya dengan Nita. Namun, perempuan itu tetap acuh. Tiba di parkiran, Jiyo melototkan matanya.


Nita, gadis itu memasuki mobil dan melajukannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Jiyo.

__ADS_1


Sial! Ternyata dia bawa mobil. Ku pikir, dia datang bersama Asya. Batin Jiyo.


Lelaki itu kemudian berjalan gontai menuju mobil Asya, dan membawanya kembali ke Yunanda Group.


__ADS_2