
Keesokan harinya, setelah sarapan pagi, Darren mengunjungi kediaman Kakek Doni. Dia akan menjemput anak itu ke apartemennya.
Tok... Tok... Tok...
Darren mengetuk pintu, dan tak lama, seorang pelayan membukanya.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"
"Saya..."
"Papaaa..." Suara ceria Doni langsung menusuk indra pendengaran Darren. Lelaki itu menoleh dan menemukan anak itu berlari ke arahnya. Sontak saja, ia membungkukkan badannya, menangkap Doni dan menggendongnya.
"Aku sangat merindukan Papa."
"Benarkah? Tapi, setiap kali kamu menelpon, kamu selalu berbicara dengan Mama. Bukankah kamu sedang berbohong sekarang?"
"Hah?" Doni tertegun. Darren sebelumnya tidak berbicara sesantai ini dengannya. Sekarang, bahkan dia juga menyebut Asya sebagai Mama, yang tandanya dia sudah mulai menganggap Doni sebagai anaknya.
"Doni?"
"Hah? Maaf, Pa. Tapi, aku nggak berbohong. Aku benar-benar merindukan Papa. Aku juga merindukan Mama. Kapan Papa dan Mama sampai? Kenapa nggak mengabari Doni?" Doni membenamkan wajahnya di ceruk leher Darren sambil memeluk erat leher lelaki itu.
"Kami tiba kemarin. Karena lelah, jadi nggak sempat memberi kabar." Ujar Darren. "Di mana Kakek dan Nenekmu?"
"Kakek di kantor. Nenek pergi bersama Mama Carla ke salon."
"Mereka meninggalkan kamu sendiri?"
"Tidak. Mereka mengajakku. Tapi, aku nggak mau ikut."
"Tunggu! Bukankah kamu harus sekolah? Kenapa kamu di rumah di jam segini?"
"Ada acara anak dan orang tua di sekolah. Biasanya setiap ada acara, Kakek Nenek atau Mama Carla yang akan menemaniku. Tapi, semuanya sibuk untuk persiapan pernikahan Mama Carla. Jadi, aku nggak memberitahu mereka. Aku tidak ingin menggangu persiapan pernikahan Mama Carla."
Darren tersenyum tipis, lalu mengusap pelan rambut Doni. "Sekarang, kita telpon Nenek. Beritahu dia jika kita akan pergi." Darren menurunkan Doni dari gendongannya.
"Kemana?"
"Ke apartemen."
"Bertemu Mama?" Darren mengangguk, membuat Doni melompat gembira. "Yeee... Aku akan bertemu Mama." Ujarnya. "Ayo, Papa! Duduk dulu. Aku akan menelpon Mama Carla. Nenek tidak membawa handphonenya."
Darren mengangguk, lalu berjalan menuju sofa ruang tamu. Darren duduk, sementara Doni, anak itu berlalari ke ruang tengah dan kembali dengan handphone ditangannya. Anak itu segera menelpon Carla setelah dia duduk di saping Darren.
"Hallo, Mama." Suara Doni melengking gembira. Carla yang mendengarnya pun sedikit heran.
"Hallo, Doni? Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Nggak ada. Aku hanya ingin minta izin sama Mama. Papa Darren mau membawaku ke apartemennya."
"Darren datang?"
"Iya. Papa sama Mama. Mama sedang di apartemen."
"Baiklah. Kamu pergilah. Salam buat Mama Asya, ya?"
"Oke. Bilang pada Nenek juga, ya?"
"Iya."
Setelah mendapat persetujuan Carla, panggilan pun terpus. Darren juga mengirim pesan pada Kakek Doni untuk minta izin membawa Doni.
"Sudah?"
"Sudah, Pa."
"Ayo, berangkat!"
__ADS_1
"Ayo!" Awab Doni dengan girang.
Darren menggandeng tangan anak itu menuju mobil. Menempatkan Doni di kursi samping pengemudi, lalu memakaikan seatbelt untuk anak itu.
"Terima kasih, Pa." Ujar Doni, setelah Darren duduk di tempatnya. Lelaki itu mengangguk. Sambil tersenyum, ia mengusap kepala Doni.
***
Beberapa menit perjalanan, Darren dan Doni tiba di apartemen Darren. Keduanya langsung menuju unit milik Darren.
"Aku yang mengetuk pintu?" Tanya Doni, saat mereka sudah berada di depan unit apartemen Darren.
"Kamu bersembunyi dulu. Biar aku yang mengetuk nya. Jangan bersuara, oke? Kita akan beri kejutan pada Mama." Doni mengangguk dan langsung bersembunyi dibalik tembok yang sedikit jauh dari unit Darren tersebut.
Sementara di dalam, Asya sudah menunggu mereka sejak tadi. Saat mendengar pintu diketuk, wanita itu berjalan cepat dan membuka pintu.
"Doni anak Ma... Sayang? Dimana Doni?"
"Aku nggak berhasil bawa dia. Dia sedang di sekolah."
Wajah Asya langsung berubah lesu. "Yah, aku sudah sangat senang bertemu Doni sekarang. Tapi, aku juga lupa dia harus sekolah hari ini. Huuufthhh... Sayang sekali. Tapi, nggak apa-apa. Kita bisa menjemputnya setelah pulang sekolah.
"Mamaaaa..."
Mendengar suara itu, Asya langsung menoleh. Wajah lesunya langsung berubah. Senyum manis langsung terukir di bibirnya saat melihat Doni berlari ke arahnya. Ia merentangkan tangan dan langsung mendekap Doni ketika anak itu masuk dalam pelukannya. Matanya berkaca-kaca.
"Anak Mama." Ucap Asya.
"Doni rindu Mama. Doni sayang sama Mama." Ujar Doni.
"Mama juga rindu Doni. Mama juga sayang sama Doni. Sayang banget." Balas Asya dengan suara parau.
Doni sedikit meregangkan pelukannya. Ia menatap wajah Asya dan menemukan setetes air mata membasahi wajah wanita itu. Tangan Doni bergerak mengusapnya.
"Mama kenapa menangis?" Tanya Doni.
"Ini air mata bahagia, sayang." Ucap Asya. "Jangan dipikirkan! Ayo, masuk. Di dalam ada Paman Darrel dan aunty Aurel. Ada aunty Alisha sama baby Meeya juga."
Asya menggandeng Doni masuk. Namun, dia lupa, suaminya masih berdiri di depan pintu tanpa bergerak sedikitpun.
"Doni mau makan apa hari ini?"
"Apa saja, Ma. Yang penting masakan Mama."
"Kamu say... Darren?" Asya cukup terkejut saat tak melihat Darren di sampingnya. Segera ia menoleh ke arah pintu.
"Sayang, kamu kenapa masih disitu?" Asya berjalan cepat mendekati suaminya. Sementara Darren, ia masih berdiri dengan wajah datar.
"Kamu nggak mengajakku masuk. Kamu juga nggak gandeng aku."
Asya melotot mendengarnya. Darren kekanakan sekali. "Astaga sayaaaang. Ya udah, ayo masuk!"
"Enggak! Aku nggak mau masuk lagi."
"Loh? Kok gitu?"
"Cium dulu."
"Darren!" Asya bersuara kecil sambil melotot tak percaya pada suaminya.
"Doni! Balik badan!" Teriak Darren yang langsung dituruti anak itu.
Cup...
Satu kecupan mendarat di bibir Asya. Setelah itu, Darren dengan santainya melenggang masuk. Ia merangkul pundak Doni ketika sejajar dengan anak itu.
"Ayo!" Ucapnya yang diangguki Doni. Keduanya jalan bersama, meninggalkan Asya.
__ADS_1
Kelakuan ketiga orang itu disaksikan Aurel dan Darrel. Pasangan suami istri itu terkekeh melihat mereka.
"Paman. Aunty." Sapa Doni. Anak itu langsung mencium tangan Darrel dan Aurel.
"Anak manis." Ujar Aurel, mengusap kepala Doni.
"Kamu bertambah tinggi sekarang." Ujar Darrel.
"Aku suka olahraga bersama Kakek." Jawab Doni. "Dimana aunty Alisha?"
"Aunty sedang belajar di ruang belajar." Jawab Asya yang baru saja bergabung. Ia mengusap kepala putra angkatnya itu.
"Kalau Meeya? Aku ingin bertemu dia. Bolehkan?"
"Tentu saja boleh. Tapi, dia sedang tertidur." Ujar Darrel.
"Yaaah..."
"Nggak apa-apa. Kita tetap bisa ke kamar baby Meeya. Sekalian kita tunggu baby Meeya bagun, sambil main game. Gimana?" Usul Darrel.
"Doni setuju." Ucap anak itu.
"Darren?"
"Setuju."
"Oke. Ayo, kita ke main game sambil tungguin Meeya bangun."
"Tapi, adek nggak terganggu sama suara kita nanti?"
"Tenang saja. Meeya kalau sudah tertidur, nggak akan terganggu sama suara apapun." Ujar Darren yang diangguki Darrel.
Ketiga laki-laki itu lalu menuju kamar, sesuai yang Darrel katakan. Sementara Asya dan Aurel, mereka bergerak ke dapur, memasak untuk makan siang nanti.
"Kak Asya, Kak Aurel." Teriakan Alisha terdengar. Gadis itu merasa bosan berada di ruang belajar. Ia ingin bergabung dengan kedua Kakak iparnya.
"Kita di dapur, Sha." Teriak balik Aurel, menjawab adik iparnya.
Alisha segera menuju dapur. Matanya berbinar melihat Asya dan Aurel bersiap-siap memasak. Ia akan ikut membantu. Mumpung sedang jauh dari Gara, Ayahnya yang sering melarangnya memasak dengan berbagai alasan.
"Asiikk... Alisha bantuin masak, ya?"
"No!"
"Nggak!"
Asya dan Aurel berucap bersamaan. Keduanya menggeleng keras, menolak Alisha untuk membantu. Bukan apa-apa. Mereka hanya tidak ingin mengundang amarah Gara dan kesedihan Alula ketika terjadi sesuatu pada Alisha.
"Kok nggak dibolehin Alisha nya?"
"Alisha sayaang. Jangan marah, ya? Ini juga untuk kebaikan kamu. Kalau terjadi apa-apa, bisa-bisa Kakak sama Kak Asya dimrahin Ayah." Ujar Aurel.
"Bisa jadi, Ayah nggak akan izinin Alisha ikut sama kita lagi." Lanjut Asya.
"Hah. Ayah ada-ada saja. Alisha kan udah pernah belajar sama Ibu. Alisha juga tahu, mana yang berbahaya mana yang enggak."
"Ya sudah. Kamu, boleh bantuin. Tapi, hati-hati."
"Benaran?"
"Iya."
"Yes."
"Alisha bantuin apa?"
"Bersihin sayurnya. Terus, potongin wortel nya."
__ADS_1
"Oke!"
Alisha segera melakukan tugasnya. Asya dan Aurel juga sibuk pada pekerjaan mereka. Hingga saat jam makan siang, semuanya sudah disiapkan.