Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 70


__ADS_3

Edo baru kembali dari kamar mandi. Ia duduk tepat di sebelah istrinya, Irene. Getaran di sakunya, membuat Edo segera merogohnya dan mengeluarkan handphonenya.


"Pesan dari siapa?" Tanya Irene.


"Asya." Jawab Edo. Lelaki itu segera membaca pesannya.


Gara, Alula, Darren, Darrel, Aurel dan Alisha yang berada di ruangan tersebut terus menatap Edo. Menunggu lelaki itu memberitahukan, pesan apa yang Asya kirim kan.


"Ada apa? Apa yang Asya katakan?" Tanya Irene, penasaran.


"Asya bilang, dia izin keluar temani Naomi bertemu Hendra." Jawab Edo.


"Hendra?!" Darren, Darrel dan Aurel berucap bersamaan. Membuat semuanya terkejut dengan reaksi ketiga orang tersebut.


"Kemana mereka pergi?" Tanya Darrel dan Aurel. Sementara Darren, ia langsung sibuk dengan handphonenya.


"Paman..."


"Aku akan menjemputnya." Darren langsung berdiri dan melangkah menuju kamarnya mengambil kunci mobil.


"Aku ikut!" Ucap Darrel.


"Aku juga ikut!" Timpal Aurel.


"Sayang, kamu lagi hamil. Gak baik Ibu hamil keluar malam-malam begini."


"Enggak, Darrel! Pokoknya aku ikut. Asya sahabatku. Aku akan selalu ada saat dia membutuhkanku." Bantah Aurel tegas.


Semuanya terlihat bingung, kecuali Gara. Lelaki itu terlihat tenang sambil memperhatikan anak dan calon menantunya.


"Darrel, sebenarnya ini ada apa?" Tanya Edo.


"Paman. Ini..."


"Ayo! Aurel, kau ikut!" Ucap Darren yang baru kembali dari kamarnya.


Darrel sedikit terkejut saat Darren membolehkan Aurel ikut. Entah apa yang Darren pikirkan. Aurel yang mendapat izin dari Darren langsung melengos pergi. Sedangkan Darrel, dia menatap Alisha, tepatnya pada jaket kebesaran yang sedang adiknya itu kenakan.


"Lepaskan jaket mu!"


"Tapi, kak. Aku..."


"Kakak ganti yang lebis bagus. Terserah mana yang kamu pilih."


Alisha todak bisa menolak. Ia melepaskan jaketnya dan membiarkan Darrel membawanya. Setelah mendapatkan jaket tersebut, Darrel langsung berlari menyusul mereka.


Brak...


Darrel menutup pintu dengan keras. Matanya menatap marah pada Aurel. Dan Darren, ia mulai fokus mengendarai mobilnya.


"Kamu boleh pergi menemui Asya. Tapi, perhatikan juga keadaanmu. Udara malam hari terasa lebih dingin. Setidaknya, kenakan jaket untuk menghangatkan mu." Ucap Darrel, sambil memakaikan jaket untuk Aurel.


"Terima kasih. Tapi, jaket ini..."


"Milik Alisha. Aku mengambilnya. Meskipun tubuhnya sedikit lebih kecil dari kamu, tapi jaketnya besar. Pas dengan tubuhmu."


Aurel hanya bisa tersenyum mendapatkan perhatian kecil dari lelaki yang ia cintai itu. Rasanya sangat bahagia.


Darrel menatap kembarannya yang terus fokus pada jalanan. "Kita nggak tahu, dimana Asya. Bagaimana kita menemukannya?"


"Aku sudah melacak keberadaannya." Jawab Darren, membuat Darrel tersenyum kikuk.


"Baiklah." Ujarnya.


Aku lupa, Darren pandai soal teknologi. Ujar Darrel dalam hati.

__ADS_1


Sementara di ruang privat sebuah club, Asya mulai sulit mengontrol kesadarannya. Kepalanya sakit dan pusing, membuatnya memegang apa saja yang berada di dekatnya.


"Asya, kamu kenapa?"


"Aku... Kepalaku sakit, pusing Naomi."


"Kau pusing? Baguslah jika kau sudah merasakan efeknya." Ujarnya dengan senyum yang tersungging di bibir.


"Naomi kamu..."


"Ya. Aku yang merencanakan semua ini. Ah, salah. Tepatnya aku dan Hendra. Iya kan, Hendra?"


"Ya." Lelaki itu menjawabnya dengan tersenyum.


"Kalian... Shh..." Asya memegang kepalanya.


Hendra bangun dari duduknya kemudian mendekati Asya. Ia meraih jari gadis itu, namun Asya menepisnya.


"Jangan... Se-sentuh!"


"Hahaha... Kamu sudah tidak berdaya, masih saja menolakku?"


"Kau... Shh... Akhh... Kepala ku..."


"Huh, Asyaaa... Asya. Ayo, ikut bersamaku!" Hendra meraih tangan Asya dan menggenggam nya erat. Asya berusaha menepisnya, namun dia tidak memiliki kekuatan lagi. Pikirannya terpusat pada rasa sakit di kepalanya. Rasa pusingnya kian menjadi. Hingga akhirnya, Asya jatuh pingsan.


"Huh! Gadis bodoh!" Ucap Naomi.


"Gadis bodoh ini sekarang milikku. Kau jangan mengacaunya."


"Tentu saja. Jangan lupa rekam semua adegan kalian. Aku yakin, Darren akan membuangnya setelah ini."


"Jangan khawatir."


Hendra membungkuk, mendekatkan wajahnya dengan wajah Asya. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipi Asya.


Naomi kembali menyandarkan punggungnya di sofa. Ia meneguk kembali minumannya. Hatinya sangat bahagia karena bisa menyingkirkan Asya. Setelah ini, Asya akan terjerat sepenuhnya dengan Hendra.


"Darren adalah milikku." Gumamnya, lalu meneguk habis minumannya.


Naomi meletakkan gelas minuman tersebut. Ia lalu keluar dari ruangan tersebut, bergegas pergi dari club.


Darren menghentikan kendaraaannya di depan club. Dua mobil yang berada di belakangnya juga ikut berhenti di depan club.


Darren, Darrel dan Aurel turun, begitupun dengan pengawal yang berada di dua mobil lainnya.


Tanpa menanti di perintah, semuanya bergegas memasuki club, kecuali dua orang yang di tugaskan untuk berada di samping Aurel.


Hanya ada satu pintu masuk di club tersebut, dan tentunya juga hanya ada satu pintu keluar. Pengawal-pengawal tersebut masuk dan menyebar.


Saat Darren, Darrel dan Aurel juga dua pengawal berada di pintu, mereka berpapasan dengan Naomi. Dari gelagat nya, gadis itu sepertinya menyadari kedatangan pengawal dari keluarga Grisam.


Deg...


Wajah Naomi menegang ketika berpapasan dengan Darren, Darrel dan Aurel. Bahkan, hanya sekadar meneguk ludah pun, ia merasa sulit. Saat ia hendak menghindar, Darren dengan sigap menangkap tangannya dan menariknya mendekat. Tangan satunya langsung mencekik leher Naomi.


"Da-Darren..."


"Katakan! Dimana Asya?!" Tegas Darren. Ia semakin mengencangkan cengkramannya. Tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya.


"A-Aku... Ng-nggak ta-tahu."


"Baiklah!" Jawab Darren. Naomi sedikit merasa lega dalam hati. Tapi, kelegaan nya hanya berlangsung beberapa detik. Setelah itu, ia kembali merasakan cengkraman di lehernya yang lebih kuat dari tadi. Wajahnya perlahan semakin memucat. Ia tidak bisa menerima oksigen dengan baik.


"Kau tidak berguna! Lebih baik mati!" Ucap Darren.

__ADS_1


"Da-Darren,"


Aurel yang berada di belakang Darren dan disamping Darrel, gemetaran. Baru kali ini ia melihat kemarahan Darren. Ia meraih lengan baju calon suaminya dan menggenggamnya erat.


"Da-Darrel. He-hentikan Darren. Naomi bisa mati."


"Biarkan saja. Biarkan Darren meluapkan amarahnya." Jawab Darrel santai, membuat Aurel bergidik.


Mereka benar-benar saudara kembar. Sama-sama menakutkan. Batin Aurel.


Wajah Naomi semakin memucat. Ia tidak bisa bernafas dengan baik. Tubuhnya terasa sangat lemas. Tidak! Dia belum ingin mati.


"A-Asya... La-lantai... hhhhh... dua... No-nol... No-nol... De-delapan."


Bruk...


Darren langsung menghempaskan Naomi begitu saja, dan berlari masuk. Gadis itu tersungkur di lantai dan berusaha menghirup udara banyak-banyak.


"Semuanya ke lantai dua kamar 008! Nona Asya berada disana. Tuan muda juga menuju ke sana." Ucap seorang pengawal, melalui earpiece nya.


Darrel dan Aurel juga seorang pengawal berjalan menyusul Darren. Sementara seorang pengawal lagi, mengurus Naomi.


Darren juga 6 pengawal yang berada tak jauh di belakangnya, tiba di lantai dua, tepatnya di depan kamar nomor 008. Ada dua orang yang berjaga di depan kamar tersebut.


"Siapa kalian?" Tanya salah satu dari keduanya.


"Darren Alvaro Grisam." Ucap Darren dengan tegas dan tatapan tajamnya.


Deg...


Keduanya terkejut. Tubuh mereka menegang dan tangan mereka gemetaran. Tanpa banyak bicara, kedua orang itu menyingkir membiarkan Darren berjalan.


"Tahan mereka!"


Dua pengawal Darren segera menahan dua orang suruhan Hendra. Empat orangnya mendekat di belakang Darren. Pintu kamar tersebut dikunci Hendra dari dalam.


"Buka pintunya!"


Sekali tendangan oleh dua pengawal, pintu tersebut terbuka lebar. Di atas ranjang, Asya terbaring dan Hendra sedang melepaskan kemeja yang dirinya kenakan.


Saat mendengar dentuman pintu, lelaki itu berbalik. Ia terkejut, namun sedetik kemudian tersenyum miring.


"Kau datang?" Ucapnya, mengejek.


Darren diliputi amarah. Ia berjalan mendekat dan menarik tubuh Hendra dengan kasar, hingga terjatuh dari ranjang.


"Brengsek!" Umpat Darren. Ia mendekati Hendra dan memukulnya membabi buta.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Darren terus memukulnya, sesekali Hendra membalas. Namun, dirinya tidak sebanding dengan Darren. Para pengawal juga hanya melihat tuan mereka tanpa melakukan apapun.


Darrel dan Aurel yang baru tiba terkejut melihat Hendra yang tak berdaya berada dibawah Darren, menerima setiap pukulan Darren. Darrel menarik Aurel dalam pelukannya, dan menutup mata calon istrinya agar tidak melihat Darren yang sedang di kuasai amarah.


Setelah merasa cukup, Darren menghentikan pukulannya. Ia menatap Asya yang masih terlelap di atas ranjang.


"Bawa dia!"


Para pengawal segera membawa Hendra pergi. Darrel dan Aurel masih berdiri memperhatikan Darren yang bergegas mendekati Asya.


Darren menarik nafasnya. Ia mengecup lama kening Asya, kemudian menggendongnya.

__ADS_1


"Kita ke hotel terdekat." Ujarnya, saat melewati Darrel dan Aurel.


__ADS_2