
Sore hari, kediaman Gara di hebohkan dengan kedatangan Ginanjar, Zarfan dan Disa. Ayah dan kedua mertua Gara itu mengunjungi kediaman Gara tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
"Alishaaaa... Ini nenek, nak." Teriak Disa, saat tak menemukan satupun orang yang menyambut mereka selain pelayan.
"Garaaa... Alulaaa... Kalian tidak menyambut, Ayah." Suara Ginanjar terdengar memenuhi rumah Gara.
Sementara Zarfan, ia hanya menggeleng melihat kelakuan istri dan besannya. Bagaimana seorang Ginanjar Grisam yang terhormat bisa bertingkah seperti itu. Dan juga, istrinya, yang dulu begitu segan pada Gara, sekarang berteriak seenaknya di rumah itu. Sungguh, mencairnya sifat dingin Gara dan berkurangnya sifat kejamnya, membuat semua perlahan ikut berubah.
Alisha yang sedang menghabiskan waktunya di kamar sambil bermain handphone pun segera keluar saat mendengar keributan itu. Begitupun dengan Gara dan Alula. Pasangan suami istri yang sedang menghabiskan waktu di halaman belakang itu, segera menuju ruang tamu saat diberitahu oleh palayan.
Darrel yang juga berada di kamarnya ikut keluar. Saat pintu kamarnya terbuka, ia bertemu Alisha yang juga hendak turun ke lantai bawah.
"Dek, ada apa? Kenapa ada yang teriak-teriak?" Tanya Darrel, tak mengerti.
"Nggak tahu. Kalau yang Alisha dengar, itu kayak suara Kakek Ginanjar sama Nenek Disa. Mungkin ada Kakek Zarfan juga. Biasanya mereka suka bertiga kalau datang kemari."
"Hah? Seriusan? Sejak kapan Kakek Nenek masuk rumah sambil teriak-teriak begitu?"
Alisha mengedikkan bahunya. "Alisha juga nggak tahu. Mungkin, sejak Ayah nggak dingin lagi. Atau mungkin, sejak Kakak pergi. Entahlah, Alisha juga nggak tahu pastinya. Ya udah, Alisha mau turun dulu."
Darrel hanya mengangguk. Setelah tubuh Alisha menghilang, Darrel kembali masuk ke kamar. Dia lalu melompat ke atas ranjang sambil mengusap wajahnya.
Astagaaa... Kenapa Kakek Nenek harus datang hari ini? Habislah aku. Aku sudah pulang seminggu lebih, tapi belum sekalipun aku mengunjungi mereka. Batin Darrel.
Di lantai bawah, tepatnya di ruang tamu, Ginanjar, Zarfan dan Disa duduk bersama. Gara dan Alula datang bersamaan dengan Alisha yang juga tiba di ruang tamu.
"Neneeekk..." Gadis itu langsung berlari dan memeluk Disa.
"Sayang, kamu semakin cantik saja." Puji Disa, sembari mengusap lembut rambut Alisha.
"Ayah," Gara memeluk Ayahnya dan juga Ayah mertuanya. Begitupun Alula, dia meraih tangan mereka dan menciumnya.
Alisha melepaskan pelukannya pada Disa, membiarkan Ayah dan Ibunya menyapa sang Nenek.
Alisha menghampiri kedua Kakeknya. Ia meraih tangan keduanya dan menciumnya.
"Kakek berdua sehat-sehat kan?" Tanya Alisha.
"Ya, Kakek sehat." Balas Zarfan.
"Kakek juga sehat." Timpal Ginanjar.
"Selama cucu-cucu sehat, Kakek dan Neneknya juga akan sehat." Sahut Disa.
Alisha tersenyum manis, lalu memeluk kedua Kakeknya. Dia duduk diantara keduanya.
"Ada apa kalian datang kemari?" Tanya Gara, saat semuanya sudah tenang di tempat masing-masing.
"Apa harus ada alasan untuk orang tua bertemu anak dan cucunya?" Balas Ginanjar. Sementara Zarfan, dia sibuk mengelus rambut Alisha.
"Apa Kakakmu akhir-akhir ini sibuk? Dia tidak mengunjungi kami hampir tiga bulan." Tanya Zarfan, masih mengelus rambut Alisha.
__ADS_1
"Ya, Kakak memang sibuk."
Alula yang mendengarnya tersenyum. Ia tiba-tiba teringat Darrel. Anak itu tidak berkumpul bersama mereka.
"Nak, dimana Kakakmu?"
Pertanyaan Alula membuat Zarfan, Disa dan Ginanjar serentak menoleh padanya. Kening mereka berkerut tak mengerti. Bukankah Darren sedang di kantor? Kenapa Alula kembali bertanya?
"Kakak? Siapa lagi?" Tanya Ginanjar.
"Apa Darren tidak bekerja?" Sahut Disa.
"Bukan Darren, tapi Darrel." Balas Gara.
"Darrel??" Kaget mereka bersamaan. Sementara di lantai atas, Darrel berdoa agar kedua orang tuanya dan Alisha tidak menyinggung tentangnya.
"Darrel kembali?" Tanya Zarfan.
"Iya, Ayah. Darrel pulang."
"Ck. Ck. Anak itu, tidak mengabariku." Ginanjar berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
"Alisha sayang, ayo, temani Nenek panggil Kakakmu."
Alisha hanya mengangguk. Di dalam hatinya, dia mengasihani Kakaknya.
Habislah kamu, Kak. Nenek akan memarahimu. Ah, aku jadi kasihan padamu. Batin Alisha, sambil menaiki tangga menuju kamar Darrel bersama Disa.
Tok... Tok... Tok...
"Kaaaak... Ayo, keluar! Kaaak..."
"Kakak masih mau mandi, dek."
"Kok mandi lagi? Bukannya tadi pas ketemu, Kakak udah mandi?"
Hening. Tidak ada lagi jawaban yang terdengar. Nenek Disa menoleh pada Alisha sambil mengangkat alisnya, seolah sedang bertanya, bagaimana? Alisha hanya mengedikkan bahu, tanda dia juga tidak tahu.
Wanita yang sudah memasuki usia lanjut itu menarik nafasnya. Kini giliran dia yang mengetuk.
Tok... Tok... Tok... Masih tak ada jawaban.
Tok... Tok...
"Apaan sih de... Eh ada Nenek. Apa kab... Shhh... Aduh... Aduh... Sakit Nek. Jangan di jewer, nanti terlepas telinga Darrel, Nek."
"Nakal ya, kamu. Sejak kapan kamu pulang?" Tanya Disa, masih menjewer telinga Darrel.
"Seminggu lalu, Nek. Aduuhh... Lepasin telinga Darrel nek."
"Benar-benar, kamu." Disa melepaskan tangannya dari telinga Darrel. Lelaki itu mengusap-usap telinganya, berusaha menghilangkan sakit yang dia rasa.
__ADS_1
Disa mengabaikan Darrel dan meraih tangan Alisha. "Ayo, sayang. Kita turun." Ucapnya. Ia lalu menatap Darrel. "Kamu, cepat turun! Kakek-kakekmu udah tungguin di bawah."
"Iya, Nek." Balas Darrel.
Darrel menutup pintu kamarnya, lalu menuruni tangga menuju ruang tamu mengikuti Alisha dan Disa. Dalam hatinya berdoa, semoga saja kedua Kakeknya tidak semenakutkan Neneknya.
"Kakek," Darrel berjalan cepat dan langsung memeluk Zarfan dan Ginanjar yang kebetulan duduk berdekatan. Pelukannya sangat erat.
"Uhuk... Uhuk... Lepaskan Kakek Darrel." Ucap Ginanjar, terbatuk karena Darrel terlalu erat memeluknya.
"Kamu bisa membunuh Kakek, Darrel. " Ujar Zarfan.
Darrel melepaskan pelukannya dan menyengir tanpa dosa. Membuat kedua laki-laki lanjut usia itu menggeleng.
"Bagaimana kabar Kakek berdua? Darrel rasa kalian sangat sehat. Lihatlah, kalian masih tetap tampan dan bugar." Ujar Darrel, duduk diantara kedua Kakeknya
"Kamu sangat pandai memuji," Ucap Zarfan.
"Kamu takut kami akan marah?" Timpal Ginanjar.
"Hah? Hehehe... Enggak. Darrel nggak berpikir Kakek marah. Kalian kan sayang cucu. Hehehe..." Kilahnya.
Semuanya menggeleng melihat tingkah Darrel. Hingga tiba-tiba, terdengar suara dua anak laki-laki yang memanggil kakek.
"Kakeeek..." Dafa dan Roy berlari dan langsung menubruk tubuh Ginanjar.
Dibelakang kedua anak itu, ada Gio, Ana dan juga si kecil, Lala. Kemudian, Viko dan Vera. Lalu ada Darren. Lelaki itu bertemu kedua pamannya saat memasuki gerbang rumah.
Disa yang melihat Lala, langsung menghampiri dan menggendong gadis kecil itu. Sedangkan Roy, dia sudah berada di pangkuan Ginanjar. Dan Dafa, anak itu sudah menempel pada Zarfan. Menggeser tempat duduk Darrel yang seolah terabaikan.
"Malang sekali nasibku ini. Bertahun-tahun tidak bertemu, sekali bertemu, diabaikan begitu saja." Gerutunya, membuat semua terkekeh mendengarnya, kecuali Darren dan Gara. Keduanya tidak terkekeh seperti yang lainnya. Darren hanya dengan wajah tanpa ekspresi, dan Gara sedikit tersenyum.
"Kami beberapa kali mengunjungimu. Kenapa harus menyambutmu seperti seorang yang agung? Kurang kerjaan." Ucap Gio.
"Ck. Paman selalu iri padaku. Lihatlah sekarang! Karena iri, putra paman jadi mirip sepertiku."
"Huh. Kau pikir wajah seperti itu hanya milikmu? Sadarlah, Darren juga memiliki wajah itu."
Ucapan Gio sontak membuat Darrel memegang wajahnya. "Benar juga. Wajahku dan Darren kan sama." Gumamnya, lagi-lagi membuat orang-orang itu menahan senyum.
"Akh, tetap saja! Dafa lebih mirip aku!"
"Tidak!"
"Ck. Kalian ini. Selalu saja seperti ini setiap bertemu." Kesal Viko, atas tingkah Kakak dan ponakannya itu.
"Paman yang mulai." Ucap Darrel.
"Kamu!"
"Ck. Sudahlah! Karena sudah berkumpul. Jadi, tidak boleh ada yang pulang. Kalian semua harus menginap. Nggak ada penolakan!" Ucap Darrel, sambil menggoyangkan telunjuknya.
__ADS_1
Lagi-lagi tingkahnya membuat mereka terkekeh. Seteleh itu, Alula, Ana, Vera dan Alisha bergegas ke dapur. Mereka akan masak untuk keluarga tercinta mereka. Tidak peduli dengan larangan Gara agar mereka tidak memasak, mereka hari ini membangkang. Mereka ingin memanjakan lidah keluarga mereka dengan masakan yang mereka masak sendiri.