
Hendra terus berusaha mendekati Asya, dan bersikap begitu baik. Usahanya bisa meluluhkan hati Asya. Gadis itu mulai tidak takut lagi pada Hendra dan sudah memaafkan lelaki itu. Seperti saat ini, Hendra mengajak Asya dan Naomi makan di restoran mall. Mereka tidak sengaja bertemu.
"Oh ya, Kak. Perkenalkan, dia Naomi sahabatku." Ucap Asya.
Naomi tersenyum dan mengulurkan tangannya membalas uluran tangan Hendra. Lelaki itu tersenyum manis pada Naomi.
"Saya Hendra."
"Naomi."
Keduanya melepas tautan tangan mereka. Asya tersenyum melihatnya. Hendra mengangkat tangannya memanggil pelayan dan memesan makanan. Setelah pelayan itu pergi, mereka mulai berbincang kecil.
"Kalian mengobrol lah. Aku ingin ke toilet sebentar." Ucap Asya. Hendra dan Naomi mengangguk bersamaan.
Senyum muncul di bibir Hendra setelah tubuh Asya menjauh. Ia menatap Naomi.
"Aku tahu, kau tidak menyukai Asya. Kenapa?"
Ucapan Hendra membuat Naomi menatapnya. Pancaran mata Hendra bukan suatu kemarahan, melainkan kebahagiaan.
"Ya. Aku tidak menyukainya. Aku hanya memanfaatkannya. Kenapa? Kau marah? Tapi, kurasa kau tidak marah."
"Ya. Kau benar. Aku tidak marah. Aku hanya ingin tahu, alasan kau tidak menyukainya?"
"Aku tidak suka, Darren lebih memperhatikannya."
"Baguslah jika itu alasanmu."
"Kenapa?"
"Aku juga tidak suka Darren dekat dengan Asya. Aku ingin mengajakmu bekerja sama. Kamu memiliki Darren, dan aku memiliki Asya."
"Hmm.. Baiklah. Aku setuju." Balas Naomi. "Sekarang kita deal kerja sama." Naomi menyodorkan tangannya yang langsung dibalas Hendra.
"Jadi, kapan kita mulai rencana kita?"
"Hari ini. Tapi, aku yang berkerja. Kamu cukup pergi ke toilet setelah Asya kembali. Aku akan menunjukkan sesuatu yang ku dapatkan seminggu yang lalu. Ingat, abadikan moment kebersamaan kami."
"Baiklah. Akan ku kerjakan."
Hendra segera mengirimkan pesan pada seorang yang berada tak jauh dari meja mereka. Orang yang diminta Hendra untuk melancarkan rencananya.
Asya kembali dari toilet dan langsung duduk di tempatnya. Tak lama, Naomi berpamitan untuk ke toilet juga, yang diangguki Asya dan Hendra.
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Saat pelayan itu meletakkan minuman di depan Hendra, lelaki itu dengan sengaja menyenggol tangannya, membuat minuman itu tumpah mengenai baju Hendra.
"Maaf, tuan. Saya tidak sengaja." Pelayan tersebut menunduk meminta maaf.
__ADS_1
"Tidak masalah."
"Saya akan mengganti minumannya." Ujarnya. Pelayan itu segera pergi untuk mengambil minuman yang baru.
"Aku akan memberisihkannya di toilet." Hendra bangun dan bergegas menuju toilet. Ia dengan sengaja meninggalkan handphonenya di depan Asya.
Pelayan tersebut kembali membawa minuman. "Ini nona, minumannya."
"Terima kasih."
Setelah pelayan itu pergi, tiba-tiba notifikasi handphone Hendra berbunyi. Asya penasaran tapi dia tidak ingin melanggar privasi Hendra. Tiba-tiba handphone itu bergetar. Asya dengan cepat meraihnya dan hendak menjawab. Tapi, panggilan itu terputus.
Asya menatap layar handphone tersebut. Ia bisa membaca potongan chat itu. Ia semakin ingin melihatnya saat nama Darren disebut. Dengan berani, ia menggeser layar hp tersebut yang ternyata tidak dikunci.
Asya menyentuh aplikasi chat, lalu mengklik pada nomor tanpa nama.
Sebuah vidio dan pesan yang bertulis 'Ini Darren kan? Aku melihatnya di unit apartemen sebelahku saat aku hendak keluar membeli sesuatu. Ini sudah seminggu lalu. Aku hanya ingin memastikan jika dia benar Darren dari mu'
Detak jantung Asya seolah berhenti. Dengan tangan gemetar, ia memutar vidio tersebut. Air matanya langsung menetes. Itu benar-benar Darren. Dan yang membuatnya semakin sakit, orang yang di depannya adalah wanita yang Asya temui di kantor Darren. Darren memasuki apartemen tersebut bersama wanita itu.
Hendra dan Naomi datang bersamaan. Keduanya tersenyum, lalu berpura-pura cemas saat tiba di dekat Asya.
"Asya, kamu kenapa?" Tanya Naomi.
"Asya, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Ujar Hendra.
"A-aku nggak kenapa-kenapa. Kalian makanlah. Aku mau pulang lebih dulu." Asya langsung bergegas tanpa mendengar ucapan Naomi dan Hendra.
***
Darrel melihat Aurel terus menangis sejak tadi. Ia tidak tahu, bagaimana cara menenangkannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah memeluknya dan mengusap kepalanya.
"Darrel... Ak-aku takut." Ujarnya, semakin memeluk erat Darrel.
"Ada aku disini." Ucap Darrel.
"Darrel, He-Hendra kembali."
Deg... Tubuh Darrel menegang. Jika Aurel tahu, berarti dia sudah pernah bertemu Hendra.
"Kamu bertemu dengannya?" Gadis itu mengangguk pelan.
"Dia... Dia datang kesini."
"Hendra kesini? Kapan?"
"Kamu ingat, saat kamu tergesa-gesa kesini karena mencemaskanku?" Darrel mengangguk. "Saat itu Hendra disini. Dia mengancamku akan melukaimu dan Darren jika aku memberitahu kalian bahwa dia kembali. Dia juga akan melakukan sesuatu pada Asya jika aku membocorkan keberadaannya. Aku tidak ingin kalian terluka. Jadi, aku menyetujuinya." Ujarnya.
__ADS_1
"Tapi, semua itu membuatku tak tenang. Sebelum kamu tiba, Hendra juga berada disini tadi. Dia kembali mengancamku."
"Keterlaluan si Hendra."
"Maafkan aku Darrel. Kalian pasti akan mengalami kesulitan yang disebabkan Hendra. Tapi, aku tidak bisa menyembunyikan ini terus. Aku tahu Hendra. Iya atau tidak aku menjawab perintahnya, dia tetap akan melukai kalian. Aku ingin kalian waspada terhadapnya."
"Sudah-sudah, kamu mengambil keputusan yang tepat." Ujar Darrel. Dia bersyukur Aurel mau menceritakan semua itu padanya. Dia bisa menyiapkan orang untuk melindungi Aurel saat dia tidak bersamanya.
Darrel semakin memeluk Aurel, begitupun dengan Aurel. Dia menghirup aroma tubuh Darrel.
"Berarti kamu bertemu Hendra sebelum dia mengunjungi Grisam Group."
"Grisam Group? Apa kalian pernah ketemu?"
"Ya, dia datang untuk menawarkan kerja sama."
"Darrel, ku mohon padamu. Jangan berurusan dengannya. Jaga dirimu. Jaga diri kalian baik-baik. Aku tidak ingin kalian terluka. Lindungi Asya, Darrel."
"Kamu tenang saja. Ada Darren di sisi Asya."
Aurel menarik nafasnya lega. Bagaimana ia bisa lupa jika ada Darren disamping Asya. Lelaki itu pasti akan melindungi sahabatnya.
Setelah Aurel tertidur, Darrel membawanya ke kamar. Dia menelpon beberapa pengawal untuk menjaga unit apartemen Aurel. Kemudian ia pergi dari apartemen itu, kembali ke kantor. Ia terburu-buru ke apartemen Aurel saat mendengar tangisan gadis itu di telpon tadi.
***
Darren menatap ponselnya. Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi Asya, tapi gadis itu tidak menjawabnya. Sejak kedatangan Carla bersama Dion, Asya seperti menghilang begitu saja. Asya pernah menelponnya, tapi saat itu handphonenya kehabisan baterai. Saat dirinya balik menelpon, nomor Asya tidak bisa dihubungi.
Darren melihat jam yang melingkar di tangannya. "Pas sekali. Sudah hampir jam makan siang. Aku akan mengajaknya makan siang."
Darren bergegas keluar ruangannya. Ia mengabaikan pertanyaan Jiyo dan langsung memasuki lift. Saat langkahnya tiba di pintu keluar perusahaannya, ia berpapasan dengan Naomi.
"Hai, Darren. Senang sekali bisa langsung bertemu denganmu disini." Ujarnya sambil tersenyum centil.
Darren tak acuh, lalu melewatinya begitu saja. Naomi tak menyerah. Ia mengejar Darren dan berdiri di depan lelaki itu, menghalangi jalannya.
Darren melototinya sambil menggertakkan gigi. Sungguh, dia benar-benar kesal dengan Naomi.
"Jangan marah dulu, okey? Aku hanya ingin memperlihatkan sesuatu padamu."
"Saya tidak peduli." Darren hendak melangkah, tapi Naomi menahannya.
"Jangan sentuh!"
"Baiklah. Maaf-maaf." Ucap Naomi. "Sekarang, dengarkan aku! Ini tentang Asya." Lanjutnya.
Naomi segera mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan foto Asya dan Hendra yang diambilnya dua hari lalu. Awalnya, Darren tidak begitu peduli. Saat ia melihat dengan jelas jika lelaki yang bersama Asya itu Hendra, amarah Darren naik seketika. Rahangnya mengeras dan tangannya ia kepal dengan kuat. Meski begitu, ia tetap berusaha untuk mengendalikan amarahnya.
__ADS_1
Mengembalikan handphone Naomi, Darren lalu menuju mobilnya dan melajukannya dengan cepat. Naomi yang melihatnya tersenyum licik. Ia berharap, Darren akan marah besar pada Asya.
Selamat menikmati kemarahan Darren, Asya. Batinnya.