
Asya senyum-senyum sendiri di ruangannya. Ia membayangkan kembali kegiatan jalan-jalan nya bersama Darren kemarin. Lelaki itu benar-benar menepati janjinya. Ia membawa Asya jalan-jalan dan menemani gadis itu sepanjang hari, hingga waktu menjelang malam.
Getaran handphonenya membuat Asya tersadar dari pikirannya. Ia meraihnya lalu membaca pesan yang masuk.
Bu Vega.
Nona, desain gaunnya sudah siap.
Jika nona dan nona Aurel ada waktu,
kita bisa bertemu hari ini.
Cepat sekali mereka menyelesaikannya. Baru kemarin kami menemui mereka.
^^^Asya^^^
^^^Baiklah. Kita ketemu di ^^^
^^^cafe B saat makan siang nanti. ^^^
^^^Aku akan datang bersama Aurel. ^^^
Setelah membalas pesan dari Vega, Asya langsung menelpon Aurel.
"Hallo, Asya."
"Ya, hallo. Apa kamu mendapat pesan dari Bu Vega?"
"Iya, aku mendapatkannya. Dimana kita akan bertemu nanti?"
"Di cafe B. Kamu bersama Darrel atau aku jemput?"
"Aku akan bersama supir. Darrel ada di kantor."
"Baiklah. Kita ketemu di cafe B."
"Oke."
Setelah sambungan telpon tertutup, Asya kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak lama, Nita masuk dengan wajah yang di tekuk.
"Permisi, nona." Ucap Nita, sedikit menundukkan kepalanya.
"Ya. Ada apa Nita?" Asya menatap gadis itu. Tidak ada berkas atau apapun yang ia bawa. Hanya wajahnya saja terlihat menahan kesal.
"Bisa aku bertanya sebentar pada nona?"
"Ya. Tanyakan saja."
"Apa nona memberikan nomor handphone saya pada Sekretaris Jiyo?"
"Tentu saja. Bukankah aku sudah memberitahumu?"
"Bukan itu, nona. Itu nomor ponsel untuk urusan pekerjaan. Maksudku, nomor ponsel pribadi."
"Tunggu! Aku..." Asya mencoba berpikir. Ia merasa tidak pernah memberikan nomor Nita pada Jiyo. Tapi... Ya, dia ingat. Jiyo meminjam ponselnya waktu acara pertunangan Darrel.
"Astagaa, Nita. Aku ingat. Jiyo meminjam ponselku waktu acara pertunangan Darrel. Mungkin dia mengambil nomor mu waktu itu."
"Haish... Nona, tolong katakan padanya, aku tidak suka dia terus menelponku jika bukan urusan pekerjaan."
"Kamu jangan khawatir. Aku akan memberitahunya."
"Terima kasih, nona. Aku permisi dulu."
"Ya."
Jiyo, kenapa masih saja nakal seperti anak kecil.
***
Jam makan siang, Asya, Aurel juga Bu Vega sudah berada di cafe B. Wanita itu menyerahkan desain yang sudah ia dapatkan pada Asya dan Aurel.
"Silakan dilihat, nona." Ujarnya.
Asya dan Aurel segera meraihnya. Kedua gadis yang sudah bersahabat lama itu memerhatikan desain gaun yang Aurel inginkan.
"Bagaimana?" Tanya Asya pada Aurel.
"Aku sangat suka. Sesuai keinginanku." Balas Aurel, tersenyum senang.
__ADS_1
"Syukurlah. Kami akan berusaha secepat mungkin untuk membuat gaunnya. Mungkin 5 hari sebelum acara pernikahan, gaunnya sudah selesai dan bisa dicoba."
"Terima kasih, Bu Vega." Ucap Aurel.
"Sama-sama, nona." Wanita itu menunduk sedikit pada Aurel.
"Oh ya, nona Asya. Ini desain dress yang nona inginkan." Wanita itu kembali mengulurkan desain dress yang di inginkan Asya.
"Ini memang dress yang aku suka. Tapi, Darren yang lebih atusias. Bukankah Ibu tahu, Darren lah yang memberitahu dress seperti apa yang harus dibuat?"
"Iya, nona. Tuan muda lah yang menyuruhku membuat dress seperti ini. Sepertinya, tuan sangat posesif pada nona."
"Iya, Bu Vega benar. Darren sangat posesif. Ibu tahu, temanku ini bahkan nggak di izinkan dekat dengan laki-laki, bahkan dengan kembarannya sendiri." Timpal Aurel, menggoda Asya.
"Aureeel..."
"Wah, benarkah? Saya tidak menyangka tuan muda seposesif itu." Ucap wanita tersebut. Ia sepertinya suka pada dua gadis ini. Mereka sepertinya cepat membaur dengan orang yang baru mereka kenal.
Asya tersenyum dengan pipi yang memerah. Matanya kembali menatap desain dressnya. Selera Darren memang tidak perlu di ragukan lagi.
Setelah semuanya setuju, mereka makan bersama. Bu Vega tidak bisa berlama-lama lagi. Ia segera pamit setelah selesai makan.
"Sekarang, kamu mau pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Asya, pada Aurel.
"Jalan-jalan... Boleh. Tapi, kamu pasti kembali ke kantor kan? Jam makan siang mu sudah habis. Bahkan sudah lewat 15 menit."
"Nggak masalah."
"Baiklah. Tapi, kita kemana?"
"Ke mall?"
"Boleh."
Kedua wanita itu segera meninggalkan cafe. Mereka menuju parkiran. Sebelum itu, Aurel mengirim pesan pada supir untuk menjemputnya nanti.
"Ternyata kita lama juga ya, ngobrol nya sama Bu Vega?" Ucap Asya.
"Iya. Bu Vega juga enak diajak bicara."
"Kamu benar."
"Nggak gimana-gimana. Sekarang dia udah beda. Udah lebih baik. Dia sebenarnya baik dari dulu. Mungkin aku pernah menyinggung nya, sampai dia sedikit berubah."
Aurel hanya tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban Asya.
Kamu benar-benar baik, Asya. Seharusnya Naomi sadar dan tahu balas budi. Batin Aurel.
Asya terus melajukan mobilnya hingga mereka tiba di depan mall. Keduanya turun dari mobil dan berjalan memasuki mall.
"Kita kemana dulu, nih?" Tanya Asya.
"Aku ikut kamu aja."
"Oke. Kita ke outlet perlengkapan Ibu dan bayi dulu."
"Hah? Untuk apa?"
"Membelikan hadiah untuk ponakanku tersayang. Tapi, kamu bisa jalankan? Atau, aku beli kursi roda biar kamu nggak capek? Aku yang dorong."
"Asyaaa... Jangan berlebihan deh. Lagi pula, dia masih empat bulan."
"Siapa yang berlebihan? Aureeel... Aku nggak mau kamu capek. Aku khawatir terjadi apa-apa. Selain itu..." Asya bergeser lebih dekat pada Aurel. Mulutnya ia dekatkan pada telinga Asya. "Selain itu... Dia cucu pertama keluarga Grisam. Bisa-bisa, aku digantung paman Gara, dan dipecat sebagai sahabatmu dan Darrel. Yang makin buat aku sakit, Darren mungkin akan membenciku."
"Hush, kamu ngomong apa sih. Nggak akan ada yang seperti itu."
"Hehehe... Aku bercanda. Kamu adalah saudaraku. Dia ponakanku. Mau berhubungan dengan keluarga Grisam atau enggak, dia tetap ponakanku. Sebagai aunty, aku harus melindunginya." Asya berkata bersungguh-sungguh.
Aurel tersenyum padanya, lalu memeluknya. "Terima kasih, Asya."
"Kenapa berterima kasih? Sudah seharusnya seperti ini. Ayo, kita ke outlet Ibu dan bayi. Aku nggak sabar membelikan hadiah untuknya."
"Gimana kalau kita liat-liat saja. Saat 7 bulan nanti, kamu boleh membelikan sesuai keinginanmu. Gimana?"
"Ya sudah. Kita beli perlengkapan ibu hamil saja."
"Eemmm..."
"Nggak ada penolakan. Ayo!"
__ADS_1
Asya langsung menarik lembut tangan Aurel. Mereka langsung menuju lantai tiga, tepatnya di outlet perlengkapan ibu dan bayi.
Keduanya tersenyum sumringah saat melihat berbagai macam perlengkapan bayi. Semuanya begitu kecil dan menggemaskan.
"Aku nggak sabar membelinya untuk ponakanku."
"Aku juga nggak sabar." Ujar Aurel.
Cepatlah tumbuh, nak. Ibu sangat ingin melihat dan mendengar tangismu. Batin Aurel.
Wanita itu melihat-lihat semua perlengkapan bayi. Sedangkan Asya, gadis itu kini melihat macam-macam perlengkapan ibu hamil. Matanya tertuju pada dress Ibu hamil.
"Wah, kelihatannya sangat cocok untuk Aurel." Ujarnya, langsung meraih dress tersebut. Ia meraihnya dalam genggamannya. Namun tiba-tiba, seorang wanita datang dan dengan sengaja merebutnya dari Asya.
"Wah, cantik sekali." Ucap wanita tersebut.
"Maaf, nona. Dress itu, saya lebih dulu memegangnya. Anda seharusnya tidak merebutnya." Ucap Asya, tenang.
"Kenapa? Kau marah? Kau belum membelinya kan?" Wanita itu membalas dengan suara yang keras. Membuat pengunjung memperhatikan mereka.
"Walaupun saya belum membelinya, anda tidak berhak merebutnya seperti itu."
"Hak saya mau merebutnya atau tidak. Cih. Kau pasti tidak mampu membayarnya." Ujar wanita tersebut, memandang remeh Asya.
Aurel dan beberapa pengunjung outlet tersebut mendekat saat mendengar keributan yang berasal dari suara wanita itu.
"Ada apa, Asya?"
"Huh, kau temannya?" Wanita itu memandang rendah Aurel. Matanya berhenti pada perut Aurel yang sedikit membuncit. "Waah, kau hamil? Apa itu anak di luar nikah? Atau kau menjadi simpa..."
Plak...
Satu tamparan mendarat di wajah wanita tersebut. Asya yang melakukannya. Dia terima jika wanita itu memandang remeh dirinya. Tapi, menghina Aurel, dia tidak bisa menerimanya.
Aurel terkejut dengan mata yang berkaca-kaca. Perasaannya memburuk saat mendengar ucapan wanita tersebut.
"Kau! Kau menamparku?" Wanita itu menunjuk wajah Asya.
"Kenapa? Kau marah? Kau sudah seharusnya mendapatkannya. Jika mulutmu tidak bisa dijaga, tanganku juga tidak bisa dijaga." Balas Asya. Entahlah, dia merasa sangat marah pada wanita tersebut.
Wanita tersebut melotot mendengar ucapan Asya. Dengan tidak sabarnya, ia menyerang Asya. Ia menarik rabut Asya dengan kasar. Asya juga balas menarik rambutnya. Beberapa pengunjung berusaha memisahkan mereka. Tapi tidak bisa.
"Wanita murahan! Berani sekali kau menamparku. Ayahku adalah seorang pengusaha terkenal. Calon suamiku juga seorang pengusaha. Aku pastikan kau... Akhh." Tubuh wanita itu terdorong hingga menubruk pengunjung lain yang berusaha menangkapnya agar tidak terjatuh ke lantai.
Sementara Asya, dia sudah berada dalam pelukan Darren, begitupun Aurel, berada dalam pelukan Darrel.
Suasana di outlet tersebut menjadi tegang. Semua terdiam dengan perasaan gelisah. Tatapan tajam Darren dan Darrel seperti sedang membunuh mereka satu persatu.
Wanita itu segera berdiri tegap dan siap menghardik orang yang sudah mendorongnya. Namun, ia harus menahannya dan meneguk ludahnya dengan susah payah.
"Tanganmu tidak berguna. Lebih baik dipotong."
Deg. Wanita itu lagi-lagi meneguk ludahnya dengan kasar. Tangannya dipotong? Tidak! Dia tidak mau tangannya dipotong.
"Sayang kamu nggak apa-apa? Siapa yang... Da-Darren?" Ucap seorang lelaki yang ternyata calon suami wanita tersebut.
"Johny. Tolong aku. Kamu mengenalnya, kan? Katakan padanya, jangan potong tanganku."
"Huh. Kau pasangannya?" Darren tersenyum miring pada wanita itu, lalu Johny. "Tangan wanita mu kotor! Tidak pantas menyentuh gadisku!" Ucap Darren, lalu menuntun Asya keluar.
Namun, sebelum benar-benar keluar, Darren menghentikan langkahnya. "Dia baru saja menggoda gadisku dan berusaha menculiknya beberapa hari lalu." Ujarnya, kemudian melanjutkan langkahnya.
Perkataan Darren membuat wanita itu menatap Johny. "Johny! Apa yang dia katakan?"
"Sayang, kamu percaya padanya?"
"Dia sepertinya nggak bohong."
"Sayang..."
Saat dua orang tersebut sedang berdebat, Darrel menuntun Aurel keluar. Wanita hamil tersebut terus mengeluarkan air mata.
"Sayang. Kamu harus..."
"Mulut wanitamu sangat murahan. Kau lebih baik membawanya ke tukang jahit dan menjahit mulutnya agar tidak sembarang mengatai orang." Ujar Darrel, lalu berjalan keluar sambil menuntun calon istrinya.
Darrel bersyukur, pengawal yang ia tempatkan diam-diam untuk mengawasi Aurel mengabarinya dengan cepat. Jika tidak, apa jadinya Aurel dan Asya sekarang.
"Kamu cari mati! Kedua gadis itu, mereka menantu dari keluarga Grisam."
__ADS_1
Tubuh gadis itu lemah seketika. Perkataan Johny benar. Dia cari mati jika berhubungan dengan keluarga Grisam.