Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 141


__ADS_3

Malam semakin pekat, namun tidak membuat Axel berniat pulang. Laki-laki itu berdiri menatap kelap-kelip lampu dari rooftop perusahaan cabang milik Papanya. Sudah cukup lama ia menjauhi Alisha. Keadaan yang memaksanya. Suka atau tidak, dia harus melakukannya.


"Tuan muda," Seorang pengawal berdiri tegap di belakang Axel.


"Katakan saja!" Balasnya tanpa menoleh.


"Besok, di club xx jam 11 malam."


"Berapa orang?"


"5 orang."


Axel mengangguk. "Bagaimana keadaan Nenek?"


"Keadaan nyonya sedikit buruk. Nyonya terus memanggil tuan muda."


Axel terdiam. Dia memang tidak kembali ke rumahnya. Terhitung sudah 2 hari. Pasti Neneknya khawatir.


"Kau boleh pergi."


"Baik tuan, saya permisi."


Setelah langkah pengawal jauh darinya, Axel membalikkan tubuhnya dan bergegas meninggalkan rooftop. Dia harus melihat kondisi Neneknya.


Axel memacu motornya dengan kecepatan penuh. Dia ingin segera sampai. Mendengar kabar jika keadaan neneknya sedikit memburuk membuat Axel tiba-tiba khawatir. Kekhawatiran nya semakin menjadi ketika ia tiba di rumah dan mendapati mobil Papanya terparkir di halaman rumah. Bukan kah kedua orang tuanya berada di luar negeri?


Mengabaikan mobil tersebut, Axel bergerak cepat memasuki rumah. Langkahnya langsung tertuju ke kamar sang Nenek.


"Axel," Mama Axel langsung mendekat pada putranya itu. Ia memeluk Axel yang juga dibalas oleh Axel.


"Ada apa? Kenapa Mama sama Kakak diam disini? Dimana Papa?" Axel menatap bergantian Mama dan Kakaknya, Ranti.


"Papa di dalam bersama dokter. Keadaan Nenek memburuk semalam." Jelas Ranti.


"Papamu mau membawa Nenek ke rumah sakit." Sambung Mamanya.


"Nggak usah ke rumah sakit." Balas Axel datar.


"Kenapa? Ini demi kebaikan Nenek kamu."


"Nenek nggak suka di rumah sakit. Nenek nggak akan mau makan ataupun minum obat kalau diantar ke rumah sakit." Itulah kenapa Axel tidak membawa Neneknya ke rumah sakit. Dia menjadikan kamar sang Nenek seperti sebuah rungan di rumah sakit. Membayar perawat dan dokter khusus untuk menangani Neneknya.


Kedua wanita itu diam setelah mendengar ucapan Axel. "Biarkan Axel masuk!" Keduanya langsung bergeser memberikan Axel jalan. Laki-laki itu menerobos masuk tanpa mengetuk. Membuat sang Papa dan juga seorang dokter di kamar itu terkejut.


"Ax-xel..." Panggil Neneknya, parau. Ada binar bahagia di mata Nenek itu saat melihat sang cucu. Dokter maupun sang Papa tak bisa mencegah Axel untuk mendekat. Laki-laki itu memeluk sejenak lalu mencium kening sang Nenek.


"Iya, Nek. Ini Axel."


"Ka-kamu kemana d-dua hari kemarin?"

__ADS_1


"Axel ada urusan yang harus Axel selesain." Ujarnya. "Nenek udah makan?" Wanita tua itu mengangguk lemah.


"Maaf tuan muda, nyonya sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja." Ucap si dokter.


"Saya ti-tidak ingin ke rum-rumah sakit." Wanita itu lalu menatap Axel dengan sorot mata penuh harap agar cucunya itu mengerti. Axel menarik nafasnya. Sebenarnya, dia mulai ragu untuk mempertahankan Neneknya agar tetap di rumah saat melihat sendiri kondisi neneknya. Keadaan wanita tua itu jauh lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Dia khawatir akan terjadi sesuatu pada Neneknya jika tidak segera dilarikan ke rumah sakit.


Axel menggenggam tangan sang Nenek. "Nek, Axel antar Nenek ke rumah sakit, ya?"


Lagi-lagi wanita tua itu menggeleng lemah. "Ne-nek tidak mau."


Axel kembali menarik nafasnya. "Ya sudah. Nenek tetap disini. Tapi, nenek janji, nenek harus sehat." Sang nenek tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.


"Arya... Suruh is-tri dan an-anak mu ma-masuk."


"Iya, Bu." Arya segera memanggil istrinya dan sang putri, Ranti untuk masuk. Setelah itu, dia mengajak Axel keluar sejenak.


Arya memeluk putranya saat mereka sudah berada di luar. "Bagaimana kabar mu?"


"Aku baik."


"Maafkan Papa, Axel. Karena Papa, kamu dalam bahaya."


"Semua akan baik-baik saja. Papa jangan khawatir. Masalahnya tinggal menangkap mereka dengan bukti yang kuat."


Arya menepuk pelan punggung Axel. Dia bangga dengan putranya.


"Papa tenang saja. Bukan hanya orang-orang Papa yang bantu Axel. Kaki tangan om Gara juga bantu Axel." Arya mengangguk. Gara memang bisa diandalkan.


***


Jiyo melangkah memasuki gedung Grisam Group. Setelah hampir 7 bulan lebih ia meninggalkan perusahaan itu, hari ini ia kembali menginjakkan kakinya di Grisam Group. Kehadirannya masih disegani banyak karyawan Grisam Group.


Jiyo tersenyum pada Iwan yang menyambutnya. "Selamat pagi, tuan Jiyo."


"Selamat pagi. Kamu sekretaris barunya Darren?"


"Iya, tuan."


Jiyo menepuk pelan pundak Iwan. "Bekerjalah dengan baik padanya. Jangan lihat wajahnya yang dingin. Sebenarnya, dia baik." Ucap Jiyo yang dibalas anggukkan serta senyuman dari Iwan.


"Mari tuan, saya antar ke ruangan tuan Darren."


Jiyo dan Iwan sama-sama menuju ruangan Darren. Setelah di persilahkan masuk oleh pemilik ruangan, keduanya pun masuk.


"Darren," Jiyo merentangkan tangannya hendak memeluk Darren. Namun ia harus berhenti saat Darren berkata, "Kita sering bertemu di luar jam kerja. Nggak perlu berpelukan."


Wajah Jiyo langsung pias. Darren benar-benar. Malu sekali dia di lihat Iwan.


"Bisa nggak kamu pura-pura aja? Aku kan malu dilihat Iwan." Bisik Jiyo pada Darren.

__ADS_1


"Silahkan duduk Jiyo." Darren mengabaikannya dan malah mempersilahkan dia duduk.


"Ck." Jiyo berdecak sembari menatap sinis pada sabahatnya itu.


Setelah keduanya duduk, Iwan berpamitan untuk membuatkan minum untuk kedua lelaki itu. Setelah beberapa menit Iwan keluar, pintu ruangan Darren kembali di ketuk.


Tok... Tok... Tok...


"Siapa?" Jiyo menatap Darren. Tidak mungkin itu Iwan. Pasalnya lelaki itu baru saja keluar.


Darren mengedikkan bahunya lalu beranjak membuka pintu. Di depannya berdiri Nita sambil memegang sebuah berkas. Sedikit keringat di kening gadis itu menunjukkan jika gadis itu buru-buru.


"Selamat pagi, tuan Darren."


"Ya. Ada apa?"


"Maaf tuan. Tuan Jiyo melupakan berkasnya." Nita menunjukkan berkas yang di pegangnya.


"Masuklah!"


Gadis itu mengikuti Darren masuk dan menuju sofa. Melihat Nita, Jiyo berdiri dengan kening yang mengerut. "Nita? Kenapa kamu kesini?"


"Seharusnya kamu berterima kasih. Kamu belum tua sudah pikun!" Sarkas Darren, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Anda melupakan berkasnya, tuan." Nita menyerahkan berkas yang dibawanya pada Jiyo. Laki-laki itu mengusap wajahnya. Malu sekali dia pada Nita. Dia sendiri yang mengingatkan Nita untuk tidak lupa menyiapkan berkas itu ke mejanya. Setelah dia terima, dia sendiri yang lupa.


"Ah, aku terlalu buru-buru kesini. Jadi lupa." Ucap Jiyo, beralasan.


Iwan datang sambil membawakana nampan minuman. "Permisi, tuan." Suara Iwan membuat semua menoleh padanya.


Deg...


Wajah Nita berubah pucat. Ia sedikit memundurkan langkahnya, hampir saja terjungkal ke belakang. Untungnya Jiyo dengan sigap menangkapnya.


"Nita, ada apa?" Tanya Jiyo


"Nita aku..."


"Tu-tuan, a-aku mau kembali ke Yunanda Group." Ujar Nita memotong ucapan Iwan. Tanpa ia sadari, tangannya menggenggam erat tangan Jiyo.


"Darren," Jiyo menatap Darren dengan sorot mata meminta persetujuan Darren.


"Pergilah! Bawa dia kembali. Kita lanjutkan lain kali."


Jiyo mengangguk lalu menuntun Nita keluar dari ruangan. Darren menatap Iwan dengan tatapan tajamnya. Walaupun begitu, ia masih tahu jika ini bukan ranahnya untuk ikut campur.


"Bawa kembali minuman itu!" Ucap Darren, dingin.


Setelah Iwan keluar, Darren kembali ke kursinya. Semoga tidak ada masalah serius.

__ADS_1


__ADS_2