Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 106


__ADS_3

Setelah beberapa jam penerbangan, jet pribadi yang membawa Darren dan Asya tiba di negara D. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama itu, membuat Asya terlelap. Tidak ingin mengganggu tidur sang istri, Darren menggendong wanita itu menuju mobil.


"Berangkat sekarang, tuan?"


"Ya." Balas Darren setelah membenarkan tidur Asya agar nyaman.


Mobil melaju menuju hotel yang sudah disiapkan. Darren langsung menggendong Asya memasuki hotel setelah mereka tiba disana. Aksi Darren membuat para pekerja yang bertugas di malam itu tersenyum-senyum. Beruntung, karena perbedaan waktu, mereka tiba diwaktu cukup larut, dimana tidak banyak orang yang berkeliaran dan memperhatikan mereka.


Dua anak buah Darren mengikuti Darren sambil membawa barang milik mereka dan access card.


Kedua lelaki itu membuka pintu kamar hotel dan mempersilahkan Darren masuk. Koper milik suami istri itu mereka letakkan di depan pintu kamar. Tidak ada diantara keduanya yang berani masuk.


Setelah membaringkan Asya, Darren kembali menemui dua lelaki tersebut.


"Ini access card nya, tuan."


Darren mengangguk dan meraihnya. "Kalian sudah bekerja dengan baik. Istirahatlah." Ujar Darren.


Kedua lelaki itu tertegun, kemudian dengan cepat menundukkan kepala mereka. "Baik, tuan." Ucap keduanya, bersamaan, lalu pergi dari tempat itu dengan senyuman tipis di bibir mereka. Jika tuan muda mereka berkata demikian, itu artinya tugas mereka selesai sakarang. Mereka bisa bersantai sambil menunggu pekerjaan selanjutnya dari Darren.


Darren meraih kopernya dan membawanya masuk. Tak lupa, ia mengunci kembali pintu kamarnya.


"Kamu terlihat sangat lelah." Ucap Darren, menatap wajah istrinya sambil mengelus pipi wanita itu.


"Tidurlah. Aku akan mandi dulu."


Darren beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Setelah menyelesaikan mandinya, lelaki itu ikut berbaring dan menyusup dalam selimut yang sama dengan sang istri, lalu memeluk istrinya dengan sayang.


"Eemmm... Sayang, aku sesak dipeluk begini." Gumam Asya dengan suaranya yang serak.


"Kamu bangun, sekarang? Syukurlah. Kamu sudah tertidur cukup lama."


"Tidur lama? Jam berapa sekarang?" Asya mengerjap pelan matanya.


"Hampir jam satu malam."


"Hah? Astagaaa... Aku tertidur 8 jam." Kaget wanita itu, membuat Darren terkekeh. "Kenapa kamu tertawa? Kenapa nggak membangunkan ku? Aku juga mau lihat suasana disini."


"Aku nggak tega. Kamu lelap sekali saat tertidur. Apa kamu sangat lelah?"


"Ya. Aku sangat lelah. Mungkin kerena beberapa hari ini terlalu sibuk sama pekerjaan. Tapi, aku merasa jauh lebih baik setelah bangun tidur."


Darren mengangguk. Ia lalu tersenyum pada istrinya sambil mengusap pipi wanita itu.


"Sekarang masih ngantuk?"


Asya menggeleng. "Nggak lagi."


"Baguslah. Aku ingin..."


"Sekarang aku lapar." Potong Asya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dari tatapan Darren, ia tahu, apa yang akan lelaki itu katakan.


Darren tersenyum tipis. Ia lupa jika istrinya itu belum makan malam sama sekali. Pikirannya sekarang hanya dipenuhi dengan sesuatu yang mesum.


"Sayaaaang..."


"Aku akan meminta seseorang membelikan makanan untuk kita." Darren bangun dan langsung meraih handphonenya.


Ia mendial nomor salah satu pekerjanya tadi. Sekali ia menelpon, tidak ada jawaban. Darren mencoba ke pengawalnya yang satu lagi, namun nomor ponsel tersebut sedang tidak aktif.


Darren berdecak. Ia lalu kembali menelpon nomor sebelumnya. Beberapa detik kemudian, panggilannya terjawab.


"Hallo... Ahh..."

__ADS_1


Sial!


Darren mengumpat dalam hati. Wajahnya langsung berubah dingin. Ia mengeraskan rahangnya. Sepertinya pengawalnya sedang bersenang-senang menikmati waktu istirahat mereka.


Sementara pengawal tersebut, ia membekap mulut Kakaknya yang kurang ajar itu. Sudah menumpang di kamarnya, sekarang membuat masalah untuknya. Untung saja, tuan mudanya yang memfasilitasi kamar hotel itu untuknya. Jika tidak, ia akan menendang Kakaknya itu keluar.


"Ha-hallo, tuan muda. Maaf, saya..."


"Nggak masalah. Lanjutkan saja."


"Tuan, ini..."


Tuuutt... Tuuutt... Tuuutt


Darren langsung memutuskan panggilan. Sang Pengawal mengacak rambutnya kesal. Ia menatap sinis sang Kakak lalu keluar dengan membanting pintu. Dia akan menemui tuan muda di lantai atas.


"Kenapa kamu memutuskan telpon sepihak? Sepertinya, dia masih bicara."


"Kamu salah dengar. Dia sedang sibuk dengan urusan pribadinya." Ucap Darren.


"Tapi, kenapa wajahmu berubah dingin begitu?"


"Nggak kenapa."


"Sayaaang..."


"Aku kesal, Asya. Aku ini lagi ingin kamu. Tapi, belum bisa karena kamu lapar. Dan sekarang, dia membuatku nggak bisa bersabar."


"Dia... Sedang melakukan sesuatu bersama istrinya?" Asya bertanya sambil berbisik.


"Kekasihnya, tepatnya."


"Ck. Pengawalmu mesum." Asya mencibir.


"Darren sayang, aku masih lapar."


"Baiklah. Kita ke restoran hotel."


"Ini sudah sangat larut, sayang. Apa masih buka restorannya?"


"Kita minta petugas mengantar kita ke dapurnya, atau memintanya memasak untuk kita."


"Kita? Kamu juga belum makan?"


"Hmm. Bagaimana?"


"Baiklah. Tapi, biar aku saja yang masak."


"Akan aku turuti. Tapi, ini dulu." Ujar Darren sambil menunjuk bibirnya. Asya yang melihatnya pun terkekeh. Dan tanpa berlama-lama langsung mengecup bibir Darren. Lelaki itu tersenyum senang, lalu menggandeng tangan istrinya keluar.


Saat pintu terbuka, pasangan suami istri itu dikejutkan oleh pengawal Darren yang hampir mengetuk pintu.


"Kau?"


"Tuan muda, saya..."


"Kenapa kau disini? Bukankah kau sedang bersama..."


"Maaf, tuan, saya memotong ucapan anda. Suara tadi, dia Kakak saya. Dia menginap di kamar saya untuk menghidari suaminya. Dia pikir tuan muda adalah wanita yang terus mengejar saya. Jadi, dia seperti itu."


Asya mengangguk mengerti sekarang. Darren juga paham sekarang. Pikirannya saja yang terlalu cepat menyimpulkan.


"Nggak masalah. Kembalilah istirahat."

__ADS_1


"Tapi, tuan membutuhkan saya."


"Kami akan ke dapur restoran. Istri saya belum makan sesuatu dari tadi."


"Saya yang akan menemani tuan dan nyonya."


"Sayang, biarkan saja. Saat aku memasak nanti, kamu bisa mengobrol dengannya."


"Baiklah. Ayo!"


Ketiga orang itu segera menemui petugas hotel. Setelah mendapat akses ke dapur restoran hotel, mereka segera ke tempat tersebut.


***


Asya dan Darren kembali ke kamar dengan perut yang sudah terisi. Begitu juga dengan pengawal Darren. Lelaki itu terus dipaksa makan oleh Asya.


"Sayang," Darren memeluk istrinya, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dadanya.


"Hmm?"


"Lanjut tidur?"


"Bentar lagi. Kita juga baru selesai makan. Duduk gini dulu."


"Maksudku, tidur yang lain."


"Jangan malam ini, ya?" Asya menatap Darren dengan tatapan memohon. Matanya yang berkedip-kedip lucu membuat Darren tidak bisa menolaknya. Ia memgecup bibir Asya sekilas, lalu mengangguk.


"Baiklah. Aku akan menurutimu malam ini. Tapi, hari besok dan seterusnya, itu adalah milikku. Aku yang akan memutuskannya."


Asya tersenyum, lalu mengangguk. "Baiklah, tuan muda. Aku juga akan menurutimu." Ucap Asya.


Keduanya lalu terkekeh bersama. Darren kembali memeluk sang istri. Tak lama, dia menggendong Asya menuju ranjang.


"Sayang." Asya yang kini berada di atas ranjang, tepatnya di dekapan Darren, mendongak menatap sang suami.


"Hmm? Ada apa?"


"Bagaimana jika tante mu nggak suka sama aku?"


Darren yang sudah memejamkan matanya kembali terjaga. Ia menundukkan wajahnya, menatap sang istri.


"Buat dia suka pada mu."


"Jika itu nggak berhasil?"


"Nggak masalah. Kamu akan tetap menjadi istriku."


"Bagaimana jika dia memintamu menigalkannku?"


"Dia nggak akan berani mengatakannya."


"Kenapa?"


"Karena dia nggak punya hak mengatur hidupku. Jika dia mengatakannya, kita berhenti menemuinya."


"Kenapa begitu? Tante Elisa itu, keluarga kamu, sayang. Kamu lebih dulu kenal dia dibanding aku."


"Dia memang keluargaku. Tapi, kamu hidupku. Bagaimana aku bisa hidup jika aku meninggalkan mu?"


Asya tersenyum mendengarnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Aku sangat mencintaimu." Ucapnya.


"Aku juga sangat-sangat mencintaimu." Darren mengecup puncak kepala Asya. "Sekarang, ayo, tidur! Atau... Kamu mau melakukan sesuatu?"

__ADS_1


"Enggak. Aku sudah mulai mengantuk." Balas Asya cepat, membuat Darren tersenyum. Pasangan suami istri itu pun mulai tertidur sambil berpelukan.


__ADS_2