Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 111


__ADS_3

Darren dan Asya tiba di kediaman Gara. Tak peduli dengan barang bawaannya, Asya langsung masuk rumah. Bahkan Darren pun ia abaikan. Pikirannya sekarang adalah bertemu ponakan tersayangnya, Meeya, dua adik ipar keaayangannya, dan sang Ibu mertua yang paling dicintainya. Ia sudah sangat merindukan mereka.


"Kak Asya." Alisha langsung memeluk wanita itu saat melihatnya. "Kenapa nggak bilang-bilang kalau Kak Asya sama Kak Darren pulang hari ini?"


"Hehehe... Kakak lupa, sayang." jawab Asya, meregangkan pelukannya. "Tapi, Kakak bawa banyak oleh-oleh. Kamu pilih saja mana yang kamu suka. Kakak juga udah siapin buat kamu. Tapi, nanti malam baru Kakak berikan. Sekarang, pilih yang lain dulu."


"Makasih, Kak. Nanti malam Asya ke kamar Kakak, ya?" Alisha kembali memeluknya.


"Iya, Sama-sama." Balas Asya. "Tapi, Ibu, Aurel sama Meeya dimana?"


Alisha meregangkan pelukannya. "Ibu sama Ayah ke rumah Paman Gio. Kalau Kak Aurel, lagi di kamar sama baby Meeya."


"Ya udah, Kakak ke baby Meeya dulu."


"Oke! Alisha ke mobil, ya? Mau lihat barang-barang nya."


Asya mengangguk, membuat Alisha melompat girang. Gadis kecil itu lalu berlari ke luar. Darren yang hendak masuk dikejutkan oleh Alisha yang berlari. Sementara gadis itu, ia segera berhenti berlari saat melihat Darren menatapnya.


"Kenapa lari-lari?" Wajah Darren melembut, begitu juga dengan tatapannya.


"Hehehe... Kak Darren. Itu, kata Kak Asya, Alisha boleh pilih-pilih barang yang Kak Asya bawa. Jadi, Alisha mau melihatnya."


"Apa harus berlari seperti tadi?" Alisha menunduk dan menggeleng. Darren mendekat dan mengusap lembut rambut Alisha. "Jangan lari-lari seperti tadi. Bagaimana jika kamu jatuh? Kakak nggak mau kamu terluka."


"Alisha cuma mau ambil barang milik Alisha, Kak. Kata Kak Asya, ada di mobil."


"Tunggu saja di dalam. Pelayan yang akan membawanya masuk." Alisha mengangguk. "Dimana Kakak iparmu?"


"Kak Asya ke kamar Kak Aurel."


Darren menarik nafasnya setelah mendengar jawaban Alisha. Lelaki itu kemudian kembali mengusap rambut Alisha. "Kakak ke kamar dulu."


"Kakak nggak beli sesuatu buat Alisha?" Darren yang sudah melangkah, kembali terhenti oleh ucapan Alisha. Dia berbalik dan menatap gadis itu.


"Nanti malam, ke ruang kerja Kakak." Jawab Darren.


"Kak Asya juga mau kasih sesuatu sama Alisha nanti malam. Jadi, barengan aja."


"Baiklah."


"Oke. Janji ya, nanti malam Alisha ke kamar Kakak."


"Iya."


Setelah menyetujui permintaan adiknya, Darren lanjut ke kamar. Sementara Asya, wanita itu masih berada di kamar Aurel. Ia masih betah berbincang dengan Aurel sambil menggendong Meeya.


"Kangen banget aunty sama baby satu ini. Udah cantik, harum lagi." Asya mendusel-duselkan hidungnya di wajah Meeya.


"Bagaimana kamu sama Darren disana?"


Asya yang sedang mencium Meeya, mengalihkan pandangannya menatap Aurel. "Kita baik. Tempatnya bagus. Aku suka. Lain kali, kita ke sana barengan, ya?"


"Iya." Jawab Aurel sambil tersenyum. "Oh ya, kalian emang nggak ketemu sama tante Elisa?"


Asya mendekat, lalu duduk di sofa bersama Aurel, dengan Meeya yang masih dalam dekapannya.


"Kamu tahu soal tante Elisa?"


"Hanya tau namanya. Seperti apa tente Elisa, aku nggak tahu sama sekali. Aku juga tahunya saat Darren ngomong mau bawa kamu kesana."


Asya menarik nafasnya. "Huuhh... Ku pikir kamu tahu. Aku ingin sekali mendengar cerita tentang tante Elisa dan Ibu waktu dulu. Aku sangat penasaran."


"Hehehe... Kamu aneh, Sya. Kamu yang dari kecil saja bereng mereka nggak tahu, apalagi aku yang kenal saat SMA?"


"Hehehe... Iya juga, sih. Tapi, bisa saja kamu tahu karena Darrel sudah memberitahumu?"


"Enggak. Darrel nggak cerita apa-apa."


Tok... Tok... Tok...


"Permisi nyonya Aurel!"


Ketukan dan suara pelayan yang terdengar membuat Asya dan Aurel menghentikan pembicaraan mereka. Kedua wanita itu bergegas menuju pintu dan membukanya.


"Iya, Bi. Ada apa?" Tanya Aurel, sopan.


"Maaf nyonya, sudah mengganggu nyonya Aurel sama nyonya Asya. Itu, tuan muda Darren suruh panggilkan. Nyonya ditunggu di kamar."


"Iya. Aku akan ke kamar."

__ADS_1


"Baik, nyonya. Saya permisi."


Asya dan Aurel sama-sama mengangguk. Setelah si pelayan pergi, Asya mengembalikan Meeya pada Aurel. Wanita itu kemudian bergegas menuju kamarnya.


Asya tiba di depan kamar. Saat ia membuka pintu, ternyata pintu kamar tersebut dikunci. Ia mengerutkan keningnya lalu mengetuk.


Tok... Tok... Tok...


"Sayaaaang," Teriak Asya, masih terus mengetuk pintu.


"Say..."


Klak...


Pintu terbuka, membuat Asya berhenti memanggil Darren. Lelaki itu berdiri di depan Asya dengan wajah datar menatap Asya. Dia hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang atletis.


Asya menatapnya sambil susah payah meneguk ludahnya. Saat ia hendak berbicara kembali, Darren langsung menariknya masuk dan mengunci pintu. Lelaki itu mengurung Asya di belakang pintu dengan kedua lengannya.


"Darren..."


"Begitu caramu memperlakukan suami?"


"Apa?" Tanya Asya dengan polosnya. Fokusnya sepertinya terbagi antara pertanyaan sang suami dan ketampanan suaminya yang begitu menggoda.


"Apa? Kamu nggak tahu apa kesalahanmu?" Asya menggeleng dengan tatapan tak lepas dari wajah Darren. Darren menarik nafasnya. Dia tidak habis pikir dengan istrinya ini. Darren semakin mendekatkan tubuhnya, menghimpit Asya yang bersandar di pintu.


"Kamu meninggalkan ku saat kita sampai tadi. Apa kamu lupa? Aku ini suami mu. Kita harus terus sama-sama." Ucap Darren, serius. Namun, tidak dengan Asya. Wanita itu tersenyum manis pada Darren.


"Iya, aku ingat sekarang." Ucapnya. Tanggannya tiba-tiba bergerak menyentuh dada Darren yang tidak mengenakan baju. "Apa kamu sedang menggodaku?" Tanya sambil menaik turunkan alisnya.


Darren tercengang, dan beberapa detik kemudian tersenyum. "Kalau aku sedang menggoda mu, kenapa? Kamu marah?"


"Enggak! Aku senang." Jawab Asya, masih tetap terenyum. "Darren."


"Hmm?"


"Bagaimana kalau kita melakukannya?"


Ucapan Asya yang tiba-tiba membuat Darren terkejut. Tapi tak dipungkiri, dia senang dengan Asya yang mulai berani dan tak malu.


"Aku sedang tidak ingin." Jawab Darren, sengaja. Lelaki itu sedikit menjauhkan tubuhnya dari Asya.


"Nggak bisa!"


"Kenapa nggak bisa? Kan tadi kamu menolaknya."


"Ayo, kita lakukan sekarang!"


"Aku udah nggak berminat." Jawab Asya, melengos dan berjalan menuju kamar mandi. Darren yang melihatnya hanya bisa tercengang. Istrinya sekarang mulai aneh. Walaupun begitu, cintanya untuk Asya tidak pernah terkikis. Bahkan cintanya terus tumbuh setiap hari.


***


Sesuai janji mereka pada Alisha. Kini gadis itu sudah duduk manis di sofa kamar Darren Asya, tepat ditengah-tengah antara pasangan suami istri itu.


"Karena Alisha sudah ada disini, jadi mana janji Kak Asya sama Kak Darren?" Alisha menolehkan kepalanya kiri kanan, menatap Darren dan Asya.


"Kamu tunggu disini, oke? Kakak mau ambilin."


"Kakak juga." Timpal Darren.


Alisha hanya mengangguk. Darren dan Asya segera mengambil hadiah mereka untuk Alisha. Tak lama, keduanya kembali dengan hadiah masing-masing yang dibungkus dengan kertas kado.


"Ini!" Ucap Darren dan Asya bersamaan, sambil memberi hadiah tersebut pada Alisha. Alisha dengan senang hati meraihnya.


"Terima kasih, Kak Asya. Terima kasih, Kak Darren."


"Sama-sama." Lagi-lagi keduanya menjawab bersamaan. Sesaat mata keduanya saling bertemu. Lalu mereka sama-sama membuang wajah, memutus kontak mata. Alisha yang melihatnya pun bingung. Apa yang terjadi pada Kakak dan Kakak iparnya? Ingin bertanya, tapi dia sedikit tak enak. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk tidak ikut campur urusan Kakaknya.


"Oh ya, Kak. Aku boleh buka sekarang?"


"Boleh." Balas Asya sambil tersenyum.


Gadis itu dengan cepat membuka hadiah tersebut. Pertama, ia membuka hadiah dari Asya.


"Waahh... Cantik sekali." Ujar kagum Alisha saat membuka hadiah dari Asya. Sebuah dress cantik dan indah.


"Kamu suka?" Alisha mengangguk sambil tersenyum lebar. "Syukurlah." Asya merasa lega. "Jujur saja. Kakak nggak tahu harus kasi kamu hadiah apa? Saat Kakak lihat dress ini, Kakak langsung merasa, kalau itu cocok buat kamu. Tapi, Kakak masih ragu, takut kamu nggak suka. Ah... Syukurlah, kamu menyukainya."


"Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Kak." Alisha langsung memeluk Asya. "Apapun yang Kak Asya kasi, aku menyukainya."

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Asya. Matanya menatap Darren dengan senyum menyebalkan. Merasa dirinya lebih disayang Alisha dibandingkan Darren.


"Ya. Apapun hadiah dari Kak Asya, aku menyukainya."


"Terima kasih, sayang." Asya mengecup kening Alisha.


Gadis itu melepaskan pelukannya dari Asya, lalu beralih menatap Darren. "Boleh Alisha buka sekarang?" Darren mengangguk.


Alisha meraih hadiah tersebut lalu membukanya. Lagi-lagi senyum mengembang dibibirnya. Sebuah apple watch keluaran terbaru sebagai isi dari kotak kado tersebut.


"Terima kasih, Kak." Alisha langsung memeluk Darren.


"Kamu menyukainya?"


"Ya. Alisha sangat suka. Alisha punya satu, tapi nggak sengaja Alisha rusakin. Mau minta sama Ayah, tapi Alisha malu karena sering minta sama Ayah sama Ibu."


"Kenapa malu?"


"Hehehe... Ya, malu aja."


"Kamu kan punya kartu ATM yang dikasi Ayah. Kenapa nggak kamu gunakan?"


"Itu kan kartu buat pendidikan Alisha."


"Uang pendidikan kamu sudah Ayah siapkan. Kartu itu buat kamu pakai untuk keperluan kamu."


Alisha melepaskan pelukannya lalu menatap Darren. "Kok Ayah sama Ibu nggak bilang? Kak Darren sama Kak Darrel juga nggak ngomong sama Alisha. Jadi, selama ini Alisha serakah banget dong. Udah di kasi kartu, masih aja minta uang jajan sama Ayah Ibu. Suka juga suruh Kak Darren sama Kak Darrel beliin ini itu. Padahal, Alisha punya uang." Ucap Alisha, merasa bersalah.


Darren mengusap lembut rambut Alisha. Senyuman dan tatapan lembutnya menggambarkan begitu sayangnya dia pada adik perempuan satu-satunya itu.


"Kenapa merasa begitu? Kita semua senang bisa penuhin yang Alisha mau. Alisha bahagia, Ayah, Ibu, Kakak, Darrel dan semuanya senang. Kita juga ikut bahagia."


Alisha berkaca-kaca mendengar ucapan Darren. Ia lalu kembali memeluk Kakaknya. Asya yang melihatnya pun tersenyum tipis. Suaminya yang dingin ternyata adalah seorang Kakak yang baik, yang menyayangi adiknya.


"Terima kasih, Kak." Ucap Alisha.


"Sama-sama."


"Terima kasih juga buat Kak Asya." Alisha beralih memeluk Asya.


"Sama-sama." Asya balas memeluknya.


Beberapa menit berbincang dengan Asya dan Darren, Alisha pamit kembali ke kamarnya. Malam semakin larut, dan dia harus tidur agar tidak terlambat ke sekolah nanti.


Setelah Alisha memasuki kamarnya, Darren dan Asya yang mengantar gadis itu, kembali ke kamar mereka. Darren berjalan terlebih dahulu, sementara Asya di belakangnya.


Grep...


Asya memeluk Darren dari belakang, yang spontan membuat Darren berhenti berjalan. Lingkaran tangannya di pinggang Darren mengerat.


"Aku terharu banget, sayang." Ucapnya, menyandarkan kepalanya di punggung lebar Darren.


"Terharu kenapa?" Tanya Darren, tanpa berbalik menatap Asya.


"Terharu karena kamu sayang banget sama Alisha. Aku nggak nyangka, lelaki dingin seperti kamu bisa selembut itu."


Darren menarik nafasnya mendengar ucapan Asya. Ia melepaskan pelukan Asya dan berbalik menghadap wanita itu. Ia lalu merengkuh pinggang wanita itu dengan begitu posesif.


"Jadi, selama ini kamu nggak lihat begitu sayangnya aku sama kamu? Aku bersikap lembut juga padamu. Apa semua itu hanya kamu anggap sebuah rekayasa? Hmm?" Darren berwajah serius. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada Asya.


"Darr..."


"Apa kamu anggap hanya kebohongan? Hmm?" Wajah Darren semakin dekat dengan wajah Asya


"Enggak."


"Apa ketulusanku hanya kepura-puraan dimata mu? Hmm?"


"Darr..."


Cup...


"Aku mencintaimu dulu, sekarang dan selamanya. Bahkan di kehidupan selanjutnya pun, aku akan tetap mencintaimu." Ujar Darren.


Mata Asya langsung memanas mendengarnya. Ia balas memeluk Darren dengan erat. Darren juga semakin memeluknya. Dikecupnya puncak kepala Asya berkali-kali. Matanya juga ikut memanas. Ia tiba-tiba membayangkan, bagaimana jika Asya meninggalkannya? Bagaimana jika Asya lelah dengan sikap dinginnya. Tidak! Dia tidak akan membiarkannya.


"Aku juga sangat mencintaimu. Aku berjanji, kamu satu-satunya lelaki yang aku nikahi. Kamu satu-satunya Ayah dari anak-anak ku nanti. Hanya kamu." Balas Asya.


"Terima kasih, sayang." Ujar Darren.

__ADS_1


"Terima kasih kembali."


__ADS_2