Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 126


__ADS_3

Beberapa mobil memasuki halaman rumah Gara. Nita turun bersama Irene dan Edo. Pasangan suami istri itu mengajak Nita untuk bertemu Asya. Di mobil kedua, Gio bersama Ana juga Dafa dan Lala. Kemudian Viko, Vera dan Roy di mobil berikutnya. Belum sempat mereka melangkah ke rumah Gara, sebuah mobil juga memasuki halaman rumah Gara. Dan keluarlah Jiyo dengan sekantong mangga yang dibawanya.


"Ku pikir, hanya kita yang datang." Gumam Ana pada Gio.


"Iya. Kita sekarang seperti rombongan pendemo yang mau mendemo Gara." Ujar Gio, sambil terkekeh kecil. Membuat semua yang mendengar ikut terkekeh.


"Waah... Paman-paman dan tante-tante pada datang semua, ya? Ku pikir hanya aku yang berkunjung." Ucap Jiyo. Matanya melirik Nita yang terdiam. Sepertinya gadis itu canggung berada diantara orang-orang yang belum begitu ia kenal.


Lala yang digandeng Dafa melepaskan tangan Kakaknya itu, dan beralih mendekati Jiyo. Ia menarik-narik kantong yang dibawa Jiyo.


"Apa ini?" Gadis 4 tahun itu bertanya sambil mendongak menatap Jiyo. Namun, tangannya tak henti menarik-narik kantong yang ada di tangan Jiyo.


"Ini buah mangga buat Kak Asya." Jiyo mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut.


"Punya Lala?"


"Hehehe... Kak Jiyo nggak tahu kalau Lala juga datang. Jadi, belinya cuman buat Kak Asya. Tapi, Lala boleh minta Kak Asya nanti."


Bibir Lala yang sudah mengecurut kembali tersenyum. Anak itu mengangkat tangannya meminta Jiyo menggendongnya.


"Manja sekali princes satu ini." Dengan gemas, Jiyo membawa Lala dalam pelukannya.


"Ayo, kita masuk." Ajak Edo, yang diangguki semuanya.


"Ayah, Ibu. Roy dengar dari Paman, Kak Asya sama Kak Darren bawa anak kecil seumuran Roy." Anak itu bertanya sambil menatap bergantian kedua orang tuanya. Tangannya tak terlepas dari gandengan keduanya.


"Iya. Kak Darren sama Kak Asya adopsi anak." Jawab Vera.


"Adopsi itu apa?"


"Kakak kamu itu mengangkat seorang anak untuk jadi anak mereka." Jelas Viko membuat Roy mengangguk.


"Jadi, aku sama Roy jadi paman sekarang?" Timpal Dafa yang berjalan santai di belakang Roy dan kedua orang tuanya. Suara Dafa membuat ketiga orang itu berhenti agar Dafa bisa menyamai langkah mereka.


"Bukannya udah jadi pamannya Meeya?"


"Hehehe... Dafa lupa, Paman." Kekeh anak itu, sambil menggaruk kepalanya.


Di ruang tamu, sudah ada Ginanjar, Zarfan dan Disa. Mereka berbincang-bincang dengan Gara dan Alula, ada Darren, Asya, Aurel, Alisha, Doni, Meeya dan Darrel yang baru saja kembali dari kamar, mengganti baju kerjanya.


"Kakeeek..." Lala berteriak dan meminta Jiyo menurunkannya. Setelah itu, dia berlari menghampiri Ginanjar.


"Cucu Kakek, bertambah besar sekarang." Ujar Ginanjar, mengangkat Lala ke pangkuannya.


"Tambah cantikkan?" Tanya Lala.


"Tentu saja. Kak Alisha kan cantik. Pasti adiknya juga cantik." Sambung Alisha dengan pedenya, membuat semua terkekeh. Gadis itu memang pandai menyembunyikan masalahnya.


Gio, Ana, Viko dan Vera bergantian mengucap selamat pada Asya dan Darren. Mereka juga berkenalan dengan Doni. Irene memeluk putrinya lama. Sebentar lagi dia akan memiliki cucu dari putri satu-satunya.


"Nona," Asya tersenyum pada Nita yang menyapanya. Wanita itu langsung memeluk sang sekretaris.


"Terima kasih ya, sudah datang kemari. Mungkin kedepannya, kita akan sulit bertemu."


Nita mengangguk. "Sama-sama, Nona. Aku beruntung hari ini diajak tuan dan nyonya besar." Ucap Nita, mengerti dengan yang Asya katakan.


Asya menatap kedua orang tuanya. "Thank's Ma, Pa." Keduanya mengangguk mengiyakan ucapan Asya.


Setelah Nita bergeser, kini giliran Jiyo yang mendekat. Ia merentangkan tangannya hendak memeluk Asya. Namun ia cepat sadar, jika ada Darren di sana. Dari pada mendapat hukuman Darren, Jiyo langsung berbelok memeluk Darren. Perbuatan Jiyo itu membuat semua mengulum senyum. Kecuali Darren dan putranya, Doni. Anak itu hanya menatap datar tanpa sedikitpun senyum. Sementara Darren, ia sudah cukup kesal dengan sahabatnya.


"Selamat atas kehamilan Asya. Aku turut senang. Ini, aku bawa mangga buat istrimu. Ayo, ambil!" Jiyo mendorong kantong yang dibawanya pada Darren. Memaksa lelaki itu untuk menerimanya.


"Kata Mamaku, saat dia hamil dulu, dia suka makan mangga muda. Mungkin saja Asya juga suka mangga muda." Jiyo menyengir tak berdosa.


Asya yang mendengarnya berbinar senang. Ia sudah memikirkan memakan mangga sejak tadi. Tapi, belum sempat ia memberitahu Darren, Jiyo sudah datang membawa mangga terlebih dahulu.


"Waah... Makasih ya, Jiyo." Ujar Asya, mengambil kantong berisi mangga itu dari tangan Darren.


"Hehehe... Sama-sama." Balas Jiyo seraya melirik Darren yang kini berwajah datar.

__ADS_1


Semuanya duduk dan kembali berbincang-bincang. Doni sejak tadi hanya diam, membuat Dafa dan Roy sangat penasaran padanya.


"Kamu Doni kan?" Tanya Dafa, membuat Doni mengangguk.


Dafa mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, aku Dafa. Karena kamu adalah anak Kak Darren dan Kak Asya, jadi kamu harus memanggilku Paman kecil. Seperti Meeya memanggilku nanti." Ujar Dafa panjang lebar.


Doni manatapnya, lalu membalas uluran tangan itu dengan ragu. "Aku Doni." Balasnya singkat.


"Pekenalkan, aku Roy. Aku juga Paman kecilmu. Kata Paman Gara, usia kita sama. Karena kita sama, jadi, panggil saja Roy." Ucap Roy, juga mengulurkan tangannya.


"Aku Doni." Jawab Doni, meraih tangan Roy.


"Yang itu... Dia adikku, Lala." Dafa menunjuk Lala yang sedang di pangku Ginanjar. Doni menatapnya sekilas, lalu mengangguk.


***


Malam semakin larut. Semua yang datang sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Penghuni kediaman Gara juga sudah terlelap.


Asya terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Darren sudah terlelap sambil memeluk sang istri. Asya menatap wajah suaminya yang saat ini begitu dekat dengannya.


"Suamiku sangat tampan." Gumamnya pelan.


Saat sedang memperhatikan suaminya, Asya tiba-tiba teringat dengan mangga yang Jiyo bawa. Dia belum sempat mencobanya tadi. Asya meneguk ludahnya ketika memikirkan betapa enaknya mangga itu.


"Aku ingin memakannya sekarang." Gumam wanita itu.


Asya menyentuh lengan suaminya dan menggoyangkan nya, pelan. "Darren," Panggilan pertama, Darren tak menyahut.


"Sayang. Darren." Asya menggoyangkan lengan lelaki itu sekali lagi, dan berhasil.


"Tidur sayang." Rancau lelaki itu, memeluk Asya semakin erat.


"Sayang,"


"Hmm??"


"Aku mau makan mangga yang dibawa Jiyo."


"Aku bolehkan makan sekarang?"


"Hmmm.."


"Sayang, ih. Aku kesal deh." Asya mencubit lengan Darren, membuat lelaki itu membuka matanya dengan paksa.


"Ada apa, sayang?"


"Kamu nggak dengar yang aku omongin tadi?"


"Iya, apa sayang?"


"Tuh kan? Kamu nggak dengar." Asya membuang wajahnya, tak ingin menatap Darren.


"Iya, sayang, iya. Maafin aku, ya?" Darren yang masih mengantuk seketika lenyap rasa kantuknya. Lelaki itu mendekati Asya dan mencium tengkuknya. Membalikkan tubuh sang istri, kembali menghadapnya.


"Maafin aku, ya? Ayo, kamu mau apa?"


"Aku mau makan mangga." Jawab Asya, masih dengan bibir yang cemberut. Membuat Darren gemas dengan tingkah istrinya itu.


Cup...


Satu kecupan mendarat dibibir Asya. "Boleh. Mau makan dimana?"


Asya tersenyum malu karena ulah Darren yang mengecup bibirnya. Membuat Darren semakin gemas dengannya.


Darren menggeleng, menepis semua pikirannya yang mulai mengarah kemana-mana. "Ayo, mau makan dimana?" Tanyanya, sekali lagi.


"Aku mau makan di dapur, terus ditemani kamu."


"Siap, istriku sayang." Jawab Darren yang membuat Asya terkekeh.

__ADS_1


Darren segera menggandeng istrinya menuju dapur. Mendudukkan istrinya di kursi meja dapur, mengambil buah mangga dan mengupasnya. Tapi, sebelum itu, Asya memilih beberapa mangga yang lebih muda untuk dikupas Darren.


Darren melakukannya dengan telaten. Mengupas, mencuci, dan memotongnya menjadi bagian kecil dan menyajikannya di piring.


"Ini, ayo makan. Satu buah, cukup kan?"


Asya terdiam mendengar ucapan suaminya. "Aku nggak tahu, cukup atau enggak. Tapi, kalau aku mau lagi, bolehkan?"


Kini giliran Darren yang terdiam. Ia menatap mangga muda itu. Ia tiba-tiba merasa ngilu. Mangga itu masih sangat muda. Jika Asya memakan yang sudah matang, ia tidak masalah jika Asya nambah. Tapi, mangga muda ini, ia takut istrinya akan sakit perut.


"Sayang,"


"Eemm... Kita lihat saja nanti. Kamu makan saja dulu yang di piring." Asya mengangguk, menyetujui ucapan suaminya. Dengan lahapnya Asya memakan sepotong demi sepotong mangga tersebut. Membuat Darren semakin merasakan ngilu di giginya.


"Enak, sayang?"


Asya mengangguk. "Enak banget." Jawabnya. Darren ikut mengangguk. Beberapa saat kemudian, potongan mangga itu telah habis.


"Sayang, satu lagi." Asya tersenyum manis ke arah Darren.


"Lagi?" Asya mengangguk lucu.


"Kamu yakin? Aku takut perutmu sakit, sayang."


"Nggak akan sakit."


Darren menarik nafasnya, dan kembali mengupas mangga yang sudah dipilih Asya.


Jiyo sialan! Kalau sampai Asya sakit perut, kamu yang akan habiskan semua mangga ini. Batin Darren, sambil melirik sisa mangga yang dibawa Jiyo.


Setelah membersihkan dan memotongnya, Darren memberikannya pada Asya. Namun, ada yang aneh. Wanita hamil itu menggeleng, seolah menolak pemberian Darren.


"Kamu nggak mau makan lagi?" Asya mengangguk, membuat Darren tersenyum. Tapi, hanya beberapa detik. Setelah Asya melanjutkan ucapnnya, wajah Darren berubah kecut.


"Aku nggak mau lagi. Tapi, aku mau kamu yang makan." Ucap Asya dengan begitu santainya.


Gluk...


Darren meneguk ludahnya. Ada apa dengan istrinya ini? Apa dia ingin membuat suaminya ini sakit perut?


"Sayang... Aku..."


"Kamu nggak mau?"


"Hah? Bukan begitu. Maksudku..."


"Sayang, aku sangat ingin melihat kamu makan mangga ini. Mau, ya?" Asya menatapnya dengan binar memohon. Membuat Darren tak kuasa menolaknya.


"Baiklah," Pasrah Darren.


"Yeee... Makasih, sayang." Ujar Asya, mengecup pipi Darren.


Lelaki itu hanya mengangguk. Dengan wajah tertekan, Darren memasukkan potongan mangga itu ke mulutnya. Rasa asam langsung dirasakan mulut Darren. Lelaki itu menahan dirinya untuk tidak memuntahkan kembali potongan mangga itu.


Jiyo sialan! Umpat lelaki itu dalam hati, sambil mengunyah mangga tersebut.


Darren dengan terpaksa menelan mangga tersebut. Asya sangat senang melihat suaminya memakannya. Ia lalu menyuapkan sepotong lagi ke mulut Darren.


"Ayo, sayang. Makan lagi."


"Lagi?"


"Iya. Kamu nggak mau? Ini kemauan baby, lho. Dia mau lihat Papanya makan mangga."


Darren tersenyum dan mengangguk. Asya dengan semangat memasukkan potongan mangga itu ke mulut Darren.


Demi anak Papa yang masih di perut. Batin Darren, sambil mengunyah mangga tersebut.


Hingga 4 potong mangga yang ia makan, Darren menyerah. Ia memberitahu Asya jika perutnya sakit. Dan wanita itu mempercainya.

__ADS_1


Ini kebohongan pertamaku sejak kita menikah. Maafkan aku sayang. Batin Darren.


Namun, yang ia pikir jika itu sebuah kebohongan, ia salah. Setelah tiba di kamar, perut Darren mules dan ia keluar masuk kamar mandi.


__ADS_2