Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 64


__ADS_3

Setelah makan malam bersama, Darren dan Asya duduk bersama di sofa. Darren menarik Asya dalam pelukannya, dan beberapa kali mengecup puncak kepala gadis itu. Dia sepertinya tidak ingin jauh dari Asya.


"Bagaimana Darrel?" Asya mengulangi pertanyaannya ketika di mobil tadi.


"Semuanya sudah selesai. Yang ku curigai memang benar." Jawab Darren.


"Apa?" Asya melepaskan dirinya dari dekapan Darren, duduk tegap menatap lelaki itu. "Maksudmu, gadis itu Aurel? Seperti dugaan mu?"


"Ya." Darren kembali menarik Asya dalam dekapannya.


"Waahh, mereka benar-benar berjodoh. Syukurlah Darrel dan Aurel bisa bersatu." Ucap Asya. Tangannya sekarang melingkar di tubuh Darren, membalas pelukan lelaki itu.


"Oh ya, Darren."


"Hmm?"


"Bagaimana bisa kamu mencurigai Aurel sebagai gadis itu? Darrel saja nggak sadar."


"Hanya menebak." Jawab Darren. Sebenarnya dia mencurigai Aurel saat mendengar dari Darrel jika gadis itu hamil. Dan juga, Darrel pernah mengatakan bahawa Aurel pernah ke luar negeri. Meski dia tidak tahu, di negara mana Aurel pergi, tetap saja pikiran dan hatinya mencurigai Aurel.


"Tapi, bagaimana bisa Aurel berada di hotel itu?"


Darren mengangkat bahunya. "Mungkin tersesat."


"Ish, aku serius Darren."


"Aku nggak bercanda."


"Terus, rencana Aurel Darrel, atau keluargamu, apa?"


"Mereka akan menikah." Wajah Darren berubah murung saat mengingat rencana lamaran dan pernikahan Aurel dan Darrel. Wajah Asya yang menempel di dada Darren membuatnya tak bisa melihat wajah murung Darren.


"Bagaimana keadaan Aurel?"


"Aurel baik."


Lagi-lagi Asya melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Darren. Ia menatap wajah lelaki itu.


"Kamu... Menyebut nama Aurel?" Tanya Asya. Selama ini, dia belum pernah mendengar Darren menyebut nama sahabatnya itu.


"Ya. Dia keluargaku sekarang."


"Oh ya? Aku bukan keluargamu. Tapi, kamu terus memanggil namaku."


"Kamu berbeda." Darren kembali menarik Asya dalam pelukannya. Kali ini dia memeluk sedikit lebih erat. "Kamu adalah ibu dari anak-anakku nanti. Nggak ada yang salah jika aku menyebut nama mu."


Asya tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di dada Darren. Ia seperti kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Darren ini.


"Asya."


"Hmm?"


"Ayo menikah!"


Gadis itu langsung mendongak menatap mata Darren. Tidak ada candaan yang ia dapatkan, melainkan keseriusan.


"Darren..."


"Aku ingin menikah denganmu secepat mungkin. Aku ingin seperti Darrel. Menikah dan memiliki anak."

__ADS_1


"Kamu... Cemburu pada Darrel, hmm?"


"Enggak." Bantah Darren cepat, membuat Asya tersenyum. Gadis itu menangkup wajah Darren, lalu mengecup dagunya.


"Dengar, Darren! Aku mencintaimu. Aku mau menikah dengan mu. Tapi, nggak secepat yang kamu inginkan."


"Kenapa?"


"Darren. Keluargamu sedang mengurus pernikahan Darrel dan Aurel. Kita nggak mungkin tiba-tiba mengumumkan jika kita juga akan menikah. Apa yang akan mereka pikirkan? Apa kamu mau membuat mereka kerepotan mengurus dua pernikahan sekaligus?"


"Aku akan mengurusnya sendiri."


"Enggak. Pekerjaan kantormu sangat banyak. Aku nggak mau kamu kelelahan."


"Orang-orangku banyak, Asya."


"Enggak, Darren."


"Baiklah. Terserah kamu saja." Ucap Darren, ngambek.


"Kamu ngambek?" Darren tak menjawab.


Dia benar-benar ngambek. Seorang Darren Alvaro ngambek? Menggemaskan sekali. Batin Asya.


Dan tanpa sadar, gadis itu mencubit kedua pipi Darren. Rasanya tangannya sangat gatal dan ingin mencubit wajah Darren yang terlihat menggemaskan saat merajuk seperti ini.


"Gemas sekali calon suami, Asya." Ujarnya. Namun, Darren tetap berekspresi sama.


"Aku janji. Kita akan menikah setelah pernikahan Darrel." Ucap Asya, kembali memeluk Darren. Lelaki itu perlahan kembali memeluk Asya.


Kita lihat saja! Ucapanku atau ucapanmu yang menang. Batin Darren.


Darrel mendorong pelan pintu kamar Aurel. Gadis itu tinggal di kediaman Gara mulai sekarang. Semua kebutuhannya dipenuhi. Tubuhnya juga harus terus dalam keadaan sehat.


Darrel mendekat dan duduk di samping Aurel.


"Kamu masih belum tidur?"


"Aku belum mengantuk."


Darrel tersenyum lalu membawa Aurel dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali. Ia begitu bersyukur untuk semua yang terjadi. Bersyukur karena Aurel lah yang mengandung anaknya.


"Sudah minun susunya?" Aurel mengangguk.


"Aurel,"


"Ya?"


"Bagaimana bisa kamu ada di sana waktu itu? Kami nggak pernah tahu jika kamu pergi ke negara itu."


"Apa kamu ingat saat aku menceritakan mengenai keluargaku yang pindah ke desa?"


"Ya, aku ingat."


"Kamu ingat jika Mamaku pergi meninggalkan aku dan Papa yang sedang sakit-sakitan?"


"Ya."


"Aku ke sana mencari Mama. Aku menemukan Mama dalam keadaan buruk. Dia hidup berpindah-pindah seperti menghindari seseorang. Setelah hampir sebulan aku hidup berpindah-pindah bersama Mama, aku baru tahu Mama mengkonsumsi obat terlarang. Mama juga depresi dan akhirnya dia memilih mengakhiri hidupnya." Ucap Aurel. Matanya mulai berkaca-kaca saat mengingat lagi kenangan buruk itu.

__ADS_1


Darrel yang merasakan kesedihan Aurel semakin memeluk Aurel.


"A-aku sangat terpuruk saat itu. Tapi, setelah beberapa hari, ada beberapa orang mencari Mama. Aku nggak tahu, dari siapa mereka menemukan alamat aku dan Mama. Aku juga nggak tahu, apa yang terjadi antara mereka dan Mama. Yang jelas, mereka marah-marah dan ngebentak aku. Mereka bilang, Mama ada hutang sama bos mereka. Mereka terus paksa dan marah sama aku. Aku takut. Hidupku juga nggak tenang."


"Akhirnya aku memilih untuk mencari tempat tinggal baru. Tapi, mereka kembali menemukanku. Aku sangat takut. Karena itu, aku lari agar menghindar dari mereka. Tapi, mereka tetap mengejarku. Saat itu, aku nggak tahu mau bersembunyi dimana. Ada segerombolan orang yang masuk ke hotel, dan aku masuk ke gerombolan itu. Dan entah bagaimana, mereka tetap mengejarku. Aku nggak tahu, ke arah mana aku pergi. Dan saat aku melewati kamar itu... Seseorang menarikku."


"Aku minta maaf atas kejadian itu. Aku benar-benar nggak sadar saat itu. Aku dipengaruhi obat. Yang ada di pikiranku, hanya ingin menghilangkan rasa aneh dalam tubuhku."


Aurel hanya mengangguk pelan. Tidak tahu harus menjawab apa.


"Sekarang, kamu harus tidur. Sudah cukup larut."


"Aku belum mengantuk. Tapi, aku mau makan buah."


"Biar ku ambilkan."


"Nggak perlu. Aku akan ambil sendiri."


"Aku temani." Ucap Darrel, tak ingin dibantah. Dia melepas pelukannya dan menggandeng Aurel keluar dari kamar. Langkah mereka menuju dapur.


"Kamu duduk dulu. Aku akan ambilkan buah."


"Da..."


"Nggak ada bantahan, okey?" Aurel terdiam sejenak, lalu mengangguk.


"Mau buah apa?"


"Emm... Aku mau jeruk."


"Baiklah." Darrel mengusap kepalanya lalu bergegas mengambil buah.


Aurel duduk manis di kursi meja makan, sambil mengamati Darrel yang mengambil buah di kulkas. Ia tidak bisa melepas tatapannya dari Darrel hingga lelaki itu kembali dan duduk di sampingnya.


Darrel mengupas kulit jeruk lalu memberikannya pada Aurel.


"Ayo, buka mulutmu, biar ku suap." Ucap Darrel.


"Darrel, nggak perlu seperti ini."


"Aureell... Aku suap, ya?"


"Baiklah."


Aurel menurut. Ia membuka mulutnya, menerima sepotong demi sepotong jeruk yang Darrel suapi.


Darren yang merasa kehausan bergegas untuk mengambil minum. Ia sedikit menghentikan langkahnya saat melihat Darrel yang dengan sangat perhatian menyuapi Aurel, juga sesekali mengusap perut Aurel.


Ia lalu melanjutkan jalannya sehingga membuat Darrel dan Aurel sadar, jika dia juga ada diruangan yang sama dengan mereka.


"Aku mendengar suara mobilmu tadi. Kamu dari mana?" Tanya Darrel pada kembarannya.


"Bertemu Asya."


Darrel hanya mengangguk. Ia kemudian melanjutkan mengupas satu buah jeruk lagi. Sementara Darren, setelah meneguk air, dia kembali ke kamarnya.


Darren duduk di sofa dalam kamarnya. Pikirannya kembali terbayang tentang apa yang dilihatnya tadi. Ia mengingat kembali saat Darrel mengusap perut Aurel. Ia membayangkan jika saat ini, dirinya lah yang mengusap perut Asya, yang sudah mulai membesar karena mengandung anak mereka.


Hal itu membuat ia tiba-tiba tersenyum seperti orang bodoh. Ia berharap, secepatnya bisa mengikat Asya dalam pernikahan.

__ADS_1


Meskipun kamu belum siap dan merasa akan merepotkan keluarga, aku akan tetap berusaha untuk menikahi mu secepatnya, Asya. Batin Darren sambil tersenyum.


__ADS_2