Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 103


__ADS_3

Setelah berada di rumah sakit tiga hari, Darrel, Aurel dan baby Meeya kembali ke rumah. Di rumah Gara sudah banyak orang. Setiba di rumah, baby Meeya digendong bergilir oleh setiap orang.


"Cucu buyutku, sangat cantik." Ucap Zarfan, mencium bayi mungil yang sedang digendong Disa.


"Zarfan, dia cucu buyutku juga." Ucap Ginanjar.


"Ya, dia cucu buyut kita. Sekarang kita sudah menjadi Kakek buyut, hehehe..." Zarfan terkekeh pelan sambil merangkul Ginanjar.


"Tidak terasa, kita sudah semakin tua, hehehe..." Kekeh Ginanjar, menepuk-nepuk pelan punggung Zarfan.


Tak lama, terdengar deru mobil berhenti di halaman rumah. Dafa dan Alisha baru saja pulang sekolah.


"Baby Meeyaaa. Harum banget ponakan aunty." Ucap Alisha, mencium wajah bayi tersebut.


"Aku juga mau cium, Kak." Ucap Dafa.


Tak lama, Roy bersama Lala bergabung. Gadis kecil berusia empat tahun itu menarik-narik ujung baju Disa, meminta wanita itu membiarkannya mencium Meeya.


"Nenek, Lala mau cium." Ucapnya.


Disa tersenyum, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa. "Sini, Lala duduk sebelah Nenek."


"Roy juga."


Disa kembali tersenyum. Cucunya Roy, sudah tumbuh besar sekarang. Anak itu sudah bisa menyebut huruf R. Hal itu membuatnya teringat pada Darrel.


"Alisha? Dafa? Kalian sudah pulang?" Ana yang melihat putra dan ponakannya berada di ruangan itu mengernyit bingung. Pasalnya, sejam lagi, baru waktunya Dafa pulang dari sekolah. Dan Alisha, seharusnya dua jam lagi, waktu pulangnya.


"Dafa izin sama Bu Guru, Bu." Jawab Dafa santai. Ana menarik nafasnya. Kelakuan Gio benar-benar menurun pada Dafa. Berdasarkan cerita yang ia dengar dari Gio sendiri, suaminya itu suka sekali bolos sekolah. Dan sekarang, Dafa, suka sekali minta izin semaunya. Dan anehnya, selalu saja diizinkan gurunya.


"Kalau kamu, Alisha?"


"Hehehe... Sama aunty."


"Astagaaaa... Kalian ini!" Ana menepuk jidatnya. "Sekarang, kalian berdua ganti baju, lalu makan."


"Siap, Bu!"


"Siap, aunty!"


Alisha dan Dafa segera menuju kamar, mengganti baju. Saat menaiki tangga menuju kamarnya, Alisha bertemu Darren dan Asya yang menuruni tangga.


"Loh? Kok udah pulang? Inikan..."


"Hehehe... Alisha kebelet, Kak. Nanti saja kita ngomongnya. Sayang Kak Asya." Gadis itu langsung berlari menaiki tangga. Jika hanya bertemu Kakak iparnya itu, dia tidak masalah. Tapi, ada Darren juga. Jika Darren bertanya padanya dan dia salah ngomong, maka ini adalah hari terakhirnya meminta izin seenaknya di sekolah.


"Sayang, Alisha nya jangan ditatap begitu. Nanti dia takut sama kamu." Ucap Asya, membuat Darren menoleh padanya.


"Dia pasti izin sesuka hati lagi." Ucap Darren, pelan.

__ADS_1


"Jangan marah padanya."


"Jika aku marah pada Alisha karena masalah itu, sudah dari dulu aku akan memarahinya." Asya tersenyum mendengarnya. "Aku hanya khawatir Alisha akan ketinggalan pelajarannya." Lanjut Darren.


"Dia gadis yang cerdas. Jangan khawatir." Asya menggenggam tangannya sambil tersenyum menenangkan, membuat Darren ikut tersenyum.


Pasangan suami istri itu segera menuju ruang keluarga, dimana semua berkumpul. Akan ada acara kecil-kecilan untuk menyambut kelahiran baby Meeya.


"Mama, biar ku gendong Meeya sebentar." Ucap Asya, menyodorkan tangannya pada Irene yang sedang menggendong baby Meeya.


"Cantik sekali ponakan aunty." Asya mencium pipi bayi tersebut dengan lembut. Ia terus menggendong bayi itu dengan penuh sayang, membuat Darren tak lepas menatap ke arahnya.


"Camilannya sudah siaaapp..." Ana dan Vera datang sambil membawa makanan ringan dan juga minuman. Kakak dan adik ipar itu begitu kompak sejak tadi. Keduanya bahkan melarang Alula dan Irene membantu. Keduanya juga mengusir Asya dari dapur, dan meminta wanita itu menemani Darren, atau mengajak Darren menemani Lala dan Roy bermain. Biarlah mereka berdua saja yang mengurus dapur, dibantu beberapa pelayan.


Gio dan Viko hanya bisa menggeleng melihat tingkah istri-istri mereka. Seperti itulah Ana dan Vera jika disatukan.


"Mama, Dafa juga mau!" Teriak Dafa, sambil berlari ke arah Ana dan Vera.


"Nggak boleh! Dafa belum makan siang." Vera dengan cepat menghalangi anak itu.


"Aku udah makan di kantin sekolah, aunty."


Vera menarik nafasnya, lalu mengusap rambut Dafa. "Dafa sayang, makan siang dulu, ya?"


Dafa menatap wajah wanita itu. Ia menarik nafasnya, lesu. "Baiklah. Dafa makan siang dulu."


"Ayo, Dafa, sama Kakak! Kakak juga mau makan siang." Alisha yang baru saja selesai mengganti baju, langsung menghampri Dafa.


"Loh? Kata Kakak di mobil, Kakak udah makan di kantin sekolah."


"Hehehe... Kakak lapar lagi." Balas Alisha sambil cengengesan, membuat semua orang tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Sementara di dalam kamar, Darrel terus saja menatap Aurel yang tengah duduk bersandar di sandaran ranjang.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Aurel. Ia merasa sedikit malu ditatap oleh Darrel.


"Enggak. Aku merasa, kamu semakin cantik."


Wajah Aurel langsung memerah mendengar perkataan Darrel. Darren membuatnya bertambah malu.


Berbeda dengan Darrel, lelaki itu tersentak melihat wajah sang istri yang memerah. Ia beranjak dari duduknya, berpindah lebih dekat dengan Aurel. "Kenapa wajahmu memerah?" Tangannya terangkat mengusap pipi Aurel.


"Itu karena kamu!" Aurel langsung memeluknya, dan menyembunyikan wajahnya. Seulas senyum muncul di bibir Darrel.


"Apa... Kamu malu karena aku bilang cantik?"


"Hmm..." Aurel bergumam pelan.


"Istriku memang cantik. Dia juga wanita hebat yang sudah melahirkan seorang putri untukku." Ucap Darrel. Lelaki itu mengecup puncak kepala Aurel berkali-kali.

__ADS_1


Aurel semakin mengeratkan pelukannya. Hingga tiba-tiba...


Tok... Tok... Tok...


"Darrel, Aurel. Baby Meeya menangis. Mungkin dia mau asi." Ucap Asya, berdiri sambil menggendong Meeya di depan pintu kamar. Disisinya ada Darren yang berdiri sambil merangkul pundak sang istri.


Aurel segera melepas pelukannya dan membiarkan Darrel membuka pintu.


"Aku mau masuk juga. Aku masih mau lihat baby Meeya." Ucap Asya cepat, sedetik setelah pintu terbuka. Darrel sampai tercengang dibuat Asya.


Gluk... Lelaki itu meneguk ludahnya. Asya berbicara sangat cepat.


"Darrel!" Darren yang memanggil membuat Darrel sadar dari ke-tercengangan nya.


"Eh, iya. Ayo, masuk saja!" Ucapnya.


Darren dan Asya masuk bersamanya. Asya langsung mendekati Aurel dan menyerahkan bayi itu pada Aurel. Wanita itu meraih putrinya dengan penuh kelembutan.


"Meeya laper, ya? Habis main sama aunty?"


"Iya, Mama. Meeya lapeeerrr banget." Suara Asya yang menirukan suara anak kecil membuat Aurel terkekeh. Dan Asya bahagia melihat senyum itu di wajah sang sahabat.


"Cepat, berikan asi mu untuk Meeya!" Aurel mengangguk, dan segera memberikan asinya untuk baby Meeya.


Sementara Darren dan Darrel, kedua lelaki itu memilih duduk di balkon kamar.


"Apa banyak orang yang di undang untuk acara besok?" Darrel memulai pembicaraan.


"Enggak. Hanya keluarga kita, dan beberapa kenalan Ayah dan Ibu. Kenalan Kakek juga." Jawab Darren. Suasana kembali hening.


"Darren!" Darrel kembali memulai percakapan.


"Hmm?"


"Apa sebaiknya, kamu ajak Asya bulan madu saja? Maksudku, siapa tahu, dengan liburan dan bulan madu, Asya sedikit bisa relax."


Darren terdiam sejenak. Ucapan Darrel ada benarnya. "Aku akan mencobanya." Balas Darren.


"Oh ya, bagaimana dengan perusahaan?" Darrel berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Semuanya baik-baik saja."


Kedua lelaki itu kembali berbincang, kali ini mengenai Grisam Group. Setelah beberapa saat, Asya datang dan meminta mereka untuk kembali. Baby Meeya sudah selesai menyusu, dan anak itu sudah terlelap di baby box nya.


"Istirahatlah. Aku dan Darren, keluar dulu."


"Ya. Kamu juga harus istirahat."


Asya tersenyum, lalu menepuk pelan kepala Aurel. Hal itu membuat Aurel tersenyum lebar ke arahnya. Meskipun usia mereka sama dan terkadang Asya manja padanya, Asya tetap seperti seorang Kakak bagi Aurel.

__ADS_1


__ADS_2