
Barang-barang milik Asya maupun Darren sudah tersusun rapih didalam koper. Begitu juga dengan barang-barang hasil shopping bersama tante Elisa tiga hari lalu. Semuanya sudah dikemas oleh Asya dengan baik.
"Jam berapa berangkatnya, sayang?" Tanya Asya, sambil mengeringkan rambutnya. Setelah selesai, ia mendekati Darren yang duduk di sofa, lalu ikut duduk di sampingnya.
"Sepuluh." Jawab Darren.
"Tiketnya?"
"Ada di tante."
Asya bergeser mendekat dan memeluk Darren. Ia mengendus-endus tubuh suaminya itu. "Kamu belum mandi?"
"Belum. Aku mau kamu yang mandiin."
"Ish, apaan sih." Asya bergerak melepas pelukannya. Namun, ditahan oleh Darren.
"Jangan dilepas! Peluk aku seperti ini." Asya tersenyum. Pelukannya yang sedikit longgar kembali ia eratkan. Wanita itu kembali mengendus-endus bau tubuh suaminya. Belum mandi saja, sudah tercium wangi. Apalagi setelah suaminya itu mandi. Lelaki itu akan berkali-kali lipat lebih wangi. Dan Asya menyukainya.
"Oh ya, sayang. Kata tante, kita ketemunya di bandara?"
"Hmm..."
"Kira-kira, gimana ya reaksi Kakek Nenek sama Ibu saat ketemu tante? Dan soal Paman, apa Paman dulu sangat jahat pada Ibu?"
"Jangan bahas tentang mereka. Bicarakan tentang kita saja. Untuk masalah Paman, akan ku ceritakan setelah kita sampai."
Asya mengangguk pelan. Jika Darren sudah berkata seperti itu, dia hanya bisa mengangguk. Meskipun dipaksa, jika dia tidak ingin bercerita, dia tidak akan bercerita.
"Sayang,"
"Ya?" Asya mendongak menatap suaminya.
"Setelah ini, kita honeymoon?"
Kening Asya mengerut. Matanya menyipit sambil tetap menatap Darren. "Honeymoon?"
"Iya."
"Sayang, aku kan pernah bilang. Kita..."
"Honeymoon barengan Darrel sama Aurel?"
Asya mengangguk. Ada segaris senyuman yang muncul di bibirnya. Ia merasa senang Darren mengingat apa yang ia katakan.
"Dengarkan aku!" Darren menangkup kedua pipi Asya, menahan wajah itu agar tetap menatapnya. "Aku ingin kita honeymoon. Darrel dan Aurel menyarankan kita untuk honeymoon juga. Aku mengatakan apa yang ada di pikiranmu tentang honeymoon kita. Dan mereka nggak masalah. Darrel mendukung begitu juga Aurel. Kapan-kapan kita bisa pergi bersama. Tapi untuk sekarang, cukup aku dan kamu."
"Sayang..."
Drrttt... Drrttt... Drrttt...
Getaran handphone yang berada di atas meja membuat ucapan Asya terhenti. Wanita itu mengalihkan pandangannya, dan meraih handphone tersebut. Sebuah panggilan vidio dari putranya, Doni.
"Hallo, Mama."
"Hallo, sayang. Kok telpon Mama jam segini? Kamu nggak sekolah?"
"Enggak, Ma. Doni sakit."
"Astaga, sakit apa, nak?"
"Hanya flu biasa."
"Udah ke dokter?"
"Udah, Ma. Ini obat nya." Doni menunjukkan obat-obatan yang diberikan dokter.
__ADS_1
Asya dan Doni terus berbincang. Darren yang jadi pendengarnya. Sesekali lelaki itu ikut menimpali pembicaraan Asya dan Doni. Lalu memilih mandi karena sebentar lagi mereka harus ke bandara.
Setelah Asya menyelesaikan pembicaraannya dengan Doni, dia bergegas mengganti bajunya, lalu membantu Darren mengancingkan kemejanya.
"Tampan sekali suamiku." Puji Asya sambil mengusap-usap dada Darren.
"Jangan memancingku, Asya."
"Apaan sih? Aku kan cuma memuji kamu."
"Terus, usap-usap dadanya?"
"Itu reflek, sayang. Kamu ah, pikiran kamu mesum terus." Kesal Asya, lalu menjauh. Wanita itu medekati koper, dan hendak menariknya. Namun, tangan Darren yang melingkar di pinggangnya membuatnya berhenti.
"Istriku cantik sekali."
"Nggak usah puji-puji."
"Aku suka memuji kamu."
"Ya, ya. Sekarang, lepaskan tanganmu! Ayo, kita berangkat. Tante sama Paman mungkin sudah tiba di bandara."
"Baiklah."
Cup...
Darren mengecup leher Asya, dan melepaskan pelukannya. Ia lalu meraih koper dan menggandeng Asya dengan sebelah tangannya yang bebas. Benar-benar tidak ada beban sedikitpun.
Sementara Asya, dia hanya bisa menarik nafas sambil terus mengikuti langkah Darren. Suaminya yang dingin kini menjadi kekanak-kanakan. Benar-benar tidak sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap.
***
Setelah beberapa jam penerbangan, pesawat yang di tumpangi Darren, Asya, Elisa dan Rendra landing. Elisa dan Rendra terlihat gugup. Meskipun keduanya berusaha menyembunyikannya, tetap saja Darren dan Asya tahu.
Elisa mendekati suaminya dan memegang lengan lelaki itu. Rendra menoleh padanya, lalu melepaskan tangan Elisa dari lengannya, dan beralih menggenggam tangan tersebut. Ada kehangatan yang Elisa rasakan.
"Tidak. Kita adalah suami dan istri. Bebanmu, bebanku juga. Kesalahanmu, adalah kesalahanku juga." Balas Elisa.
"Kita hadapi bersama." Elisa mengangguk cepat, menyetujui ucapan suaminya. Kemudian, mereka memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh anak buah Darren.
"Kita ke rumah Kakek Nenek dulu, nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa. Justru aku senang bisa bertemu Kakek Nenek."
Darren mengacak pelan rambut Asya. Mobil yang ditumpangi Rendra dan Elisa melaju mengikuti mobil yang ditumpangi Darren dan Asya. Setelah memakan hampir sejam perjalanan, mereka tiba di kediaman Zarfan.
"Kakeeeek... Neneeeek..." Asya masuk begitu saja setelah pintu dibuka pelayan. Ia bahkan meninggalkan suaminya yang berjalan di belakangnya.
"Kakeeeek... Neneeekkk... Ini Asya."
"Asya?" Disa yang mendengar suara cucu mantunya segera mendekat. Ia cukup terkejut melihat Asya yang tiba-tiba ada di rumah. Bukankah wanita itu pergi liburan bersama suaminya? Seandainya mereka sudah kembali, kenapa tidak ke rumah Gara? Kenapa malah datang ke rumahnya?
"Neneek..." Asya langsung memeluk wanita tua itu, yang juga dibalas hangat oleh Disa.
"Sayang, bukannya kalian pergi..."
"Nenek." Suara Darren menghentikan ucapan Disa. Wanita tua itu beralih menatap Darren.
"Nak. Kalian sudah kembali?"
"Iya, Nek." Darren memeluk Neneknya sejenak, lalu kembali melepaskannya.
"Tapi, kenapa kalian malah kemari?" Disa menatap bergantian Darren dan Asya.
"Kita ada hadiah buat Kakek sama Nenek." Celuk Asya.
__ADS_1
"Hadiah?"
"Ya." Balas Darren. "Dimana Kakek?"
"Kakek disini." Jawab Zarfan, sambil berjalan mendekat. Lelaki tua itu baru saja dari ruang kerjanya.
"Kakeek..." Asya bergerak hendak memeluk Zarfan. Namun, Darren dengan cekatan menahan tangannya.
"Biar aku saja yang peluk Kakek." Ucap Darren lalu memeluk Zarfan. Disa terkekeh melihat adegan itu, begitu juga Zarfan. Lelaki tua itu sadar sekarang. Selama ini Darren memendam rasa cemburunya tiap kali Asya memeluknya. Dan sekarang, Darren menunjukkan sisi posesifnya.
"Kakek tidak akan merebut istrimu, Darren." Ucap Zarfan sambil terkekeh pelan dan menepuk-nepuk punggung Darren.
"Maaf Kakek. Istriku nggak akan berpaling dariku. Jangan berharap pada istriku." Ucap Darren, balas menepuk-nepuk pelan punggung Kakeknya.
Jawaban dan perlakuan Darren membuat kekehan Zarfan semakin terdengar. Ia senang Darren membalas candaannya. Kapan lagi seorang Darren Alvaro, cucunya yang dingin bisa seperti ini. Ini adalah moment langka.
"Hehehe... Kau ini! Oh ya, katamu kalian punya hadiah untuk kami. Mana hadiahnya?"
Darren mengangguk, lalu menatap ke arah pintu, yang diikuti Asya, Disa dan Zarfan. Dari arah pintu muncul Elisa dan Rendra yang saling bergandengan tangan.
Deg...
Mata Disa memanas. Tubuhnya reflek berjalan mendekati Elisa dan langsung memeluknya.
"Putriku Elisa." Lirihnya, dengan penuh haru.
"Ibu,"
"Nak, Ibu sangat merindukanmu." Ucap Disa.
"Elisa juga, Bu. Maafkan Elisa yang pergi tanpa pamit dan menghilang begitu saja. Maafkan Elisa, Bu."
Dia melepas pelukannya, lalu mencium wajah putrinya. "Ibu sudah memaafkanmu. Syukurlah, kamu sudah kembali, nak." Disa kembali memeluknya.
Zarfan yang berdiri di belakang juga mengucapkan syukur karena putrinya sudah kembali. Ia mendekat dan memeluk Elisa setelah Disa melepaskan pelukannya.
"Putri Ayah." Ucap pelan Zarfan yang membuat air mata Elisa semakin jatuh.
"Maafkan Elisa, Ayah."
"Tidak. Tidak apa-apa, Nak. Tidak apa-apa. Syukurlah kamu sudah kembali. Kami sangat mengkhawatirkan mu." Ucap Zarfan.
"Rendra?" Disa baru sadar, jika yang datang bersama putrinya adalah Rendra. Dia tidak mungkin melupakan lelaki itu. Lelaki yang pernah ada diantara kedua putrinya.
"Bu..."
"Siapa dia, nak?" Tanya Zarfan, setelah melepaskan pelukannya.
"Dia... Suami Elisa, Yah, Bu."
"Suami?" Zarfan dan Disa bertanya bersamaan. Saat Elisa mengangguk, kedua orang tua itu kembali memeluk putri mereka. Bersyukur karena putri mereka sudah memiliki suami. Mengingat kejadian yang menimpa Elisa, mereka pikir tidak akan ada lelaki yang ingin menikahi putri mereka. Tapi, kehendak Tuhan tidak ada yang tahu. Putri mereka diberi pasangan hidupnya.
Darren dan Asya yang sejak tadi terdiam menonton pun tersenyum. Tugas mereka untuk mempertemukan sang tante dengan Kakek dan Nenek sudah selesai. Tinggal menunggu Elisa dan Rendra berkunjung ke kediaman Gara bersama Zarfan dan Disa.
"Karena semuanya sudah bertemu, aku sama Asya pamit dulu." Ucap Darren.
"Kalian akan pulang?"
"Iya, Nek. Tubuh Aku rasanya lelah sekali. Aku ingin tidur sepanjang hari." Ucap Asya, menunjukkan ekspresi lelahnya.
Zarfan dan Disa saling memandang, kemudian sama-sama menatap Darren dengan sedikit senyuman menggoda.
Darren tahu maksud dari tatapan dan senyuman Kakek dan Neneknya. Tapi, tidak dengan Asya. Wanita itu malah mendekati Elisa dan memeluknya.
"Jangan lama-lama ya, tante, ke rumah Ayah mertua. Alisha udah besar. Tante juga harus lihat Meeya, putrinya Darrel. Tante pasti sangat menyukai mereka."
__ADS_1
"Pasti. Tante akan secepatnya ke rumah Ayah mertuamu."
Asya mengangguk sambil tersenyum. Dia dan Darren lalu berpamitan.