
Suasana sekolah masih cukup sepi. Alisha turun dari mobil dan hendak menuju kelas. Namun, langkahnya terhenti saat melihat motor Axel melewati gerbang menuju parkiran. Gadis itu dengan riang menghampiri Axel.
"Pagi, Axel." Sapanya, tepat saat Axel melepas helmnya.
Lelaki itu tersenyum tipis sambil menepuk pelan kepala Alisha. "Pagi." Jawabnya, kemudian turun dari motor.
"Di antar siapa?" Tanya Axel tiba-tiba, membuat Alisha sedikit terkejut. Tidak biasanya Axel memulai pembicaraan terlebih dahulu, apalagi di pagi hari seperti ini.
"Tumben tanya-tanya duluan. Biasanya datar aja. Tapi, nggak apa-apa. Alisha suka."
"Lo suka?" Alisha mengangguk cepat. "Oke. Mulai besok, gue yang bakal sapa lo duluan"
"Iiihhh... Nggak gitu juga." Alisha mencubit pelan lengan Axel, membuat lelaki itu mengacak gemas rambutnya.
"Axel!"
"Hmm..."
"Jangan rusak rambut Alisha." Gadis itu melepaskan tangan Axel dari rambutnya.
"Bentar gue benerin."
"Nggak usah." Gadis itu cemberut sambil merapihkan kembali rambutnya.
Kedua sahabat itu saling berbincang sambil berjalan menuju kelas. Saat melewati koridor, keduanya dihentikan oleh teriakan seseorang dari arah belakang mereka.
"Alisha!"
Alisha menoleh begitu juga dengan Axel. Sudut bibir Alisha terangkat membentuk senyuman. Namun, tidak dengan Axel. Wajah lelaki itu menjadi sangat dingin dengan sorot mata yang menajam menatap seseorang yang mulai mendekat ke arah mereka.
"Hardi? Ku pikir besok baru kamu masuk sekolah."
"Enggak. Gue mau masuk hari ini." Jawabnya yang dibalas senyuman oleh Alisha.
Wajah Axel semakin suram melihat Alisha yang terus tersenyum pada Hardi. Tak tahan, ia menarik pelan tangan Alisha, menjauh dari Hardi.
"Ikut gue!" Ujarnya.
"Eh, Axel. Hardi, maaf ya. Kita duluan." Ucap Alisha berpamitan pada Hardi. Remaja lelaki itu hanya mengangguk sambil menatap kepergian Axel dan Alisha.
"Axel, kita mau kemana?"
"Belakang sekolah. Gue mau tanya sesuatu sama lo."
"Disini aja. Nanti kalau bel masuk, gimana?"
Axel menghentikan langkahnya menuruti Alisha. Lelaki itu menatap wajah Alisha. Sorot mata tajamnya sedikit melembut.
"Kenapa Hardi ada disini? Bukannya seminggu lagi dia baru boleh pergi dari pulau kurungan?"
"Hardi dibebasin Ayah karena Mamanya sakit. Papa nya sendiri yang minta ke Ayah buat bebasin Hardi."
"Kapan?"
"Pas malam pesta ulang tahunku itu, Hardi udah bebas."
"Lalu, sejak kapan kamu tahu?"
"Dua hari lalu."
__ADS_1
Axel menghembuskan nafasnya dan mengacak rambutnya. Ingin sekali dia meneriaki gadis di depannya ini. Kenapa tidak memberitahunya jika Hardi sudah kembali.
Lalaki itu kemudian menatap Alisha. "Jauhi Hardi!"
"Kenapa? Hardi sekarang udah jadi baik. Dia juga nggak punya teman."
"Alisha, dengerin gue, okey?"
"Axel, jangan begitu. Hardi bukan orang berbahaya yang harus kita jauhi. Dia hanya adik yang baik, yang di manfaatkan oleh Kakaknya."
Axel mengusap wajahnya. Tidak tahu lagi bagaimana menyuruh Alisha menjauhi Hardi. Gadis ini benar-benar keras kepala. Dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Alisha.
"Axel,"
"Hmmm..."
"Boleh ya, Alisha temanan sama Hardi?"
Axel terdiam cukup lama. Ingin sekali dia menolak. Tapi, wajah Alisha membuatnya tidak sanggup menolak.
"Axel. Boleh, ya?"
"Hmm..."
Mata Alisha langsung membola dengan binar bahagia. "Benaran?" Ia memastikan.
"Hmmm..."
"Tapi, Axel nggak akan jauhin Alisha karena Alisha temanan sama Hardi kan?"
"Hmmm..."
"Hmmm..."
"Axel,"
"Hmmm..."
"Kok kamu Hmmm... Hmmm... Terus? Kamu nggak senang?"
Jelas gue nggak senang. Batin Axel.
Namun, kata hatinya berbeda dengan apa yang di ucapkannya. "Gue senang karena lo senang."
"Makasih. Tapi, Axel benaran nggak mau temenan sama Hardi?"
"Enggak. Gue nggak suka temanan sama orang asing."
"Jadi, selama ini Axel nggak senang temanan sama Alisha? Alisha juga kan orang asing."
"Siapa bilang? Ayah lo sama Papa gue sahabatan. Lo bukan orang asing."
"Lalu, Yana sama Nadia? Kamu juga temanan sama mereka. Dan mereka juga orang asing buat kamu."
"Karena mereka teman lo, jadi mereka bukan orang asing."
"Sekarang Hardi juga teman Alisha. Berarti Hardi bukan orang asing."
"Ck." Axel berdecak dan membuang mukanya ke arah lain, kemudian kembali menatap Alisha.
__ADS_1
"Ya, udah. Lo menang."
"Hah? Maksudnya, Axel mau temanan sama Hardi?"
"Hmm... Terpaksa."
"Hehehe... Nggak apa-apa terpaksa. Lama-lama juga bisa terima." Ucap Alisha. "Ya udah. Yuk, ke kelas."
Axel mengangguk. Keduanya pun bergegas menuju kelas, setelah perdebatan mereka itu.
***
Hari-hari terus berlalu. Dan tanpa terasa, usia kandungan Aurel sudah memasuki bulan kedelapan. Darrel selalu menjadi suami siaga. Dia akan menyelesaikan pekerjaannya dan pulang lebih cepat.
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka berkumpul bersama keluarga yang lain. Asya dan Alisha langsung mendekati Aurel, menggeser Darrel dari tempatnya. Di tambah lagi, Alula ikut mendekat.
Ingin sekali dia meminta ketiga perempuan itu untuk tidak mengambil tempatnya. Namun, tatapan Gara dan Darren membuatnya mengurungkan niatnya. Apalagi, saat melihat wajah bahagia Aurel. Benar-benar membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
"Ponakan aunty Alisha yang manis. Ayo, tunjukkan tendanganmu sebagai sapaan untuk aunty! Aunty sangat ingin merasakannya." Ujar Alisha sambil mengusap-usap perut Aurel.
Dan beberapa saat kemudian, Alisha benar-benar merasakan tendangan di perut Aurel.
"Yaaaaa... Dia merespon ucapan Alisha. Dia bergerak. Dia menedang." Teriak Alisha heboh, membuat orang-orang yang ada di ruangan itu tersenyum.
Asya yang penasaran juga meletakkan tangannya di perut Aurel. Dan bebarapa detik kemudian, ia merasakan kembali tendangan itu.
"Yaaaa... Dia benar-benar menendang. Ibu, aku merasakannya." Ujarnya menatap Alula. Wanita itu tersenyum menanggapi menantunya. Sementara Darren, hanya menatap wajah bahagia istrinya saat merasakan tendangan kecil dari janin yang dikandung Aurel.
Kamu begitu bahagia atas anak yang di kandung Aurel. Bagaimana jika kamu sendiri yang mengandung nanti? Batin Darren, sambil tersenyum dalam hati.
"Ya ya ya. Karena Ibu dan kalian berdua sudah merasakannya. Sekarang giliran aku. Harap kembali ke tempat masing-masing." Ucap Darrel.
Asya dan Alisha memutar bola mata, mendengar ucapan Darrel. Sementara Alula, wanita itu langsung bergeser dan duduk di samping suaminya.
Aurel menatap satu per satu mereka yang ada di ruangan itu. Dia begitu beruntung berada dalam keluarga ini. Dia bersyukur, Tuhan telah menakdirkan dirinya hidup bersama orang-orang yang menyanginya dengan tulus.
Sempat terpikir olehnya untuk berjuang sendiri membesarkan anak yang dikandungnya. Dia akan menerima semua tanggapan orang mengenai dirinya. Namun, jalan yang Tuhan kasi jauh berbeda dengan apa yang ia pikirkan. Dan dia bersyukur akan semua itu.
"Sayang," Aurel mengerjab pelan, saat tangannya di sentuh. Ia baru sadar jika ia melamun tadi. Tapi, dia cukup terkejut melihat raut khawatir di wajah suaminya, dan orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Nak, kamu kenapa?" Alula, masih dengan raut khawatirnya.
"E-enggak, Bu. Aku hanya melamun."
"Kamu buat kita khawatir, Rel." Ujar Asya.
"Iya, Kak. Kita pikir terjadi sesuatu karena Kakak ipar hanya diam." Timpal Aurel.
"Maaf. Nggak terjadi apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Sayang, kamu melamun. Apa yang kamu pikirkan? Ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu? Atau, kamu ingin sesuatu?" Tanya Darrel.
"Enggak, Darrel. Nggak ada yang mengganggu pikiranku. Aku juga nggak mau sesuatu."
"Sayang, katakan saja apa yang kamu pikirkan. Kamu tahu? Ibu hamil nggak boleh stres."
"Huuufthhh... Aku nggak memikirkan sesuatu yang berat. Aku hanya berpikir, betapa beruntungnya aku bisa ada diantara orang-orang seperti kalian. Aku sangat bersyukur memiliki orang-orang yang menyayangi ku seperti kalian." Ucap Aurel dengan mata berkaca-kaca.
Darrel langsung memeluk istrinya dan menciumi wajahnya. Dia tidak tahu, seberapa menderitanya Aurel dulu sebelum mereka kembali bertemu. Dia berjanji pada dirinya sendiri, jika dia akan selalu berusaha membuat Aurel dan anak-anak nya bahagia.
__ADS_1