Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 81


__ADS_3

Hari pernikahan adalah hari yang ditunggu-tunggu. Darren dan Darrel dengan balutan jas hitam yang sama membuat keduanya terlihat semakin tampan. Setiap orang yang hadir berdecak kagum memuji ketampanan saudara kembar itu.


"Tuan muda Darren dengan kembarannya memang sangat tampan. Nona Asya dan calon istri tuan muda Darrel sangat beruntung." Ucap seorang pelayan yang bekerja di rumah Edo. Mereka benar-benar menepati janji mereka, hadir di acara pernikahan.


Pernikaan mereka diadakan di ballroom hotel terbaik dan termegah di kota itu. Pemandu acara pun mulai mememanggil memepelai wanita. Kedatangan dua gadis itu membuat semua orang berdecak kagum dengan terang-terangan.


Darren dan Darrel bahakan tidak bisa mengalihkan tatapan mereka dari pasangan masing-masing.


"Ya tuhan, mereka seperti bidadari. Keluarga Grisam sangat beruntung mendapatkan menantu seperti kedua gadis itu."


"Mereka sangat cantik."


Asya maupun Aurel mengabaikan berbagai decak kagum itu. Tatapan mereka hanya tertuju pada Darren dan Darrel yang berdiri menyambut mereka.


Darren dan Darrel mengulurkan tangan mereka secara bersamaan, yang kemudian disambut oleh Asya dan Aurel. Kedua gadis itu tersenyum manis.


"Aaaa... Lihatlah! Mereka sangat serasi."


"Ya, mereka sama-sama tampan dan cantik. Benar-benar pasangan yang sudah ditakdirkan."


Alisha tersenyum bahagia melihat kedua kakaknya dan istri-istri mereka. Ia menatap kedua orang tuanya, lalu menatap Edo dan Irene. Senyum merekah terukir di wajah para orang tua itu. Ia juga bisa melihat, jika Ibunya dan tante Irene mengusap air mata mereka meski dalam keadaan tersenyum.


Sementara di kursi belakangnya, Nadia dan Yana berbisik heboh memuji ketampanan kedua Kakaknya dan kecantikan istri-istri mereka.


"Kak Darren dan Kak Darrel sangat tampan." Ucap Nadia.


"Kamu benar. Mereka sangat tampan. Istri-istri mereka juga sangat cantik. Aaahhh... Beruntung sekali mereka."


"Iya. Mudah-mudahan salah satu dari Kakak tampan itu melirikku dan menjadikanku istri kedua mereka. Sudah pasti aku sangat bahagia."


"Jangan mimpi! Istri-istri mereka sangat cantik. Kenapa mereka harus melirikmu?"


"Ck. Kamu iri saja."


"Eeehhh... Siapa juga yang iri? Ini juga kenyataannya kok. Istri sempurna seperti itu, kenapa harus mereka tinggalin?"


"Kamu..."


"Diamlah kalian berdua!" Ucap Axel yang duduk di samping keduanya. Ia mulai tidak nyaman dengan dua gadis yang selalu berisik itu.


Nadia dan Yana tersenyum kaku ke arah Axel. Mereka lupa, lelaki itu duduk di dekat mereka.


Mendengarnya, Alisha menoleh. Matanya bertemu dengan mata Axel. Sorot marah di mata lelaki itu berubah tenang saat bertatapan dengan Alisha.


"Jangan marahi mereka. Biarkan saja." Ucap Alisha. Axel hanya mengangguk. Ia kemudian fokus ke depan.


"Lucu banget ya, nikahan berengan gini?" Ucap Nadia. Rasa takut mereka pada Axel tiba-tiba hilang setelah lelaki itu mendapat peringatan dari Alisha.


"Iya, lucu banget. Aku nanti juga mau nikahan barengan seperti ini."


"Bermimpi saja."


Di depan sana, Darren terus merangkul pinggang Asya, begitu juga Darrel. Keduanya terlihat posesif pada pasangan masing-masing.


"Satu ciuman itu mudah. Aku pegang kata-kata mu. Setelah ini, lunasi hutang satu ciumanmu itu." Bisik Darren, tepat di telinga Asya.


Gadis itu bergidik. Selain merasa geli karena bibir Darren hampir menyentuh telinganya, ia juga bergidik geli karena sikap Darren yang entah kenapa ia merasa ada perubahan.


Asya mendongak menatap Darren. "Aku nggak lupa dengan hutangku." Balas Asya.


Di samping mereka, Darrel terus menatap Aurel. Wajah cantik Aurel membuatnya ingin sekali mengecup wajah itu sekarang. Namun, ia berusaha menahannya.


"Darrel, kenapa terus menatapku?"


Darrel menggeleng membuat Aurel mengangguk. Tetapi, ia tetap merasa aneh dengan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Darreeel... Kamu kenapa sebenarnya? Kenapa terus menatapku? Dandanan ini jelek?" Aurel merengek dengan suara yang kecil.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik. Rasanya, aku ingin menciummu."


"Darrel!"


"Hehehe... Maaf." Ucap Darrel.


Orang-orang yang melihat interaksi dua pasang suami istri muda itu, tersenyum gemas. Kedua lelaki itu terlihat begitu menyayangi istri mereka.


"Mereka sangat menyangi istri mereka. Ya Tuhan, semoga aku juga bisa memiliki suami seperti keduanya."


"Hebat. Tuan muda Darren juga memiliki sisi lembut pada orang. Perempuan itu benar-benar merubah tuan muda sedikit demi sedikit. Semoga tuan muda menjadi orang lemah lembut selamanya selain pada istrinya."


Acara terus berlanjut. Satu per satu tamu yang hadir mulai memberikan ucapan selamat. Saat melihat Johny, Darren dengan cepat meraih pinggang istrinya dan memeluknya posesif. Johny yang melihatnya hanya tersenyum canggung.


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia selalu." Ucap Johny.


"Ya."


Lelaki itu bergeser ke arah Asya. Ketika hendak mengulurkan tangannya pada Asya, Darren segera menahannya.


"Tidak perlu. Ucapan selamat tadi sudah cukup." Ucapnya datar. Lagi-lagi Johny hanya tersenyum canggung. Dia tidak berniat mengganggu Asya lagi. Dia sudah jera dihukum pengawal-pengawal Darren waktu itu.


Tak memusingkan hal itu, Johny beralih pada Darrel dan Aurel. Kembaran Darren itu tak kalah posesifnya. Tapi, dia masih dalam batas wajar.


"Darren, apa kamu nggak berlebihan? Lihatlah, dia terlihat canggung sama kita."


"Ini nggak berlebihan." Balas Darren, santai. Asya hanya bisa mengangguk menerimanya.


Giliran Jiyo yang mengucap selamat. Lelaki itu mendekati Darren dan memeluknya.


"Selamat, Ren." Ucapnya lalu melepaskan pelukannya. "Semoga kalian bahagia."


"Ya."


"Ck. Datar amat." Gerutunya, sambil berpindah ke Asya. Ia tersenyum pada gadis itu. Saat hendak mengangkat tangannya menjabat tangan Asya, ia merasakan ada mata tajam yang sedang mengawasinya. Ia lalu melirik Darren. Benar saja, lelaki itu sedang menatapnya dengan sorot mengancam.


"Makasih ya, Jiyo. Aku doa in semoga kamu bisa cepat nyusul."


"Aamiin." Ucap lelaki itu. "Hati-hati sama Darren, jangan sampai kamu nggak bisa tidur nanti malam." Ucap Jiyo lalu melenggang begitu saja ke arah Darrel dan Aurel.


Asya mengerutkan keningnya, bingung. Ia menatap Darren yang terlihat tenang.


"Darren, kenapa Jiyo bilang begitu?"


"Jangan dipikirkan. Jiyo suka aneh." Asya mengangguk dan tidak memikirkannya lagi sesuai yang Darren katakan.


Jiyo berdiri sambil tersenyum manis pada Darrel dan Aurel. Ia memeluk Darrel. "Selamat atas pernikahan kalian. Ck. Kalian sangat jahat meninggalkan ku sendiri tanpa pasangan hidup."


Darrel menepuk bahu Jiyo sambil terkekeh. "Hehehe... Terima nasib." Ucap Darrel.


"Cih. Sahabat sialan!" Ucap Jiyo, kemudian beralih pada Aurel. Gadis itu tersenyum manis pada Jiyo, membuat Darrel merasa kesal.


Jiyo merentangkan tangannya, sambil berteriak, "Aureeell..."


Puk!


Darrel langsung menutup wajah Jiyo dengan telapaknya, sebelum lelaki itu benar-benar memeluk Aurel. Jadinya, Jiyo berhenti dengan kedua tangan direntang dan wajah yang tertutup telapak Darrel.


"Ck. Apa yang kau lakukan?" Kesal Jiyo, menghempaskan tangan Darrel dari wajahnya. "Tanganmu bau."


"Enak saja! Tanganku wangi. Hidungmu saja yang bermasalah."


"Hidungku nggak bermasalah!"


"Ya. Bukan hidungmu, tapi kau lah yang bermasalah."


"Kau juga bermasalah."

__ADS_1


"Eh, kenapa kalian ribut?" Aurel tidak tahan melihat kedua sahabat itu saling berdebat.


"Tanyakan saja pada suamimu ini!"


"Jiyo, maafkan Darrel, ya? Dia..."


"Sayang, kenapa kamu..."


"Diam Darrel!" Darrel langsung terdiam mendapat suruhan tegas Aurel. Hal itu membuat Jiyo mengulum senyum.


"Kamu tahu sendiri, Darrel seperti apa. Maafkan dia ya?" Lanjut Aurel.


"Baiklah, aku memaafkannya. Selamat ya, semoga pernikahan kalian langgeng selalu."


"Makasih, Jiyo."


"Ya." Lelaki itu bergegas pergi. Tapi sebelum dia benar-benar pergi, Jiyo membalikkan tubuhnya ke arah Darrel, lalu menjulurkan lidahnya. Hal itu membuat Darrel menggeram kesal. Sementara Aurel dan Asya menahan tawa mereka. Darren hanya memperhatikan tingkah kembaran dan sahabatnya itu dengan ekspresi datarnya.


"Kak Darren!" Wajah Darren langsung berubah lembut. Sedikit senyum muncul di bibir Darren, membuat Nadia dan Yana yang berdiri di belakang Axel menggigit bibir mereka.


Darren tak peduli dengan yang lain. Ia langsung meraih gadis kecil itu dalam pelukannya.


"Selamat ya, Kak. Semoga pernikahan Kakak sama Kak Asya langgeng terus." Ucap Alisha, membalas pelukan Darren.


"Terima kasih." Balasnya, sambil mengecup puncak kepala Alisha beberapa kali.


Gadis itu lalu bergeser pada Asya. Ia dengan semangat memeluk kakak iparnya itu. "Sekarang, aku bolehkan panggil Kakak ipar? Kak Aurel udah bolehin aku panggil Kakak ipar, lho." Ujar Alisha.


Asya yang mendengarnya pun terkekeh. Ia langsung mengangguk mengiyakan permintaan Alisha. "Iya, boleh. Sekarang kita adalah Kakak dan adik ipar."


"Makasih, Kak. Aku menyayangimu." Ujarnya, melepaskan pelukannya, lalu mendekati Darrel.


"Kak Darreeeelll..." Alisha langsug menubruk tubuh Darrel.


"Cup... Cup... Cup... Adik manjaku yang sekarang semakin manja."


"Kak Darrel,"


"Hmm? Ada apa?"


"Kakak sudah menikah."


"Lalu?"


"Jangan isengin Alisha lagi. Kakak nggak malu sama Kakak ipar Aurel?"


Darrel yang tadi sudah merasa terharu, berubah terkejut. Ia tidak menyangka Alisha akan berkata seperti ini padanya.


"Hehehe... Kakak nggak akan lagi."


"Baguslah. Makasih kak," Ucapnya lalu melenggang begitu saja menuju Aurel. Membuat Darrel melongo atas kelakuan gadis itu.


"Kakak ipar..." Alisha memeluk Aurel. "Selamat ya, akhirnya Kakak resmi juga menikah. Semoga langgeng terus."


"Iya, makasih ya, Alisha." Alisha mengangguk. Ia melepaskan pelukannya lalu tersenyum pada Aurel.


"Aku menyangimu, kak." Ucapnya kemudian meninggalkan pasangan pengantin itu.


Sementara di belakang Alisha, Axel menjabat tangan Darren. Asya, Darrel dan Aurel tersenyum melihat pemandangan itu. Seorang yang dingin dan datar seperti Darren bertemu dengan Axel yang tidak jauh berbeda dari nya.


"Selamat atas pernikahanmu."


"Ya."


Hanya itu percakapan antara keduanya. Axel lalu beralih pada Asya. Ia hanya menundukkan sedikit kepalanya lalu mengucapkan kalimat yang sama seperti yang ia ucapkan pada Darren, lalu berpindah pada Darrel dan Aurel. Axel juga melakukan hal yang sama pada pasangan pengantin tersebut. Ia menjabat tangan Darrel dan hanya akan menundukkan sedikit kepalanya pada Aurel. Benar-benar memahami sifat kedua saudara kembar itu.


Kedua sahabat Alisha pun juga ikut mengucapkan selamat. Kedua gadis itu sangat gembira bisa berhadapan langsung dengan Darren dan Darrel dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan Darrel meladeni kedua gadis itu, yang akhirnya membuat Asya dan Aurel terkekeh.

__ADS_1


Setelah gadis-gadis itu, kedua Paman si kembar dan keluarganya. Lalu Paman Kenan dan keluarganya, juga Paman Ben. Dan yang paling terakhir, adalah para pekerja di rumah Edo dan rumah Gara. Beberapa orang yang bekerja di rumah Aurel pun turut hadir dan mengucapkan selamat. Semuanya terlihat bahagia atas pernikahan tuan dan nona mereka.


__ADS_2