
Asya tersenyum senang sambil menatap keluar jendela mobil. Pulau kurungan. Itu yang Darren katakan padanya. Suasana selama perjalanan begitu damai. Asya suka tempat ini.
"Sayang, kenapa tempat ini dibilang pulau kurungan? Emang ini khusus untuk mengurung orang-orang?"
"Iya."
"Banyak orang yang dikurung disini?"
"Banyak."
"Berapa?"
"Aku juga nggak tahu. Pulau ini milik Kakek. Tapi, paling banyak digunakan sama Ayah saat Grisam Group mulai dipegang Ayah."
"Apa yang mereka dapatkan saat dikurung disini?"
"Hukuman juga pelajaran. Setelah mereka berubah lebih baik, mereka akan diperbolehkan kembali ke keluarga mereka."
"Jadi, Naomi juga dapat hukuman?"
"Tentu saja. Dia membahayakan istriku berkali-kali. Bahkan dia menyumpahi hal buruk padamu saat Ayah dan Papa mengunjungi tempat itu."
"Aku nggak nyangka Naomi seperti itu. Aku pikir dia tulus."
"Sudah. Jangan dipikirkan."
Asya mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Darren. Lelaki itu mengusap lembut rambut sang istri dan mengecup kepalanya.
"Tidurlah. Akan aku bangunkan saat sampai nanti."
"Berapa lama lagi sampainya?"
"Mungkin sejam lagi."
"Sejam nggak lama. Aku mau lihat pemandangan disini saja."
Darren tak menjawab lagi. Asal istrinya senang, ia akan menurutinya. Asya kembali mengamati jalanan yang ditumbuhi banyak pohon di setiap pinggirnya. Ia menuruni sedikit kaca mobil dan menghirup udara yang begitu segar.
"Kalau kita tinggal disini, gimana sayang?"
"Nggak. Tempat ini nggak begitu bagus untuk pertumbuhan anak-anak."
Asya mengangguk. Darren lebih tahu tempat ini dibandingkan dirinya. Jadi, dia menurut saja.
Setelah beberapa saat, mobil memasuki halaman rumah. Rumah yang akan Darren dan Asya tempati sebelum mengunjungi Naomi nanti.
"Ini rumah yang akan kita tinggal?" Pertanyaan Asya terdengar begitu bersemangat. Darren mengangguk sambil menunjukkan senyuman.
"Ayo, keluar!"
Pasangan suami istri itu segera keluar mobil. Tanpa menunggu Darren, Asya berlari kecil muju rumah. Membuat Darren sangat khawatir.
"Sayang! Hei! Jangan lari-lari!"
"Sayang. Rumah ini bagus sekali. Ayo, cepat buka pintunya. Aku sudah nggak sabar melihat didalamnya."
Darren menggeleng-gelengkan kepala. Dia begitu khawatir, tapi Asya malah terlihat sangat bahagia.
Darren berjalan mendekati sang istri. Ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Tapi, sebelum itu, ia menatap istrinya.
"Nggak boleh lari-lari, okey! Kalau nggak, aku nggak akan bukain pintunya."
__ADS_1
"Aku janji, nggak akan lari-lari. Cepetan dong, sayang. Bukain pintunya."
"Sinikan tanganmu!"
Asya menuruti ucapan Darren. Ia mengulurkan tangannya dan langsung digenggam Darren. Wanita itu menatap suaminya dengan perasaan bingung.
"Ini supaya kamu nggak lari masuk duluan." Ucap Darren, datar. Sebelah tangannya mulai memasukkan kunci, membuka pintu. Asya tersenyum melihat suaminya yang begitu protektif padanya. Bahagia sekali rasanya.
Darren menuntun istrinya masuk. Mata Asya langsung berbinar melihat desain rumah yang begitu indah menurutnya.
"Sayang itu..."
"Jangan bertanya dulu, ya? Kamu istirahat dulu. Setelah ini, kita ketemu Naomi. Setelah dari sana, kamu boleh bertanya apapun."
"Benaran?"
"Benar."
"Ya udah, ayo istirahat."
Darren mengangguk dan langsung menggendong Asya. Membuat wanita itu spontan mengalungkan lengannya di leher Darren.
***
Darren dan Asya berjalan menuju sebuah gedung. Baru saja mereka memasuki gedung tersebut, beberapa orang berseragam hitam membungkuk hormat pada keduanya.
"Selamat datang, tuan muda, nyonya muda." Sapa mereka.
Darren hanya mengangguk. Sedangkan Asya tersenyum. Ia dengan riangnya membalas sapaan mereka. "Terima kasih." Balas wanita hamil itu.
Darren langsung membawa sang istri menuju ruangan Naomi. Jujur saja, dia tidak suka menemui wanita gila itu. Tapi, demi memenuhi keinginan istrinya, Darren bersedia melakukannya.
"Naomi!"
"Asya! Perempuan munafik!" Naomi menatap nyalang, dan langsung menyerang Asya dan Darren. Beruntung, ada jeruji besi yang menghalanginya.
Asya cukup terkejut melihat reaksi Naomi. Tapi, ia tidak takut sama sekali. Ia bahkan senang melihat wajah kesal Naomi.
"Hallo, Naomi!" Sapa Asya sambil tersenyum. Ia melambaikan tangannya, senang. Darren tidak habis pikir dengan istrinya ini. Kenapa dia tidak takut sama sekali dengan reaksi dan penampilan Naomi yang berantakan. Apa ini bawaan bayi dalam perutnya? Masih dalam perut saja, anaknya sudah seperti ini. Bagaimana jika sudah lahir dan besar nanti?
"Kurang ajar kau Asya! Kau pembohong! Kau merebut Darren dari ku!"
"Ck. Apa kau nggak sikat gigi? Bau mulutmu terbawa sampai ke hidungku." Balas Asya, mengibaskan tangannya seolah menghalau bau sebelum menusuk indra penciumannya. Darren sampai ingin tertawa mendengar ucapan istrinya. Tapi, ia mencoba menahannya.
Naomi semakin kesal. "Perempuan sialan! Darren itu milikku!"
"Oh ya? Tapi sekarang Darren jadi suamiku. Bagaimana dong?" Balasnya. Asya lalu menatap Darren. "Sayang, kamu memangnya suka sama dia?" Asya bertanya manja. Membuat Naomi berdecih kesal.
"Cih! Menjijikkan!"
Darren tersenyum pada istrinya, tak peduli dengan Naomi. Ia menangkup kedua pipi Asya dan mengecup bibirnya sekilas. "Tentu saja, tidak! Hanya kamu yang aku cinta. Kamu satu-satunya wanitaku."
Cih! Memanfaatkan kesempatan! Pintar sekali. Batin Asya, menanggapi ulah suaminya.
"Tidak! Darren berbohong! Dia nggak cinta kamu! Dia hanya kasihan padamu! Kau perempuan menyedihkan yang nggak punya teman! Darren pasti akan meninggalkanmu nanti. Lihat saja tubuhmu! Kau semakin gendut sekarang. Perutmu juga mulai buncit! Darren pasti akan meninggalkanmu."
Asya memutar bola matanya, lalu menatap Naomi, jengah. "Tentu saja aku semakin gendut dan perutku mulai buncit. Aku sedang hamil sekarang."
"Ha-hamil?"
"Ya. Hamil ANAK AKU DAN DARREN!" Sengaja Asya menekan kata 'Anak aku dan Darren'. Ia senang sekali melihat ekspresi terkejut sekaligus kecewa Naomi.
__ADS_1
"Saudaraku Naomi tersayang. Kamu akan jadi aunty."
"Tidak! Aku nggak mau dipanggil aunty oleh anakmu. Aku nggak mau!"
"Kenapa? Ck. Sayang sekali." Asya pura-pura kecewa. "Aaa, aku tahu. Jangan-jangan kamu mau dipanggil Nenek sama anakku?"
"Asya!!"
"Apa Naomiii?" Balasnya santai. Asya lalu mengusap perutnya. "Nak, kalian dengarkan nenek kalian panggil Mama? Kasar sekali." Asya mengembungkan pipinya. Darren sampai menggusap pipi itu karena gemas.
"Kau perempuan gila, Asya!"
"Kau lebih gila, Naomi."
"Aku membencimu!"
"Aku kecewa padamu."
"Aku benci takdir yang mempertemukan aku denganmu!"
"Aku bersyukur takdir mempertemukan kita. Aku bisa belajar untuk tidak mudah percaya pada orang asing!"
"Kau! Kau akan kehilangan bayimu!"
"KAU!!" Darren membentak ke arah Naomi, yang sontak membuat wanita itu membungkam mulutnya. Darren hendak menghampiri dan memberi pelajaran pada Naomi. Namun, Asya dengan cepat menahannya.
"Jangan, sayang!"
"Kenapa? Dia berkata buruk tentang anak kita! Seharusnya lidahnya dihilangkan saja! Agar tidak bisa bicara lagi."
Deg...
Asya maupun Naomi sama-sama tertegun mendengar ucapan Darren. Mudah sekali ia mengucapkannya.
"Sayang, ucapanmu! Kejam sekali." Asya sedikit mengecilkan suaranya, seperti mendesis saat berkata 'Kejam sekali'.
"Dia harus di beri pelajaran."
"Biarkan saja! Ucapan buruk itu, seperti menggali lubang untuk diri sendiri. Anak kita akan baik-baik saja. Percaya padaku."
Darren sedikit mereda mendengar ucapan Asya. Ia menarik sang istri dalam pelukan dan mengecup kening wanita itu.
"Ayo, kembali. Kamu sudah cukup lama berdiri."
Asya mengangguk. "Ayo, aku ingin berkeliling rumah."
Darren mengusap lembut rambut istrinya. Tatapan tajamnya melirik Naomi penuh kemarahan.
"Naomi, aku pamit pulang dulu, ya? Semoga kamu betah disini." Ucap Asya dengan nada mengejek. "Anak Mama. Ayo, pamit sama nenek." lanjutnya lagi, membuat Naomi mengepalkan tangannya.
"Nenek, baby pulang dulu, ya? Nenek nggak boleh nangis. Kalau baby udah besar, baby akan temui nenek lagi. Bye bye, nek." Ucap Asya, sambil melambai cantik tangannya.
Suami istri itu lalu meninggalkan Naomi yang penuh kekesalan.
"ASYA SIALAN!!"
"AKU MEMBENCIMU! AKU MEMBENCI ANAKMU!"
"DARREN! AYO, LEPASKAN AKU! SETELAH ITU, KITA PERGI BERSAMA MENINGGALKAN WANITA GILA ITU! KITA MENIKAH DAN HIDUP BAHAGIA! DARREN!"
"DARREN!"
__ADS_1
"DARREN!"
Teriakan Naomi diabaikan Asya dan Darren. Jiwa Naomi sepertinya sudah mulai terganggu. Darren tidak ingin mengambil resiko. Melihat istrinya terkejut saja tadi, ia sudah begitu khawatir. Apalagi, ada hal yang lebih parah dari itu. Darren tidak akan memaafkan dirinya jika itu benar-benar terjadi.