Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 57


__ADS_3

Darren menghentikan laju mobil yang dikendarai nya saat tiba di Yunanda Group. Senyum tipis terukir di bibirnya saat menatap wajah Asya.


"Terima kasih, sudah mengatarku." Ucap Asya.


"Hanya itu?" Respon Darren membuat Asya mengerutkan keningnya. Gadis itu bingung dengan ucapan Darren barusan.


"Maksudmu?"


"Nggak cukup hanya dengan terima kasih."


"Lalu?"


Darren mengetuk pipinya dengan telunjuknya. Wajah Asya memerah melihat tingkah Darren. Ia tahu, apa yang dimaksud Darren dengan melakukan hal itu.


"Apaan sih, Darren."


"Cium, Asya. Terima kasih nggak cukup."


"Jangan aneh-aneh, Darren. Pekerjaanku banyak. Aku pergi dulu." Asya berbalik dan hendak membuka pintu mobil. Namun, Darren dengan cepat menguncinya dan menarik tangan Asya, hingga gadis itu berbalik ke arahnya.


"Mau pergi begitu saja, hmm?" Darren menggenggam kedua tangan Asya. Wajahnya semakin ia dekatkan ke wajah Asya.


"Darren,"


"Hmm?" Jawab Darren, santai. "Ayo, lebih dekat."


"Darren, jangan gitu."


"Gimana? Aku hanya ambil bayarannya."


"Darren..."


"Jika kamu masih terus bicara, aku nggak akan membiarkan mu keluar dari mobil ini."


Asya diam menurut. Matanya menatap Darren yang tersenyum manis ke arah nya. Lelaki itu lalu mendekat dan mengecup kening Asya, membuat tubuh gadis itu menegang dan menutup matanya.


Setelah cukup lama, Darren melepas kecupannya. Ia menatap wajah Asya yang matanya perlahan terbuka. Lagi-lagi senyum manis ia tunjukkan pada gadis pemilik hatinya.


Saat mata Asya sepenuhnya terbuka, Darren kembali mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Asya, tapi gadis itu segera menahannya.


"A-aku benar-benar ada banyak pekerjaan. Ayo, buka kunci pintu nya. Aku sudah terlambat."


"Baiklah." Darren mengusap rambut Asya, lalu keluar setelah pintu mobil tidak dikuncinya lagi. Ia berjalan menuju pintu tempat duduk Asya dan membukakannya untuk gadis itu.


"Aku akan menjemputmu makan siang nanti." Ucap Darren, menutup kembali pintu setelah Asya keluar.


"Aku akan makan bersama klien hari ini."


"Bersama klien? Perempuan atau laki-laki? Nita ikut?"


"Kliennya perempuan. Nita juga ikut."


"Huh, baiklah. Aku nggak akan jemputmu makan siang nanti. Tapi, pulang bersamaku."


"Siap." Balas Asya, hingga Darren gemas dan mengacak pelan rambutnya.


"Kalau gitu, aku ke kantor ku dulu."


"Ya, hati-hati."


Darren mengangguk lalu memasuki mobilnya. Ia lalu melajukan mobilnya menjauh dari perusahaan Asya.


Setelah mobil Darren menghilang, Asya segera memasuki gedung Yunanda Group. Dan tanpa ia sadari, Naomi memperhatikannya dan Darren sejak tadi. Bahkan gadis itu merekam interaksi mereka dan mengirimkannya pada Hendra.


***


Jam makan siang pun tiba. Darren meraih kunci mobilnya lalu keluar dari ruangannya.


"Kau nggak makan, Jiyo?"


Jiyo yang melihat sikap Darren yang sedikit berubah cukup heran. Pasalnya, sahabat sekaligus bosnya itu tidak biasanya bertanya padanya.

__ADS_1


"Tumben sekali tuan muda bertanya seperti ini?"


Wajah Darren langsung berubah datar. "Jika kau tidak mau, tidak perlu makan siang. Selesaikan semua laporan itu. Setelah makan siang, semuanya sudah ada di meja saya." Ucap Darren, kemudian pergi dari hadapan Jiyo.


Jiyo yang mendengarnya hanya bisa melotot. Bagaimana bisa Darren berkata dengan begitu mudahnya. Menyelesaikan semua laporan dengan waktu sesingkat ini? Benar-benar gila.


Bodoh kau Jiyo! Benar-benar cari perkara kamu.


Darren segera melajukan mobilnya menuju restoran C. Dia akan makan siang disana. Bukan karena dia ingin, melainkan karena ada Asya disana. Dia meminta alamat tempat makan siang Asya bersama klien pada Nita. Dan di restoran C lah tempatnya.


Darren memarkirkan mobilnya lalu memasuki restoran tersebut. Kehadiran Darren menarik perhatian banyak pengunjung restoran. Tapi, ia tak meperdulikannya. Matanya terus beredar mencari Asya. Hingga tatapannya berhenti di meja nomor 10.


Apa-apaan itu? Klien perempuan? Kenapa ada dua laki-laki?


Darren berjalan cepat mendekati meja itu. Wajahnya semakin di tekuk saat melihat Asya berbincang dengan lelaki yang terlihat masih muda, sambil tersenyum.


"Asya." Suara bariton Darren yang begitu dekat membuat Asya, Nita dan ketiga orang yang bergabung menoleh bersamaan.


"Darren?" Gumam Asya, pelan. Nita yang berada di samping Asya menunduk dan menggaruk keningnya.


"Boleh saya bergabung?" Darren menatap klien Asya beserta dua laki-laki yang duduk mengapitnya.


"Boleh." Jawab wanita tersebut, sambil tersenyum. Darren tak membalas senyumnya. Ia menarik kursi yang berada tepat di samping Asya, kemudian menduduki nya.


Siapa pria ini? Dia sangat tampan. Ucap wanita tersebut dalam hati.


Aura mendominasi nya begitu kuat. Tapi, dia bukan apa-apa dibandingkan putraku. Batin lelaki yang merupakan suami wanita tersebut.


Cih. Modal tampang. Pasti seorang pria yang hanya mengandalkan uang wanitanya. Batin lelaki muda.


"Ekhm... Jika boleh tahu, siapa namamu?" Tanya wanita yang usianya mungkin lebih tua dari Alula.


Darren tak meperdulikannya. Lelaki itu malah menatap Asya sambil menyelipkan anak rambut gadisnya.


"Sudah pesan makanan?" Tanya Darren pada Asya.


"Darren, jangan seperti ini." Bisik Asya pelan sambil menyingkirkan tangan Darren.


"Oh. Saya tidak mendengarnya. Mungkin terlalu fokus pada calon istri saya."


Ucapan Darren sontak membuat semua menatapnya. Mereka begitu terkejut mendengarnya.


"Calon istri?" Ucap ketiga orang itu bersamaan. Mereka begitu terkejut. Hal itu tak jauh berbeda dengan Asya dan Nita. Tapi, mereka hanya diam.


"Maaf, tuan. Anda jangan asal bicara. Nona Asya masih sendiri. Mana mungkin memiliki calon suami. Lagi pula, Ibu saya akan menjodohkannya dengan saya." Ucap lelaki tersebut dengan percaya diri. Asya cukup terkejut mendengarnya.


"Huh." Darren tersenyum miring. "Sayang, apa kamu lupa memberitahu mereka mengenai kita yang akan menikah sebentar lagi?" Darren mengecup pipi Asya, membuat wajah gadis itu memerah.


Darren kenapa jadi tidak tahu malu seperti ini?


Ya Tuhan. Kenapa tuan muda jadi seperti ini? Batin Nita.


"Maaf, nak. Siapa anda sebenarnya? Kenapa anda mengganggu makan siang kami?" Tanya lelaki yang usianya tidak muda lagi.


"Saya calon suami Asya."


"Ya, saya sudah mengetahuinya barusan. Tapi, maksud saya, nama anda? Asal keluarga anda? Dan... Pekerjaan anda?" Tanya lelaki itu. Tatapannya seperti mengejek Darren. Menganggap jika Darren adalah orang rendahan yang hanya mengandalkan Asya.


"Tuan, anda..."


"Diamlah!" Ucapan Darren membuat Nita yang hendak berbicara pada lelaki itu terdiam.


Raut wajah Darren berubah menjadi sangat dingin, begitupun dengan tatapannya.


"Kau tidak perlu menjelaskannya." Ujarnya dengan tatapan tajam yang tertuju pada klien Asya beserta suami dan anaknya.


"Saya Darren Alvaro Grisam. Cucu tertua keluarga Grisam."


Deg... Jantung ketiga orang itu seperti akan berhenti saat mendengar Darren memperkenalkan dirinya dengan penuh wibawa.


"Jika tentang pekerjaan, saya yakin kalian tahu." Sambung Darren.

__ADS_1


Mereka sama-sama terdiam sambil meneguk ludah dengan kasar. Inilah CEO Grisam Group yang terkenal itu. Mereka sudah salah mencari lawan.


"Tuan muda..."


"Permisi. Ini pesanannya." Ucapan lelaki yang hampir seusia Gara itu terpotong saat seorang pelayan datang.


Pelayan tersebut meletakkan semua pesanan kemudian berlalu dari meja itu. Darren meraih pesanan Asya, lalu menyendokkannya dan menyuapi Asya.


Sikap Darren membuat pengunjung restoran menjerit tertahan. Mereka juga ingin disuapi, apalagi oleh lelaki tampan. Putra klien Asya hanya bisa menundukkan kepalanya, tak berani menatap Asya maupun Darren. Bahkan Nita saja, dia tidak berani.


"Ma-maafkan kami, tuan." Ucap lelaki muda.


Darren tak menggubris ucapan lelaki tersebut. Ia hanya fokus pada gadis yang sedang di suapinya.


"Kenapa kamu mau bekerja sama dengan orang yang sombong seperti mereka?" Darren mengusap makanan yang menempel dibibir Asya menggunakan jarinya, kemudian menjilat jarinya, tepat pada bekas makanan Asya yang ia usap.


"Darren..."


"Batalkan saja kerja samanya."


"Jangan!" Serentak ketiga orang tersebut berteriak agar kerja sama mereka tidak dibatalkan. Hal itu membuat semua orang menatap mereka.


"Memalukan!" Cibir Darren.


"Nona Asya, mohon jangan dibatalkan kerja samanya." Ucap wanita tersebut.


"Saya tidak akan membatalkannya." Jawab Asya sambil tersenyum. Membuat mereka menarik nafas lega.


Huh, sikap sombong mereka hilang seketika. Batin Nita.


***


Setelah acara makan siang selesai, mereka bergegas kembali ke pekerjaan masing-masing. Nita pulang ke Yunanda Group dengan mengendarai mobil Asya. Sedangkan Asya, dia diantar Darren.


"Kenapa kamu bisa muncul di restoran itu?" Tanya Asya, memecah kesunyian antara dirinya dan Darren, yang sejak masuk mobil tidak satupun diantara mereka yang berbicara.


"Apa salah aku makan siang disana?"


"Aku tahu kamu, Darren. Kamu nggak akan makan siang di luar jika nggak ada janji atau hal penting lainnya. Kamu lebih suka menghabiskan waktu makan siangmu di ruangan kerjamu."


"Ya, kamu benar."


"Jadi?"


"Hanya ingin melihat mu makan siang."


"Hah?" Asya sedikit terkejut mendengar jawaban Darren. "Melihatku makan siang?"


"Ya. Apa salah?"


"Darren..."


"Aku nggak bermaksud memata-matai mu. Aku hanya ingin melihatmu saat berhadapan dengan klien mu. Tapi, aku malah melihatmu tersenyum dengan lelaki itu. Katamu, klien mu adalah seorang perempuan. Kenapa ada dua laki-laki disana?"


"Mereka suami dan anaknya. Aku juga nggak tahu jika dia membawa keluarganya."


"Ck. Andai saja aku nggak datang, mungkin lelaki itu akan mendekatimu."


"Kamu cemburu?"


"Tentu saja."


Asya tersenyum mendengar jawaban Darren. Rasanya sangat senang melihat Darren mengakui jika dirinya. cemburu.


"Terima kasih." Ucap Asya.


"Untuk apa?"


"Untuk rasa cemburu mu." Balas Asya, membuat Darren tersenyum. Lelaki itu tetap fokus pada jalanan. Hingga tiba-tiba,


Cup.

__ADS_1


Satu kecupan mendarat di pipinya. Membuat wajah Darren bersemu, sedangkan Asya terkekeh melihat wajah memerah Darren.


__ADS_2