
Darrel menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia menatap makanan yang dibawa Aurel. Jarum jam menunjukkan pukul 9. Waktu sarapan pagi sudah terlewatkan. Darrel meraih makanan tersebut dan hendak menyantapnya. Namun, gerakannya menyendok makanan tersebut ke mulut terhenti saat handphonenya bergetar.
Ia meraihnya dan melihat isi pesan yang masuk.
Alisha.
Jangan lupa, Kak, pesanan Alisha.
^^^Darrel. ^^^
^^^Ya. Kakak akan belikan. ^^^
Alisha.
Ini fotonya.
Alisha mengirimkan foto yang menunjukkan gambar makanan tersebut.
^^^Darrel. ^^^
^^^Ck. Nggak usah kirimin gambarnya. ^^^
^^^Namanya aja udah cukup. ^^^
Alisha.
Takut Kakak lupa namanya.
Kan tinggal tunjukin gambarnya.
^^^Darrel. ^^^
^^^Iya-iya. ^^^
Alisha.
Makasih, Kak.
^^^Darrel. ^^^
^^^Iya, sama-sama. ^^^
Darrel meletakkan handphone di atas meja. Ia lalu menarik nafasnya. Hampir saja ia lupa dengan pesanan Alisha. Untung saja gadis kecil itu mengingatkannya. Jika tidak, ia akan pulang tanpa membawa pesanannya. Dan sudah pasti, Alisha akan merajuk padanya.
"Aku terlalu fokus pada Aurel hingga lupa pada pesanan Alisha." Gumam Darrel. Ia kembali meraih makanannya dan mrnyuapkannya ke mulut. Kunyahannya berhenti saat ia mengingat sesuatu. Selera makannya langsung hilang dan mengabaikan makanan itu begitu saja.
"Aku juga lupa, jika aku harus memantau pencarian gadis itu." Mulutnya bergumam dengan pandangan kosong menatap ke depan.
Hatinya sakit saat mengingat perbuatannya pada seorang gadis malam itu. Sekarang, dia harus menemukannya dan bertanggung jawab.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Gumamnya. Matanya dipenuhi beban dan kekhawatiran.
Darrel membuang nafasnya dengan kasar, lalu meraih handphone dan keluar kamar. Dia berusaha menenangkan pikirannya dengan ke tempat dimana pesanan Alisha dijual.
Langkahnya terhenti saat tiba di lobi hotel. Tatapannya tajam saat menyaksikan Aurel dibentak oleh seorang lelaki yang ia ketahui adalah manajer hotel. Darrel melangkah cepat mendekati mereka.
"Pak, jangan pecat saya, Pak."
"Tidak bisa! Kamu sudah membuat kesalahan. Orang yang ada di kamar 1023 komplain soal makanan yang kamu bawa. Makanannya basi. Apa bukti ini kurang untuk memecatmu?! Hah?! Apa kamu ingin merusak reputasi hotel ini?! Hah? Kamu..."
"Anda tidak perlu membentaknya." Darrel langsung menarik Aurel dalam pelukannya. Matanya masih menatap tajam manajer hotel tersebut. Membuat lelaki itu gemetaran melihatnya.
__ADS_1
Tuan muda kedua keluarga Grisam. Ke-kenapa dia menatapku seperti ini? Bukan kah, dia memintaku untuk memecat Aurel sehingga dia bisa membawanya pergi? Kenapa sekarang dia seperti ingin membunuhku? Batin lelaki tersebut.
Dua karyawan resepsionis yang melihat kejadian tersebut ikut terkejut. Mereka tak percaya, Aurel memiliki keberuntungan sebesar itu hingga bisa dipeluk oleh seorang putra keluarga Grisam.
"Bisakah anda tidak berteriak padanya?" Suara rendah Darrel begitu dingin.
"Ma-maafkan saya, tuan. Tapi, dia berbuat kesalahan."
Darrel mendengus kecil. Ia mengalihkan pandangannya dari lelaki terebut, kemudian mengusap lembut rambut Aurel.
"Ayo," Aurel mengangguk dan berjalan keluar bersama Darrel. Di parkiran, seorang laki-laki berseragam pengawal berdiri di samping mobil dan menunduk pada Darrel. Dia salah satu pengawal keluarga Grisam yang bekerja di bawah kuasa Ben, yang tersebar di kota itu.
"Tuan muda," Sapanya.
Aurel menatap Darrel yang membalas sapaan tersebut dengan pandangan bingung. Ia tahu, Darrel adalah putra dari keluarga terpandang. Tapi, dia tidak tahu, dari keluarga mana sahabatnya itu berasal. Banyak keluarga terpandang di kota tempat tinggalnya dulu. Bahkan ada yang dikenal oleh seluruh masyarakat negara dan juga negara lain.
"Ayo, kamu masuk dulu. Ada sesuatu yang ku lupakan di kamar. Kamu tunggu aku di dalam mobil."
"Tapi..." Ucapan Aurel terputus begitu saja karena Darrel sudah melesat masuk ke hotel. Aurel hanya bisa menarik nafasnya.
"Silakan, nona." Pengawal tersebut membukakan pintu dan mempersilakan Aurel masuk.
Gadis itu tersenyum canggung. "Te-terima kasih." Balasnya, lalu masuk mobil.
Darrel berjalan cepat menuju meja resepsionis. Ia menatap kedua karyawan wanita itu.
"Dimana manajer kalian?"
"Di ru-ruangannya, tuan."
Darrel langsung menuju ruangan si manajer. Ia mengetuk pintu dan masuk saat mendengar perintah masuk.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membentaknya? Kau lihat? Dia menangis."
"Maafkan saya, tuan. Saya hanya berusaha sebaik mungkin. Jujur saja, saya juga tidak tega membentak dan menuduhnya. Dia selalu melakukan pekerjaannya dengan baik. Tapi, saya harus melakukannya agar semuanya berjalan lancar dan dia tidak merasa aneh dengan sikapku."
Darrel menarik nafasnya. Ia lalu mengusap kasar wajahnya. "Astagaaa... Jika aku tidak berpikir kau membantuku, sudah ku acak-acak ruanganmu." Ucap Darrel. "Tapi, terima kasih kau sudah berusaha yang terbaik."
"Iya, tuan muda."
"Lanjutkan kerjamu! Aku keluar." Manajer tersebut mengangguk dan mengantarkan Darrel keluar.
Aurel menatap pengawal yang masih berdiri di sisi mobil. Ia kemudian berpindah menatap ke arah pintu hotel. Dia bisa melihat Darrel yang berjalan keluar dan menuju mobil.
Brak... Darrel menutup pintu mobil dan duduk di samping Aurel. Mobil perlahan berjalan menjauh dari parkiran hotel.
Darrel memalingkan wajahnya menatap Aurel. "Bagaimana selanjutnya?" Tanya Darrel yang hanya dibalas gelengan Aurel.
"Tawaranku masih berlaku sampai sore nanti." Aurel langsung menatap wajah Darrel. Ia tidak berpikir untuk meninggalkan kota tersebut.
"Pesankan dua tiket kembali untuk kami."
"Baik, tuan."
Aurel yang belum juga memalingkan wajahnya dari Darrel melotot protes mendengar ucapan Darrel.
"Aku belum memutuskannya. Kenapa kamu langsung mengambil kesimpulan seperti ini?"
"Nggak masalah. Jika kamu menolak, biarkan saja tiket itu. Jika kamu mau, kita akan kembali bersama sore ini."
Aurel menjadi kesal dengan tingkah Darrel. Ia memalingkan wajahnya dari Darrel. Lebih memilih menatap keluar jendela.
__ADS_1
"Aku harap, kamu mau kembali Aurel. Asya, dia membutuhkanmu."
Aurel mengabaikannya. Seolah-olah ia tak mendengar ucapan Darrel.
"Asya memiliki seorang yang berbahaya di sisinya."
Mendengar kata berbahaya, Aurel segera berbalik menatap Darrel. Jika menyangkut keselamatan Asya, ia tidak bisa mengabaikannya. Meski begitu, ia tetap berusaha tenang. Bisa saja, Darrel sedang mengerjainya.
"Apa hubungannya denganku? Aku hanya gadis lemah. Ada kamu, Jiyo, orang tua Asya. Aku yakin kalian bisa melindungi Asya."
"Apa kamu benar-benar nggak peduli sama Asya?"
Aurel terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Darrel.
"Kamu nggak bisa berpura-pura untuk nggak peduli." Tutur Darrel. "Asya saat di luar negeri nggak punya teman perempuan. Dia dijauhi juga dihina. Hingga suatu hari kami bertemu seorang gadis yang hidupnya menyedihkan. Asya senang dan mulai menyayangi gadis itu. Dia bahkan membawanya pulang bersama dan tinggal di rumah paman Edo. Tapi, dia gadis yang jahat. Dia nggak tulus berteman dengan Asya dan menjadi ancaman untuk keselamatan Asya. Aku sudah memperingatkannya. Bukan hanya aku, banyak yang sudah mengingatkannya termasuk kembaraku, Darren. Tapi..."
"Kembaran?" Aurel terlihat terkejut saat Darrel menyebut kembaran.
"Ya. Aku punya kembaran. Namanya, Darren. Dia mengambil kelas akselerasi dan lulus lebih cepat dari kami bertiga. Jadi, kamu nggak tahu dia karena kamu pindah setelah dia lulus."
"Jadi... Yang aku lihat..."
"Ya. Yang kamu lihat waktu itu, aku yakin adalah dia. Meski kami berwajah sama, tapi memiliki sifat berbeda. Dia sangat dingin, entah dari wajahnya, sifatnya maupun ucapannya."
Aurel mengangguk. Ia merasa bersalah karena sudah meneriaki Darrel atas apa yang tidak dilakukannya.
"Maafkan aku soal tuduhanku."
"Nggak masalah." Balas Darrel. "Oh ya, soal Asya tadi, aku harap kamu bisa berpikir lagi. Ku pikir dengan adanya kamu didekat Asya, bisa menjauhkan Asya dari gadis itu perlahan-lahan. Dia benar-benar nggak baik untuk Asya."
"Huuufthhh... Akan aku pikirkan."
Darrel mengangguk. Dalam hatinya, ia tetap berharap agar Aurel setuju. Sebenarnya, ini bukanlah idenya dari awal. Dia hanya spontan mengungkapkan alasan itu. Tapi, ia bersyukur, alasan itu tidak hanya menahan Aurel agar tetap didekatnya. Tapi, juga membantu mengalihkan Asya dari Naomi.
Darrel mengumpat saat memikirkan kenapa ia tidak mendapatkan ide itu sejak awal bertemu Aurel? Seandainya ia menemukan ide itu sebelumnya, mungkin dia tidak akan meminta manajer hotel untuk melakukan rencana murahannya memecat Aurel, yang berakhir dengan bentakan dan air mata Aurel seperti tadi.
"Bodoh!" Gumam Darrel, mengumpati dirinya sendiri.
"Ada apa, Darrel?"
"Hah? Enggak."
"Oohh... Sekarang kita mau kemana?"
Darrel menepuk jidatnya. "Oh, Ya Tuhan, aku lupa. Aku mau membeli pesanan Alisha."
"Alisha?"
"Ya. Alisha, adikku. Dia sangat suka dengan makanan kering khas kota ini. Aku punya gambarnya. Dia mengirimnya tadi."
Darrel mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan gambar yang dikirim Alisha padanya.
"Oh, makanan ini?"
"Kamu tahu? Dimana tempatnya?"
"Tentu saja. Aku juga suka makanan ini. Kita langsung ke tempat pembuatannya saja. Disana ada beberapa macam varian isinya."
"Benarkah?" Aurel mengangguk. "Syukurlah."
"Pak belok kiri, pak." Ucap Aurel, menunjukkan jalan ke tempat pembuatan yang disatukan dengan tempat penjualannya.
__ADS_1