
Hari pernikahan Carla pun tiba. Darren, Asya, Darrel, Aurel, Alisha dan baby Meeya mulai bersiap. Mereka akan berangkat menuju hotel, tempat di selenggarakan pernikahan Carla.
"Sini, biar aku bantuin." Ujar Asya pada Darren. Ia mengambil alih mengancing kemeja Darren, lalu membantu lelaki itu mengenakan jasnya.
"Tampan sekali suami Asya." Ujarnya, merapihkan jas Darren yang sudah dikancing nya. Tapi, ekspresi wanita itu membuat kening Darren mengerut.
"Ada apa? Kenapa cemberut begitu? Apa kamu nggak suka melihat suamimu tampan?"
"Aku suka. Sangat suka."
"Lalu?" Darren merangkul pinggang istrinya.
"Jika kamu terus terlihat tampan seperti ini, para wanita di tempat itu pasti akan terus menatapmu. Aku nggak suka." Asya memeluk Darren dengan erat.
Darren tersenyum. Istrinya sedang cemburu sekarang. "Kalau begitu, buat aku terlihat jelek."
Asya semakin mengeratkan pelukannya. "Bagaimana caranya? Kamu didandan apapun akan tetap terlihat tampan. Bahkan mengenakan pakaian compang-camping dan wajah kotor pun, tetap terlihat tampannya." Ujar Asya yang berhasil membuat Darren terkekeh.
"Hehe... Bisa saja istri Darren ini." Ucap Darren. "Kamu tahu? Kamu sangat cantik. Aku juga nggak rela kamu ditatap orang-orang di pesta itu nanti. Tapi, aku akan berusaha kesampingkan hal tersebut. Kita harus pikirkan Doni. Dia pasti sangat senang melihat kita disana."
Asya mendongak menatap suaminya. Ucapan Darren benar. Dia harus kesampingkan rasa cemburunya untuk sementara. "Baiklah." Ujar Asya, setuju.
Sementara di kamar lain, Darrel terus berdiri di samping Aurel yang sedang berhias. Lelaki itu berdiri dengan wajah cemberut sambil menggendong Meeya.
"Sayang, udah dong dandannya!"
"Astaga, sayang. Wajahku ini belum diapa-apain lho. Masa udah kamu suruh berhenti?"
"Kamu kalau dandan, makin cantik, sayang. Aku nggak mau ada yang lirik-lirik kamu."
Aurel menarik nafasnya. Ia beranjak dari kursi meja riasnya, dan berdiri tepat di depan suaminya. Ia menangkup pipi Darrel, kemudian mengarahkan lelaki itu menunduk menatapnya.
"Dengar! Kamu juga sangat tampan. Sudah pasti ada yang melirik kamu juga. Kamu tahu? Aku juga nggak suka itu. Jadi, ayo kita nggak usah pergi!"
"Hah? Kalau kita nggak pergi, pasti Doni kecewa. Dia kan udah berharap kita semua datang."
"Nah, kamu tahu. Jadi, jangan protes, oke? Aku mencintaimu."
Cup...
Aurel mengecup bibir Darrel, lalu kembali ke kursi meja riasnya, melanjutkan aktivitas berhiasnya.
"Sayang..."
"Aku nggak akan berlebihan dandannya. Yang paling cantik, khusus buat kamu." Ucap Aurel sambil tersenyum manis, yang seketika membuat Darrel tidak bisa berkata-kata lagi. Ia berbalik, lalu menghujani putrinya dengan kecupan di wajah bayi mungil itu. Dia begitu bahagia mendengar ucapan Aurel.
Sementara diruang tengah, Alisha sudah menunggu dengan wajah tak bersemangat. Bagaimana tidak? Axel menghilang begitu saja sejak chat mereka kemarin. Hingga sekarang, lelaki itu tidak membalas chatnya lagi.
"Alisha?"
__ADS_1
Gadis itu menoleh ke sumber suara. "Kak Asya."
"Kamu kenapa? Kok wajahnya nggak semangat gitu?"
"Huuuhh... Alisha lagi sedih, kak. Axel lagi marah sama Alisha."
"Kenapa?"
"Katanya, Alisha pergi nggak kasi tahu dia. Ya, ini salah Alisha. Tapi, Alisha udah minta maaf. Tapi, sejak chat kemarin, Axel nggak balas chat Alisha lagi sampai sekarang."
"Udah, nggak apa-apa. Mungkin Axel lagi ada urusan. Kamu jelasin aja lewat chat. Jelasin dengan baik. Nanti pasti dibaca Axel."
"Iya, Kak. Tapi, Kak Asya jangan bilang Kak Darren sama Kak Darrel."
"Iya, janji."
Tak lama, Darren datang, lalu Darrel, Aurel dan baby Meeya. Mereka segera menuju mobil yang akan membawa mereka menuju hotel. Ada juga seorang babysitter yang akan menjaga baby Meeya di saat-saat tertentu nanti. Babysitter yang sama, yang dipercayai Darren untuk menjaga Doni dulu.
***
Kehadiran keluarga kecil dari Grisam itu seperti biasa, menarik perhatian banyak orang.
"Siapa mereka? Tampan sekali."
"Entahlah! Sepertinya mereka orang-orang dari keluarga terpandang."
"Tapi, bukan kah wanita yang bersama mereka itu yang kita temui di jalanan? Dia yang memarahi mu karena kasar pada nenek tua?" Ucap seorang perempuan menimpali, sambil menunjuk temannya.
"Iya. Aku juga merasa aneh."
Banyak sekali bisik mengenai keluarga Darren Darrel itu. Meskipun mendengar, mereka acuh. Darren menggenggam erat tangan istrinya. Darrel merangkul pundak Aurel yang sedang menggendong Meeya. Dan Alisha, gadis itu dengan tanpa rasa angkuh meraih tangan babysitter yang usianya hampir 50-an itu. Sang babysitter cukup terkejut. Ia hampir melepaskan genggaman Alisha. Namun, karena permohonan gadis itu, membuatnya mengurungkannya.
"Kak, kalau Kakak sama Kakak ipar mau memberi selamat pada Kak Carla, kalian pergilah. Aku akan disini bersama baby Meeya dan bibi. Setelah kalian kembali, aku akan kesana bersama bibi."
"Nona..."
"Bibi temani Alisha, ya?" Potong gadis itu cepat.
Sang babysitter tidak bisa menolak. Wanita itu mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Alisha. Persetujuan wanita itu, membuat Darren dan yang lain mengizinkan Alisha bersamanya.
Setelah cukup banyak rangkaian acara, akhirnya mereka diberikan kesempatan mengucapkan selamat. Sesuai yang Alisha inginkan, mereka meninggalkan Alisha bersama Meeya dan babysitter untuk mengucapkan selamat pada Carla dan suaminya, juga pada Doni.
"Selamat!" Hanya ucapan itu yang keluar dari bibir Darren. Carla membalasnya dengan tersenyum. Sudah begitu kenal dengan sifat Darren.
"Selamat ya, Carla. Semoga pernikahannya langgeng terus."
"Makasih, Asya."
Darren meraih cepat tangan istrinya setelah wanita itu mengucapkan selamat pada suami Carla.
__ADS_1
"Selamat, Carla. Semoga pernikahanmu bahagia." Ucap Aurel.
"Selamat, ya. Kami turut bahagia. Semoga selalu langgeng." Ucap Darrel.
Keempat orang itu lalu mengucapkan selamat pada kedua orang tua Carla. Dan terakhir, mereka berkumpul di hadapan Doni. Terlihat sekali wajah bahagia Doni melihat mereka.
"Terima kasih, Papa, Mama, Paman, Aunty. Terima kasih sudah datang. Doni senang banget."
"Tentu saja kita datang. Kitakan sudah jadi keluarga." Ujar Asya, yang diangguki Darren, Darrel dan Aurel. Wajah anak itu semakin semringah. Kakek dan Neneknya juga ikut tersenyum senang melihat cucu mereka.
Sementara di kursi tamu, Alisha, baby Meeya dan babysitter yang menggendong Meeya didekati beberapa orang. Tiga orang perempuan dan dua orang laki-laki. Kelima orang itu seusia Alisha.
"Hai!" Sapa salah seorang laki-laki dari kelima orang itu.
"Hai!" Alisha membalasnya dengan senyum paksa. Entahlah. Hatinya langsung tidak suka pada mereka berlima.
"Hai!" Sapa seorang gadis. Namun, tidak untuk Alisha, melainkan pada babysitter yang duduk disamping Alisha. "Masih ingat aku kan?" Ujarnya.
"Bibi, kenal gadis ini?" Tanya Alisha.
"Tentu saja dia kenal aku. Dia memarahiku di jalanan. Membuatku malu. Dasar wabita tua gila!" Sinis gadis itu.
"Kenapa kau tidak sopan pada orang tua?!"
"Huh! Kau membela seorang pengurus rumah tangga?"
"Kenapa? Salah aku membelanya?"
"Nona..."
"Tidak, Bi! Dia keterlaluan."
"Huh! Kau sepertinya dari keluarga terpandang. Kenapa berteman dengan wanita miskin!" Ujar gadis itu, yang diangguki teman-temannya.
"Huh!" Alisha tersenyum mengejek. "Kalian sepertinya dari keluarga berada. Tapi, sayang. Miskin attitude." Sinis Alisha.
Medengar itu, mereka merasa kesal pada Alisha. Lelaki yang menyapanya tadi hendak melakukan sesuatu pada Alisha. Namun, pergerakannya langsung terhenti mendengar suara dingin Darren Darrel.
"Apa yang kalian lakukan?" Suara dingin Darren Darrel sontak membuat semua menoleh. Aura mematikan yang ditunjukkan si kembar membuat mereka meneguk ludah.
"Ti-tidak. Kami tidak melakukan apa-apa. Ayo, pergi!" Dengan langkah cepat, kelima orang itu segera menjauh dari tempat tersebut. Asya dan Aurel segera mendekati Alisha, Meeya dan babysitter tersebut.
"Kalian nggak apa-apa?" Tanya Asya.
"Apa mereka melakukan sesuatu pada kalian?" Tanya Aurel. Tangannya terulur meraih Meeya dari gendongan babysitter.
"Kami nggak apa-apa. Kami baik-baik saja." Balas Alisha.
"Terima kasih, nona. Terima kasih sudah mau membela saya." Ujar babysitter tersebut pada Alisha.
__ADS_1
"Nggak masalah. Ayo, kita beri selamat pada Kak Carla!"
Alisha dan babysitter tersebut segera menemui Carla dan suaminya. Sementara yang lain, memperhatikan mereka dari kursi tamu.