Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 21


__ADS_3

Setelah makan siang, Darren, Jiyo, Asya dan Naomi kembali ke tempat kerja mereka. Wajah Darren sudah tidak sedingin tadi. Jiyo merasa lega akan itu semua.


Darren turun dari mobilnya dan berjalan memasuki kantor bersamaan dengan Jiyo di belakangnya. Keduanya mengerutkan kening mendapati Darrel yang duduk di lobi kantor.


"Kenapa kamu disini?" Tanya Darren, saat berada didekatnya.


"Aku menunggu kalian. Tadinya, aku ingin mengajak kalian makan siang. Tapi, saat tiba, perempuan itu mengatakan jika kalian sudah pergi. Jadi, aku coba saja makan di kantin kantor." Jawab Darrel.


"Kenapa tidak menunggu di ruangan atas saja?" Jiyo bertanya dengan kening mengerut.


"Disini lebih baik. Aku bisa melihat karyawan-karyawan yang berlalu lalang. Daripada di atas, sepi." Balas Darrel.


"Ya sudah. Ayo ke atas!"


Darren berjalan terlebih dahulu, yang kemudian diikuti Darrel dan Jiyo. Keduanya saling berbincang hingga masuk lift.


"Ku dengar, kalian makan siang bersama dua perempuan. Siapa? Asya dan Naomi?" Tanya Darrel saat mereka sudah tiba di ruangan Darren. Ketiga laki-laki itu duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Ya. Kau benar. Tapi, bagaimana kau tahu?" Tanya Jiyo. Sementara Darren, dia hanya diam mendengarkan.


"Ck. Aku mengenal bagaimana kehidupan Asya. Naomi gila itu, dia selalu menempel pada Asya." Kesal Darrel.


"Bagaimana Asya bisa dekat dengannya?" Darren yang sejak tadi terdiam, membuka suaranya.


Darrel menarik nafasnya, lalu menatap Darren dan Jiyo. "Naomi gadis yang menyedihkan dulu. Kehidupannya jauh dari kata layak saat disana. Saat itu, aku dan Asya tidak sengaja bertemu dengannya yang di keroyok beberapa gadis. Kami menolongnya. Karena Asya tidak memiliki teman perempuan, dia sangat senang dan menjadikan Naomi temannya. Aku awalnya juga iba pada Naomi. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku tahu bagaimana Naomi sebenarnya. Sayangnya, Asya tidak pernah mendengarkanku." Jelas Darrel.


Darren terdiam mendengar cerita Darrel. Dan Jiyo, dia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oh ya, kenapa bisa Asya tidak memiliki teman perempuan?" Tanya Jiyo.


"Bukan masalah besar. Dia dijauhi gadis-gadis di fakultasnya hanya karena dia menolak setiap ajakan mereka untuk ke club. Dia bahkan dikatai gadis sok suci."


Darren mengepalkan tangannya mendengar cerita Darrel. Ia teringat, Asya tadi menceritakan banyak hal menyenangkan yang terjadi padanya saat di luar negeri. Tidak sedikitpun gadis itu menyinggung tentang hal buruk yang menimpanya disana.


"Asya begitu tertutup soal kejadian itu. Aku saja tahu saat mendatangi dia di fakultasnya. Saat itu aku mendesaknya untuk bercerita. Dia menceritakannya, dengan syarat aku tidak boleh memberitahu kalian." Ucap Darrel.


Wajah Darren menjadi muram mendengar cerita Darrel. Perubahan yang ia tunjukkan tak terlepas dari penglihatan Darrel dan Jiyo. Kedua laki-laki itu sama-sama menghela nafas mereka.


"Oh ya, Rel. Jika Asya nggak ada teman perempuannya, apa Asya punya teman laki-laki?" Jiyo kembali bersuara. Kali ini, dia ingin melihat bagaimana reaksi Darren. Dia menatap Darrel, seolah sedang berbicara melalui batin mereka untuk mengetes perasaan Darren.


Darrel yang paham, dengan senang hati melakukannya. "Ekhm... Asya punya banyak teman laki-laki. Mereka bahkan terus mengikuti Asya. Ada juga yang meminta Asya menjadi pacar mereka. Itu juga salah satu penyebab gadis-gadis tidak suka padanya." Kata Darrel dengan sorot mata meyakinkan.

__ADS_1


Darren semakin mengeraskan kepalan tangannya. Mendengar ucapan Darrel, dia begitu tidak suka. Ia merutuki dirinya, bagaimana bisa dia tidak mengetahui semua itu.


"Aku juga pernah melihat beberapa laki-laki menyemangati Asya."


"Benarkah?" Tambah Jiyo.


"Ya. Bahkan aku juga pernah melihat mereka makan bersama di kantin ka..."


"Diamlah Darrel!" Ucap Darren, sedikit membentak. Dia tidak tahan mendengar Asya bersama laki-laki lain.


"Kenapa kamu membentakku?" Darrel menatap bingung ke arah Darren. Memperlihatkan wajah polosnya, seolah-olah tidak tahu apa-apa. Begitupun dengan Jiyo.


"Ya. Darrel benar. Tidak bisanya kau seperti ini." Sambung Jiyo. "Apa kau masih marah sama Naomi?"


"Jangan cerita lagi tentang laki-laki yang bersama Asya!" Darren berucap dingin.


"Kenapa?" Dua orang itu bertanya bersamaan.


"Aku tidak suka." Jawabnya, jujur.


Darrel dan Jiyo yang mendengarnya berusaha menahan tawa. Namun, tetap saja tidak bisa. Dan pada akhirnya, tawa itu pecah begitu saja.


"Hahaha... Hahaha..."


"Hahaha... Hahaha..."


"Hahaha... Hahaha... Kau sangat lucu, Darren." Darrel masih terus tertawa.


"Hahaha... Kau benar. Untuk apa kau terlihat marah saat Asya bersama laki-laki lain. Bukankah kau tidak mencintainya?" Ucap Jiyo, telak.


Darren terdiam meresapi ucapan Jiyo. Hingga tiba-tiba, terasa tepukan di kedua bahunya.


"Aku tahu, kau menyukainya, mencintainya. Hanya saja, kau belum sadar sepenuhnya. Kau menutupi semuanya dengan alasan hanya menganggapnya sebagai sahabat." Ucap Darrel.


"Apa sahabat harus meninggalkan pekerjaannya dan langsung terbang ke luar negeri hanya karena satu pesan? Seharusnya kau sadar itu, Ren! Kau bisa mengobati rindunya dengan menelpon atau panggilan vidio. Tapi, kau bela-belain langsung mengunjunginya. Itu bukan hanya sekali, tapi berkali-kali kau melakukannya. Apa hal tersebut wajar hanya disebut sebagai persahabatan?" Timpal Jiyo.


"Huufthh... Kau harus tahu, kenapa Asya berusaha mendekatkanmu dengan Naomi. Itu karena dia yakin, kau tidak menyukainya, dan berusaha mencari gadis baik untuk menjadi pasanganmu. Tapi sayangnya, dia salah memilih gadis." Lanjut Darrel. Ia lagi-lagi menarik nafasnya. "Kalau begitu, aku pergi dulu." Ucapnya, lalu menepuk bahu Darren dua kali, dan bergegas keluar.


"Aku juga akan ke ruanganku. Pikirkan baik-baik." Jiyo juga menepuk bahu Darren dua kali, kemudian keluar dari ruangan itu. Menyisakan Darren yang masih berkutat dengan pikirannya.


***

__ADS_1


Gara sedang berada di ruang baca. Ia duduk bersandar pada sandaran kursi, sambil menunggu telponnya tersambung.


"Hallo, tuan." Terdengar suara Sekretaris Kenan dari handphone Gara.


"Ya, Kenan. Bagaimana dengan penyelidikannya?"


"Belum ada titik terangnya, tuan. Para bawahan masih dalam proses pencarian."


"Ya. Berusahalah untuk menemukan gadis itu."


"Baik, tuan. Bagaimana dengan Ben?"


"Dia juga belum mendapatkan informasi apa-apa." Ucap Gara. Suasana menjadi hening sejenak. Gara menghela nafasnya. "Kenan,"


"Iya, tuan."


"Kerahkan lebih banyak lagi anak buah mu."


"Baik, tuan."


"Aku percaya padamu dan Ben."


"Terima kasih, tuan. Aku akan melakukan yang terbaik."


"Ya."


Setelah itu, panggilan terputus. Gara kembali terdiam. Sekretaris Kenan ia tugaskan untuk mengurus perusahaan cabangnya yang berada di provinsi Y, dan Ben ia tugaskan di kota B. Ia sengaja meminta Sekretaris Kenan dan Ben, kepala pengawal kepercayaannya itu untuk menemukan gadis yang Darrel hancurkan kehidupannya. Dengan harapan bisa segera bertemu.


Alula yang sejak tadi mendengar percakapan itu, juga menarik nafasnya. Dia tahu, Gara tidak ingin terjadi hal yang sama pada Darrel dan gadis itu, sama seperti kejadian yang menimpa dirinya dan Gara dulu.


Alula menutup pelan pintu dan mendekati Gara dengan secangkir kopi. Ia meletakkannya di depan Gara. Melihat Alula yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum, Gara pun sedikit tersenyum. Ia menarik Alula, hingga wanita itu duduk di pangkuannya. Gara lalu memeluknya erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alula.


"Aku tidak ingin putraku merasakan hal yang sama sepertiku. Aku juga tidak ingin gadis itu mengalami hal yang sama sepertimu. Itu begitu meyakitkan." Ucap Gara.


Alula membelai pelan rambut Gara. Ia juga balas memeluknya. "Jangan cemas. Semuanya akan baik-baik saja. Seorang ibu, akan melakukan apapun untuk melindungi anaknya." Ucap Alula.


"Kamu tahu? Aku sangat menyukai kamu yang tegas, tenang dan tidak mudah goyah. Kamu yang mudah cemas ini, membuatku juga merasa cemas." Alula berusaha merayu.


Gara yang mendengarnya, menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Alula, kemudian menatap wajah yang masih terlihat begitu cantik itu.


"Maafkan aku yang membuatmu ikut cemas."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kamu adalah suami dan Ayah terbaik yang aku dan anak-anak miliki."


"Terima kasih, sayang." Ucap Gara, mengecup kening Alula cukup lama.


__ADS_2