Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 94


__ADS_3

Asya masih terlelap dengan selimut yang menutup tubuh polosnya. Malam panjangnya bersama Darren semalam membuatnya begitu lelah. Meski matahari sudah begitu cerah menerangi bumi, Asya masih tertidur dengan nyaman.


Darren yang sudah bangun dan telah selesai membersihkan diri pun menghampiri sang istri. Dia duduk di tepi ranjang, lalu mengecup bibir istrinya. Bibirnya yang dingin karena baru selesai mandi membuat Asya menggeliat pelan. Darren tersenyum melihatnya. Ia kembali menunduk dan mencium bibir Asya. Ciumannya yang cukup menuntut membuat Asya terbagun dari tidurnya. Wanita itu, dengan mata yang belum terbuka sempurna, mendorong pelan wajah Darren menjauh.


"Eemmm... Sayang, aku masih mengantuk." Ucap Asya, dengan suara seraknya.


"Benaran masih ngantuk?"


"Hmm..." Asya mengangguk pelan dan kembali memejamkan mata.


"Ini sudah jam sepuluh, sayang. Yakin masih ngantuk?"


"Iy... Apa?" Asya langsung bangun terduduk mendengar ucapan Darren. "Udah jam sepuluh sayang?" Ulang Asya, dan Darren mengangguk.


"Ya Tuhan, malu sekali. Kenapa aku bisa kesiangan gini?" Asya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar malu sekarang. Lagi-lagi ia bangun kesiangan. Jika dia bangun kesiangan saat di hotel atau apartemen Darren, itu tidak masalah. Tapi ini, di rumah mertuanya. Mau di taruh dimana wajahnya saat bertemu mertuanya nanti?


"Sayang," Darren menyentuh tangan Asya, menjauhkannya dari wajah merah merona karena malu itu.


"Darren, aku sangat malu. Bagaimana bisa aku kesiangan lagi."


"Untuk apa malu?"


Asya langsung menatap wajah suaminya setelah mendengar jawaban santai sang suami.


"Suamiku sayang, tentu saja aku malu. Aku bangun kesiangan dan mereka pasti berpikir yang macam-macam."


"Macam-macam gimana?"


"Ish, kamu nyebelin deh."


"Kok malah aku? Ya aku emang nggak tahu macam-macam nya gimana?"


"Y-ya macam-macam yang itu. Yang seperti kita lakuin semalam." Jelas Asya dengan kepala tertunduk.


Darren lagi-lagi tersenyum. Asya sangat lucu saat malu seperti ini. Senyumannya semakin lebar ketika wajah Asya mendongak menatapnya.


"Kenapa kamu tersenyum?"


"Bukannya kita emang lakuin yang macam-macam itu semalam?"


Blush... Pipi Asya kembali merona. Darren benar-benar mengerjainya. Ia dengan kesalnya menyubit lengan Darren.


"Darreeeen..."


"Aduh, sayang. Sakit."


"Rasain." Ucapnya dengan wajah cemberut.


Darren kembali tersenyum. Tangannya ia rentangkan agar Asya datang ke pelukannya. "Sini-sini!"


Asya tetap diam dan cemberut, membuat Darren sendiri yang mendekatinya dan membawanya dalam pelukan.


"Udah, jangan cemberut lagi." Ucapnya, mengecup kening Asya beberapa kali dan mengusap rambutnya.


"Aku malu, Darren." Tangannya balas melingkar ke tubuh Darren.


"Nggak ada siapa-siapa di rumah, selain kita dan pelayan." Ucap Darren, membuat Asya mendongak menatapnya.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Ayah sama Ibu ke rumah Paman Gio. Alisha sekolah. Darrel sama Aurel ke rumah sakit."


"Rumah sakit?" Asya melepas pelukannya, duduk tegak sambil menahan selimut di tubuhnya.


"Ya. Darrel memberitahuku tadi."


"Darrel kemari?"


"Ya. Hanya di depan kamar." Asya mengangguk.


"Sayang,"


"Hmm?"


"Aku mau lihat Aurel periksa kandungan."


"Ayo!"


"Benaran?"


"Hmmm..."


"Makasih, sayang." Asya langsung mengecup pipi Darren. Lelaki itu mengangguk, lalu menggendong Asya menuju kamar mandi.


***


Darren terus menggenggam tangan Asya sambil menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan pemeriksaan kandungan. Langkah Asya semakin cepat saat melihat Darrel dan Aurel duduk di kursi tunggu.


"Aurel!" Asya melepas genggaman Darren dan mendekati sahabatnya itu.


"Asya. Kok kamu disini?"


"Ck. Ada aku, suaminya. Aku kan bisa menemani istriku."


"Ck. Apaan sih, Darrel. Aku ini sahabat Aurel, sekaligus Kakak ipar nya. Kamu nggak bolehin aku?" Asya menatap Darrel. Beberapa detik kemudian pandangannya menuju Darren yang masih berdiri. "Sayang, Darr..."


"Eh, aku bolehin kok kamu ikut temanin. Nggak usah mengadu." Potong Darrel.


Senyum mengembang langsung muncul di bibir Asya. Tak lama, giliran Aurel untuk di periksa. Darrel dan Asya masuk menemani Aurel. Sementara Darren, lelaki itu memilih menunggu di luar.


Ketika bayi di perut Aurel terlihat di layar monitor, saat melakukan USG, Asya tak henti-hentinya berdecak kagum. Sementara Darrel, lelaki itu merasa begitu bahagia hingga matanya berkaca-kaca.


Setelah pemeriksaan selesai, ketiga orang itu segera keluar. Asya langsung menghampiri suaminya.


"Sayang, kamu tahu? Aku melihat bayi Aurel saat di USG. Aku jadi semakin nggak sabar melihat bayi mungil itu."


"Bersabar saja." Ujar Darren. "Setelah ini, kalian mau kemana?" Lanjut Darren, menatap kembarannya.


"Ke Rumah Paman Gio." Darren hanya mengangguk.


Keempat orang itu segera menuju parkiran. Awalnya mobil Darren dan Darrel searah. Tapi, saat di persimpangan, Darrel membelokkan mobilnya, sementara Darren tidak.


"Sayang, kok kita nggak belok? Emangnya kita mau kemana?"


"Ketemu seseorang."


"Hah? Siapa?"


"Nanti juga kamu tahu."

__ADS_1


"Ck. Aku kenal nggak sama orangnya?"


"Eeemm..." Darren berpikir cukup lama. "Aku nggak tahu."


"Ish! Nyebelin." Asya melipat tangannya lalu menatap ke luar jendela mobil dengan wajah cemberut. Darren yang melihatnya pun tersenyum, lalu mengelus pelan rambut istrinya dengan sebelah tangan yang bebas.


Setelah beberapa menit mengemudi, mobil Darren tiba di sebuah mall. Lelaki itu turun dan membuka pintu untuk istrinya.


"Ayo!" Ucap Darren, namun Asya tak kunjung keluar mobil. Wanita itu masih duduk nyaman dalam mobil sambil melipat tangannya.


Darren tersenyum. Ia menundukkan kepalanya dan memasukkan sebagian tubuh bagian atasnya dalam mobil. Wajah keduanya saling berdekatan dengan mata yang saling menatap. Tangan Darren bergerak melepas sabuk pengaman Asya. Kemudian,


Cup... Satu kecupan mendarat di bibir Asya.


"Ayo, turun!" Ucap Darren, tapi Asya masih tetap diam.


"Mau aku lanjutin yang lebih lama?" Ucap Darren, sambil mengusap bibir Asya dengan ibu jarinya. Mendengarnya, langsung saja Asya menggeleng.


"Aku mau turun."


"Istri pintar." Balas Darren


Pasangan suami istri itu memasuki mall. Keduanya langsung menuju cafe yang terdapat di lantai tiga mall. Asya semakin bingung dibuat Darren. Namun, dia enggan untuk bertanya lagi.


Saat memasuki cafe tersebut, tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari dan memeluk Darren.


"Papa,"


Deg...


Jantung Asya seolah berhenti berdetak. Ia menatap anak yang memeluk Darren. Matanya lalu menatap gadis yang berdiri di depan sana, tak jauh dari mereka. Mereka adalah perempuan dan anak laki-laki yang waktu itu datang menemui Darren di kantor. Jauh sebelum dirinya menjadi kekasih Darren.


"Da-Darren," Asya menatap Darren dengan mata berkaca-kaca. Ia hendak melepaskan genggaman tangan Darren. Namun, lelaki itu malah menahannya dan menggenggamnya lebih erat.


"Jangan di lepas. Semuanya baik-baik saja. Nggak seperti yang kamu bayangkan." Ucap Darren, setengah berbisik.


Asya kembali menatap mata Darren. Tidak ada keraguan yang terpancar di mata Darren, dan itu membuatnya yakin untuk tidak pergi sekarang.


"Papa, kenapa Papa tidak membalas pelukan ku?" Anak laki-laki yang ternyata Doni itu, mendongak menatap Darren.


Darren juga menatapnya, lalu menatap Asya. Tatapannya pada Asya seolah meminta izin untuk memeluk anak itu. Setelah mendapat anggukkan, Darren membungkuk dan memeluk Doni, tanpa melepas genggamannya pada tangan Asya.


"Aku senang bisa melihat Papa lagi. Aku sangat merindukan Papa."


"Aku juga merindukanmu."


Setelah pelukan keduanya terlepas, Doni menggandeng sebelah tangan Darren menuju tempatnya bersama Carla.


"Darren, nona." Sapa Carla saat pasangan suami istri itu sampai di tempatnya bersama Doni. Darren hanya mengangguk, sedangakan Asya membalasnya dengan tersenyum.


Suasana sedikit canggung. Darren bisa merasakan kecanggungan antara istrinya dan Carla. Walaupun Doni berceloteh sambil memakan makanannya, tidak membuat kecanggungan itu menghilang.


"Doni, mau pergi bermain?" Tawar Darren tiba-tiba pada anak itu.


Doni yang baru saja menyelesaikan makanannya, mengangguk antusias. "Mau. Doni mau, Pa."


"Ayo!"


Darren langsung berdiri dan meraih tangan Doni. "Kalian bicaralah. Setelah selesai, kabari aku untuk kembali kesini." Ucap Darren, yang hanya dibalas anggukkan Asya, begitu juga Carla.

__ADS_1


Lelaki itu mengecup kening Asya, lalu membawa Doni pergi.


__ADS_2