
Naomi sedang berada di ruangan Asya. Entah ada urusan apa hingga gadis itu berada di ruangan Asya. Ia menoleh mengamati ruangan itu yang saat ini sedang ditinggalakan Asya ke toilet. Sebuah pesan masuk di handphone yang Asya tinggalkan membuatnya segera meraihnya. Wajahnya berubah muram mendapati pesan itu dari Darren.
Darren
Aku akan ke luar negeri menemani Carla dan Dion, gadis dan anak kecil yang datang di kantorku waktu itu.
Naomi berdecih kesal membaca pesan itu. Ia merasa, usahanya dua hari lalu tidak membuahkan hasil. Dengan gerakan cepat, dia menghapus pesan itu, hingga tidak meninggalkan jejak.
Semoga, Hendra bisa menimbulkan kesalahpahaman lagi di antara kalian. Batin Naomi.
Tak lama, Asya kembali. Dia menatap Naomi yang duduk manis di depan meja kerjanya.
"Kamu bilang, ingin membicarakan sesuatu denganku. Ada apa?" Tanya Asya.
"Enggak. Emmm... Bisakah kamu menemaniku nanti? Emm... Aku... Sedikit malu mengatakan ini pada mu." Ujar Naomi, tersenyum malu, yang membuat Asya ikut tersenyum.
"Ada apa? Katakan saja. Aku sudah sangat penasaran."
"Emm... Aku mau meminta tolong padamu untuk pergi makan siang bersamaku. Sebenarnya, Hendra mengajakku makan siang bersama. Aku belum begitu dekat dengannya. Jadi, aku meminta bantuanmu." Naomi kembali tersenyum malu-malu. Ini sudah ia dan Hendra rencanakan. Berpura-pura seolah Hendra sudah melupakan perasaanya pada Asya, dan memilih mengejar Naomi.
"Akh... Apa kalian mulai mendekatkan diri satu sama lain? Sungguh berita yang menggembirakan. Baiklah, aku akan menemanimu untuk kali ini."
Naomi tersenyum senang dan meraih tangan Asya. "Terima kasih, Asya. Aku sangat senang."
"Aku juga senang."
"Baiklah. Aku harus keluar dulu untuk meyelesaikan pekerjaanku." Asya mengangguk dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya.
Cih. Kau sangat senang mendengar Hendra mengajakku makan siang. Kau pikir, aku akan bersama Hendra? Yang benar saja. Kau lah yang akan bersamanya, dan Darren bersamaku. Batin Naomi.
Setelah pintu ruangannya tertutup, Asya meraih handphonenya. Ia kemudin mengirim pesan pada Aurel jika dia akan menunjungi gadis itu setelah pulang kerja. Dan mereka akan pulang bersama.
***
Jam makan siang pun tiba. Asya juga Naomi sudah dalam perjalanan menuju restoran yang sudah mereka janjikan untuk bertemu.
Naomi turun dari mobilnya dengan semangat ketika mereka tiba di restoran itu. Asya tersenyum senang melihat Naomi yang tersenyum begitu lebar.
"Ayo, Asya!" Naomi berjalan dari mobil menuju mobil Asya, kemudian menarik pelan tangan Asya memasuki restoran.
Naomi semakin tersenyum lebar melihat punggung Hendra yang sedang duduk membelakangi mereka di sebuah kursi meja restoran.
"Hendra." Panggilan Naomi membuat Hendra bangun dan menoleh ke arah mereka. Senyum di bibir Hendra sedikit memudar melihat Asya berdiri di samping Naomi. Seolah-olah, dia hanya ingin makan berdua bersama Naomi.
"Asya? Kau juga datang?"
Asya tersenyum. Ia bisa menangkap raut terkejut sekaligus kecewa Hendra saat Naomi membawa Asya ikut bersamanya.
"Hai, Kak. Kau terlihat kecewa melihatku datang juga. Kalau begitu, aku akan makan di meja lain saja."
"Eh. Jangan Asya! Disini saja." Ucap Naomi, cepat.
"Ya, Naomi benar. Bergabung saja."
Asya tersenyum. Mereka kemudian duduk bersama, dan mulai memesan makanan. Sambil menunggu makanan, mereka mengobrol. Naomi dan Hendra lebih banyak mengobrol dibandingkan Asya. Gadis itu menjadi pendengar setia dan sesekali menimpali pembicaraan mereka, sambil tersenyum manis melihat Naomi dan Hendra yang terlihat semakin akrab.
"Hendra?" Suara seorang perempuan membuat Hendra, Naomi maupun Asya menoleh.
__ADS_1
Gadis itu mendekat saat melihat jika lelaki yang disapanya benar-benar Hendra. Dia langsung memeluk erat Hendra. Naomi yang melihatnya memasang wajah masam. Seakan ia tidak suka melihat Hendra berpelukan dengan gadis lain, lebih tepatnya cemburu.
Asya menangkap raut wajah Naomi dan berusaha menghentikan acara peluk-pelukan Hendra dan gadis itu. Dia pun berdehem pelan.
"Ekhm."
Deheman Asya membuat gadis itu melepas pelukannya. Dia menatap Asya dan Naomi.
"Eh, kamu... Asya kan? Sahabat si kembar tampan?" Ucap gadis itu.
Asya tersenyum menanggapinya. Si kembar tampan adalah sebutan untuk Darren Darrel waktu mereka masih sekolah dulu. Asya juga merasa tidak asing dengan perempuan di depannya. Dia adalah teman seangkatan Hendra waktu sekolah dulu. Mungkin, dia salah satu anggota osis. Tapi, Asya tidak tahu namanya.
"Oh ya, soal Darren. Waktu itu aku mengirim vidio padamu. Apa kamu melihat vidio yang ku kirimkan?" Tanya gadis itu pada Hendra.
Hendra menatap Asya yang wajahnya mulai menunduk sedih. Senyum tipis muncul dibibirnya.
"Aku... Sudah melihatnya."
"Coba tunjukkan pada Asya. Dia pasti tahu siapa perempuan itu? Unit apartemenku tepat di sebelahnya. Tapi, aku tidak kenal dengannya. Aku rasa, dia memiliki hubungan dengan Darren. Jika dia pacar Darren, akkhh... Aku sangat sedih. Aku juga ingin menjadi pacarnya."
Asya yang mendengarnya mendongak dan memaksakan senyum pada gadis itu. "Aku sudah melihatnya. Aku juga tidak kenal siapa dia."
"Benarkah? Bukan kah kalian bersahabat? Apa dia tidak menceritakan tentang gadis itu padamu?" Asya menggeleng.
"Oh ya Tuhan, bagaimana sih Darren ini. Aku rasa mereka benaran pasangan kekasih. Ku lihat mereka sangat dekat. Kalian tahu, pagi ini Darren pergi bersama perempuan itu sambil menggendong anak laki-laki. Ada beberapa orang yang membawa barang-barang mereka. Mungkin mereka akan pergi ke suatu tempat. Aku sempat berpikir, apa anak itu anak mereka? Wajahnya mirip gadis itu. Tapi, aku tidak yakin Darren memiliki anak tanpa ikatan pernikahan." Ujar Gadis itu.
Asya yang sejak tadi sudah menahan perasaannya, tidak tahan lagi. Air mata yang ia tahan kini jatuh membasahi pipi. Ia menunduk dalam, mengingat kata-kata teman Hendra itu.
"Asya... Jesy, apa yang kamu katakan?" Ucap Hendra pada temannya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya."
"Aku ke toilet sebentar." Ucap Asya, memotong ucapan Naomi. Gadis itu berjalan cepat menuju toilet.
Sementara itu, Hendra, Naomi dan Jesy tersenyum miring melihat Asya yang berjalan menuju toilet.
"Kerja bagus, Jesy."
"Thank's. Kamu juga pernah menolongku. Dan aku juga, tidak begitu suka pada Asya. Dia terlalu menarik perhatian para pria." Ujar Jesy, mengedarkan pandangannya, menatap para pria yang terus menatap Asya sejak mereka masuk tadi.
"Akting mu sangat bagus. Semuanya sempurna." Ujar Naomi.
"Tentu saja." Balas Jesy. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Nikmati makan siang kalian. Sampaikan juga salamku untuk Asya." Ujarnya kemudian pergi dari tempat itu setelah mendapatkan anggukkan dari Hendra dan Naomi.
Di dalam toilet, Asya menumpahkan air matanya tanpa suara. Ucapan Jesy terus terngiang di telinganya.
Aku sempat berpikir, apa anak itu anak mereka? Wajahnya mirip gadis itu. Tapi, aku tidak yakin Darren memiliki anak tanpa ikatan pernikahan.
"Apa dia benar-benar anakmu dengan perempuan itu? Pernikahan? Anak tanpa ikatan pernikahan? Aku juga tidak yakin itu. Tapi, mungkin kamu sudah memiliki ikatan pernikahan dengannya tapi kamu menyembunyikannya." Gumam Asya.
***
Asya tersenyum manis saat Aurel berjalan ke arahnya. Sesuai pesan yang ia kirimkan pada Aurel, tentang ia yang akan menjemputnya, maka disinilah Asya. Di depan cafe tempat Aurel bekerja, sambil menatap gadis itu yang berjalan ke arahnya. Meskipun hatinya sakit, senyuman tetap terukir di wajahnya.
"Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar dia?" Tanya Asya, mengusap perut Aurel saat gadis itu sudah duduk tenang di kursi samping pengemudi.
Aurel tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Dia senang mendapatkan sahabat yang begitu perhatian dan mengerti dirinya. Air mata kebahagiaan tak bisa ia bendung.
__ADS_1
Asya yang melihatnya terkejut melihat Aurel menangis. "Astaga, Aurel. Kenapa kamu menangis? Apa terjadi sesuatu pada calon ponakanku? Atau ada yang menyakitimu?"
Aurel menggeleng. "Enggak terjadi apa-apa sama dia. Dia baik-baik saja dan sehat."
"Lalu, kenapa kamu menangis?"
Aurel langsung memeluk Asya. "Aku menangis karena bahagia. Aku bahagia memilikimu sebagai sahabatku. Memiliki kalian semua di dekatku. Karena keadaanku yang seperti ini, mungkin saja kamu akan marah dan menjauh dariku. Tapi, kamu bahkan tak sedikitpun marah dan malah sangat memeperhatikanku. Terima kasih, Asya."
"Apa yang kamu katakan?" Asya meregangkan pelukannya. "Dengar! Kamu adalah sahabtku, saudaraku. Aku nggak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Kita akan hadapi semua ini bersama." Aurel mengangguk. "Ya sudah. Sekarang, kita pulang."
"Iya." Asya kemudian melajukan mobilnya menuju apartemen Aurel.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup macet, Asya dan Aurel tiba di apartemen. Asya menenteng makanan yang mereka beli saat perjalanan pulang, karena Aurel menginginkannya. Ketika mereka membuka pintu unit apartemen Aurel, mereka di kejutkan oleh Darrel dan Jiyo yang sudah ada didalam.
"Selamat datang." Ucap kedua lelaki tersebut, sambil tersenyum.
Hal itu membuat Asya dan Aurel tersenyum. Namun, Aurel menangkap sesuatu dari ekspresi Asya. Meskipun gadis itu tersenyum, matanya memancarkan kesedihan.
"Kenapa kalian masih berdiri di pintu? Ayo, masuk! Jangan sungkan." Ucap Jiyo, seolah dirinya adalah pemilik unit tersebut.
Kedua gadis itu segera mendekat. Mereka duduk bersama di sofa. Darrel dan Jiyo melirik bawaan Asya yang gadis itu letakkan di atas meja.
"Apa ini?" Jiyo meraihnya dengan cepat, membuat Asya maupun Aurel tidak bisa mencegah.
Reaksi spontan Asya dan Aurel membuat Darrel dan Jiyo mengerutkan kening.
"Kalian kenapa?" Darrel dan Jiyo bertanya bersamaan.
"Itu..."
"Sejak kapan kalian suka makan makanan ini?" Jiyo memperlihatkan makanan yang ia tahu, Asya maupun Aurel tidak suka memakannya.
Darrel segera meraihnya. "Iya. Sejak kapan kamu sama Asya suka makan makanan dengan bahan buah durian?"
Asya dan Aurel saling menatap. Mereka jadi tidak tahu, harus memberikan alasan apa.
"Itu... Aku tiba-tiba ingin coba makan makanan dengan rasa durian. Selama ini, aku tidak pernah menyentuh durian karena baunya yang menyengat. Tapi, bau durian pada pie susu sama puding ini kan nggak terlalu menyengat. Aku ingin mencobanya. Aurel juga ingin mencobanya." Jelas Asya.
"Benar Aurel?" Tanya Darrel.
"Iya. Aku juga ingin mencobanya. Sampai kapan kami terus menghidar. Sesekali mencoba, nggak apa-apa kan? Kalau tetap nggak bisa makan, ya sudah." Jawab Aurel.
"Ya. Kalian benar. Nggak salah untuk mencobanya." Ucap Jiyo, yang kemudian diangguki Darrel.
Asya maupun Aurel bersyukur dalam hati. Tapi, Asya tiba-tiba memikirkan perkataan Jesy yang mengakatakan Darrel pergi bersama gadis itu. Dia menatap Darrel, berniat ingin menanyakan hal tersebut.
"Darrel."
"Hmm?" Darrel menatap Asya. "Ada apa?'' Lanjutnya.
"Dimana Darren? Kenapa nggak datang bersamanya?"
"Darren? Dia ke luar negeri hari ini. Dia mengirimku pesan tadi pagi."
Wajah Asya berubah sendu. Apa yang dikatakan Jesy di restoran tadi benar. "Maksudmu, dia pergi tanpa rencana sebelumnya?" Asya bertanya pelan. Semangat yang berusaha ia bangun sejak tadi lenyap begitu saja.
"Ya. Aku juga nggak tahu ada urusan apa. Dia hanya memintaku memberitahu orang rumah soal itu." Jawab Darrel. "Ada apa? Apa kalian berdua memiliki masalah?"
__ADS_1
"Hah? Enggak. Aku hanya bertanya." Darrel mengangguk. Meskipun begitu, dia tetap merasa ada sesuatu yang terjadi antara Darren dan Asya. Hal yang sama dirasakan Aurel dan Jiyo. Tapi, mereka tidak ingin membahasnya.