Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 101


__ADS_3

Darrel menatap istrinya dengan kening berkerut. Sejak tadi, Aurel sering keluar masuk kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa? Dari tadi keluar masuk kamar mandi terus?"


"Nggak tahu sayang. Perutku sakit. Terus pengen buang air kecil terus."


"Sini-sini! Baring dulu." Darrel menuntun istrinya ke ranjang. Ia membantu Aurel berbaring, lalu mengusap-usap perutnya.


"Gimana?"


"Rasanya makin sakit, sayang." Mata Aurel mulai berkaca-kaca.


"Jangan-jangan, kamu mau melahirkan?"


"Shhh... Da-Darrel."


"Aduh, sayang. Ayo, kita ke rumah sakit saja."


Tanpa menunggu jawaban istrinya, Darrel turun dari ranjang dan menggendong istrinya. Bisa ia lihat, dress hamil yang Aurel kenakan dan kasurnya, basah oleh air ketuban. Dengan cepat Darrel menggedongnya dan membawanya keluar.


"Ibu! Ayah!" Teriak Darrel.


"Ibu! Ayah!"


"Darren! Asya!"


"Tuan muda? Ada apa?" Seorang pelayan mendekat pada Darrel.


"Panggil yang lain! Istriku mau melahirkan. Aku akan membawanya ke rumah sakit. Minta mereka menyusul."


"Darrel!" Suara Gara dan Alula terdengar. Kedua orang tua itu berjalan cepat mendekati putra dan menatu mereka. Darren dan Asya juga turun menemui mereka. Begitu juga Alisha.


"Ayah, Ibu. Aurel mau melahirkan."


"Ayo, kita ke rumah sakit!" Ucap Gara.


Darrel bersama Aurel juga Gara dan Alula bergegas ke rumah sakit dahulu. Sementara Darren dan Alisha sedang menunggu Asya mengambil barang-barang yang di perlukan saat di rumah sakit, di kamar Darrel dan Aurel.


Barang-barang tersebut sudah disiapkan oleh pasangan suami istri itu. Asya tinggal membawanya saja.


"Ayo!" Ucap Asya yang langsung diangguki Darren dan Alisha.


Ketiga orang itu bergegas menuju mobil. Alisha duduk di jok belakang.


"Kak, aku sangat takut terjadi apa-apa dengan Kakak ipar Aurel." Ucap Alisha dengan suara yang sedikit gemetaran.


"Tenang sayang. Aurel pasti baik-baik saja." Ucap Asya, mencoba menenangkan Alisha.


Sementara di mobil Darrel, Aurel terus menahan sakit. Darrel terlihat begitu khawatir melihat istrinya.


"Ayah, ngebut sedikit, Yah!" Ucap Darrel. Dia terus menggenggam tangan istrinya.


"Tenang, Darrel! Sebentar lagi kita sampai." Ucap Alula. Gara tak menjawab putranya. Lelaki itu hanya fokus pada jalanan. Hingga beberapa saat kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Beberapa perawat sudah menunggu disana dengan brankar dorong. Darren yang menghubungi mereka.


"Shhh... Sakit Darrel." Rintih Aurel.


"Iya, sayang. Sebentar lagi kita sampai di ruangannya."


Para suster dan seorang dokter langsung mendorong Aurel masuk ke ruang persalinan. Darrel ikut bersama mereka. Sementara Gara dan Alula menunggu di luar.


"Semoga cucu kita lahir dengan selamat, dan tidak terjadi sesuatu pada Aurel." Ucap Alula yang kini berada dalam pelukan Gara.


"Aamiin. Cucu kita pasti lahir dengan selamat. Begitu juga dengan menantu kita." Balas Gara menenangkan.


Lelaki itu kemudian menuntun istrinya duduk di kursi tunggu. Tak lama, Darren, Asya dan Alisha tiba.


"Ibu, Ayah. Bagaimana Kak Aurel?" Tanya Alisha. Gadis itu duduk di sisi Ibunya. Alula langsung memeluk putrinya.


"Kakak iparmu sedang di dalam. Kita doa kan saja, semoga persalinannya lancar." Alisha mengangguk, mengiyakan ucapan Ibunya.

__ADS_1


Darren menuntun Asya duduk. Dia terus menggenggam tangan istrinya. Dari gemetarnya tangan Asya, membuat Darren bisa menebak, istrinya begitu khawatir pada Aurel. Namun, wanita itu mencoba untuk menekan rasa khawatirnya.


Darren membawa tangan Asya dan mengecupnya. "Aurel dan anaknya akan baik-baik saja." Ucap Darren. Asya hanya mengangguk pelan.


Tak lama, Gio dan Viko tiba. Kedua lelaki itu berdiri di samping Gara.


"Bagiamana, Kak?" Tanya Gio pada Gara.


"Masih di dalam." Jawab Gara.


"Aku memberitahu Ayah, juga orang tua Kakak ipar tadi. Tapi, aku meminta mereka untuk tidak datang sekarang. Ini sudah malam." Ucap Viko.


"Ya. Kamu melakukan hal yang benar." Ucap Gio membalas adiknya.


Sementara di dalam ruang persalinan, Aurel terus berjuang melahirkan buah hatinya. Tubuhnya basah oleh peluh. Air mata tak berhenti mengalir. Darrel yang berada di sampingnya, sambil menggenggam tangan Aurel pun, juga ikut berkeringat. Wajahnya sedikit pucat menyaksikan istrinya kesakitan seperti ini.


"Sayang..."


Oeak... Oeak... Oeak...


Suara Darrel terpotong oleh tangis bayi. Matanya berkaca-kaca melihat bayi mungil yang masih dilumuri darah. Ia menatap istrinya yang terlihat lemas, lalu mengecup kening wanita itu berkali-kali.


Terima kasih, Tuhan. Batin Darrel.


"Terima kasih, sayang." Ujarnya.


Sementara di luar, setiap orang yang menunggu berucap syukur setelah mendengar tangis bayi. Asya memeluk Darren, Gara memeluk istri dan anaknya. Begitu juga dengan Gio dan Viko. Kedua lelaki itu saling berpelukan.


"Aku sekarang jadi seorang Kakek." Ujar Gio.


"Ya. Aku juga jadi seorang Kakek." Balas Viko.


Alula dan Gara menggeleng melihat tingkah Gio dan Viko. Alisha dan Asya terkekeh melihat kedua lelaki yang tidak muda lagi itu.


Jiyo yang baru saja tiba dan terburu-buru langsung bernapas lega melihat semua orang tersenyum bahagia. Dia mendekati Darren dan memeluk lelaki itu.


"Selamat! Sekarang kamu menjadi seorang Paman."


"Waah... Aku sangat bahagia. Aku juga menjadi seorang paman sekarang." Ucap Jiyo dengan bangganya.


Pintu ruangan terbuka membuat semua menatap ke arahnya. Seorang dokter dan suster yang menggendong bayi Aurel keluar.


"Selamat, tuan Gara, nyonya Alula! Cucu kalian lahir dengan selamat. Jenis kelaminnya perempuan."


"Bagaimana Ibunya, dok?" Tanya Asya, cepat. Dia begitu mengkhawatirkan sahabatnya.


"Nyonya muda kedua baik-baik saja." Jawab dokter, yang langsung disambut ucapan syukur setiap orang yang ada di tempat itu.


"Kami akan membawa bayi ini untuk di bersihkan. Permisi,"


Setelah dokter dan suster pergi, Darrel keluar. Lelaki itu langsung memeluk tubuh Ayah dan Ibunya. Sebuah kebahagiaan yang tak akan bisa ia lukiskan dengan apapun.


"Selamat, nak!" Ucap Gara dan Alula bersamaan.


"Terima kasih, Bu, Yah. Sekarang, aku sudah menjadi seorang Ayah." Ujarnya.


Ia lalu memeluk kedua pamannya. Kemudian memeluk Alisha. Ia mengecup kening adiknya itu berkali-kali. Dia lalu memeluk Jiyo.


"Aku sudah jadi seorang Ayah sekarang." Ujar Darrel.


"Ya. Dan aku menjadi seorang Paman sekarang." Balas Jiyo.


Darrel lalu beralih pada Darren dan Asya. Dengan cepat dia memeluk pasangan suami istri itu sekaligus. Darren sempat terkejut melihat Darren memeluk Asya juga. Tapi, lelaki itu membiarkannya. Ini adalah hari bahagia Darrel. Dia akan membiarkannya kali ini.


"Aku sangat bahagia. Semoga kalian segera memilikinya. Aku akan selalu berdoa untuk kalian."


"Terima kasih." Ucap Darren, balas memeluk kembarannya. Asya terdiam. Ada perasaan aneh saat mendengar ucapan terima kasih Darren. Terselip kebahagiaan dan juga harapan dalam ucapan Darren.


"Aku juga bahagia atas kelahiran putri mu." Lanjut Darren.

__ADS_1


"Aku juga turut bahagia. Selamat, ya?" Ucap Asya.


"Iya. Terima kasih. Dia bukan hanya putriku. Dia juga putri kalian."


"Terima kasih." Lagi-lagi kata itu terucap dari mulut Darren. Lelaki itu memeluk kembarannya sedikit lebih erat dari sebelumnya. Hingga suara Edo dan Irene yang baru datang memecah suasana haru itu.


"Darrel!" Edo dan Irene memanggil bersamaan.


"Papa, Mama." Lelaki itu melepas pelukannya dan beralih memeluk Edo dan Irene.


"Aurel sudah melahirkan. Anak kami perempuan."


"Ya, Papa tahu. Selamat, ya?"


"Selamat ya, Darrel."


"Iya, Ma, Pa."


Setelah melepaskan pelukannya, Darrel kembali ke ruang persalinan. Aurel akan dipindahkan ke ruang rawat.


"Selamat ya, Kak Aurel. Alisha bahagia banget." Ucap Alisha setelah Aurel pindah ke ruang rawat VIP.


"Aku juga sangat bahagia. Kamu dan bayi kamu baik-baik saja."


"Terima kasih. Ini juga berkat doa kalian." Balas Aurel.


Seorang suster datang membawa bayi Aurel yang sudah bersih. Para lelaki menunggu di luar, kecuali Darrel. Ia tidak ingin jauh dari istrinya.


Aurel meraih bayi tersebut dan menyusuinya.


"Kak Darrel! Kenapa Kakak masih disini? Seharusnya Kakak di luar. Disini hanya ada perempuan. Kakak sendiri yang laki-laki."


"Alisha, Kakak mau lihat anak Kakak. Sekalian jagain istri Kakak."


"Kan ada kita yang jagain Kak Aurel. Kakak pasti bohong, kan? Kakak mau lihat Kak Aurel menyusui adek bayi kan?"


"Eh, kok kamu ngomong gitu?" Darren melotot, dan reflek Alisha memeluk Asya yang ada di dekatnya.


"Ya emang benar. Kak Darrel dari tadi terus ngeliatin adek bayi yang lagi nyusu."


"Eleh, anak kecil! Sok tahu kamu! Otak kamu masih kecil. Udah mesum aja." Darrel menekan-nekan kening Alisha, membuat Asya yang berdiri di dekat Alisha menepis tangannya.


"Ck. Sok bilang Alisha mesum. Kamu yang mesum! Udah sana, keluar! Nanti setelah Aurel selesai, kita panggilin."


"Ck. Dasar kalian!" Kesal Darrel lalu keluar.


Aurel, Alula dan Irene terkekeh melihat tingkah Darrel, Asya dan Alisha. Selalu saja seperti ini setiap mereka bertemu.


Setelah Aurel selesai menyusui, Alisha kembali memenggil Darrel masuk. Tidak hanya Darrel, orang-orang yang ada di luar ikut masuk. Gara langsung meraih bayi yang sedang di gendong Alula kedalam gendongannya. Dia teringat kembali saat Alula melahirkan Alisha dulu.


"Siapa namanya?" Tanya Jiyo, tiba-tiba.


"Meeya Aristiana Grisam." Ucap Darrel dengan senyum mengembang. Semua tersenyum setuju mendengarnya.


"Meeya." Gumam Darren, dengan sedikit senyum di bibirnya. Ia lalu menoleh, menatap sang Ayah yang masih menggendong bayi mungil tersebut.


"Ayah, biar ku gendong." Ucapnya.


Seulas senyum muncul di bibir Gara. Ia menatap putranya tersebut, lalu meyerahkan Meeya pada Darren. Darren meraih bayi itu dengan penuh hati-hati. Setelah sepenuhnya berada dalam gendongannya, ia menunduk dan mengecup keningnya.


"Meeya," Gumamnya, sambil menatap wajah bayi tersebut yang kini sedang menggerakkan tangannya. "Selamat datang, Meeya. Ini Paman." Ucap Darren dengan senyum tipis di bibirnya.


Mata Asya berkaca-kaca melihat pemandangan itu. Ia bisa melihat kebahagiaan dari sorot mata Darren, dan juga harapan untuk memiliki bayi mungil seperti Meeya.


"Kalian pasti akan memilikinya." Ucap Alula, merangkul pundak Asya.


"Kami akan selalu mendoakan kalian." Sambung Irene.


"Terima kasih, Bu, Ma." Balas Asya sambil tersenyum.

__ADS_1


Ya Tuhan, semoga Engkau berkenan minitipkan kehidupan baru dalam rahimku. Mengizinkan aku dan Darren menjaganya seumur hidup kami. Batin Asya.


__ADS_2