Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 114


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa, dua bulan telah berlalu. Darren dan Asya juga mendapatkan undangan dari Carla untuk acara pernikahan yaang diadakan seminggu lagi.


"Sayang, kita kasi kado apa ya, buat Carla?" Tanya Asya, sambil menatap suaminya yang duduk bersandar di sandaran ranjang. Wajanya sedikit mendongak karena posisinya yang sedang berbaring.


"Aku ikut saja apa yang kamu pilih." Ujar Darren.


Asya menarik nafasnya. Darren sepertinya tidak tertarik dengan pembicaraan ini. Asya terdiam dan terus memikirkan kado apa yang akan ia bawa. Tapi, ia tiba-tiba ingat dengan kotak hadiah yang diberikan Elisa. Segera wanita itu bangkit, membuat Darren terkejut.


"Kenapa, sayang?" Khawatir Darren. Ia meletakkan laptopnya, lalu bergeser mendekati Asya yang terduduk.


"Enggak. Aku hanya ingat sama kotak yang dikasi tante Elisa. Aku belum lihat isinya."


"Huuuhh... Syukurlah. Ku pikir, ada sesuatu." Darren mengusap rambut Asya, dan mengecup kening wanita itu.


"Nggak ada apa-apa. Aku ingin melihat kado apa yang diberi tante."


"Besok saja lihatnya."


"Enggak. Aku mau sekaramg." Ujar Asya keras kepala. Ia menyingkap selimutnya, lalu bergegas mengambil hadiah yang dikasi Elisa.


Wanita itu membawa hadiah tersebut dan duduk di pinggir ranjang. Tangannya mulai bergerak membuka kado tersebut. Seulas senyum muncul di bibir wanita itu.


Tante nggak tahu, apa yang kamu suka. Jadi, tante kepikiran memberimu dress hamil ini. Semoga kamu dan Darren cepat punya momongan.


Tante Elisa.


Asya semakin semringah membaca potongan surat yang Elisa selipkan dalam kado tersebut. Ia meraih dress tersebut dan menempelkan di tubuhnya.


"Sangat cantik." Gumam Asya. Wanita itu lalu berlari kecil ke ruang ganti, sambil membawa dress tersebut.


Darren yang melihatnya mengerutkan kening. Apa yang terjadi dengan istrinya? Karena penasaran, Darren meraih kotak kado tersebut, dan menemukan secarcik kertas yang ditulis Elisa. Senyum tipis muncul di bibir Darren.


"Sayang, bagaimana? Baguskan?" Suara Asya membuat Darren mengalihkan perhatiannya. Lelaki itu menatap sang istri yang kini mengenakan dress hamil tersebut.


Darren tersenyum dan bergeser duduk di pinggir ranjang. "Ayo, mendekat!" Darren berucap lembut.


Asya menurut. Wanita itu mendekat dan berdiri di tengah-tengah antara kedua paha Darren. Tangan Darren melingkar di pinggang sang istri. Lelaki itu mendongak menatap wajah cantik istrinya.


"Apapun yang kamu kenakan, akan terlihat cantik di mataku."


"Berarti, dress ini cocok untukku?"


"Ya." Darren mengangguk, kemudian membenamkan wajahnya di perut Asya. "Akan lebih cocok jika sudah tumbuh anak kita disini." Ucap Darren, mengecup perut rata sang istri.


Asya tersenyum tipis mendengarnya. Ia mengusap-usap rambut Darren, lalu mencium puncak kepala lelaki itu. Membuat Darren kembali mendongak menatapnya.


"Aku yakin, cepat atau lambat, dia akan tumbuh disini. Seperti yang kamu katakan, tugas kita berusaha dan berdoa. Sisanya, biar Tuhan yang mengurusnya." Ujar Asya. Wanita itu menunduk dan mengecup bibir Darren.

__ADS_1


"Ayo, tidur!" Darren mengangguk saja. Ia dan Asya lalu bergerak menaiki ranjang. Mematikan lampu, kemudian berbaring bersama sambil berpelukan.


***


Tiga hari menjelang pernikahan Carla, Darren dan Asya berangkat terlebih dahulu, bersama Aurel, Darrel dan baby Meeya. Grisam Group sementara diambil alih oleh Gara kembali. Sementara Yunanda Group, dipimpin sementara oleh Edo. Mereka ingin putra dan putri mereka bisa bersenang-senang, tanpa memikirkan keadaan perusahaan.


"Alisha juga pengen ikut. Tapi, Alisha nggak mau ketinggalan pelajaran." Ujar Alisha sambil berwajah sedih.


"Nah, kan udah tahu masih sekolah. Kenapa pengen ikut?"


"Kak Darrel ngeselin deh!"


"Eh, kok nyalahin Kakak?"


"Darrel!" Tegur Aurel yang langsung membuat lelaki itu berhenti mengganggu adiknya. "Alisha nggak usah sedih. Kapan-kapan Alisha juga bisa kesana." Lanjut Aurel sambil mengusap rambut Alisha.


"Benaran?"


"Iya." Jawab Aurel.


Asya dan Darren tiba dengan Darren yang menyeret kopernya bersama Asya. Asya langsung mendekati Aurel dan Alisha.


"Ada apa, Aurel?" Tanya Asya.


"Ini, Alisha katanya pengen ikut. Tapi, nggak mau ketinggalan pelajaran."


"Yah, gimana dong?" Ujar Asya. Wanita itu menatap suaminya. "Sayang, gimana?"


"Tapi, Alisha nggak mau ketinggalan pelajaran, Kak." Gadis itu mendekati Darren.


"Kan udah Kakak bilang, kalau nggak mau ketinggalan pelajaran, ya nggak usah ikut." Timpal Darrel, yang membuat Alisha semakin kesal.


"Darrel!"


"Iya-iya. Aku hanya bercanda, Ren." Ujar Darrel.


"Kakak akan mengurusnya." Darren mengusap rambut Alisha.


"Aku akan membantu."


"Apa yang akan Kakak bantu?"


"Ck. Aku tahu apa yang Darren pikirkan." Darrel memutar bola matanya.


"Ayo!" Ajak Darren. Sedikit senyum tipis terbit di bibirnya. Darrel tidak pernah berubah.


"Ayo! Aku ambil kunci mobil dulu." Seru Darrel, berjalan menuju kamarnya, mengambil kunci mobil.

__ADS_1


"Kemas barang-barangmu, lalu beritahu Ayah Ibu."


Alisha tersenyum senang. Ia bergegas ke kamarnya untuk mengemas barang yang akan dia bawa.


Darrel kembali dengan kunci mobil di tangannya. "Ayo!"


"Kalian sebenarnya mau kemana? Apa yang kalian rencanakan?" Tanya Asya.


"Ke rumah kepala sekolah." Jawab kedua lelaki itu bersamaan.


"Untuk apa?" Aurel menimpali.


Darrel menatap Darren. Lelaki itu menyengir pada saudara kembarnya. "Hehehe... Untuk apa, Ren?" Pertanyaan itu sukses membuat Asya dan Aurel memutar bola mata. Darrel memang laki-laki sok tahu.


"Meminta Kepala sekolah memberi akses pelajaran online untuk Alisha."


"Ohhh..." Asya dan Aurel sama-sama mengangguk paham.


"Tapi, disini sama di tempat Carla kan waktunya berbeda. Alisha bisa saja nggak menikmati harinya disana dengan baik."


"Jangan khawatirkan itu. Kita punya orang-orang yang bisa diandalkan. Alisha bisa mengakses pelajarannya di waktu manapun yang dia inginkan." Timpal Darrel. Sekarang dia bisa dengan jelas membaca jalan rencana Darren.


Lelaki itu tersenyum bangga lalu mengajak kembarannya pergi. Asya menggeleng pelan, kemudian beralih pada Aurel. Wanita itu mencium pipi baby Meeya yang sedang tertidur di stroller bayi.


"Pamanmu dan Papamu, adalah orang aneh. Jika kamu tumbuh besar nanti, jangan ikut mereka. Tumbuhlah seperti ibumu. Atau, seperti aunty juga boleh." Ujar Asya. Aurel yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Jika dipikir-pikir, sahabat sekaligus Kakak iparnya itu, juga tak kalah aneh. Sebelas dua belas dengan suaminya.


Alisha datang dengan membawa barang yang sudah di kemasnya. Gara dan Alula mengikutinya dari belakang. Kedua orang tua itu tak bertanya dimana putra mereka. Dari cerita Alisha, keduanya tahu, Darren dan Darrel pasti sedang melakukan sesuatu untuk adik mereka. Keduanya malah mendekati cucu mereka yang sedang tertidur.


***


Setelah mengurus semuanya, Darren, Asya, Darrel, Aurel, Alisha dan baby Meeya berangkat menuju negara, tempat tinggal keluarga Doni. Jet pribadi yang mereka gunakan landing. Darren membangunkan istri dan adiknya, sementara Darrel membangunkan istrinya, lalu menggendong putrinya yang sudah bangun lebih dulu dari Aurel.


"Udah sampai, sayang?" Asya mengucek matanya, sambil bertanya.


"Ya. Kita sudah sampai."


"Cepat sekali. Padahal, ku rasa masih sebentar aku tidur." Ujar Asya. Darren menatap istrinya. Sudah beberapa jam wanita itu tertidur, dan dia masih mengatakannya sebentar? Benar-benar aneh istrinya ini.


"Cuci muka kalian. Kita akan segera turun."


Asya dan Alisha mengangguk. Keduanya bergantian masuk kamar mandi dan mencuci muka. Sedangkan Darren, dia memilih keluar.


Di luar, ia bertemu dengan Darrel yang menggendong baby Meeya. "Dia juga terbangun?" Tanya Darren.


"Ya. Saat aku masuk, aku melihatnya sudah terbangun." Ujar Darrel.


"Biar aku menggendongnya sebentar." Ucap Darren. Darrel langsung menyerahkan putrinya ke gendongan Darren.

__ADS_1


Setelah Asya, Aurel dan Alisha selesai, mereka segera keluar dari jet tersebut. Mobil yang sudah disiapkan langsung membawa mereka menuju apartemen Darren. Apartemen yang ditinggalinya dulu saat kuliah.


Sejam lebih perjalanan, mereka tiba di apartemen. Mereka segera menuju kamar masing-masing untuk istirahat.


__ADS_2