Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 125


__ADS_3

Alisha turun dari mobil dan langsung menuju sekolah. Saat melewati parkiran, terdengar seseorang memanggilnya.


"Alisha!" Panggil orang tersebut.


Alisha dengan cepat menoleh. "Hardi." Senyum mengembang muncul di bibir Alisha. Hardi mendekat ke arahnya.


"Gue pikir lo masih betah disana." Ujar lelaki itu.


"Hah? Enggak. Alisha kesana cuma buat hadirin pernikahan teman Kak Asya."


"Iya, gue tahu." Hardi tersenyum kecil dan mengacak pelan rambut Alisha.


"Ih, Hardi. Jangan acak-acak rambut Alisha." Gadis itu cemberut dan mencubit pelan lengan Hardi. Membuat lelaki itu terkekeh kecil.


Brum... Brum... Brum...


Sebuah motor sport melewati keduanya begitu saja. Itu Axel. Lelaki itu memarkirkan motornya dan melepas helm. Kemudian berlalu tanpa peduli pada Alisha.


"Axel!"


Panggilan Alisha tak didengarnya. Lelaki itu berjalan acuh, tak sedikitpun niat di hatinya untuk berhenti.


"Axel!!"


"Aku samperin Axel dulu." Alisha langsung berlari tanpa mendengar jawaban Hardi. Lelaki itu tersenyum nanar sambil menatap Alisha yang mulai menjauh.


Lo siapa Hardi? Jangan berharap lebih. Harusnya lo bersyukur Alisha udah mau maafin lo dan anggap lo teman. Batin Hardi.


Axel terus berjalan tak peduli dengan teriakan Alisha yang semakin dekat. Saat akan berbelok menuju kelas, Alisha langsung menghadangnya.


"Axel kamu..."


"Apa?" Suara lelaki itu begitu dingin. Berbeda dari biasanya.


"Kamu masih marah sama Alisha?"


"Huh. Ngapain? Gak penting!" Lelaki itu tersenyum miring. Hendak melangkah, namun Alisha menahan lengannya.


"Ax..."


"Apa?! Nggak usah ngerasa paling ngerti gue!" Axel menghempaskan tangan Alisha dan berlalu dari hadapan gadis itu.


Mata Alisha berkaca-kaca. Ia tidak suka situasi seperti ini.


"Sha," Suara lembut dua sahabatnya terdengar. Gadis itu mengusap air matanya yang hampir terjatuh, kemudian berbalik dan menghampiri keduanya.


"Nadia, Yana. Aaaa... Aku kangen banget." Seketika Alisha menjadi ceria. Ia memeluk kedua sahabatnya itu dengan erat.


"Aku juga kangen kamu, Sha." Ucap Nadia.


"Aku juga." Timpal Yana.


Kedua gadis itu tersenyum nanar sambil memeluk Alisha. Mereka menyaksikan semuanya tentang Alisha dan Axel. Sahabat mereka yang satu ini sedang berusaha menutupi masalahnya.


"Udah ketemu Axel?" Tanya Nadia, yang langsung mendapat pelototan Yana. Benar-benar tidak paham situasi si Nadia ini. Bukankah tadi dia juga melihatnya? Masih saja tetap bertanya.


"Hah? A-Axel? Udah kok. Barusan dia pamit duluan ke kelas.


"Oohh... Ku pikir belum ketemu."


"Kantin, yuk! Mumpung belum banyak siswa yang datang. Jam masuk juga masih cukup lama." Ajak Yana.

__ADS_1


"Boleh. Aku ikut saja." Sahut Alisha.


"Aku juga ikut. Tapi, kamu yang traktir ya, Na?"


"Iya-iya, aku traktir." Jawab Yana, yang langsung diacungi jempol.


***


Asya masih berdiam diri di kamar. Wanita itu menatap sarapan pagi yang diantar pelayan. Tak sedikitpun niat untuk memakannya. Dia tidak berselera dengan makanan tersebut.


Asya menatap pintu kamarnya. Sejak tadi, Darren belum juga kembali menemuinya. Ingin menemui suminya itu, namun dia sangat malas untuk keluar kamar.


"Apa Darren marah padaku?" Gumamnya.


Tok... Tok... Tok...


Suara pintu yang di ketuk, membuat Asya segera menoleh. Dengan senyum mengembang, Asya menuju pintu dan membukanya.


Disana, berdiri Darren dengan Doni yang digandeng lelaki itu. Hatinya senang melihat Darren menghampirinya. Namun, kehadiran Doni, merebut semua fokus Asya pada Darren.


"Doni sayang,"


Senyum Darren yang cerah langsung meredup saat Asya malah menyapa Doni. Tapi, ini juga tujuannya. Dengan membawa Doni, Asya tidak akan marah padanya atau menyuruhnya pergi.


"Mama, Doni sama Papa temani Mama, boleh?"


"Boleh sayang. Ayo Mama gendong ke ranjang."


Anak itu dengan cepat menggeleng. "Enggak. Doni digendong Papa saja."


"Kamu nggak mau digendong Mama?" Asya berwajah cemberut. Hal itu membuat Darren dengan cepat bersuara.


"Benar Doni?"


Anak itu mengangguk. "Iya, Ma."


"Uuuhhh... Anak Mama baik banget. Ya udah, Papa saja yang gendong Doni."


Darren langsung meraih Doni dalam gendongannya, dan membawa anak itu ke ranjang mereka.


Asya, Doni dan Darren. Mereka duduk sambil bersandar di sandaran ranjang. Asya tiba-tiba membawa Doni dalam pelukannya.


"Mama senang banget, akhirnya Doni bisa tinggal serumah sama Mama sama Papa."


"Doni juga senang, Ma." Balas anak itu, sambil tersenyum pada Asya. "Oh ya, Ma. Kata Nenek, Mama sama Papa lagi marahan. Itu benar?"


Asya menatap Darren yang kini juga menatapnya. Kedua mata itu saling beradu. Dan beberapa detik kemudian, Asya memutus kontak matanya saat Doni kembali berbicara.


"Kata bu guru Doni, kita nggak boleh saling marahan. Itu nggak baik." Ujarnya.


Asya tersenyum dan mengusap rambut putranya itu. "Tadinya, Mama marah sama Papa. Tapi, sekarang nggak lagi. Mama sadar, Mama salah paham tadi."


Ucapan Asya berhasil menumbuhkan kembali senyum di bibir Darren. Lelaki itu tak sedetik pun melepas tatapannya dari Asya.


"Kamu udah maafin aku?"


"Nggak ada yang perlu dimaafin. Kamu nggak salah. Seharausnya aku yang minta maaf."


Mendengar hal itu, Darren semakin senang. Ia dengan cepat mengikis jarak antara dirinya dan Asya, mengabaikan Doni yang ada diantara keduanya.


"Pa..." Suara Doni membuat Darren teringat jika ada Doni disana. Namun, ia sangat ingin mencium istrinya saat itu juga. Dengan santainya ia menutup mata Doni dengan sebelah telapaknya dan...

__ADS_1


Cup...


Satu kecupan mendarat di bibir Asya. Niat awalnya, hanya ingin mengecup. Namun, otak Darren malah mengarahkan ke arah lain. Dengan sebelah tangannya yang bebas, Darren menahan tengkuk Asya dan memperdalam ciumannya di bibir Asya. Lupa sudah suami istri itu dengan Doni yang masih tertutup matanya oleh telapak tangan Darren.


"Pa, Doni nggak bisa lihat."


Deg...


Darren dan Asya melepas ciuman mereka, bersamaan dengan Darren melepas tangannya yang menutup mata Doni.


"Maaf, nak." Lelaki itu memeluk Doni dan mengecup puncak kepalanya beberapa kali.


"Kenapa mata Doni di tutup? Apa yang Mama Papa lakukan?"


"Kita bermain." Jawab Asya, santai.


"Main? Doni boleh ikut?"


"Nggak boleh, nak. Ini permainan orang dewasa." Darren menatap istrinya sambil mengedipkan sebelah matanya. Membuat Asya tersenyum dengan pipi yang memerah.


"Boleh tunjukkan pada Doni? Doni ingin belajar melakukannya. Jika Doni dewasa dan ada yang mengajak untuk bermain permainan dewasa itu, Doni nggak perlu khawatir lagi. Karena Doni sudah tahu dan bisa melakukannya dengan baik."


Deg...


Darren dan Asya menenguk ludah dan tersenyum canggung pada anak itu. Tidak menyangka Doni akan memiliki pemikiran seperti itu.


"Jangan sekarang, nak. Usiamu belum cukup." Asya mencoba memberitahunya.


"Kamu bisa melakukan permainan orang dewasa ini saat kamu punya istri nanti." Tambah Darren.


"Punya istri seperti Papa punya Mama?"


Darren mengangguk dan mengacak rambut Doni. "Pintar anak Papa."


***


Alisha masih setia berdiri di dekat motor Axel. Dia tidak akan menyerah. Dia harus meluruskan masalahnya dengan Axel.


Satu persatu motor yang ada di parkiran mulai dibawa pergi oleh pemiliknya. Nadia dan Yana juga sudah kembali. Hardi sempat menawarkan untuk menunggu jemputan bersamanya. Namun, gadis itu menolaknya.


Bukan tanpa alasan. Dia ingin berbicara berdua bersama Axel. Bahkan supirnya diminta untuk sedikit terlambat untuk menjemput.


Axel yang berjalan santai, tiba-tiba mempercepat langkahnya saat melihat Alisha di dekat motornya.


"Ngapain lo?" Tanyanya, tak bersahabat.


"Alisha..."


"Gue ada urusan penting. Minggir!"


"Axel, Alisha mau bicara sebentar."


"Gue nggak ada waktu!" Axel mendorong pelan Alisha, memberi jarak antara gadis itu dengan motornya.


"Axel..."


Brum... Brum..


Axel menyalakan mesin motornya, kemudian melajukannya menjauh dari parkiran.


"Aku tahu, aku salah. Tapi, aku nggak nyangka, marahmu sebesar ini." Gumam Alisha, sambil menatap motor Axel yang sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2