Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 139


__ADS_3

Suasana suka cita memenuhi kediaman Gara. Asya yang dirawat tiga hari di rumah sakit akhirnya diizinkan pulang. Seperti Meeya yang digendong bergilir dulu, si kembar juga digendong bergilir oleh setiap anggota keluarga yang datang.


"Ponakan aunty gemasin banget sih. Cepat besar ya, nak. Biar bisa main bareng Kak Meeya." Ujar Aurel, sambil mencium pipi Alena. Putrinya Meeya sedang digendong Alula.


"Kalau kamu mau, nanti usahain bikin yang kembar juga." Tiba-tiba bisikan itu menusuk indra pendengaran Aurel yang sontak membuat Aurel terkejut. Wajah wanita itu memerah malu. Pelakunya Darrel yang sudah melenggang pergi dengan santainya. Lelaki itu memang sangat Jail.


"Aurel? Kenapa wajahmu memerah? Apa yang Darrel katakan?"


Aurel menatap Alula dan tersenyum canggung pada mertuanya itu. Bagaimana ia mengatakan hal yang Darrel bisikkan disaat ada aunty Ana, aunty Vera dan Nenek Disa disana. Jika hanya ada Alula dan Asya mungkin dia nggak akan begitu malu. Tapi, ini ada anggota keluarga yang lain. Dan beruntung anggota keluarga yang laki-laki pada berkumpul di ruang tamu.


"Itu..." Aurel mencoba memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat.


"Ayooo, pasti Darrel mau punya bayi kembar juga?" Celetuk Ana yang membuat Aurel terkejut.


"Ba-bagaimana aunty tahu?"


"Nah, tebakan aunty benar. Ya Tuhan, anak itu."


"Hahaha... Anak kamu, Kak. Disaat begini masih sempat aja bisikin yang begitu." Kekeh Vera. Ia sampai menggeleng-geleng karena sifat ponakannya itu.


"Ck. Ck. Ck. Darreeel... Darrel. Bikin istri kamu malu aja, nak. Tapi nggak apa-apa. Biar cucu buyut Nenek tambah banyak." Ucapan Disa membuat wanita-wanita yang berkumpul disitu terkekeh.


Sementara di ruang tamu, para lelaki terus berbincang-bincang. Gio dan Viko terus saja menggoda Darren yang terus tersenyum tipis. Ditambah Jiyo dan Darrel ikut menggoda. Sementara Gara dan Edo hanya bisa terkekeh. Edo sudah merasa puas menggoda menantunya itu di rumah sakit.


"Paman nggak nyaka, Ren. Ternyata kamu punya bibit unggul. Sekali mengandung dapat dua." Ujar Gio diberengi kekehannya.


"Kan Ayahnya juga bibit unggul Kak. Tentu saja anaknya juga dapat bibit unggul." Sambung Viko, yang juga ikut terkekeh. Gara sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua adiknya ini.


"Biasanya nih, datar aja itu muka. Sekarang senyum terus." Celetuk Jiyo.


"Namanya juga udah jadi Ayah pasti senanglah. Memang kamu? Masih sendiri." Balas Darrel, membuat Jiyo berdecak kesal.


"Aku juga bakal punya anak, tapi nanti."


"Mau punya anak sama siapa? Pacar aja nggak punya." Darrel masih belum mengalah.


"Nggak usah pacaran. Nanti aku ajakin Nita nikah." Balas Jiyo, pede.


"Iya kalau Nita mau."


"Ck. Ngeselin tahu, nggak?" Kesal Jiyo. Dia tidak bisa menjawab Darrel lagi. Wajah kesal Jiyo membuat semua terkekeh.


***


Di sekolah, Alisha terus tersenyum sambil membalas pesan dengan Aurel dan Asya. Ketiga perempuan itu membuat grup chat dengan mereka bertiga sebagai anggotanya. Alisha terkekeh saat Aurel mengirim foto Meeya, Alan dan Alena. Untung saja Meeya sudah lebih besar. Jika tidak, orang-orang akan menganggap mereka kembar tiga.


"Sha!" Panggilan dari seseorang membuat Alisha menoleh. Terlihat Hardi berdiri di belakangnya.


"Hardi. Ada apa?" Tanyanya.

__ADS_1


Tak menjawab, Hardi malah berjalan mendekati Alisha dan duduk di samping gadis itu. Keduanya duduk di kursi panjang di taman sekolah.


"Lo sibuk nggak hari ini?"


"Eeemmm... Enggak. Kenapa?"


"Mau bantuin gue nguras kolam di rumah gue nggak?"


Kening Alisha langsung mengerut mendengar pertanyaan Hardi. Tapi, sedetik kemudian gadis itu terkekeh melihat Hardi yang terlebih dulu terkekeh.


"Ish, apaan sih Hardi?"


"Hehehe... Bercanda, Sha. Lagian gue lihat lo sendiri disini. Kemana Nadia sama Yana?"


"Mereka lagi di kantin."


"Ohh..."


Alisha kembali fokus pada handphonenya, berbalas pesan dengan kedua Kakak Iparnya. Ia seolah lupa dengan Hardi yang duduk di sebelahnya.


"Lagi chat sama siapa? Senang banget."


"Lagi chat sama Kak Asya sama Kak Aurel."


"Kakak ipar lo udah lahiran?" Alisha menoleh dan mengangguk dengan senyum mengembang.


"Senang bangeeet... Sekarang aku punya 4 ponakan."


"Empat?"


"Iya. Meeya, anaknya Kak Darrel sama Kak Aurel. Terus Doni, anak angkatnya Kak Darren sama Kak Asya, dan juga Alan sama Alena, yang baru lahir."


"Ponakan lo kembar?"


"Iya. Lucu lagi."


"Gue ke rumah lo, boleh? Gue juga pengen lihat ponakan lo."


"Boleh. Nadia sama Yana juga pengen kesana."


"Kapan?"


"Sebentar, pulang sekolah."


"Oke. Pulang sekolah."


Alisha dan Hardi lanjut mengobrol hingga Nadia dan Yana datang. Mereka berempat lanjut mengobrol hingga bel masuk berbunyi. Tanpa mereka sadar, Axel terus memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Sebentar lagi, Xel. Lo harus sabar." Gumam Axel sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Lelaki itu berbalik setelah mendengar bel masuk berbunyi. Padangannya mengarah ke dua orang guru lelaki yang berdiri tak jauh darinya. Ia mengangguk dengan isyarat mata, membuat kedua guru itu juga mengangguk membalasnya.


***


Alisha berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu supirnya menjemput. Matanya menyipit saat melihat dua orang lelaki di seberang jalan. Keduanya seolah sedang mengawasinya.


"Sha!" Tepukan di bahunya membuat Alisha menoleh.


"Eh, Yana."


"Kamu kenapa?" Tanya Nadia.


"Enggak. Nggak kenapa-kenapa. Kalian jadikan ke rumahku?"


"Jadi." Nadia dan Yana menjawab bersamaan.


"Hardi?"


"Gue di sini." Jawab lelaki itu, sambil mendekati Alisha, Nadia dan Yana.


"Motor kamu?"


"Itu," Hardi menunjuk ke arah kiri dari mereka berdiri sebagai jawaban pertanyaan Nadia. Disana motornya ia parkir.


"Trotoar buat pejalan kaki, Hardi. Bukan buat kamu parkir motor." Ucap Yana.


"Sebentar aja. Jemputan kalian datang, gue langsung bawa itu motor."


Alisha, Nadia dan Yana mengangguk mengerti. Setelah 5 menit, mobil jemputan Alisha datang. Nadia dan Yana juga ikut Alisha, karena mereka akan ke rumah Alisha.


"Kenapa telat, pak?"


"Maaf, nona. Tadi, ban mobilnya bocor. Jadi, harus ke bengkel sebentar."


Alisha hanya mengangguk. Dia kemudian berbincang-bincang dengan kedua sahabatnya. Kedua Kakak iparnya sudah setuju jika dia mambawa sahabatnya menemui ponakannya.


Tiba di kediaman Gara, keempat orang itu langsung menemui Aurel dan Alula. Mereka seperti tidak sabar untuk bertemu Meeya dan si kembar.


"Kata Kak Darren sama Kak Darrel, boleh lihat, tapi nggak boleh di pegang, apalagi dicium." Ujar Alisha. Ia teringat pesan kedua Kakaknya saat tak sengaja mereka berpapasan tadi.


"Benaran Kak Darren sama Kak Darrel ngomong gitu?" Asya memastikan. Alisha hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Asya.


"Ck. Ada-ada saja dua orang itu." Decak Aurel.


Alisha, Nadia, Yana, dan Hardi terus bermain dengan si kembar dan Meeya. Lebih banyaknya, bermain dengan Meeya. Si kembar lebih banyak tidur. Sementara Meeya, anak itu terus terkekeh saat bermain dengan remaja-remaja itu. Ketika Doni bangun dari tidur siang, anak itu menjadi sasaran ketiga remaja sahabat Alisha.


Tak lama, seorang pelayan datang memanggil Alisha dan teman-temannya untuk makan. Saat tiba tadi, mereka seolah tidak peduli dengan makanan. Pikiran mereka tertuju pada bayi-bayi mungil itu.


Hardi yang paling antusis. Ia bahkan terus menempel pada Doni. Sepertinya menjadi anak tunggal membuatnya kesepian.

__ADS_1


__ADS_2