Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 32


__ADS_3

Setelah dua hari berdiam diri di rumah, Asya akhirnya kembali bekerja. Naomi juga meminta maaf pada Asya dan kedua orang tuanya. Setelah mendapatkan maaf, Naomi bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.


Sebenarnya, Irene dan Edo enggan untuk memaafkan Naomi. Namun, karena permintaan Asya, mereka menyetujuinya.


Asya sedang berkutat dengan berkas-berkas yang harus ia kerjakan dan tanda tangani. Dua hari tidak masuk kerja, membuat pekerjaannya menumpuk.


Sementara di lantai dasar Yunanda Group, para karyawan dikejutkan dengan kedatangan tiga laki-laki tampan. Wajah tampan mereka seolah menghipnotis setiap karyawan wanita. Bahkan, karyawan pria pun berdecak kagum atas ketampanan mereka.


Darren, Darrel dan Jiyo mendekati meja resepsionis.


"Kami ingin bertemu nona Asya." Ucap Jiyo, pada karyawan resepsionis.


"Maaf, tuan. Apakah kalian..." Ucapan wanita itu terhenti saat Jiyo menyodorkan kartu namanya dengan logo Grisam Group. Wanita itu meneguk kasar ludahnya. Begitupun dengan wanita di sampingnya.


Mereka melirik Darren dan Darrel yang terlihat sangat tenang. Aura mendominasi dari kedua orang itu membuat mereka merasa kecil.


"T-tuan bertiga, bi-bisa kah menunggu saya menelpon sekretaris nona dulu?"


Jiyo menatap Darren dan Darrel. Anggukan pelan yang kedua lelaki itu berikan membuatnya juga ikut mengangguk pada kedua karyawan terdebut.


Wanita itu bergerak cepat menelpon sekretaris milik Asya.


Asya yang tengah fokus pada berkas-berkas yang ada di depannya pun mengalihkan tatapannya saat telpon kantornya berbunyi. Ia segera mengangkatnya.


"Hallo, nona"


"Hallo. Ada apa, Nita?"


"Sekretaris Grisam Group dan dua orang lagi ingin bertemu anda, nona."


"Biarkan mereka masuk." Balas Asya tanpa berpikir panjang.


Asya meletakkan kembali telpon setelah panggilan berakhir. Ia menyandarkan punggungnya di kursi.


Sekretaris Grisam Group? Jiyo? Dia kemari bersama dua orang lagi? Siapa?


Saat Asya bergelut dengan pikirannya, pintu ruangannya tiba-tiba diketuk.


Tok... Tok... Tok...


"Nona,"


"Iya, Nita. Silakan masuk,"


Sekretarisnya tersebut segera mendorong pintu, lalu mempersilakan Darren, Darrel dan Jiyo masuk. Asya menegakkan badannya dan berdiri. Ia segera menghampiri ketiga lelaki itu.


"Kalian kesini?" Tanyanya.


"Ya, apa..." Ucapan Darrel terpotong ketika Jiyo mulai berulah. Lelaki itu membungkuk pada Asya, mendalami perannya yang merupakan sekretaris seorang CEO Grisam Group.


"Salam nona, maaf jika kami mengganggu waktu anda." Ucap Jiyo.


Darren seperti biasa, diam mengamati tingkah sahabatnya. Darrel menatapnya cengo. Dan Asya, gadis itu melotot ke arah Jiyo. Tangannya terulur mencubit lengan Jiyo.


"Ashhh... Apa-apaan kamu, Asya?" Jiyo meringis dan langsung menegakkan badannya. Tangannya mengusap-usap lengan bekas cubitan Asya.


"Kamu yang apa-apaan. Kenapa bersikap seperti itu?"


"Hehehe... Aku hanya bercanda."


"Huh." Asya membuang wajahnya, dan berbalik menatap Darren dan Darrel.


"Apa kami menganggu waktumu?" Tanya Darrel.

__ADS_1


"Nggak. Nggak mengganggu." Jawab Asya.


Darren, Darrel dan Jiyo tersenyum. Asya dengan entengnya menggeleng. Padahal, tumpukan dokumen di mejanya menunjukkan jika dirinya sibuk.


Darren mengulas senyum tipis dan mengusap rambut Asya. "Aku akan membantumu menyelesaikannya." Ujarnya.


Asya langsung tersenyum kikuk. Ia memang bodoh. Sudah pasti mereka melihat tumpukan dokumem itu di meja, dan tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan.


Asya menurunkan tangan Darren dari kepalanya dengan lembut. "Ayo, kita duduk dulu." Ucapnya, lalu menarik tangan Darren menuju sofa. Darrel dan Jiyo hanya bisa menyaksikan tanpa suara. Begitu juga dengan sekretaris Nita yang masih ada di ruangan itu.


Sekretaris itu melongo saat melihat interaksi Asya dengan ketiga lelaki itu tadi. Dia pernah bertemu Gara sekali. Dan dari wajah mereka, dia bisa menebak jika lelaki kembar itu adalah putra dari Gara. Dia bisa langsung mengenal jika yang berpakaian formal itu adalah Darren Alvaro Grisam. Dan yang berpakaian casual itu adalah Darrel Alvero Grisam. Yang satu lagi pasti sekretaris Jiyo. Tapi, dia tidak tahu jika hubungan mereka sedekat itu.


"Maaf, nona. Saya akan mengambilkan minum." Ucapnya.


"Tidak perlu. Kami tidak akan lama." Darrel dengan cepat menahannya.


"Kau kembali saja ke ruanganmu." Ucap Asya.


"Baik, nona. Saya permisi."


Sekeretaris Nita segera berlalu menuju ruangannya. Darrel dan Jiyo saling bertukar pandang, lalu melirik ke arah tangan Darren dan Asya yang masih saling bertaut.


"Ekhm... Darrel, sepertinya ada yang sangat nyaman duduk saling bergandengan tangan."


Ucapan Jiyo membuat Darrel menahan senyumnya. Sementara Asya, ia langsung sadar dan melepaskan tangannya yang mengenggam tangan Darren. Namun, Darren menahannya dan berbalik menggenggam tangan Asya. Membuat Asya menatapnya. Menatap wajah yang sangat tenang tanpa ekspresi itu.


Ini yang kamu katakan tidak mencintai Asya? Batin Darrel.


Perlakuanmu menunjukkan dengan jelas, jika kamu mencintainya, Darren. Batin Jiyo.


Asya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Darren. Tapi, Darren semakin mengeratkan genggamannya.


"Darren, lepaskan." Ucap Asya.


Asya terdiam dan pasrah. Melawan Darren adalah hal yang sulit. Darrel dan Jiyo kembali menahan senyum.


"Oh ya, ada apa kalian kemari?" Asya menatap mereka satu persatu. Matanya berhenti pada Jiyo. Lelaki itu mengangkat bahunya dan menggeleng.


"Aku nggak tahu. Mereka berdua yang tiba-tiba menarikku untuk kesini." Jiyo menjelaskan.


Asya lalu menatap Darrel. "Kamu pasti tahu."


"Ya, tentu. Aku yang merencanakan ini." Balas Darrel.


"Apa?"


"Aku ingin mengajak kalian ke apartemenku."


"Maksudmu, apartemen di jalan XX?" Tanya Jiyo.


"Ya."


"Ck. Ku pikir mau kemana."


"Memangnya ada apa kita kesana?" Asya penasaran. Sudah lama mereka tidak berkumpul disana.


Apartemen itu adalah tempat berkumpul mereka sewaktu SMA dulu. Belajar dan menghabiskan waktu senggang mereka disana. Banyak kenangan yang tersimpan. Mengingat itu, mata Asya berkaca-kaca. Rasa rindunya pada Aurel semakin besar.


Sebenarnya, dimana kamu, Aurel? Kenapa kamu menghilang begitu saja? Batin Asya.


Tidak jauh berbeda dengan Asya, Jiyo juga merindukan sahabatnya itu. Tapi, dia masih bisa menahan perasaannya.


Darren dan Darrel bisa merasakan kesedihan dan kerinduan Asya dan Jiyo. Darren mengusap punggung tangan Asya dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Ikut saja, okey?" Ucapnya lembut. Asya hanya bisa mengangguk. Mungkin dengan kesana, dia bisa mengobati rasa rindunya pada Aurel.


"Jiyo?" Suara Darrel menyadarkan Jiyo dari lamunannya.


"Hah? Ada apa?"


"Kamu ikut nggak?"


"Kemana?"


"Ke kutub utara." Balas Darrel sedikit kesal.


"Ck. Aku bertanya dengan benar."


"Ke apartemenku."


"Ya, ya. Aku ikut."


Setelah itu, mereka semua bergerak keluar ruangan. Sebelum meninggalkan lantai teratas Yunanda Group tersebut, Asya memberitahu sekretarisnya dan meminta dia untuk membatalkan jadwalnya hari ini. Tapi, untunglah. Setelah makan siang, Asya tidak memiliki kesibukan apapun selain dengan berkas-berkas yang ada di mejanya tadi.


Setelah urusan Asya dan sekretarisnya selesai, mereka segera menuju lift dan langsung ke parkiran setelah keluar lift. Darren mengendarai mobil bersama Asya. Sedangkan Jiyo dan Darrel menggunakan mobil masing-masing.


***


Naomi berjalan cepat menuju lift CEO. Saat mendengar banyak karyawan yang membicarakan mengenai tiga orang yang datang ke Yunanda Group, Naomi langsung meninggalkan kantin dan bergegas menemui Asya. Dia yakin, tiga orang yang dimaksud adalah Darren, Darrel dan Jiyo.


Sebelum pintu lift khusus terbuka, pintu lift karyawan terbuka terlebih dahulu. Sekretaris Nita keluar dari sana, dan menatap Naomi yang ada di depan lift CEO. Sebenarnya, Asya membebaskan dirinya menggunakan lift CEO. Tapi, dia bertekad akan menggunakannya hanya ketika dia bersama Asya, dan pada saat dia benar-benar membutuhkannya.


"Kebetulan sekali kau disini." Ucap Naomi, menatap Nita.


"Apa nona membutuhkan bantuan saya?'


"Tidak. Saya hanya mau bertanya. Apa benar ada tiga orang lelaki menemui Asya?"


Cih. Dia benar-benar sombong. Memanggil nona muda hanya dengan namanya saja.


"Hei! Kenapa kau diam?!" Suara Naomi sedikit meninggi.


"Maaf, nona. Kecil kan sedikit suara anda!"


"Kau!"


"Kau benar. Ada tiga lelaki yang menemui nona tadi. Mereka adalah orang dari Grisam Group. Tapi, mereka sudah pergi sekitar 20 menit lalu."


"Jangan berbohong."


"Silahkan anda periksa saja ke ruangannya." Ucap sekretaris Nita, dan berlalu begitu saja dari hadapan Naomi. Membuat wanita itu menggeram kesal.


"Hei! Mau kemana kau?" Naomi menarik tangan sekretaris Nita dengan kasar.


Wanita itu menoleh dan melepaskan tangannya dari Naomi.


"Anda sangat kasar nona."


"Saya tidak peduli. Katakan! Ke mana mereka pergi?"


"Saya tidak tahu."


"Jangan berbohong!"


"Saya tidak punya hak untuk bertanya hal pribadi nona muda. Jadi, saya benar-benar tidak tahu jika dia tidak memberitahu saya."


"Ck. Sekretaris bodoh!" Umpat Naomi. Namun, Nita hanya mengabaikannya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2