
Darren yang sedang fokus menatap layar laptop pun mengalihkan tatapannya ke handphone saat benda tersebut bergetar. Darren langsung meraihnya dan membaca pesan yang masuk.
Kakek membawa tante dan Pamanmu ke rumah. Ayahmu tidak suka. Kembalilah sebentar untuk menjelaskannya pada Ayah dan Ibumu.
Darren meletakkan handphonenya dan menarik nafas. Kakeknya gegabah kali ini.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!" Suara Darren terdengar, membuat orang yang mengetuk pintu, membukanya dan masuk.
"Darren, ku rasa, aku harus pulang sekarang. Aku sangat khawatir dengan kondisi Aurel." Ucap Darrel, orang yang mengetuk pintu ruangan Darren.
"Ya, pulanglah. Aku juga akan pulang."
"Pulang? Untuk apa?"
"Kakek dan Nenek membawa Tante dan Paman ke rumah. Baru saja, Kakek mengirim pesan." Ujar Darren. Dia sudah menceritakan semua tentang tante dan pamannya pada kembarannya itu.
"Ya sudah. Ayo, pulang bersama. Kita harusnya tiba lebih dulu dibanding mereka."
"Mereka sudah di rumah."
"Apa?!" Kaget Darrel. "Kenapa Kakek dan Nenek ceroboh sekali? Harusnya, kasi tahu dulu sebelum bawa paman dan tante ke rumah."
"Kau pulanglah lebih dulu. Aku akan menjemput Asya."
"Untuk apa? Kamu ingin menyeret Asya dalam kemarahan Ayah? Dia bisa menggigil ketakutan nanti."
"Asya nggak akan terlibat. Justru, jika aku nggak mengajaknya, aku yang akan dimarahinya."
"Baiklah. Terserah kamu saja. Ayo! Kamu harus cepat. Menjemput Asya lalu ke rumah, cukup memakan waktu. Jangan sampai paman Rendra sama Ayah adu kekuatan."
"Ada Ibu disana. Ayah nggak akan melakukannya."
"Ya. Ibu obat terbaik untuk Ayah." Ujar Darrel dengan kekehan kecilnya.
Kedua saudara kembar itu lalu keluar dari ruangan. Jiyo yang melihat keduanya, segera menghadang. Darren menghindar dengan cepat, sementara Darrel, ia terlambat. Jiyo cukup cekatan menarik jasnya, hingga Darrel hanya melangkah di tempat.
"Ck. Lepaskan Jiyo!"
"Nggak akan. Katakan dulu, kalian berdua mau ke mana?"
"Kenapa kau ingin tahu sekali? Ini keadaan genting. Tolong kau lepaskan. Aku harus pergi sekarang."
"Ck. Aku nggak akan lepaskan."
"Ya Tuhaaannn... Menyedihkan sekali hidupku, punya sahabat seperti Jiyo."
__ADS_1
"Hus! Seharusnya aku yang sedih punya sahabat sepertimu. Udah maling wajahnya Darren, pelit lagi sama sahabat sendiri."
"Siapa yang maling? Ini wajah dikasi Tuhan, bukan hasil nyuri dari Darren. Dan, siapa bilang aku pelit? Kapan aku pelit sama kamu?"
"Hadeh, menyangkal lagi. Yang sekarang apa? Kamu nggak mau kasi tahu aku ke mana kalian pergi kan? Kalau bukan pelit, apa namanya?"
"Ck. Iya-iya. Kita mau pulang ke rumah. Tante Elisa sama suaminya ada di rumah."
"Waahh... Aku ikut!" Ucap Jiyo, penuh semangat.
"Buat apa?" Mata Darrel menyipit menatap ke arah lelaki itu.
"Buat lihat tante Elisa lah."
"Alaaahh... Mata keranjang memang kamu Jiyo. Pantas saja Nita berusaha menghindar dari kamu. Jaga hati biar nggak disakiti."
"Alaahh... Sok bijak! Udah sana, pergi! Aku nggak mau ikut lagi." Jiyo melepas pegangannya pada jas Darrel.
"Nah, begitu dari tadi kan, bagus." Ucapnya sambil merapihkan jasnya. "Ck. Aku jadi ditinggalin Darren kan?" Kesal Darrel seraya berjalan menuju lift.
***
Darrel tiba terlebih dahulu di rumah dibandingkan Darren dan Asya. Jujur saja, ia merasa bimbang untuk masuk. Tapi, rasa khawatirnya pada Aurel, membuatnya segera masuk.
Saat tiba di ruang tamu, Darrel langsung disuguhi suasana tegang, kecuali wajah Ayah dan Ibunya. Wajah sang Ayah lebih pada ekspresi dingin, sementara ibunya, terlihat khawatir.
Kedatangan Darrel membuat semua menatapnya. Lelaki itu tersenyum canggung pada semua orang.
Alula tersenyum tipis ke arah putranya. "Aurel sudah ke kamar bersama Meeya."
"Iya, Bu. Aku ke kamar dulu." Pamitnya. Namun, baru beberapa langkah, terdengar suara Elisa.
"Apa kamu lupa pada tante, Darrel?" Ujar wanita itu, membuat Darrel berhenti. Dia mengenal lelaki ini dari matanya yang mirip Alula dan wajahnya yang ramah.
Darrel berbalik dan menatap Elisa. "Aku nggak pernah lupa wajah tante. Tapi sekarang, bukan waktunya aku bergabung. Ini urusan para orang tua. Saya permisi." Ujar Darren, kemudian lanjut menuju kamarnya, menemui Aurel dan putrinya, Meeya.
Hampir sepuluh menit Darrel tiba di rumah, mobil Darren memasuki halaman rumah. Lelaki itu menggandeng tangan istrinya memasuki rumah.
Seperti Darrel yang menjadi pusat perhatian, begitu juga dengan Darren dan Asya. Semua orang menatap mereka.
Asya mendekat dan bergabung bersama mereka, duduk di sebelah Alula. Sementara Darren, dia masih berdiri, menatap tanpa ekspresi apa-apa.
"Ayah ingin bicara denganmu." Gara berdiri dan melangkah tanpa mendengar jawaban Darren.
Tak banyak bicara, Darren mengikuti Ayahnya menuju ruang kerja. Darren masuk dan mengunci pintu.
"Apa kamu yang membawa tantemu dan suaminya kembali?" Tanya Gara.
__ADS_1
"Ya. Aku yang membawa tante dan lelaki itu kembali."
Gara menatap putranya, lalu menarik nafasnya dan menghembuskan nya sedikit kasar. Ia marah. Tapi, dirinya tak sanggup meluapkannya pada sang putra yang terlihat begitu tenang itu. Ia takut menyakiti putranya. Ia berusaha menenangkan pikirannya dengan terus memggumamkan dalam hati, jika Darren tahu apa yang dia lakukan.
Gara bergerak duduk di sofa dan menepuk sebelahnya, menyuruh Darren duduk.
"Kamu tahu? Rendra adalah mantan kekasih Ibumu dulu. Rendra berselingkuh dengan Elisa, membuat Alula terluka. Alula masih cukup muda. Ia gegabah dalam mengambil tindakan. Ia memilih ke club untuk melampiaskan kesedihannya dengan meminum alkohol." Ujar Gara, mengingat kembali cerita yang ia dapatkan dari Alula, Gio dan Edo. Cerita tentang pertemuan awalnya bersama Alula.
"Waktu itu, Pamanmu Gio bekerja sebagai bartender. Dia memberi minuman dengan kadar alkohol rendah. Tapi sial sekali! Alula bertemu mertuamu yang genit itu. Edo berniat buruk dan memasukkan obat ke minuman Ibumu. Tapi, Ayah sedikit berterima kasih pada Edo. Karena ulahnya, Ayah bertemu Ibumu. Jika tidak, Ayah tidak memiliki kalian sekarang."
"Tidak ada yang tidak mungkin. Jika Tuhan menakdirkan Ibu untuk Ayah, akan ada cara lain selain cara itu untuk mempertemukan Ayah dan Ibu."
Gara terkekeh pelan mendengarnya. Ia menepuk pelan punggung putranya. "Kalau dengan cara lain, kalian belum tentu sebesar sekarang. Mungkin kalian masih seusia Alisha atau Dafa." Ujar Gara.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuat Gara dan Darren menoleh. Tak lama, terdengar suara Darrel.
"Ayah, boleh aku masuk?"
"Ya." Balas Gara. Darren bangun dan membuka pintu untuk kembarannya.
"Ayah, bukan hanya Darren yang terlibat membawa tante kemari. Aku juga terlibat." Ujar Darrel. Dia khawatir akan kembarannya yang mungkin saja dimarahi sang Ayah. Dia tidak ingin Darren merasakan kemarahan itu sendiri. Dia menanggung sebagian kemarahan Ayahnya.
Sementara Gara, ia terkekeh mendengar ucapan putranya. Ia lalu menepuk tempat antaranya dan Darren. "Duduklah." Ujar Gara.
"Ayah..."
"Duduk dulu." Gara memotong ucapannya, dan menarik tangan putranya duduk. "Istrimu sudah istirahat?"
"Iya." Jawab Darrel. "Ayah..."
"Nggak ada yang salah dalam hal ini. Ayah saja yang berlebihan cemburu pada pria itu."
"Ayah benar nggak marah?"
"Ayah nggak marah, hanya cemburu. Tapi, Ayah yakin pada cinta Ibu kalian."
"Haahhh... Syukurlah. Sekarang, ayo ke ruang tamu! Semua orang khawatir Ayah akan memarahi Darren."
"Ayo!" Gara menepuk pahanya lalu berdiri. Darren dan Darrel pun mengikutinya. Mereka berjalan bersama menuju ruang tamu.
Asya dan Alula terlihat khawatir. Mereka menghawatirkan Darren yang menghadapi Gara yang sedang dalam emosi.
"Sayang," Asya langsung memeluk lengan suaminya. Sementara Darrel, ia menjemput istri dan putrinya di kamar, kemudian bergabung bersama. Gara kembali ke tempatnya, disamping sang istri. Ia lalu memiringkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Alula.
"Aku sudah memutuskan untuk memaafkan mereka. Tapi, aku ingin kita berbulan madu untuk kompensasinya." Bisik Gara, membuat Alula menatapnya, sedikit melotot. "Tidak ada penolakan!" Lanjutnya, lalu menegakkan kembali tubuhnya.
__ADS_1
"Yaah, baiklah. Karena aku menghormati Ibu dan Ayah mertua, dan juga sangat mencintai istriku, aku memaafkanmu. Hiduplah dengan istrimu dengan baik. Jangan sampai mengulangi kesalahan masa lalu." Ujar Gara. Ia lalu menggenggam tangan istrinya. "Ayo, sayang! Aku belum mandi sejak tadi. Ayo, bantu aku mandi!"
Alula tidak bisa menolak. Dengan sedikit terpaksa, ia mengikuti suaminya menuju kamar. Meninggalkan yang lain di ruang tamu. Dimana semua orang, bernafas lega oleh keputusan lelaki itu.