
Sejak Asya menolak dirinya, Darren tidak pernah menyerah. Ia terus berusaha untuk mendapat kembali perhatian Asya dan mejelaskan semua kesalahpahaman itu. Perlahan-lahan, Asya mulai luluh. Gadis itu tidak mengusir Darren lagi ketika lelaki itu berkunjung, baik itu di rumah maupun di kantor. Meskipun begitu, Asya masih bersikap acuh dan tidak ingin berbicara dengan Darren.
Jam makan siang sudah lewat sejak 10 menit lalu. Asya masih saja berkutat dengan pekerjaannya, mengabaikan Darren yang duduk di sofa, menunggunya untuk makan siang bersama.
"Asya. Waktu makan siang sudah berlalu 10 menit. Apa kamu nggak lapar?"
Asya tak menjawab. Dia tetap fokus pada layar laptopnya. Sejujurnya, dia tidak tahu harus mengerjakan apalagi. Pekerjaannya yang berurusan dengan layar laptop sudah selesai. Dia tinggal menunggu dokumen yang akan diantar Nita setelah makan siang nanti.
"Asya, nggak baik melewatkan makan siang." Ujar Darren.
"Jika kamu lapar, pergi makanlah. Jangan mengganggu ku." Balasnya, acuh.
Darren terdiam. Dia meraih handphonenya, lalu mengirim pesan pada Nita, sekeretaris Asya. Dia memang sengaja menyimpan nomor perempuan itu agar bisa tahu, apa saja kegiatan Asya.
^^^Darren^^^
^^^Bawakan makan siang yang^^^
^^^biasa Asya makan.^^^
Sekretaris Asya
Baik, tuan.
Setelah mengirimkan pesan, Darren kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Mata lelaki itu tak terlepas dari wajah Asya. Setelah beberapa menit, pintu ruangan Asya diketuk. Nita masuk setelah mendapat jawaban dari Asya.
"Ini tuan, pesanan anda. Saya tidak tahu, makanan apa yang anda suka. Jadi, saya memesankan yang sama."
"Ya."
Nita menundukkan kepalanya, kemudian berpamit keluar. Setelah pintu kembali tertutup, Darren beranjak sambil membawa makanan untuk Asya. Ia menarik kursi yang ada di depan meja Asya, dan membawanya ke sisi Asya. Lelaki itu menutup laptop Asya, dan memutar kursi Asya menghadapnya.
"Darren. Apa yang kamu lakukan?" Kesal Asya.
"Sekarang waktu makan, bukan kerja."
"Pekerjaanku belum selesai."
"Jangan berbohong. Kamu sudah menyelesaikannya."
"Apa yang kamu tahu?"
"Aku tahu semuanya." Ucap Darren. "Ayo, makan dulu." Darren menyodorkan sesendok makanan ke mulut Asya.
"Nggak mau."
"Asyaa. Makan dulu, ya?"
"Aku nggak mau, Darren."
"Asyaa. Makan, ya?"
"Darr..."
"Makan. Okey?" Putus Darren. Asya tidak bisa menolak lagi. Dia menurut, membuka mulutnya menerima suapan dari Darren. Setelah makanan tersebut ditelan, Darren kembali menyuapinya.
"Aku tahu, aku salah." Ucap Darren, tiba-tiba. Asya tidak menanggapinya dan terus mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Aku tidak mengatakan padamu tentang perempuan dan anak lelaki yang datang ke kantorku."
"Aku nggak mau membahasnya." Ucap Asya. Ia kembali membuka mulutnya menerima suapan dari Darren.
"Aku akan tetap membahasnya." Balas Darren.
"Perempuan itu adalah adik dari sepasang suami istri yang ku tolong. Istrinya dalam keadaan mengandung. Suaminya meninggal disusul istrinya setelah melahirkan. Mereka pasangan yang tidak di restui orang tua. Jadi, mereka kabur ke negara itu dan menikah disana. Hal itu membuatku sulit mengetahui identitas mereka."
Darren kembali menyuapi Asya. "Aku membawa anak itu pulang dan menyewa babysitter untuk merawatnya. Karena tinggal di tempat yang sama, Doni menganggapku Ayahnya. Setelah dua tahun tinggal bersamaku, orang-orangku akhirnya menemukan kelurga Doni. Tapi, Doni tidak dekat dengan mereka. Dia hanya ingin denganku."
Darren terus menyuapi Asya sambil menjelaskan tentang siapa Doni dan Carla di hidupnya.
"Akhirnya aku membuat kesepakatan agar orang tua dari ibu Doni untuk menetap di negara itu untuk sementara waktu. Aku juga akan mengunjungi Doni seminggu sekali jika aku nggak sibuk."
Darren memberikan suapan terakhir pada Asya. "Kakek dan nenek Doni memiliki anak gadis. Mereka memintanya untuk menyusul dan membantu merawat Doni. Kehadiran perempuan itu membuat Doni menganggap dia adalah Ibunya. Doni cukup akrab dengannya. Aku kembali ke sini saat Doni berusia 2 tahun lebih. Tapi, hubungan kami tidak pernah terputus."
Asya menelan makanannya dan menatap mata Darren. "Jadi, apa hubunganmu sebenarnya dengan Doni dan perempuan itu?"
Darren tersenyum. Akhirnya Asya mau bertanya. Itu berarti gadis itu tidak mengabaikannya. "Doni ku anggap keluargaku. Perempuan itu, bukan siapa-siapa."
Darren menyodorkan air dan Asya meminumnya.
"Lalu, kenapa kamu menceritakan semua itu padaku?" Tanya Asya.
"Karena seharusnya kamu tahu."
"Tahu ataupun enggak, itu sama saja. Aku hanya sahabatmu, yang tidak selamanya harus tahu semua tentang kamu."
"Kamu salah." Ucap Darren. Ia meletakkan bekas makan Asya di meja. Darren menarik kursi Asya lebih dekat lagi dengannya. "Dengar! Kamu sudah sepantasnya tahu semua tentangku. Aku nggak mau menyembunyikan apapun darimu. Aku mencintaimu, Asya."
Jantung Asya berdetak cepat mendengar ucapan cinta yang keluar dari bibir Darren. Matanya yang mulai berkaca-kaca terus menatap netra Darren.
"Jangan mempermainkan ku, Darren." Asya menundukkan kepalanya, menyembunyikan air matanya yang sudah menetes. Ia bahagia mendengarnya. Tapi, ia takut jika itu hanya sebuah hayalan yang diciptakan pikirannya.
Darren menggeleng. Ia meraih wajah Asya dengan lembut dan mendongakkannya. Ibu jarinya mengusap air mata Asya. Ditatapnya wajah itu, lalu mengecup kening Asya sekali.
"Aku mencintaimu, Asya. Benar-benar mencintaimu. Aku nggak akan mempermainkanmu. Aku yang bodoh terhadap perasaanku sendiri. Aku sudah mencintaimu sejak lama. Tapi, aku tidak menyadarinya. Maafkan aku." Ucap Darren, memeluk erat Asya.
"Darren, kamu nggak berbohong kan?"
Darren menggeleng. "Enggak."
"Ini serius?"
"Ya." Balas Darren. "Apa kamu juga mencintaiku?"
Asya mengangguk pelan dan membalas pelukan Darren tak kalah eratnya. "Ya. Aku juga mencintaimu."
Senyum manis terukir di bibir Darren saat mendengar jawaban Asya. Ia berjanji, tidak akan melukai Asya. Ia akan selalu melindungi gadis itu.
***
Darrel mengedarkan pandangannya saat memasuki apartemen Aurel. Dia tidak menemukan gadis itu.
"Aurel!"
"Aurel!"
__ADS_1
"Au..."
"Aku disini."
Darrel langsung berjalan menuju dapur saat mendengar sahutan Aurel. Gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi yang berada di dekat dapur, dan kini berdiri menatap Darrel dengan mata melotot ke arah lelaki itu.
"Apa yang kamu bawa? Kenapa banyak sekali?" Aurel menghampiri Darrel sambil menggelengkan kepalanya.
Lelaki itu, sejak mengetahui Aurel hamil, dia selalu menemani Aurel dan selalu membawa sesuatu yang dibutuhkan untuk Ibu hamil. Tapi, dia selalu berlebihan, membuat Aurel sampai geleng kepala.
"Aku membelikanmu susu ibu hamil." Jawab Darrel tanpa dosa.
"Ya Tuhan, Darrel. Yang tiga hari lalu belum habis. Kenapa kamu membelinya lagi?"
"Kenapa belum habis? Apa kamu nggak meminumnya?"
"Bagaimana bisa aku menghabiskan 3 kotak susu dalam tiga hari?"
"Benar juga. Baiklah, ini kita simpan saja untuk stok."
"Darrel. Yang kemarin sisa 2 kotak. Sekarang kamu membelinya 3. Jadi, ada 5 kotak. Kamu harus ingat itu. Aku nggak mau besok kamu membelinya lagi."
"Iya. Akan aku ingat." Ucap Darrel. Lelaki itu meletakkan bawaannya di atas meja, lalu berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan perut Aurel. Ia kemudian mengusap perut wanita itu. Hal yang sering ia lakukan sejak pertama ia mengetahuinya.
"Hai! Bagaimana kabarmu didalam perut Ibu? Kamu yang sehat, ya. Aku nggak sabar melihatmu lahir dan mendengarmu memanggilku Ayah."
Meskipun aku bukan Ayahmu. Aku akan mencintaimu sama seperti aku mencintai Ibumu.
"Darrel!"
"Hmm?" Darrel mendongak.
"Bisakah kamu berdiri?"
Darrel menurut. Ia berdiri dan menatap wajah Aurel. "Ada apa?"
Aurel tersenyum dan langsung memeluknya. "Terima kasih sudah begitu baik padaku. Terima kasih sudah mau menerima ku dan bayi yang ku kandung. Terima kasih sudah mau mencintai anak ini."
Sebelum mencintai anakmu, aku sudah lebih dulu mencintaimu. Tapi, aku tidak bisa mengatakannya. Aku tidak ingin kamu terluka karena ada gadis lain dalam hidupku nanti.
"Darrel."
"Hmm?"
"Apa kamu mendengarkanku?"
"Ya. Aku mendengarkanmu. Kamu adalah orang penting dalam hidupku. Anak itu adalah orang penting dalam hidupmu. Aku nggak bisa mengabaikan kebahgiaan orang penting dalam hidupku."
"Terima kasih Darrel."
"Tidak perlu berterima kasih. Dia sudah ku anggap seperti anakku."
Aurel mengangguk tanpa melepas pelukannya. Dia begitu menyukai bau tubuh Darrel. Rasanya begitu nyaman saat mencium bau tubuhnya.
Hai semuanya. Maaf ya, baru up sekarang. Semoga kalian suka dengan part ini. Sehat selalu kalian semua.
Salam dari Aquilaliza.
__ADS_1