Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 36


__ADS_3

Sesuai yang Darrel katakan, mereka sudah berada di sebuah restoran setelah jam kantor. Lebih tepatnya setelah menunggu Asya menyelesaikan pekerjaannya.


Darren, Darrel, Jiyo, Asya dan Aurel duduk bersama di sebuah meja. Jiyo yang paling bersemangat disini. Bukan karena mereka kembali berkumpul, melainkan semangat membolak balikkan buku menu, memilih makanan yang ia suka.


"Jiyo, berhentilah membolak balikkan buku menu. Cepat pesan! Kasian dia, sudah menunggu dari tadi." Asya jadi jengkel sendiri melihat tingkah Jiyo. Pelayan restoran sudah berdiri hampir sepuluh menit di meja mereka. Tapi, Jiyo malah sibuk membolak balikkan buku menu. Sepertinya dia sengaja.


"Tenanglah Asya. Dia nggak akan bosan. Dia mendapat bonus melihat orang tampan hari ini." Mengangkat wajahnya, lalu mengedipkan matanya pada si pelayan.


"Kamu, nggak pernah berubah." Ucap Aurel sambil tersenyum.


"Biar saja." Balas Jiyo. "Ini, nona. Kau pilihkan saja untukku. Aku akan memakan makanan yang kau pilih." Jiyo menyodorkan buku menu tersebut pada pelayan sambil tersenyum manis. Membuat pelayan tersebut salah tingkah, kemudian berlalu pergi.


Darrel, Asya dan Aurel menggeleng sambil terkekeh melihat tingkah Jiyo. Sementara Darren, ia tak sedikitpun merespon mereka. Yang ia perhatikan saat ini hanyalah Asya.


"Jangan menertawakan ku. Hidupku sangat menyedihkan." Ucapnya sambil melirik Darren yang terus menatap Asya, dan Darrel yang membenarkan rambut Aurel.


"Asya!"


"Hmm?"


"Ck. Sekarang kamu ketularan Darren. Ham hem ham hem." Kesal Jiyo saat Asya hanya menjawabnya dengan hmm.


"Maaf. Ada apa?"


"Eee... Siapa nama sekretarismu itu? Aku nggak mendengar jelas saat kamu memanggilnya waktu itu."


"Namanya Nita. Kenapa?"


"Ekhm... Bisa dong kamu kenalin dia sama aku."


Asya mengangkat sebelah alisnya. Darrel dan Aurel yang mendengarnya langsung menoleh. Darren hanya meliriknya sekilas.


"Ku sarankan, jangan kenalkan, Asya. Dia pemain wanita." Ujar Darrel yang langsung mendapat cubitan di lengannya oleh Aurel.


"Shh... Sakit Aurel."


"Kamu, sih. Jangan jelekin sahabat sendiri." Balas Aurel.


"Itu fakta." Celetuk Darren. Jiyo menyengir. Darren diam sejak tadi. Tapi, sekali bersuara tepat sasaran.


Jiyo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ingin mengalihkan pembicaraan, tapi dia tidak meniliki topiknya. Saat melihat pelayan datang membawa pesanan, Jiyo langsung bersemangat.


"Nah, pesanan datang." Ucapnya sedikit keras.


Mereka menarik makanan yang dihidangkan sesuai dengan pesanan masing-masing. Menyantapnya sambil mengobrol ringan.

__ADS_1


"Waaahhh... Kalian disini. Aku boleh gabung nggak?"


Suara seseorang membuat mereka langsung mendongak. Naomi berdiri dengan senyum mengembang. Raut wajah Darrel berubah dingin. Jiyo bersikap biasa saja. Aurel yang bingung dengan kehadiran orang yang tidak dia kenal. Asya yang terdiam, dan Darren yang tetap menikmati makanannya, bahkan memotongkan steak untuk Asya.


"Ekhmm... Apa kalian nggak dengar aku? Boleh kah aku gabung?"


"Maaf nona, kursi disini sudah penuh." Jawab Jiyo.


Naomi mengangkat sebelah alisnya. Begitupun dengan keempat sahabat Jiyo. Apa yang dikatakan Jiyo? Bagaimana dia bisa mengatakan kursi penuh jika masih tersisa kursi kosong di sampingnya?


"Maaf, Jiyo. Kurasa, kau tidak pandai berbohong." Balas Naomi.


Cih. Siapa dia? Memanggil namaku. Merasa akrab sekali dia. Batin Jiyo.


"Kau salah nona. Saya tidak berbohong. Kursi ini sudah ada yang menempatinya. Iya kan, sayang?" Jiyo bertanya sambil menoleh ke kursi kosong dan merangkulkan tangannya disana. Seolah-olah ada yang menduduki kursi tersebut.


Naomi bergidik, tapi tak menyerah. Dia meraih kursi kosong dari meja lain, dan duduk didekat Aurel. Sontak saja, Darrel menarik Aurel lebih dekat padanya.


"Ku rasa, ada orang asing disini. Siapa kamu?" Tanyanya, menatap Aurel dengan tatapan merendahkan.


"Cih. Harusnya kau tahu diri. Kau yang orang asing disini." Sarkas Darrel.


"Apakah dia kekasihmu? Oh, pantas saja kau tiba-tiba mengabaikanku saat di luar negeri. Ternyata kau sudah memiliki kekasih. Sayang sekali. Kau yang awalnya sangat baik padaku, jadi..."


"Naomi!" Panggil Asya sedikit membentak, memotong ucapan Naomi. Ia tidak tega melihat tatapan Aurel. Dia tahu, bagaiamana perasaan Aurel pada Darrel, meski belum ada hubungan apa-apa diantara mereka selain persahabatan.


"Aku..."


"Kau pantas mendapatkannya." Darren berkata tanpa melihat Naomi. Tangannya bergerak memindahkan piring berisi potongan-potongan kecil steak ke depan Asya.


"Eee... Naomi, maaf. Aku nggak bermaksud membentakmu."


Naomi menahan perasaan jengkelnya setengah mati. Jika tidak ada Darren dan Darrel disini, ia pasti sudah menyiram Asya dengan minuman. Gadis itu akhir-akhir ini membuatnya kesal. Asya selalu menolak ajakannya berbincang atau berbelanja bersama. Waktu mereka juga semakin sedkit sekarang. Asya juga sudah tidak mengatur pertemuannya bersama Darren. Sangat berbeda dengan sebelumnya. Itu bisa merugikannya.


Naomi memaksakan senyumnya sambil menatap Asya dan memegang tangannya.


"Nggak masalah. Kita adalah saudara, harus saling memaafkan."


"Terima kasih," Asya juga ikut tersenyum.


Setelah pegangan Naomi pada tangan Asya terlepas, Darren langsung meraih tangan Asya dan membersihkan bekas pegangan Naomi dengan tisu. Hal itu membuat Asya semakin tak enak pada Naomi.


"Eee... Naomi, perkenalkan. Dia Aurel sahabat kami sejak SMA." Asya mencoba mengalihkan perhatian Naomi dari perbuatan Darren.


Naomi menatap Aurel sambil tersenyum paksa. Ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Saat tangan Aurel terangkat untuk membalasnya, Darrel dengan sigap menariknya kembali.

__ADS_1


"Tanganmu nggak pantas menyentuh sesuatu yang kotor." Ucap Darrel pada Aurel, jelas-jelas menyindir Naomi.


Wajah Naomi berubah muram. Sementara Jiyo, lelaki itu terbahak. Membuat dirinya menjadi pusat perhatian dari pengunjung lain.


"Sayang, kamu ingin berkenalan dengannya juga?" Jiyo melanjutkan dramanya. Bertanya pada kursi kosong di sampingnya.


"Kamu nggak mau?"


"Hahaha. Lihatlah, nona. Bahkan makhluk sejenis mu saja tidak mau berkenalan denganmu." Ujar Jiyo, secara tak langsung mengatakan Naomi berasal dari jenis makhluk tak kasatmata. Membuat Naomi mendengus kesal.


"Cih. Dasar gila!" Naomi langsung bangkit dan berjalan menjauh. Menahan rasa kesal atas perbuatan orang-orang itu.


***


Alisha sedang berbaring di kasurnya. Setelah makan malam bertiga dengan Ayah dan Ibunya, ia menghabiskan waktu bersama mereka sebentar. Kemudian menuju ruang baca dan setelah itu, kembali ke kamar dan berbaring seperti saat ini.


"Aku belum memeriksa handphone ku sejak tadi." Alisha beranjak dari tempat tidur, dan meraih handphonenya yang sedang di charger.


Gadis itu mengklik aplikasi chatnya saat melihat beberapa notifikasi pesan masuk.


Kak Darren


Kakak pulang lambat. Beritahu Ayah Ibu.


Kak Darrel.


Kakak ada acara sama sahabat Kakak. Darren juga. Beritahu Ayah sama Ibu. Mereka suka lupa cek handphone saat lagi berduaan.


Axel


Buku lo udah ketemu. Hardi pelakunya.


Alisha menarik nafasnya saat membaca pesan dari Axel. Hardi seperti memiliki dendam padanya. Tiada hari tanpa gangguan dari Hardi. Remaja itu membuat Alisha takut. Untung saja ada Axel yang selalu menolongnya dan dua sahabatnya, Yana dan Nadia yang selalu menemaninya.


"Syukurlah sudah ketemu. Untung saja guru mata pelajarannya nggak datang. Jika tidak, aku pasti dapat hukuman karena nggak ngumpulin tugas." Gumam Alisha.


"Hardii... Hardi. Jahat banget kamu, sampai nyuri buku tugas Alisha gitu. Untung gak datang gurunya tadi." Gumam Alisha lagi.


Alisha meletakkan handphone di meja dan hendak keluar kamar, memberitahu orang tuanya sesuai pesan si kembar. Tapi, langkahnya terhenti saat handphonenya bergetar.


Alisha meraihnya kembali. Keningnya mengerut. Pesan dari nomor asing, dengan profil gelap.


+ 6282367489xxx


Besok. 08.00

__ADS_1


Alisha masih menatap isi pesan dari nomor asing tersebut. Dia tidak mengerti. Setelah beberapa detik, ia meletakkan handphone, mengabaikan pesan itu.


"Mungkin orang iseng." Gumamnya, lalu bergegas menemui Gara dan Alula.


__ADS_2