
Darrel tidak benar-benar kembali ke rumah. Dia memilih untuk pergi ke apartemen, tempat dimana Aurel tinggal sebelum kembali ke rumahnya.
"Setidaknya, aku masih bisa menghirup aroma mu disini." Gumam Darrel, memasuki kamar yang pernah menjadi kamar Aurel. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Dan tanpa sadar, ia tertidur.
Ketika senja mulai terlihat, Darrel terbangun dari tidurnya. Rasanya, ia bisa sedikit nyenyak tertidur dibandingkan beberapa hari ini. Darrel bergegas ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Setelah itu dia meninggalkan apartemen tersebut.
Saat langkah keluar dari gedung apartemen tersebut, dia langsung berhenti. Di depannya, berdiri Aurel yang menatapnya dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Yang jelas, ia tahu, gadis itu menyimpan banyak perasaan yang terpancar dari matanya.
Darrel berusaha menguatkan hatinya agar tidak goyah. Wajahnya berubah dingin, kemudian berjalan melewati Aurel begitu saja.
"Darrel!" Teriakkan Aurel diabaikan Darrel. Lelaki itu berjalan begitu saja.
"Darrel!"
"Darrel!"
Gadis itu tak bisa menahan dirinya untuk tetap diam. Dia berlari mengejar Darrel yang sudah berada dekat dengan mobilnya.
"Darrel!"
Brak..
Darrel menutup pintu mobilnya tanpa memperdulikan Aurel. Ia mengunci pintu mobilnya, membuat Aurel tidak bisa membukanya. Sejujurnya, ia khawatir saat melihat Aurel berlari mengejarnya tadi.
"Darrel! Darrel! Buka pintunya! Darrel!" Teriak Aurel sambil memukul-mukul kaca pintu mobil Darrel. Namun, Darrel tetap pada pendiriannya. Dia malah menyalakan mesin mobil.
"Darrel! Buka pintunya! Darrel! Ayo, turun. Ayo, kita bicara. Aku nggak tahu apa yang membuatmu menjauh seperti ini. Tolong, turun Darrel. Biarkan aku bicara. Biarkan aku tahu apa kesalahanku hingga kamu seperti ini. Darrel, hiks." Air mata Aurel terus mengalir, dan itu membuat Darrel semakin merasa sakit.
Saat tangan Aurel terlepas dari pintu mobilnya, Darrel dengan cepat melajukan mobilnya. Dia tidak tega menyakiti Aurel seperti ini. Dia terluka melihat Aurel menangis.
"Darrel!!" Masih bisa ia dengar teriakkan Aurel memanggil namanya. Tapi, ia tetap melajukan mobilnya.
"Maafkan aku, Aurel." Ucapnya.
***
Darrel tiba di rumah dan langsung bersiap untuk menghadiri acara makan malam. Acara yang diatur Ayahnya dan juga Paman Edo sebagai acara makan malam bersama teman lama mereka untuk pertama kalinya, setelah sekian lama tidak bertemu.
Tok... Tok... Tok...
Darrel mengetuk pintu kamar Darren. Dan tak lama, pintu itu terbuka.
"Ada apa?" Tanya Darren, dengan ekspresi dinginnya.
"Nggak ada. Aku hanya ingin lihat, kamu pakai jas warna apa untuk kesana nanti."
"Bukan itu maksudku." Balas Darren.
Darrel menarik nafasnya. "Huufthh..." Dia lalu menyandarkan tubuhnya. "Aku nggak sengaja bertemu Aurel tadi. Dia menangis karena ku abaikan."
Darren terdiam mendengarnya. Dalam hatinya, ia berharap Paman Ben dan Paman Kenan segera mendapatkan hasilnya.
"Kakak!" Suara Alisha membuat kedua lelaki itu menoleh. Alisha baru saja dari kamar Ayah dan Ibunya.
"Alisha." Ucap Darren Darrel bersamaan.
"Sedang bicara apa kalian? Ayah meminta agar Kakak kembar segera bersiap. Kita akan segera berangkat."
"Ya. Tunggu sebentar. Kakak akan bersiap." Darrel segera berlalu dengan tidak semangat.
__ADS_1
Alisha menatap kakaknya itu hingga tubuh Darrel menghilang, masuk ke kamar. Ia lalu menatap Darren dengan alis yang terangkat.
"Kak Darrel kenapa, Kak? Nggak biasanya dia seperti ini. Alisha lihat dari beberapa hari kemarin, Kak Darrel berbeda. Dia seperti tidak bersemangat."
"Nggak terjadi apa-apa." Darren mendekatkan dirinya pada Alisha, lalu mengusap kepalanya. "Jangan terlalu memikirkannya. Cepat, bersiap-siap! Ayah dan Ibu pasti menunggu."
Alisha mengangguk. "Baik, Kak." Ujarnya, lalu segera ke kamarnya.
Setelah beberapa menit, Darren, Darrel dan Alisha turun menemui kedua orang tuanya. Gara dan Alula sudah menunggu mereka di ruang tamu.
"Anak Ibu, cantik sekali." Alula mengusap sayang rambut putrinya. Matanya kemudian tertuju pada kedua putranya. Sementara Gara, ia merangkul putrinya dan mengecup keningnya. Kemudian, dia juga menatap kedua putranya.
"Kalian sangat tampan." Puji Alula pada kedua putranya. Keduanya hanya membalas dengan senyum tipis.
"Ayo, kita berangkat!" Ujar Gara.
Mereka kemudian pergi menuju restoran yang sudah dijanjikan bersama. Alisha bersama kedua orang tuanya, juga seorang pengawal yang menjadi supir. Darren mengendarai mobilnya sendiri, begitu pun Darrel.
Sekitar 20 menit, mereka tiba di restoran tersebut. Namun, tidak dengan Darrel. Mobil lelaki itu belum terlihat.
"Ayah, Ibu, Kak Darren. Kalian duluan saja. Alisha mau tungguin Kak Darrel."
"Kamu yakin?" Alisha mengangguk, menjawab pertanyaan Ibunya.
"Baiklah. Kau, jaga putriku. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi saya." Ucap Gara pada pengawal yang merangkap menjadi supir malam ini.
"Baik, tuan." Balas lelaki itu, sambil menundukkan kepalanya.
Darren mengusap kepala adiknya, lalu berjalan bersama kedua orang tuanya. Di dalam, sudah ada sepasang suami istri yang menunggu mereka. Tidak ada pengunjung lain selain mereka yang sudah memiliki janji dengan kedua orang itu.
"Gara,"
Kedua orang yang saling menyapa itu, berpelukan. Alula juga saling menyapa dan berpelukan dengan istri Aryo.
"Ini putra mu?" Tanya Aryo, membuat Gara mengangguk.
"Dia terlihat sangat tampan." Bisik istri Aryo, pada Alula. Wanita itu hanya tersenyum mendengar pujian untuk putranya.
"Ayo, duduk." Aryo mempersilahkan mereka.
"Oh ya, dimana kedua anakmu lagi?"
"Putriku masih di luar, menunggu Kakaknya." Jawab Alula.
"Aryo!" Panggilan itu membuat mereka yang duduk menoleh ke sumber suara.
Edo tersenyum lebar ke arah mereka. Di sebelahnya, ada Irene yang berjalan sambil menggandeng tangannya. Dan di belakang mereka, ada Asya dan juga Naomi.
Darren yang berada di kursinya, tak bisa melepaskan tatapannya dari Asya. Gadisnya terlihat sangat cantik dalam balutan dress berwarna navy. Matanya terus menatap Asya hingga gadis tersebut berdiri di dekatnya.
Naomi yang melihat itu menggertakkan giginya. Tangannya ia kepal dengan cukup erat.
"Sudah sangat lama kita tidak bertemu." Ucap Aryo.
"Ya. Aku juga berpikir begitu." Balas Edo.
"Ck. Kau ini. Ayo, duduk!"
Edo, Irene, Asya dan juga Naomi menarik kursi masing-masing. Tangan Naomi hendak menarik kursi yang berada tepat di samping Darren. Namun, lelaki itu dengan cepat menahan kursinya. Dan dengan tatapan tajamnya, ia menatap Naomi tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
"Ini bukan tempatmu! Jangan menyentuhnya!" Ucap Darren dengan suara dingin dan penuh penekanan.
Aryo dan istrinya tercengang. Irene, Edo, Asya dan Alula juga terkejut. Naomi yang paling merasakannya. Sementara Gara, dia begitu tenang dan santai menatap putranya.
"Ekhm..." Aryo berdehem, menghilangkan situasi yang tegang ini. Naomi segera duduk di kursi lain, membiarkan Asya berada di kursi yang ditahan Darren.
"Putramu sangat tampan, Gara. Putrimu juga begitu cantik, Edo. Tapi, yang ku tahu, kau hanya memiliki satu putri. Jadi, dia..."
"Perkenalkan, om. Aku Naomi, saudara angkat Asya." Ucap Naomi memotong perkataan Aryo.
Lelaki yang usianya setara Edo dan Gara memaksakan senyumnya dan membalas uluran tangan Naomi. Sejujurnya, ia merasa cukup tidak suka dengan tindakan Naomi.
"Putrimu sangat cantik, Irene. Jika saja putraku sudah seusia putrimu, aku ingin menjodohkan mereka." Ucap Tia, istri Aryo. Ucapannya membuat Darren berwajah masam. Tapi tak berlangsung lama karena Asya menyentuh tangannya.
"Ya. Kamu benar, sayang. Aku setuju dengan ucapanmu. Seandainya juga, putri kita belum menikah. Pasti sudah aku jodohkan juga dengan putra Gara." Ucap Aryo sambil terkekeh.
"Sudah tidak ada masa untuk dijodohkan." Jawab Gara santai.
"Ya. Aku setuju dengan Gara. Kita kembalikan semuanya pada mereka yang menjalani hidup." Ucap Edo, menimpali.
Setelah beberapa menit berbincang, Darrel dan Alisha datang. Kedua anak itu mengenalkan diri pada Aryo dan Tia. Setelah itu, mereka sama-sama mendengar cerita Aryo mengenai persahabatannya dengan Gara dan Edo. Hingga tiba-tiba, Alisha berteriak memanggil seseorang.
"Axel!" Gadis itu berteriak sambil berdiri dan melambaikan tangannya. Tidak peduli dengan tatapan yang lainnya.
Axel yang dipanggil Alisha langsung menghampiri. Tapi, Alisha langsung melotot saat melihat Aryo dan Tia memeluk Axel.
"Om sama tante..."
"Axel putra om sama tante. Om tidak menyangka kamu sama Axel saling kenal."
"Tante juga tidak menyangka."
Sial. Putra Aryo ini juga nggak kalah tampannya meski masih sangat muda. Batin Naomi.
"Ini pertama kalinya aku melihat Axel. Dia sangat tampan. Dia juga terlihat cocok dengan Alisha." Bisik Asya pada Darren.
"Aku nggak suka kamu memuji orang lain." Bisik balik Darren pada Asya, membuat gadis itu meringis kecil membalas Darren.
"Tunggu! Alisha masih belum mengerti. Kenapa bisa Axel jadi anak om sama tante? Tante sama om kan tinggal di luar negeri." Ucap Alisha.
"Axel, duduk!" Darrel menunjukkan kursi di sampingnya agar Axel duduk. Remaja lelaki itu menurut apa kata Darrel.
"Begini, Alisha. Axel om biarin dia tinggal disini bersama neneknya. Sebenarnya, dia yang meminta. Om awalnya menolak karena merasa Axel masih belum cukup mampu merawat neneknya. Biarkan semuanya di urus kakak perempuan om. Tapi, setelah kakak perempuan om meninggal, dan Axel terus memaksa, akhirnya om biarkan meskipun tidak rela kalau tinggal berjauhan. Om pernah berpikir untuk membawa nenek Axel tinggal bersama om. Tapi, nenek Axel menolak."
"Untuk dua tahun awal, tente bersama Axel dan neneknya. Setelah itu, Axel menyuruh tente kembali menemui om untuk menemani om. Karena baginya, kami harus membagi tugas. Selain itu, keadaan nenek sudah sangat baik."
"Ooohh... Alisha pikir, tante sama om nggak mau anak kayak Axel. Kalau memang begitu, Alisha akan meminta Ayah mengadopsinya." Canda Alisha, membuat mereka terkekeh pelan. Sedangkan Darren, Darrel, Axel juga Gara, mereka hanya terdiam menyaksikan mereka.
"Oh ya, Tia. Terima kasih putramu sudah menolong putriku. Terima kasih, ya, Axel."
"Iya, tan." Balas Axel.
"Ya. Putramu sudah banyak menolong putriku." Ucap Gara.
"Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini. Putraku menjadi penolong putrimu. Tapi, putraku tidak jauh berbeda sifatnya dengan sifatmu, Gara. Bagaimana caranya dia berinteraksi dengan putrimu? Sepertinya mereka cukup dekat." Ucap Aryo.
"Ya, om benar. Axel sangat dingin. Bahkan, nggak ada satupun anak-anak di sekolah yang berani mengusiknya. Tapi, dia selalu menanggapi ucapan Alisha. Dia mau berbicara dengan Alisha. Terkadang Axel yang mulai duluan pembicaraannya."
Mendengar ucapan Alisha, Axel menolehkan kepalanya ke arah kedua orang tuanya sejenak. Melihat senyum penuh sayang mereka yang sudah cukup lama tidak ia lihat secara langsung, membuat hatinya menghangat.
__ADS_1