
Mobil berhenti di depan perusahaan Yunanda Group. Darren menoleh pada istrinya yang membereskan tasnya dan melepas seatbelt.
Sementara Asya, wanita itu masih fokus pada urusannya. Saat ia mendongak, matanya bertemu dengan mata Darren yang terus menatapnya. "Sini, sayang!" Ucapnya lembut pada sang suami.
Darren seperti anak kecil yang sedang menunggu dipanggil Ibunya. Lelaki itu menurut, mendekat pada Asya dan masuk dalam pelukan wanita itu.
"Jangan menatapku seperti tadi. Aku nggak akan lupa dengan bayaranmu." Ujar Asya.
Wanita itu mencium rambutnya, lalu mengecup keningnya. "Sudah." Asya tersenyum pada lelaki yang kini mendongak tanpa melepaskan pelukannya.
"Apa aku boleh minta bayaran lebih?"
Asya menahan senyum melihat tingkah suaminya. Lelaki itu, seperti anak kecil sekarang. Menggemaskan.
"Baiklah. Bayaran lebih apa?"
"Ini." Darren menunjuk bibirnya.
Asya lagi-lagi tersenyum. Ia menunduk dan mengecup bibir suaminya. "Sudahkan?"
Darren mengangguk semangat. "Terima kasih, sayang."
"Iya." Jawab Asya. "Aku turun dulu. Kamu hati-hati ketemu kliennya. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. Ingat! Kalau kliennya perempuan, jangan genit-genit."
"Iya, sayang. Nggak akan genit-genit. Malah mereka yang berusaha dekatin aku."
"Ya udah. Aku turun dulu." Darren mengangguk dan dengan cepat mengecup kening istrinya.
"Tadi kebalik. Seharusnya aku yang kecup kening kamu."
"Ck. Itu akal-akalan kamu. Tapi, nggak apa-apa. Aku turun dulu. Dah, sayang."
Darren membalas lambaian tangan istrinya. Setelah tubuh Asya menghilang masuk ke Yunanda Group, Darren bergegas dari tempat itu.
Ia menghidupkan earphone nya, dan menghubungi seseorang.
"Hallo, tuan muda."
"Hmm... Bagaimana?"
"Saya sudah menyiapkan semuanya. Pengawal yang berjaga juga, sudah saya perintahkan untuk tidak berada di sekitar tempat kecuali beberapa orang. Tempatnya sudah kami atur dengan baik."
Darren tersenyum tipis. Setelah panggilan itu terputus, Darren kembali menelpon seseorang.
"Hallo? Siapa ini?" Terdengar suara seorang wanita.
"Darren."
"Da-Darren? Darren Alvaro?"
"Ya."
"Ya Tuhan. Ini benar dirimu? Wah, aku sangat senang. Aku tahu, kamu tidak melupakanku. Pernikahanmu dengan Asya pasti karena orang tua kalian. Ya Tuhan, Darren. Aku sangat bahagia. Tapi, bagaimana kamu mendapat nomor ponselku?" Wanita yang tak lain adalah Dessy itu, terus berbicara. Jika bukan karena ingin memberi pelajaran pada wanita itu, sudah Darren tutup telponnya sejak tadi.
Mudah bagiku mendapatkannya. Batin Darren.
"Aku mencaritahunya."
"Sungguh?"
"Hmm."
"Aku tidak menyangka kamu melakukannya. Apa... Kamu menyukaiku?"
Cih! Ingin sekali aku meludahi wanita ini. Sudah menghina istriku, lalu mengatakan aku menyukainya? Memuakkan!
"Darren?"
"Ayo bertemu!"
"Bertemu? Sungguh?"
"Ya. Aku akan mengirimkan alamatnya."
"Baiklah."
"Aku sedang berkendara. Aku tutup."
"Ba..."
Tuuutt... Tuuutt... Tuuutt
__ADS_1
Darren langsung memutuskan panggilannya tanpa mendengar jawaban Dessy.
***
Setelah menerima pesan berisi alamat dari Darren, Dessy segera menemui lelaki itu. Ia tiba di sebuah gedung, cabang perusahaan Grisam Group. Gedung yang sama dengan gedung yang menahan Hendra dan Naomi dulu. Bedanya, gedung ini cukup banyak orang yang merupakan karyawan-karyawan yang sedang bekerja.
"Nona Dessy?"
"Siapa kamu?" Tanyanya, angkuh.
"Saya pengawal tuan muda. Saya disuruh tuan muda menjemput anda."
"Menjemput di halaman seperti ini?"
"Kenapa kau tak menjemput saat aku turun mobil tadi? Tidak becus!"
"Maaf, nona."
Cih! Jika bukan karena tuan muda menintaku pura-pura memperlakukannya dengan baik, sudah ku bungkam mulut wanita ini. Benar-benar tidak pantas disamakan dengan nyonya muda ataupun nyonya muda kedua. Batin pengawal itu.
"Kenapa kau masih diam? Ayo, antarkan aku ke Darren!"
"Baik, nona. Lewat sini." Pengawal tersebut menunjukkan arah ke sisi kanan gedung.
"Kenapa lewat sana? Bukankah pintu utamanya disana?"
"Disana banyak karyawan-karyawan yang bekerja. Jika mereka melihat, tuan muda mungkin akan ketahuan tuan besar."
"Hemm... Benar juga. Ayo, cepat! Tunjukkan jalannya!"
Lelaki itu segera membawa Dessy ke arah kanan gedung dan memasuki lift. Ia menekan sebuah tombol yang membawa lift itu bergerak.
"Sepertinya, lift ini bergerak ke bawah."
"Ya, nona."
Setelah bebeberapa menit, lift berhenti. Dessy bersama pengawal tersebut keluar dan langsung menuju sebuah ruangan.
"Darren!" Wanita itu memanggil dengan suara bernada gembira. Berlari kecil menghampiri Darren dan hendak memeluknya. Namun, kedua pengawal dengan cepat menghalangnya.
"Kau bukan nyonya muda Asya. Tidak pantas memeluk tuan muda." Ucap salah seorang pengawal.
"Kau pikir, kami percaya?" Ucap salah seorang nya lagi, yang menahan lengan kanan Dessy.
"Kurang ajar! Darren, lihat pengawal-pengawal mu ini. Mereka kurang ajar padaku. Kenapa kamu diam saja?"
Darren tersenyum miring, lalu berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekati Dessy.
"Lepaskan dia!" Perintahnya, yang langsung dituruti keduanya.
"Darren aku..."
Plak... Wajah Dessy terlempar ke kiri dengan pipi kanan memerah karena tamparan Darren.
"Shhh... Kenapa..."
Plak...
"Darren... Hugggg." Belum sempat wanita itu menyelesaikan ucapannya, Darren langsung mencekik lehernya.
"Dar..."
"Kau bilang, pengawal-pengawal ini kurang ajar padamu? Lalu, sikapmu pada istriku kemarin, bukankah sesuatu yang kurang ajar juga?"
"Dar..."
"Kau menghinanya. Mengatainya murahan! Jika wanita yang memanggil suaminya sayang disebut murahan, wanita sepertimu, yang mendekati suami orang disebut apa? Jal*ng?"
"Dar... Khhh...." Dessy tidak bisa melanjutkan setiap ucapannya. Ia begitu sulit mendapatkan oksigen untuk bernafas.
"Huh? Apa yang kau rasakan sekarang? Bukankah kau bahagia aku menyentuhmu?" Darren tersenyum kecil, yang bagi Dessy terlihat sangat menakutkan. Wajanya sudah memucat. Jika Darren tidak melepaskannya sekarang, mungkin dia akan mati.
Dengan sisa tenaganya, dia memukul pelan tangan Darren yang mencekiknya. Tersadar jika dirinya bisa mebunuh Dessy saat itu juga, Darren melepaskan cekikannya. Tubuh Dessy terjatuh ke lantai sambil terbatuk.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk... Huhh... Huhh..."
"Ka-kamu, huuh... Penjahat!"
"Ya. Aku memang penjahat!" Ucapnya. Lelaki itu berjongkok tepat di depan Dessy. "Ini masih setitik kecil kejahatan dalam diriku. Mau ku tunjukkan lagi?"
"Tidak! Darren, tidak!"
__ADS_1
"Bawakan benda itu padaku!"
Seorang pengawal dengan cepat mengantarkan benda-benda yang Darren minta. Ada tali, kain, gunting, silet dan pisau. Mata Dessy melotot melihat benda-benda itu. Kedua pipinya masih terasa perih. Lehernya masih begitu sakit. Dia tidak ingin merasakan sakit lagi. Benda-benda itu, semuanya terlihat menakutkan sekarang bagi Dessy.
"Darren, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku? Aku ingin membalasmu karena menyakiti Asya!"
"Demi wanita itu? Dia gadis manja yang kamu benci!"
"Dia istriku! Aku tidak pernah membencinya! Dan aku suka wanitaku yang manja." Ucap Darren, sedikit tersenyum membayangkan sikap manja Asya.
"Darren, kamu tahu? Aku selama ini terus memantau perkembanganmu. Aku selalu memperhatikanmu. Aku tidak bisa mengenalimu dengan mudah jika aku tidak pernah melihat dirimu. Tapi, aku kehilangan informasi mu setahun terakhir ini."
"Huh! Jadi, kau membuntutiku selama ini?"
"Darren,"
"Kau terlalu banyak bicara! Ikat dia, dan tutup mulutnya! Pastikan dia tidak bisa teriak untuk meluapkan rasa sakitnya."
"Baik, tuan."
"Tidak! Jangan!"
Kedua pengawal yang diperintahkan Darren segera mengikatnya dan membungkam mulut wanita itu dengan kain.
Air mata Dessy mulai turun. Saat tangan Darren meraih pisau dan mengarahkan benda itu di pipinya, air mata Dessy turun semakin banyak. Ia hanya bisa menggeleng sebagai penolakan.
"Ini tidak sakit. Hanya goreasan kecil di pipi."
"Hmmm... Hhmmmm... Hmmmm..." Dessy terus menggerakkan kepalanya untuk menghindar dari pisau yang Darren pegang.
"Jika kau terus bergerak pisau ini akan menghancurkan seluruh wajahmu!"
Dessy tertegun. Ia diam dan memejamkan matanya. Sekalipun ia bergerak, Darren tak mungkin akan mengasihaninya. Ketika benda itu menyentuh kulit pipi Dessy, tiba-tiba...
Drrttt... Drrttt... Drrttt... Handphone Darren yang berada di meja bergetar. lelaki itu dengan kesal menghentikan permainannya yang baru saja dimulai.
"Siapa?" Tanyanya, tanpa menoleh.
"Nyonya muda, tuan"
Darren dengan dan cepat meletkkan pisau itu dan bergegas meraih handphonenya. Dessy merasa lega saat Darren menjauh darinya.
"Hallo, sayang!"
"Hallo. Darren, kamu masih bersama klien?"
"Iya."
"Kebetulan sekali. Aku nggak ada pekerjaan lagi yang harus ku urus. Dimana kalian meeting? Aku akan menemuimu."
Darren terdiam. Dia tidak mungkin mengatakan jika dirinya sedang tidak meeting bersama klien.
"Sayang?"
"Kami sebentar lagi selesai. Kamu diam saja di kantormu. Aku akan menjemputmu."
"Baiklah. Tapi, jangan lama-lama jemputnya."
"Iya."
"Ya sudah. Aku tutup telponnya. Aku mencintaimu. Bye, sayang."
"Aku juga mencintaimu."
Setelah telpon itu berakhir, Darren menyimpan handphonenya di saku, lalu meraih kunci mobilnya. Ia berjalan mendekati Dessy.
"Kau beruntung, istriku menelponku. Kali ini, Asya menyelamatkan mu. Kau harus berterima kasih padanya." Ujar Darren, dingin.
"Kalian, awasi dia. Antar dia kembali setelah jam kerja."
"Baik, tuan."
Darren mendekati pengawal yang membawa Dessy masuk tadi. Lelaki itu sejak tadi berdiri tanpa mengatakan sesuatu atau berbuat sesuatu.
"Selidiki siapa yang membantu wanita itu menguntitku."
"Baik, tuan muda."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi dari tempat itu tanpa sedikitpun menoleh pada Dessy. Pikirannya hanya tertuju pada Asya yang sedang menunggunya di kantor.
__ADS_1