Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 122


__ADS_3

Dua hari berlalu. Surat-surat yang Darren inginkan sudah ia miliki. Sambil membawa surat-surat tersebut, Darren dan Asya mengunjungi kediaman Carla.


Seorang pelayan dengan cepat membuka pintu saat mendengar bel rumah berbunyi.


"Selamat datang, tuan, nyonya." Ujar pelayan tersebut, lalu mempersilahkan keduanya masuk.


"Asya,"


"Carla."


Kedua wanita itu saling berpelukan. Setelah saling melepas, Carla mempersilakan duduk.


"Sekali lagi, aku turut berduka, Carla. Aku minta maaf nggak bisa hadir di pemakaman."


"Nggak masalah. Kamu juga sedang sakit. Sudah semestinya banyak istirahat."


"Dimana suamimu?"


"Ekhm..." Darren langsung berdehem mendengar Asya menanyakan suami Carla. Hal itu membuat Asya dan Carla spontan menoleh ke arahnya.


Melihat wajah datar dan tatapan dingin Darren, membuat Carla sedikit takut. Dengan cepat wanita itu mengalihkan pandangannya menatap Asya.


"Su-suamiku sedang mandi." Jawab Carla.


"Dimana Doni?" Bukan Asya yang bertanya, melainkan Darren. Lelaki itu ingin menghentikan pembicaraan tentang suami Carla diantara kedua wanita itu.


"Doni juga di kamarnya. Setelah kembali dari pemakaman hari itu, Doni menjadi sangat pendiam. Dia mengurung dirinya di kamar dan keluar saat makan saja." Ucap Carla.


Wajah Asya seketika berubah khawatir. Begitu juga Darren.


"Aku sudah mengurus semua surat-suratnya. Hari ini, aku akan membawa Doni. Besok kami akan kembali ke negara A." Darren memberikan sebuah berkas berisi surat-surat yang ia maksud. Carla meraihnya dengan cepat. Matanya sudah berkaca-kaca memikirkan ponakannya itu yang akan meninggalkannya.


Suami Carla yang telah selesai dengan urusannya pun ikut bergabung. Melihat istrinya yang meneteskan air mata, membuatnya ikut merasakan sedih.


"Tidak apa-apa. Ini yang terbaik untuk Doni. Papa pasti sudah memikirkan semuanya sebelum mengambil keputusan ini." Ujarnya, membuat Carla mengangguk.


"Ya. Papa tahu yang terbaik untuk Doni." Ujarnya. "Kalau begitu, ayo, ku antarkan kalian ke kamar Doni. Dia nggak akan keluar jika hanya dipanggil oleh pelayan."


Darren dan Asya serentak mengangguk. Carla dan suaminya mengantar pasangan suami istri itu ke kamar Doni.


Tok... Tok... Tok...


"Doni, bukain pintu, nak. Mama Asya sama Papa..."


Ceklek...


Pintu langsung dibuka saat mendengar nama Asya. Anak itu keluar dan langsung memeluk Asya.


"Mama..." Gumamnya pelan.


"Iya, nak. Mama disini."


"Mama, Kakek dan Nenek meninggal. Kakek dan Nenek meninggalkan Doni dan Mama Carla sendiri."


Asya menahan tangisnya mendengar tangisan Doni. Ia melepaskan pelukannya dan berjongkok hingga tinggi mereka sejajar.


"Nak, kamu dan Mama Carla tidak sendiri. Ada suami Mama Carla. Ada Mama sama Papa. Ada keluarga Papa dan Mama yang akan selalu ada untuk Doni dan Mama Carla. Jadi, Doni jangan merasa sendiri. Ada kami semua yang bersama Doni." Anak itu mengangguk.

__ADS_1


"Doni sayang, Papa Darren dan Mama Asya mau membicarakan sesuatu tentangmu. Ayo, kita ke ruang tamu saja." Ujar Carla, lembut.


Setelah anak itu mengangguk, mereka pun kembali ke ruang tamu. Suasana sejenak hening. Hingga beberapa saat, Darren mulai membuka suara. Ia menjelaskan tujuan kedatangan mereka dan pesan yang Kakek Doni sampaikan padanya.


Doni terlihat diam mendengar setiap kalimat itu. Namun matanya tak lepas menatap Carla.


"Bagaimana Doni?" Tanya Carla.


"Doni nggak masalah jika harus ikut Mama Papa. Tapi, Mama Carla, Doni..." Air mata kembali menetes. Ia menyayangi Asya dan Darren. Dan dia juga menyayangi Carla.


"Nak, Mama tidak apa-apa. Mama yakin, keputusan Kakek adalah yang terbaik untuk kamu." Doni langsung memeluk Mamanya itu.


Setelah pembicaraan yang cukup panjang, Darren dan Asya berpamitan. Dan tentu saja, Doni ikut bersama keduanya.


"Mama..." Doni kembali memeluk Carla. Air mata keduanya sama-sama menetes.


"Mama nggak apa-apa, sayang. Ada Pamanmu disini. Ada keluarga Pamanmu yang menyangi Mama. Kamu harus hidup bahagia, ya?"


Doni mengangguk. "Doni akan hidup bahagia. Mama juga harus hidup bahagia." Ujar Doni, membuat Carla mengangguk.


Anak itu kemudian beralih menatap suami Carla. "Paman,"


"Ya?"


"Doni titip Mama Carla. Jaga Mama Carla. Jangan buat Mama Carla menangis."


Lelaki itu tertegun mendengarnya. Ini adalah kali pertama Doni berbicara sedikit panjang dengannya.


Lelaki itu menyentuh puncak kepala Doni. "Paman akan selalu menjaga Mamamu dengan baik. Paman akan membuat dia bahagia. Paman nggak akan membuat Mamamu bersedih."


"Paman janji?"


Setelah berpamitan, Darren dan Asya langsung membawa Doni bersama mereka. Doni hanya diam ketika mobil mulai melaju. Dia duduk di kursi penumpang bersama Darren dan Asya, sambil Asya memeluknya.


"Surat pindahmu sudah diurus. Paman pengawal sudah mengkonfirmasi kepindahanmu di sekolah." Ujar Darren.


"Terima kasih, Pa." Balasnya, tanpa melepas pelukannya pada Asya. Darren hanya mengangguk dan mengusap kepala anak itu.


"Apa Doni mau berpamitan sama teman-teman sekolah?" Anak itu dengan cepat menggeleng, menjawab pertanyaan Asya. Sangat terlihat jika dia tidak ingin berpamitan dengan teman-temannya.


"Baiklah. Tapi, kita ke makam Kakek Nenek dulu, ya? Kita pamitan sama mereka." Doni menganggukkan kepalanya setuju.


***


Darren, Asya, Darrel, Aurel, Alisha, Doni dan baby Meeya sudah bersiap-siap. Hari ini mereka akan kembali ke negara A. Para orang tua sudah kembali sehari yang lalu.


"Harum sekali ponakan aunty." Ujar Asya, sambil mencium pipi Meeya yang digendong Aurel.


"Kak Aurel, ini susunya." Alisha menyerahkan botol susu pada Aurel.


Darren sambil menggendeng Doni berjalan mendekat. "Aunty, boleh Doni cium Meeya?" Tanya Doni pada Aurel.


"Boleh dong, sayang." Ujar Aurel. Wanita itu menunduk, memberikan akses agar Doni bisa memcium Meeya.


Cup... Satu kecupan mendarat di pipi Meeya.


Setelah Darrel menyelesaikan urusannya di kamar mandi, semuanya bergegas ke mobil.

__ADS_1


"Mama, apa Mama Carla datang mengantarku pergi?" Tanya Doni. Mobil sudah melaju ke tempat tujuan.


"Ya, Mama Carla dan Pamanmu akan mengantar kita. Mereka mungkin sudah menunggu kita di tempat penerbangan." Doni mengangguk mendengar ucapan Asya. Setelah itu, ia kembali terdiam hingga mereka tiba di bandara.


Carla dan suami menyambut kedatangan mereka. Setelah berpelukan dengan Asya, Aurel dan Alisha, Carla memeluk lama ponakannya.


"Mama jangan menangis. Kata Papa dan Mama, Mama Carla boleh kapan saja berkunjung ke rumah nanti. Pintu rumah terbuka untuk Mama dan Paman."


"Iya, sayang." Hanya itu jawaban Carla. Wanita itu tidak bisa membendung air matanya.


Setelah berpamitan, mereka segera menuju jet pribadi yang sudah siap. Dan tak berapa lama, jet tersebut take off.


***


Doni terlelap dalam pelukan Asya yang juga terlelap. Darren menatap keduanya dengan perasaan sayang. Tangannya terulur memisahkan Doni dari pelukan Asya dengan penuh hati-hati. Ia menggendong anak itu menuju kamar.


"Kak," Panggilan Alisha membuat Darren berhenti dan menoleh. Gadis itu baru dari kamar mandi. "Kakak mau kemana?"


"Mengantar Doni ke kamar." Ujar Darren. "Kamu tolong temani Asya sebentar. Kakak akan kembali."


"Iya, Kak."


Alisha bergegas menuju tempat Asya. Sementara Darren, ia membawa Doni ke tempat tidur.


"Yah, Kak Asya juga tertidur." Ujar Alisha saat melihat Asya tertidur di kursinya. Gadis itu bergerak duduk sambil menatap Asya. Senyum tipis muncul dibibirnya.


"Aku nggak nyangka akan punya ponakan lagi." Gumamnya sambil mengalihkan tatapannya ke arah perut Asya. "Aku jadi nggak sabar lihat perut Kak Asya membesar dan Kak Asya melahirkan." Lanjutnya, masih bergumam.


"Ponakan aunty, semoga nanti kamu mirip aunty. Kata Ibu, Meeya sedikit mirip aunty. Jika kita bertiga mirip, kan lucu. Nanti disangka kembar."


"Yang ada kamu disangka Ibu mereka." Darrel menyela, yang langsung mendapat tetapan tajam dari Alisha.


"Kak Darrel bisa diam nggak?"


"Ada yang marah." Ujar Darrel tanpa rasa bersalah.


"Ngeselin."


"Biarin."


"Aku aduin Kak Darren, kalau Kak Darrel gangguin tidur Kak Asya."


"Anak kecil!"


"Ada apa kalian?" Suara berat seorang lelaki membuat Darrel dan Alisha menoleh. Darrel menyengir sementara Alisha cemberut.


"Kak Darrel nge..."


"Nggak ada apa-apa. Aku kesana dulu. Mau lihat Meeya lagi tidur." Potongnya, lalu meninggalkan Alisha dan Darren.


Lelaki itu mendekat pada adiknya, lalu mengusap kepala Alisha. "Pergilah istirahat. Terima kasih sudah menjaga Asya."


"Iya, sama-sama."


Darren menatap adiknya yang mulai menjauh. Setelah tubuh Alisha menghilang dari tatapannya, Darren bergegas menggendong Asya menuju kamar tidur. Lelaki itu dengan hati-hati membaringkan Asya. Berusaha agar istrinya tidak terganggu, begitu juga Doni yang ia baringkan di ranjang yang sama.


Cup...

__ADS_1


Satu kecupan mendarat di kening Asya dan Doni. Lelaki itu kemudian beralih mengecup perut Asya yang masih rata.


"Tumbuh dengan baik di perut Mama." Ujarnya, kemudian ikut berbaring sambil memeluk Asya dan Doni yang berada di tengah-tengah mereka.


__ADS_2