
Aurel sudah berada di rumahnya setelah seharian bekerja. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Saat dia memasuki kamarnya, pintu apartemennya diketuk, lalu disusul bunyi bel.
Aurel keluar dan menutup kembali pintu kamarnya. "Siapa yang datang di jam segini?" Gumam Aurel.
Saat pintu ia buka, tubuhnya seketika menegang. Ia mundur selangkah dengan tatapan tak percaya, takut dan marah.
"Hai, Aurel!" Sapanya sambil menyeringai. Ia maju, yang membuat Aurel mundur. Ia lalu menutup pintu dengan sangat keras.
Brak...
Aurel terkejut. Kepalanya mendadak pusing. Tubuhnya jatuh terduduk di atas sofa. Sungguh, dia tidak ingin berada di situasi seperti ini.
Tuhan, tolong aku. Darrel, tolong.
"Kau kenapa? Takut melihatku? Heh?"
"Pergi! Jangan mengangguku!"
"Aku dengan susah mencarimu. Mana mungkin aku meninggalkan mu lagi, sayang." Lelaki itu hendak menyentuh dagu Aurel. Tapi, gadis itu menepisnya dengan cepat.
"Hehehe... Ternyata kau nggak mau ku sentuh? Bagus sekali. Apa hanya Darrel yang boleh meyentuhmu?"
"Jangan macam-macam! Jika kau menyakitinya, aku nggak akan memaafkan mu!"
"Wah. Kau semakin berani. Tenang saja, aku hanya ingin bermain-main dengan kedua putra kembar kelurga Grisam itu. Dan... Aku juga merindukan gadis cantikku."
"Kau!"
"Tenanglah, Aurel." Ujarnya, santai. Dia lalu ikut duduk di sofa bersama Aurel. Tangannya merangkul pundak Aurel, membuat gadis itu bergerak risih. Merasa kesal, lelaki itu mencengkram pipi Aurel dan memaksanya menatapnya.
"Apa... Yang kau lakukan?"
"Ingin menciummu." Jawabnya. Saat ia ingin mendekat, pintu apartemen Aurel kembali di ketuk. Ketukan itu semakin keras terdengar.
"Ingat! Jangan memberitahu sahabat-sahabatmu itu jika aku disini. Jika mereka tahu, kau yang bertanggung jawab atas hidup sahabat cantikmu itu." Ujarnya.
Lelaki itu melepas cengkramannya, kemudian berlari ke belakang pintu. Aurel bernafas lega. Ia sangat takut jika lelaki itu benar-benar menciumnya.
"Aurel!" Suara Darrel. Aurel yakin itu benar-benar suara Darrel. Dia bersyukur yang datang adalah Darrel. Dia bisa menahan lelaki itu lebih lama untuk menemaninya. Tuhan benar-benar menolongnya.
Dengan cepat Aurel membuka pintu. Darrel langsung memeluk Aurel dengan erat.
"Kamu baik-baik saja kan?"
Tak ada balasan dari Aurel. Yang ia rasakan, Aurel membalas pelukannya, tak kalah erat. Kesempatan itu dimanfaatkan lelaki yang ditakuti Aurel itu menyelinap keluar.
"Aurel,"
__ADS_1
"Kita duduk dulu. Setelah itu, aku akan menjawab pertanyaanmu." Darrel mengangguk. Pintu Darrel tutup, kemudian mereka berdua segera duduk.
"Kamu baik-baik saja kan?"
"Ya, aku baik-baik saja."
"Syukurlah." Darrel mengusap kepalanya. "Aku merasa perasaanku tak enak. Aku terus memikirkan mu, seperti merasa ada sesuatu yang terjadi padamu malam ini. Tapi, syukurlah, kamu tidak apa-apa."
Aurel mengulas senyum. Mendapatkan perhatian seperti ini dari Darrel, membuat hatinya menghangat.
"Kamu sudah makan?" Aurel menggeleng.
"Kenapa?"
"Aku akhir-akhir ini nggak nafsu makan."
"Apa masih ada makanan disini?"
"Ada."
Darrel segera beranjak menuju dapur dan mengambil makanan yang sudah Aurel panaskan.
"Ayo, makan!" Darrel menyodorkan sesendok makanan ke mulut Aurel. Gadis itu menutup rapat mulutnya, dan menggeleng.
"Aurel, kamu harus makan. Lihatlah tubuh mu! Semakin kecil saja kamu."
"Darrel..."
Aurel tidak bisa membantah lagi. Dengan sangat terpaksa, dia membuka mulutnya, menerima suapan dari Darrel. Dia menelan dengan susah payah. Saat sendok ketiga, Aurel sudah tidak bisa menahannya. Dia bangkit dan berlari ke kamar mandi.
"Hoek... Hoek... Hoek..." Aurel memuntahkan kembali apa yang dimakannya.
Darrel juga ikut ke kamar mandi. Dia memijit pelan tengkuk Aurel. "Nah, kan. Apa aku bilang? Kamu pasti masuk angin." Omel Darrel, tanpa menghentikan pijatannya.
"Hoek... Hoek... Hoek..." Aurel masih saja memuntahkan semuanya. Setelah merasa sedikit baikan, Aurel mencuci mulutnya kemudian menegakkan tubuhnya.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Darrel, saat melihat wajah Aurel yang sudah begitu pucat.
"Darr..." Tubuh Aurel langsung tumbang sebelum menyelesaikan ucapannya. Darrel dengan sigap menangkapnya.
"Aurel! Aurel!" Darrel menepuk-nepuk pipi Aurel. Namun, gadis itu masih tak sadarkan diri. Darrel sangat khawatir. Ia menggendong Aurel dan membawanya ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Aurel segera dibawa masuk ke unit gawat darurat dan langsung ditangani dokter. Sementara Darrel, dia duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan dengan perasaan cemas.
Setelah beberapa menit Aurel diperiksa, dokter pun keluar. Suara pintu yang terbuka, membuat Darrel cepat menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
__ADS_1
"Tidak ada masalah serius. Pasien hanya kelelahan dan kekurangan cairan. Juga, ada sedikit masalah pada lambungnya. Mungkin pasien melewatkan makannya."
"Ya, akhir-akhir ini dia tidak berselera makan."
"Tidak masalah. Pasien juga sudah sadar dan bisa di rawat jalan. Nanti akan saya biatkan resep untuknya."
"Baik, terima kasih, Dok."
"Ya, sama-sama. Kalau begitu, saya permisi."
"Iya, dok."
Darrel segera memasuki ruangan Aurel sesaat setelah dokter pergi. Dia langsung menggenggam tangan Aurel saat tak sengaja melihat gadis itu mengusap air matanya.
"Hei, kenapa kamu menangis?"
"Aku... Aku nggak nangis." Elak Aurel.
"Aku melihatmu mengusap matamu saat masuk tadi."
Aurel tak menjawabnya. Gadis itu bergerak bangun dan langsung memeluk Darrel. "Maafkan aku. Aku sudah banyak menyusahkanmu."
"Ssttt... Apa yang kamu katakan? Kewajibanku menolongmu. Dan aku suka kamu merepotkanku." Ujar Darrel, mengusap-usap rambut Aurel.
"Terima kasih,"
"Sama-sama." Balas Darrel. "Sekarang, kamu berbaring lagi. Aku akan mengurus administrasinya dan juga mengambil obat." Aurel mengangguk.
Setelah Darrel keluar dan pintu tertutup, Aurel tidak bisa menahan tangisnya lagi. Air matanya turun begitu saja.
Maafkan aku, Darrel. Ya, Tuhan, apa yang harus ku lakukan? Bagaimana aku menjelaskan semua ini pada sahabat-sahabatku?
***
Hari terus berlalu. Gara dan Alula juga Edo dan Irene masih menikmati liburan mereka. Darrel, sejak kejadian Aurel pingsan malam itu, dia lebih banyak meluangkan waktu untuk Aurel. Darren dan Alisha memahaminya. Tapi, Darren selalu mengingatkannya mengenai gadis yang masih dalam pencarian mereka.
"Jaga batasanmu dengan Aurel. Jangan sampai kalian saling menyakiti karena kenyataan yang akan kita dapat nanti."
Seperti itulah yang Darren katakan pada Darrel. Kembarannya itu hanya mengangguk tanpa memberi tanggapan apapun. Sedangkan Alisha, dia begitu mendukung Darrel bersama Aurel tanpa tahu apa yang menjadi penghalangnya.
Jam pelajaran baru saja dimulai. Para siswa di kelas Alisha mulai menuju loker untuk mengambil baju olahraga dan menggantinya. Alisha sudah berada di depan lokernya. Saat pintu loker terbuka, gadis itu bergitu terkejut melihat isinya.
"Aaakkhhh..." Teriaknya, menarik perhatian siswa-siswi yang berada di sekitarnya. Semuanya berkerumun ingin melihat hal apa yang membuat Alisha berteriak, termasuk Nadia dan Yana.
Semuanya juga ikut melototkan mata, kaget. Didalam sana, tepatnya di atas pakaian olahraga Alisha, terdapat seekor kelinci mati dengan tubuh yang berlumuran darah.
Axel yang melihat itu, langsung menembus kerumunan dan membawa Alisha menjauh. Ia teringat kejadian boneka berdarah waktu itu. Alisha sampai jatuh sakit dan demam karena peristiwa itu. Dan ia tidak ingin hal tersebut terjadi lagi.
__ADS_1
"A-Axel. Ba-baju o-olahraga ku, be-berdarah." Ucapnya terbata dengan bibir yang mulai pucat dan bergetar.
Axel memeluknya dan mengusap kepalanya, berusaha menenangkan Alisha. Sedangkan Nadia dan Yana, mereka sangat kesal pada orang yang sudah membuat Alisha ketakutan. Dengan tidak sabarnya, mereka langsung memberitahu guru pendidikan jasmani dan olahraga, selaku guru matapelajaran pagi itu. Sang guru langsung bertindak mencaritahu yang sebenarnya. Dan tanpa kedua gadis itu ketahui, orang suruhan si kembar juga berada di sekolah tersebut untuk mengetahui pelaku yang sudah menakut-nakuti nona muda mereka.