
Pagi menjelang. Darren mengerjab pelan matanya. Ia menatap wajah Asya yang terlihat masih tertidur. Seulas senyum muncul di bibirnya.
Cup...
Satu kecupan mendarat di bibir wanita itu. Namun, tak sedikitpun dia terusik. Darren kembali menundukkan kepalanya dan mengecup bibir itu berkali-kali.
"Uuummm... Sayang, aku masih ngantuk." Gumam Asya, pelan.
"Bangun, sayang. Udah pagi." Ucap Darren, sambil mengusap bibir Asya dengan ibu jarinya. Darren bergeser semakin mendekat. Ia lalu mencium bibir itu, hingga Asya membuka lebar matanya.
"Darren, jangan cium-cium dulu. Aku belum sikat gigi." Kesal Asya, menjauhkan wajahnya dari wajah Darren.
"Nggak apa-apa. Sekalian sama mandi nanti." Balas Darren, kembali menciumi Asya. "Aku sudah mengalah semalam. Hari ini giliranku." Ucap Darren, kembali melanjutkan kegiatannya.
Lelaki itu menikmati paginya dengan penuh semangat. Setelah selesai dengan urusannya, Darren menggendong Asya menuju kamar mandi, lalu mandi bersama.
***
Pasangan suami istri itu telah bersiap-siap. Darren menggandeng tangan istrinya, keluar dari kamar.
"Kita sarapan dimana, sayang?" Tanya Asya.
"Kamu masih mau sarapan lagi? Tadikan udah?" Ucap Darren, tersenyum jahil. Hal itu membuat pipi Asya memerah.
"Apaan sih, sayang."
"Hehehe... Aku bercanda, sayang."
Setelah pintu lift terbuka, Darren dan Asya langsung menuju restoran hotel. Istrinya ingin mencoba sarapan pagi di restoran itu.
"Setelah ini, kita ke rumah tante?" Asya menatap Darren. Keduanya sedang menunggu sarapan yang disiapkan.
"Ya."
"Aku jadi nggak sabar ketemu tante kamu."
"Tante kamu juga, sayang."
"Hehehe... Iya." Asya terkekeh pelan. "Aku penasaran banget sama tante kamu. Apa dia persis Ibu?"
"Ya, dia sedikit mirip Ibu. Ku akui, dia cantik. Tapi, jika dibandingka dengan Ibu, tetap saja Ibu yang paling cantik." Ucap Darren, membuat Asya tersenyum.
Keduanya saling berbincang, hingga tanpa sadar, seorang pelayan membawakan pesanan mereka. Darren dengan penuh perhatiannya menyuapi sarapan pagi itu untuk Asya. Perbuatnnya itu membuat banyak pengunjung restoran merasa iri. Mereka juga ingin dicintai pria tampan seperti Darren.
"Kenapa kamu terus menyuapiku? Kamu nggak mau sarapan?" Ucap Asya, sambil melahap makanan yang Darren berikan.
"Aku sudah cukup kenyang dengan sarapan tadi."
Asya melotot mendengarnya. Darren selalu mengaitkan hal-hal yang ia katakan dengan peristiwa setelah bangun tidur tadi. Asya menelan makanannya lalu membuang wajahnya, tak ingin bertatapan dengan Darren.
"Aku nggak mau sarapan lagi kalau kamu terus-terusan menggodaku."
"Aku nggak menggoda. Bagaimana caranya aku menggodamu di depan orang banyak seperti ini? Seandainya aku kelepasan, aku..."
"Darreeen..."
"Iya, iya. Cantik sekali istriku kalau melotot seperti ini."
__ADS_1
"Aku mau pulang." Asya bersidekap dengan wajah cemberut. Ucapannya membuat kening Darren mengerut.
"Pulang kemana? Ke kamar?"
"Aku mau pulang ke rumah Ayah sama Ibu."
"Kenapa? Kita harus ketemu tante Elisa setelah ini."
"Aku nggak mau kalau kamu terus menggodaku seperti ini."
"Sayang, aku hanya bercanda." Darren berusaha merayu. "Baiklah. Aku nggak akan mengungkitnya lagi. Makan lagi, ya? Setelah ini, kita ke apartemen tante Elisa."
Asya menatap Darren, kemudian mengangguk. Hal itu membuat Darren mengusap lembut rambutnya.
Interaksi keduanya kembali membuat orang-orang tersenyum-senyum. Pasangan tua yang duduk tak jauh dari keduanya tersenyum dengan binar mata bahagia.
"Nak, semoga pernikahan kalian selalu harmonis dan bahagia." Ucap wanita tua itu, sambil tersenyum pada Asya dan Darren.
"Ya, semoga kalian selalu bahagia dan memberikan kebahagiaan untuk orang disekitar kalian. Kalian mengingatkanku pada masa muda." Lajut lelaki tua yang berada di kursi depan wanita tua itu.
Asya menundukkan sedikit kepalanya pada kedua orang tua tersebut, begitu juga dengan Darren.
"Terima kasih, Nyonya, Tuan." Ucap Asya.
Setelah selesai sarapan, Darren dan Asya langsung menuju parkiran. Pengawal Darren sudah menyiapkan mobil untuk keduanya. Darren memilih untuk pergi dengan menyetir sendiri.
40 menit perjalanan, mereka tiba di gedung apartemen tersebut. Darren menggandeng tangan istrinya dan membawanya masuk apartemen. Lift yang mereka gunakan langsung menuju lantai ke 20.
"Ayo!" Darren tersenyum pada Asya, membuat wanita itu balas tersenyum padanya. Keduanya keluar lift dan berhenti tepat di unit apartemen milik Elisa.
Darren melirik Asya yang terlihat gugup. Dengan sengaja, ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Asya. Memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk wanita itu.
"Aku ingin bersikap tenang. Tapi, selalu saja nggak bisa."
"Tarik nafas mu, lalu lepaskan dengan perlahan. Tanamakan dalam pikiranmu, jika tante akan menerima kita dengan baik." Asya menuruti apa yang Darren katakan. Dan perlahan, ia mulai merasa tenang.
"Aku akan mengetuk pintu." Ucap Darren, yang langsung diangguki Asya.
Tok... Tok... Tok...
Satu kali ketukan, tidak ada respon sama sekali dari dalam. Darren mengulanginya lagi. Tak lama, terdengar suara seseorang dari dalam sana.
"Tunggu!" Ucap orang itu, yang tak lain adalah Elisa.
Wanita itu meraih gagang pintu dan membukanya. "Ada yang..."
Deg...
Ucapan Elisa terhenti begitu saja. Tatapanya terkunci pada wajah Darren. Dia tahu siapa yang berdiri di hadapanya sekarang ini. Wajah yang sangat mirip dengan Gara. Wajah dingin dengan sorot mata tajam. Seorang anak yang dulunya ia benci. Anak yang lahir dari rahim seorang wanita yang ia benci. Wanita yang tak lain adalah adiknya sendiri.
"Darren?"Gumamnya, pelan.
Ia seperti terhipnotis oleh Darren. Saat tersadar, dia dengan cepat menutup pintu apartemennya. Namun, gerakannya kalah cepat dari Darren. Suami Asya itu dengan cekatan menahan pintu sebelum Elisa menutupnya.
"Apa yang kau lakukan? Kau orang asing! Aku tidak mengenalmu!"
"Benarkah?" Tanya Darren, begitu tenang. "Aku rasa, aku mendengarmu menyebut namaku tadi, tante Elisa." Lanjutnya, membuat Elisa meneguk ludahnya.
__ADS_1
"A-aku benar-benar tidak mengenalmu. Dan aku tidak menyebut nama siapa pun tadi. Kamu..."
"Kakek Zarfan dan Nenek Disa begitu merindukan tante. Apa tante tidak merindukan mereka?"
Suara lembut Asya memotong ucapan Elisa. Hal itu menarik perhatian Elisa hingga wanita tersebut menoleh padanya.
"Siapa kamu? Menyebut Ayah dan Ibu saya Kakek Nenek?"
"Dia Asya, istriku." Balas Darren. Tangannya terus saja menggenggam tangan Asya.
"Kalian pergilah! Aku masih banyak urusan yang harus ku lakukan."
"Tante masih membenci Ayah dan Ibuku?" Ucapan Darren membuat gerakan tangan Elisa yang hendak menutup pintu terhenti. Wanita itu menatap Darren dengan mata yang mulai memerah, penuh genangan air mata. Dia memang membenci Alula dulu, tidak sekarang. Dia sadar, semua yang dia lakukan adalah salah. Seharusnya, ia menyayangi adik satu-satunya itu. Bukan sibuk membenci dan melukainya.
Elisa mengusap air matanya yang hampir menetes. Lalu tanpa menatap Darren maupun Asya, ia berbalik. "Masuklah!" Ucapnya, lalu berjalan masuk terlebih dahulu.
Senyum tipis muncul di bibir Asya maupun Darren. Keduanya mengikuti Elisa masuk.
"Duduklah." Wanita itu meminta Darren dan Asya duduk. Ia lalu bergegas menuju dapur. Tak lama, ia kembali dengan nampan berisi minuman untuk Darren dan Asya.
"Maafkan tante, Darren."
"Nggak masalah." Jawab Darren, santai.
"Bagaimana kabar Kakek dan Nenek mu?"
"Mereka baik. Meskipun begitu, mereka nggak bisa menyembunyikan rasa rindu dan khawatir mereka pada tante."
Elisa menunduk. Rindu? Dia juga merindukan orang tuanya. Tapi, dia begitu malu untuk menunjukkan wajahnya pada mereka. Dia juga malu pada adiknya, Alula.
Elisa mendongak dan memaksakan senyum. "Syukurlah mereka baik-baik saja." Ucapnya. "Bagaimana kabar Ibumu? Kabar Darrel dan Alisha?"
"Mereka semua baik. Darrel sudah menikah. Istrinya sudah melahirkan beberapa minggu lalu."
"Syukurlah. Tante turut bahagia mendengarnya."
"Apa tante nggak ingin melihat mereka?" Elisa kembali terdiam. Ia menoleh pada Asya.
"Nak, kenapa kamu diam saja sejak tadi?" Elisa berusaha mengalihkan pembicaraan dengan berbicara pada Asya.
"Aku..."
"Apa Darren menceritakan keburukan tante padamu hingga kamu tidak suka pada tante?"
"Hah? Engak! Darren nggak menceritakan kejelekan tente. Tante jangan berpikir seperti itu."
"Istriku takut tante nggak menyukainya dan memintaku meninggalkannya."
"Darren!" Asya melotot pada suaminya. Reaksinya itu membuat Elisa merasa lucu. Dia jadi berpikir, bagaimana gadis itu menaklukkan Darren yang dingin. Perjuangannya mungkin tak mudah.
"Kamu jangan khawatir! Tente nggak akan seperti itu. Siapa pun wanita yang disukai ponakan tante, tante akan mendukungnya. Karena tante yakin, ponakan tante tidak salah memilih istri. Dan Alula maupun Gara nggak akan sembarangan menerima menantu." Ucap Elisa.
Mendengarnya, Asya merasa terharu. Ia sedikit bergeser dan memeluk Elisa. Pelukan tiba-tiba Asya membuat Elisa terkejut.
"Terima kasih, tante." Ucapan Asya membuat hati Elisa menghangat. Ia yang awalnya terkejut mulai lebih tenang. Tanpa sadar, tangannya terulur mengusap rambut Asya.
"Sama-sama, nak." Ucapnya.
__ADS_1
Asya melepaskan pelukannya lalu tersenyum pada Elisa, yang juga dibalas senyum oleh wanita itu.
Ketiga orang itu lanjut berbincang. Asya tidak merasa canggung lagi. Ia mulai menganggap Elisa seperti Alula. Kedua wanita itu memasak bersama untuk makan siang. Dan kembali ke hotel setelah makan malam bersama.