
Sehari setelah pernikahan Carla, Darren dan Asya membawa Doni ke apartemen. Mereka juga akan ke taman hiburan bersama Darrel, Aurel, Alisha dan baby Meeya.
"Aunty, boleh aku cium baby Meeya?" Ucap Doni, sebelum mereka memasuki mobil masing-masing.
"Boleh." Aurel sedikit menunduk dan membiarkan Doni mencium bayi mungil itu.
Setelah melakukannya, Doni segera masuk mobil bersama Darren dan Asya. Sedangkan Alisha, dia bersama Darrel, Aurel dan baby Meeya.
Sejam perjalanan, mereka tiba di taman bermain. Mereka berjalan beriringan. Semua bersama layaknya keluarga bahagia. Senyum terukir terus di bibir Doni. Ia merasa memiliki keluarga lengkap.
Saat sedang bermain, mata Doni tak sengaja menemukan dompet yang terjatuh. Ia meraihnya dan melihat ke sekeling. Ada seorang pria yang berjalan di depan. Mungkin saja dompet itu miliknya. Karena itu, Doni berusaha mengejarnya. Asya yang melihat Doni berlari ke arah lelaki itu pun, mengikutinya.
"Paman! Tunggu!" Teriakan Doni membuat pria itu berhenti dan berbalik. Mata lelaki itu langsung tertuju pada dompet yang di pegang Doni. Ia mendekati anak itu.
"Paman, ini..."
Plak...
Pria itu langsung menampar Doni. Asya yang melihatnya melotot. Wanita itu melangkah cepat mendekati putranya.
"Kau mencurinya!" Tuduh lelaki itu.
"Tidak, paman! Aku menemukannya."
"Kau ingin berbohong?" Lelaki itu menarik telinga Doni. "Ayo mengaku!"
"Shhh... Sakit, Paman."
"Apa yang kau lakukan!" Asya langsung melepaskan tangan lelaki itu dari telinga Doni. Ia segera memeluk anak itu.
"Dia pantas mendapatkannya! Dia mencuri dompetku!"
"Aku tidak mencurinya, Paman. Aku menemukannya. "
"Apa kau tidak dengar? Dia tidak mencurinya! Dia menemukannya!" Tegas Asya.
"Siapa yang percaya? Dia mungkin saja mencurinya dan pura-pura mengaku menemukannya. Modus mencuri seperti ini sudah banyak terjadi."
"Dia tidak mencurinya!"
Lelaki itu geram dengan sifat keras kepala Asya yang membela Doni. Lelaki itu maju hendak memukul Doni lagi. Namun, Asya langsung menghadang di depannya.
"Minggir!" Dengan kasar, lelaki itu mendorong Asya kesamping, hingga wanita itu tersungkur di tanah.
"Arrgghhh..." Asya meringis kesakitan. Ia merasakan perutnya sakit. Darren yang tadi mencari mereka langsung berlari mendekat saat melihat istrinya terjatuh.
Dengan penuh amarah, ia mendorong kasar lelaki itu. Darren memukulnya sekali. Saat ingin memukulnya lagi, teriakan Doni membuatnya berhenti.
"Papa! Mama berdarah!"
Deg...
Jantung Darren seperti berhenti berdetak. Ia melepas kasar lelaki itu dan langsung menghampiri istrinya. Bisa ia lihat, darreh mengalir di kaki istrinya.
"Asya. Sayang..." Darren mengangkatnya. Asya tak menjawabnya, dan terus menahan sakit. Tanpa berlama lagi, Darren langsung menggendongnya.
"Doni, ayo!" Ucap Darren. Ia melangkah cepat menuju mobil dan melajukan mobil tersebut menuju rumah sakit.
"Arrgghhh..." Ringis Asya lagi.
"Mama..." Air mata terus meluncur dari mata Doni. Ia menggenggam erat tangan Asya. Darren yang sedang mengemudi sesekali menoleh pada istrinya yang terus meringis kesakitan.
"Tunggu, sayang. Kita akan segera sampai di rumah sakit." Ujarnya. "Doni! Jangan menangis!" Ujar Darren, tegas. Meskipun begitu, ia tidak bisa membohongi perasaannya yang begitu khawatir pada Asya.
Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang terjadi pada istriku. Tapi, selamatkan dia. Batin Darren.
"Doni, telpon paman Darrel. Beritahu mereka temui kita di rumah sakit." Doni mengangguk. Anak itu tidak menangis lagi. Ia menuruti ucapan Darren yang melarangnya menangis. Dengan cepat, ia menghubung Darrel menggunakan ponsel Darren.
***
Darren terlihat cemas duduk di kursi tunggu. Ia tak henti-hentinya menatap pintu ruangan yang tertutup. Ruangan tempat Asya sedang di periksa.
"Papa, maafkan aku. Ini salahku." Ujar Doni.
__ADS_1
Darren menoleh pada anak itu. Dengan lembut ia mengusap kepalanya. "Ini bukan salahmu. Ini salah lelaki itu. Dia mendorong Asya. Aku melihatnya sendiri." Ucap Gara. "Tapi, aku belum sempat memberinya pelajaran. Mungkin dia sudah kabur sekarang."
"Kita bisa menemukannya." Ucap Doni, membuat Darren mengerutkan keningnya. Anak itu mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkan pada Darren. "Ini kartu identitas orang itu. Dia menuduhku mencuri dompetnya. Aku tidak melakukannya. Tapi, dia tidak percaya. Karena dia terus menuduhku, jadi sekalian saja aku benar mencuri. Aku mengambil kartu identitas ini. Aku yakin kartu ini akan berguna. Dan aku meninggalkan dompet tersebut di tempat tadi."
Darren meraih kartu identitas itu. Dia terkesan dengan Anak berusia tujuh tahun itu. Senyum tipis muncul dibibirnya sekilas.
"Aku terima ini. Tapi, lain kali, jangan mencuri. Kita bisa melakukannya dengan cara lain."
"Iya, Pa."
Decitan pintu yang terbuka membuat Darren dan Doni mengalihkan pandangan mereka. Seorang dokter dan suster yang keluar, membuat Darren dan Doni cepat menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?"
"Istri anda mengalami pendarahan. Tapi, syukurlah, tidak terjadi hal serius. Istri anda baik-baik saja. Janin yang ada dalam kandungan istri anda bisa diselamatkan. Anda cukup cepat membawanya kemari."
"Janin?"
Deg... Darren terdiam. Dia sangat bahagia mendengarnya. Tapi, ia seperti sulit mengekspresikan nya.
"Ya. Istri anda sedang mengandung. Saya tidak tahu pasti, berapa usia kandungannya. Saya akan mengabari dokter ginekologi untuk memeriksanya." Ucap dokter tersebut. "Kalau begitu, saya permisi."
"Iya. Terima kasih, dok." Ujar Darren. Entah perasaan seperti apa yang ia rasakan kini. Tapi, matanya sepertinya memanas. Ia seperti ingin menagis.
"Papa, apa yang terjadi sama Mama?"
Darren menatap Doni, lalu menggendongnya. Ia memeluk anak itu dengan erat. Saat itulah, seulas senyum muncul di bibirnya, bersamaan dengan air matanya yang menetes. Namun, ia dengan cepat mengusapnya.
"Selamat, nak. Kamu akan segera memiliki adik." Ujar Darren.
Doni meregangkan pelukannya, lalu menatap wajah Darren. "Adik?"
"Ya. Mama Asya sedang mengandung."
"Mengandung?"
"Iya. Ada adik bayi di perut Mama Asya." Ucap Darren, semangat.
"Doni ikut senang. Selamat, Papa." Ujar Doni. Namun, ada kesedihan dalam ucapan anak itu dan Darren bisa merasakannya.
"Aku senang."
"Lalu? Kamu sepertinya terlihat sedih."
"Aku hanya merasa, semua orang beruntung. Saat adik dilahirkan nanti, adik akan memiliki orang tua lengkap. Nggak seperti Doni. Papa dan Mama akan memiliki anak. Dan sudah pasti akan lebih perhatian pada adik nanti." Ujar anak itu, dengan wajah sendu.
"Siapa bilang kamu nggak punya orang tua lengkap? Kamu memiliki orang tua lengkap. Hanya saja, mereka nggak bisa bersamamu lagi. Dan kamu memliki orang tua pengganti yang lengkap. Aku dan Asya, kami orang tua mu. Kamu adalah putra kami. Putra pertama kami."
Mata Doni berkaca-kaca mendengarnya. Sekarang, dia mendengar sendiri dari mulut Darren. Lelaki itu menganggapnya sebagai putranya. Lelaki itu mengakui dirinya seorang Ayah. Doni begitu bahagia mendengarnya. Ia lalu kembali memeluk Darren.
"Terima kasih, Pa."
"Iya. Papa juga berterima kasih padamu." Perasaan Doni semakin bahagia setelah mendengar kata Papa keluar dari mulut Darren. Kehadiran adik kecil, membawa kebaikan untuknya.
"Aku berjanji, aku akan melindungi Mama dan adik." Ujar Doni.
"Kita sama-sama melindungi mereka." Ujar Darren, yang diangguki Doni.
"Darren!" Suara Darrel membuat Darren yang sedang menggendong Doni menoleh, begitu juga Doni. Lelaki itu menurunkan Doni dan langsung menghampiri saudara kembarnya. Darren langsung memeluk lelaki itu.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Asya baik-baik sajakan?" Tanya Darrel.
"Asya, baik-baik saja."
"Syukurlah."
"Asya mengandung, Darrel." Ujar Darren, yang langsung membuat Darrel meregangkan pelukannya.
"Kamu, sungguh-sungguh?"
"Ya. Asya sedang mengandung."
"Syukurlah, terima kasih, Tuhan. Tapi, kandungannya tidak apa-apakan?"
__ADS_1
"Dia mengalami pendarahan. Syukurlah, Janinnya bisa di selamatkan. Untuk yang lainnya, dokter ginekologi yang akan memeriksanya nanti."
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk."
"Ya."
"Apa kamu sudah menemuinya?"
"Aku baru saja ingin menemuinya."
"Bagus sekali. Ayo, aku juga mau menemuinya." Ujar Darrel.
Darren mengangguk. Ia meraih tangan Doni dan menggandengnya menuju ruangan Asya, diikuti Darrel.
Pintu terbuka, dan terlihatlah Asya yang sedang berbaring. Darren melepaskan genggamannya pada tangan Doni dan memeluk istrinya.
"Sayang,"
"Da-Darren, aku hamil. Dokter bilang, aku hamil. Aku mengandung anak kita, Darren." Ujar Asya. Wanita itu balas memeluk suaminya.
"Ya. Dokter juga memberitahuku."
"Tapi... Hiks... Aku hampir saja mencelakai anak kita. Aku hampir..."
"Ssttt... Ini bukan salahmu. Aku bersyukur nggak terjadi apa-apa pada kamu dan anak kita. Kamu adalah Ibu yang baik. Kamu membela putra kita."
Asya menatap suaminya. 'putra kita?' Apakah maksud Darren adalah Doni? Itu yang Asya pikirkan.
"Sayang, apa maksudmu putra kita, Doni?"
"Ya. Siapa lagi?"
Asya tersenyum. Ia kembali memeluk suaminya dengan erat. "Terima kasih, sayang."
"Aku yang seharusnya berterima kasih."
Darren dan Asya sama-sama melepas pelukan mereka. Darren bergeser, hingga Asya bisa melihat wajah Doni.
"Doni, sayang. Sini, nak." Panggil Asya. Anak itu maju, mendekati Asya. Ia lalu memeluk Ibu angkatnya itu dengan penuh sayang.
"Maafkan Doni, Ma. Karena Doni, Mama jadi masuk rumah sakit."
"Enggak, nak. Ini bukan salah kamu. Sudah seharusnya Mama melindungi kamu. Mama nggak apa-apa."
"Terima kasih, Mama."
"Iya, sayang."
Setelah Doni melepas pelukannya, Darrel mendekat. Ia berdiri di depan wanita itu sambil tersenyum. Tangannya terulur mengusap rambut Asya. Wanita yang dianggapnya adik, tapi malah menjadi Kakak iparnya itu, akan menjadi seorang Ibu. Ia turut bahagia mendengarnya.
"Selamat, ya? Semoga kamu dan bayi kamu selalu sehat." Ujar Darrel.
"Sama-sama." Balas Asya sambil tersenyum.
Darren yang melihat adegan tersebut mulai merasa kesal. Apalagi, tangan Darrel masih mengusap rambut Asya. Dan Asya, wanita itu membalas Darrel dengan senyuman manis. Lama-lama, panas juga hati Darren.
"Usapnya nggak usah dilama-lama in!" Ucap Darren dengan wajah datar.
Darrel menoleh pada kembarannya, lalu berdecak. "Ck. Iya-iya aku lepasin." Ujarnya. "Untung yang aku usap rambutnya. Kalau aku usap perutnya gimana?" Gerutu Darrel, sambil bergeser, menjauh dari Asya.
.......
.......
.......
**Hai, semua!! Akhirnya Darren sama Asya akan punya anak juga. Terima kasih udah setia baca novel ini. Semoga bisa menghibur kalian.
Salam dari Aquilalizađ
Ini ada chat Alisha sama Axel. Semoga suka**.
__ADS_1
Kalau mau lanjutannya ada di ig : aquila_liza01