Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 8


__ADS_3

Mobil Darren memasuki halaman rumah Edo. Darren turun dan membukakan pintu mobil untuk Asya. Naomi yang melihatnya menggeram marah dalam hati. Ia membuka sediri pintu mobilnya.


"Nggak perlu repot-repot." Ujar Asya. Darren hanya menepuk pelan kepala Asya sebagai tanggapannya.


Seorang laki-laki yang membukakan pintu gerbang tadi, berlari ke arah mereka. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya di depan Darren dan Asya.


"Selamat datang, tuan muda, nona muda." Sapanya pada Darren dan Asya.


"Terima kasih, Pak." Balas Asya sambil tersenyum.


"Keluarkan koper yang ada dalam mobil! Bawakan ke dalam." Lelaki itu mengiyakan perintah Darren.


Darren meraih tangan Asya dan mengajaknya masuk. Asya tersenyum padanya, lalu menatap Naomi.


"Ayo, Naomi!" Panggil Asya yang diangguki Naomi. Gadis itu berjalan di belakang Asya dan Darren.


Pintu rumah didorong pelan. Asya, Darren, dan Naomi yang berjalan di belakang mereka, bergerak menuju ruang tengah. Disana, Edo sedang duduk bersama Irene.


"Mama..." Asya melepaskan genggaman Darren, dan berlari memeluk Mamanya. Irene dengan penuh sayang membalas pelukan putrinya.


"Asya kengen banget." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Mama juga kangen banget sama kamu, sayang."


Asya melepaskan pelukannya lalu beralih memeluk Papanya, Edo. Namun, sebelum tangannya menyentuh tubuh Edo, ia menghentikannya sendiri. Air mukanya berubah saat mendapati wajah Edo yang terkesan tak peduli padanya.


"Papa..."


"Jangan ngomong sama Papa. Papa lagi marah sama kamu." Ujar Edo acuh, memalingkan wajahnya dari Asya.


Asya mengulum senyum melihat tingkah Papanya. Ia menempatkan dirinya duduk di samping Edo, lalu memaksa memeluknya.


"Apa Papa benaran marah sama Asya? Gak sayang lagi sama Asya? Asya tahu, Asya salah gak kabarin Mama sama Papa. Tapi, Asya cuman mau surprise-in Mama sama Papa." Jelas Asya, tapi Edo masih enggan menatapnya.


"Ya udah, kalau Papa marah sama Asya, Asya mau ke apartemen aja."


Mendengar putrinya ingin tinggal di apartemen, Edo dengan cepat menoleh dan memeluknya. Hal itu membuat Asya tersenyum dan membalas pelukan Papanya.


"Kamu gak boleh tinggal di apartemen. Kamu baru pulang. Papa hanya bercanda. Papa gak benaran marah sama kamu." Edo mengusap rambut putrinya dan mengecup keningnya.


"Asya juga bercanda." Balasnya sambil tersenyum.


Irene menatap Darren dan seorang gadis yang berdiri di sampingnya. "Darren, ayo nak, duduk!" Ucap Irene. Ia lalu tersenyum pada Naomi. "Kamu juga. Ayo!"


Asya melepaskan pelukannya. Ia memandang Irene dan Edo. "Oh ya, Pa, Ma. Kenalin, dia Naomi teman Asya."


"Hallo, om, tante." Sapa Naomi pada kedua orang tua Asya.


"Oohh, ini yang kamu bilang mau tinggal sama kita?"


"Iya, Pa."


"Selamat datang ya, nak. Semoga kamu betah disini." Ucap Irene sambil tersenyum.


"Terima kasih, tante."


Mereka terlibat pembicaraan. Edo banyak bertanya tentang Gara pada Darren. Anak itu menjawab seadanya. Membuat Edo merasa, sedang berbincang dengan Gara versi mudanya.


Irene juga berbincang dengan Asya dan Naomi. Setelah beberapa saat, Darren berpamitan pulang.


"Ma, Pa, aku antar Darren ke depan, ya." Ujar Asya.


Irene dan Edo mengangguk. Naomi menatap Asya yang berjalan sejajar dengan Darren dengan sorot mata lembut. Namun, dalam hatinya begitu benci melihat pemandangan itu.


Akan ku pastikan, aku yang akan berjalan di sisi Darren suatu saat nanti. Batinnya.

__ADS_1


Darren berdiri sejenak sebelum memasuki mobilnya. Ia menatap Asya yang masih berdiri di sampingnya.


"Kenapa masih disini?" Tanyanya dengan tampang datarnya.


"Aku akan masuk setelah kamu pergi." Balas Asya.


Darren terdiam sejenak. "Kemarilah!"


Asya mendekat. Saat jarak diantara mereka begitu dekat, Darren menarik Asya dalam pelukannya. Menundukkan sedikit kepalanya, membiarkan hidungnya menyentuh rambut Asya tanpa gadis itu tahu.


"Kamu beneran gak marah kan?"


"Hmm..." Darren hanya berdehem. Ternyata gadis itu masih merasa jika dia marah padanya. Darren lalu melepaskan pelukannya.


"Istirahatlah!" Ucapnya, mengusap rambut Asya.


"Hati-hati! Sampaikan salamku untuk Paman, tante dan Alisha. Aku akan mengunjungi mereka besok."


Darren mengangguk. Tangannya bergerak membuka pintu mobil, lalu menutupnya kembali setelah berada nyaman didalam mobil.


Asya melambaikan tangannya. Setelah mobil Darren meninggalkan rumah, ia kembali masuk.


***


Bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Alisha bersama kedua sahabatnya, Nadia dan Yana, masih mengemas buku-buku mereka.


"Ayo, hanya kita bertiga yang tersisa di kelas." Ucap Yana.


"Iya." Nadia menimpali. Ketiganya bergegas keluar. "Oh ya, Alisha. Kenapa kita harus jadi yang terakhir keluar kelas?"


"Hah? Enggak. Aku hanya gak enak aja sama Axel. Sejak..."


"Apa?" Suara dingin yang terdengar membuat ucapan Alisha terhenti. Ketiga gadis remaja itu menatap Axel yang tiba-tiba muncul dan berdiri di hadapan mereka.


Axel terdiam. Sekarang ia tahu, kenapa beberapa hari belakangan ini Alisha terlihat memperhatikannya dari jauh. Gadis itu merasa bersalah.


Nadia dan Yana yang berdiri di samping Alisha sudah gemetaran sejak tadi. Mereka heran melihat Alisha yang terlihat tenang berhadapan dengan Axel meskipun dia juga takut.


"Eee... A-Alisha yang punya urusan sama kamu. Ki-kita mau pergi dulu." Ujar Yana, terbata sembari menggenggam tangan Nadia.


"I-iya." Timpal Nadia.


"Eh, kok kalian pergi?"


"Kita tunggu kamu di pos satpam." Balas keduanya, berlari menjauh dari Alisha dan Axel.


Suasana diantara mereka menjadi hening. Alisha mendongakkan kepalanya yang sejak tadi menunduk.


"Aku minta maaf. Kakakku sudah salah paham. Tapi, dia orang yang baik. Dia..."


"Bukan dia yang lakuin itu." Potong Axel, paham dengan arah pembicaraan Alisha. "Kaki gue sakit gara-gara di serempet mobil."


Alisha sedikit terkejut mendengar jawaban Axel. Ternyata itu penyebabnya, bukan Darren. Dia sudah salah mengira.


"Sana, pulang!"


Alisha dengan cepat menjauh dari Axel. Lelaki itu masih menatap Alisha yang berjalan cepat. Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman.


"Alisha. Gimana? Axel jahatin kamu?" Nadia dan Yana berlari menghampiri Alisha saat melihat gadis itu muncul di halaman sekolah.


"Aku nggak mau ngomong sama kalian. Kalian ninggalin aku sendiri."


"Ya... Maaf. Kita takut banget sama si Axel." Ujar Nadia.


"Iya. Lagian, kamu tenang gitu ngomong sama Axel. Kita pikir, kamu gak takut."

__ADS_1


Alisha terdiam. Apa yang dikatakan kedua temannya benar. Dia tidak setakut mereka untuk berhadapan dengan Axel. Alisha menarik nafasnya. Saat pandangannya mengarah ke gerbang sekolah yang masih terbuka lebar, sebuah mobil berhenti. Ia mengenali mobil itu dengan baik.


"Kak Darren udah datang. Aku pergi dulu." Tanpa menunggu jawaban kedua temannya, Alisha langsung berlari memasuki mobil.


"Kenapa lari?" Darren bertanya dengan nada datarnya saat Alisha masuk mobil.


Gadis itu, bukannya menjawab, ia malah meraih tangan Darren. "Maafkan aku, Kak." Ujarnya.


Darren tak menjawab. Ia hanya menatap Alisha tanpa memperlihatkan ekspresi apapun.


"Kemarin, Axel terlihat sedikit pincang saat berjalan. Aku pikir Kakak yang melakukannya. Aku sudah menuduh Kakak. Aku minta maaf."


Wajah Darren melembut. Ia melepaskan tangannya yang digenggam Alisha dan mengusap rambut gadis itu.


"Nggak masalah. Kita pulang?" Alisha langsung mengangguk setuju. Senyum manis terukir di wajah cantiknya. Tapi, keningnya tiba-tiba mengerut. Dia bergeser lebih dekat Darren sambil mengendus-endus nya. Ia mengenali bau parfum yang melekat di tubuh Darren.


Darren tidak terusik dengan perbuatan adiknya itu. Ia tetap fokus menyetir.


"Kak, Kakak bertemu Kak Asya hari ini?" Tanyanya, begitu penasaran.


"Hmmm..."


Alisha membulatkan matanya. Dia tahu, pagi ini Darren memiliki rapat penting yang memakan banyak waktu dan tidak mungkin ditundanya. Hal itu menunjukkan jika dia tidak mungkin mengunjungi Asya yang sedang berada di luar negeri. Hanya satu kemungkinannya. Asya sudah kembali.


"Apa Kak Asya disini?"


"Ya." Darren mengatakan yang sebenarnya. Percuma saja dia berkata tidak. Alisha adalah gadis yang cerdas. Tidak mudah membohonginya.


"Benarkah? Antarkan aku ketemu Kak Asya ya, Kak?" Mohon Alisha.


"Tidak. Tunggu saja besok. Kakak akan membawanya ke rumah."


"Enggak. Aku mau ketemu Kak Asya hari ini." Keputusan Alisha final. Ia melipatkan kedua tangannya di dada sembari berwajah serius.


Darren melirik adiknya dan mengusap pelan rambutnya. "Kita pulang." Putus Darren.


Wajah Alisha berubah muram. Mereka benar-benar pulang ke rumah. Ia menolehkan kepalanya ke jendela mobil. Tidak ingin berbicara dengan Darren.


Setelah beberapa menit, mereka tiba di rumah. Alisha keluar dan langsung memasuki rumah. Dia benar-benar kesal dengan Darren.


"Anak Ibu kenapa? Cemberut gitu?" Alula mengusap rambut Alisha, setelah anak itu mencium tangannya.


"Kak Darren nyebelin, Bu. Masa, Alisha nggak di bolehin ketemu Kak Asya."


"Asya?"


"Iya. Kak Asya pulang. Sekarang di rumah Paman." Ujar Alisha.


Alula menatap Darren yang berjalan ke arah mereka. Lelaki itu meraih tangan Ibunya dan menciumnya.


"Benar, apa kata Alisha? Asya pulang?"


"Ya."


"Kenapa kamu nggak bolehin Alisha ketemu Asya?"


Darren menoleh menatap Alisha. Tangannya terulur menepuk pelan kepala Alisha. "Makan dulu." Ujarnya, lalu bergegas pergi tanpa melanjutkannya.


Alisha tersenyum. Ia tahu maksud Kakak nya itu. Ia berbalik dan menatap Darren yang menaiki tangga. "Terima kasih, Kak." Teriaknya. Darren berhenti sejenak kemudian melanjutkan langkahnya.


"Alisha senang banget, Bu." Alisha memeluk Ibunya.


Alula tersenyum dan mengusap kepala putrinya. "Sekarang ganti baju, terus makan."


"Siap, Bu." Balasnya, lalu berlari ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2