
Darrel mengendarai mobil menuju hotel, sesuai yang Darren katakan. Di sampingnya, ada Aurel yang terdiam sambil sesekali melirik spion, memperhatikan Asya yang sedang tertidur dengan kepala beralaskan paha Darren di kursi belakang. Lelaki itu terus menatap Asya yang terbaring.
Entah apa yang terjadi padamu jika aku dan yang lain tidak segera tiba. Batin Darren. Ia menunduk mengecup kening Asya.
Di saat seperti inilah, Aurel tahu, bagaimana cintanya Darren pada Asya. Dia bersyukur sahabatnya memiliki lelaki yang begitu menyanginya di sisinya. Dia juga bersyukur, tidak terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.
Darrel yang melihat Aurel terdiam sejak tadi, menggenggam tangan gadis tersebut. Ia tersenyum menenangkan.
"Mereka sudah memesan kamar?" Tanya Darren.
"Sudah. Kamar 611 dan kamar 612." Jawab Darrel. Ia mendapatkan pesan saat menuju parkiran tadi.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di hotel. Darren segera membawa Asya menuju kamar 611, dan Darrel membawa Aurel menuju kamar 612.
Darren membaringkan tubuh Asya ke ranjang. Dia masih terus memikirkan nasib Asya jika ia tidak tiba tepat waktu.
"Aku mencintaimu. Aku akan menghukum diriku jika terjadi sesuatu padamu." Ujarnya, lalu mengecup seluruh wajah Asya. Dia menghentikan dirinya saat keinginan untuk mengecup bibir Asya muncul. Ia menatap bibir gadis itu.
"Apa dia mencium bibir mu tadi?" Tanya Darren. Ia menjauhkan sedikit wajahnya. Tangannya bergerak mengusap bibir Asya.
"Aku akan memberi pelajaran yang setimpal padanya."
Darren benar-benar menjauhkan wajahnya dari wajah Asya, kemudian menyelimuti gadis itu.
Cup...
Satu kecupan kembali mendarat di kening Asya. Setelah itu, Darren bergerak menuju sofa. Ia duduk bersandar sambil memperhatikan Asya.
Di kamar sebelah, Aurel nampak gelisah. Ia ingin melihat keadaan Asya, namun Darrel melarangnya.
"Darrel, kira-kira Asya sudah sadar atau belum?"
"Aku nggak tahu."
"Ayo, kita lihat Asya sebentar. Darren mungkin nggak akan marah saat melihat kamu yang datang."
Bukannya menjawab, Darrel malah menarik Aurel dalam dekapannya dan memeluknya erat.
"Kita akan pergi saat Darren menelpon atau mengirim pesan."
"Darr..."
"Tidurlah. Sudah semakin larut. Ibu hamil nggak baik begadang." Ucap Darrel.
***
Darren tidak sedikitpun memejamkan matanya. Ia terus terjaga sambil menatap Asya yang masih terbaring di ranjang.
"Uughh... Shhh... Kepalaku sakit."
Mendengar erangan Asya, Darren bergegas mendekatinya.
"Biar aku bantu." Ucapnya, membantu Asya duduk.
Gadis itu menatap Darren sejenak, dan beberapa detik kemudian, ia langsung memeluk Darren begitu erat.
"Da-Darren... Ka-Kak Hendra, dia jahat. Na-Naomi juga. Mereka... Mereka menjebakku. Mereka... Mereka..."
"Ssttt... Jangan dipikirkan lagi." Darren balas memeluknya dan mengelus rambut Asya.
"Aku nggak sadarkan diri. Apa... Apa yang Kak Hendra lakukan padaku? Dia... Dia menyentuh tanganku saat kesadaranku mulai menghilang. Aku nggak tahu apa yang terjadi. Katakan padaku, Darren!"
"Tenanglah, Asya. Tenang. Dia nggak melakukan apa-apa."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Ya. Kami datang tepat waktu."
"Darren. Kamu pasti marah padaku. Kamu pasti sangat kecewa padaku. Aku bodoh! Aku percaya pada mereka begitu saja. Darren, aku nggak sadarkan diri. Aku nggak tahu apa yang Hendra lakukan. Mungkin saja... Mungkin saja dia mengambil ciuman pertamaku. Mungkin saja... Dia... Dia..."
"Asya. Sudah ku katakan, tenangkan dirimu. Percayalah padaku! Nggak terjadi apa-apa antara kamu dan Hendra. Dia tidak melakukan apa-apa. Kamu bukan gadis bodoh. Kamu gadis pintar yang selalu meminta izin saat pergi. Kamu tahu, berkat pesanmu itulah kami sadar, kamu dalam bahaya." Ucap Darren.
Lelaki itu melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah Asya hingga mata gadis itu menatap tepat pada matanya.
"Dengar! Bukan Hendra yang mengambil ciuman pertama mu, tapi aku!"
"Ka-kamu?"
"Ya. Kamu ingat saat kita masih kecil? Kamu ingat saat perayaan ulang tahun ku dan Darrel? Aku mencium bibirmu waktu itu."
Pipi Asya merona mendengarnya. Pikirannya sejenak melupakan kejadian barusan dan mengingat kejadian dimana Darren dengan tiba-tiba menciumnya. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya.
"Itu... Bukannya itu hanya kenakalan anak-anak sewaktu kecil?"
"Itu bukan kenakalan. Itu ku lakukan sungguh-sungguh. Apa kamu lupa yang ku katakan waktu itu?"
Asya menggeleng. "Kamu bilang, Paman mencium tante di bibir karena tante milik paman. Dan kamu menciumku karena aku adalah milikmu." Ucap Asya, pelan.
Darren tersenyum mendengarnya. "Gadis pintar! Sekarang jangan pikirkan lagi kejadian ini. Jika kamu masih merasa jika Hendra menciummu, aku bisa menghilangkannya."
"Menghilangkannya?"
"Ya. Jika kamu mengizinkannya, aku akan menciummu kembali. Dengan begitu, bekas Hendra menghilang."
"Hehehe... Sekarang aku yakin, Hendra nggak menciumku sama sekali." Ujar Asya, tersenyum kaku. Mengingat Darren menciumnya waktu kecil, membuatnya juga ingat saat Darren menciumnya di acara reuni. Ia bergidik dalam hati, mengingat bagaimana Darren menciummnya. Darren cukup kasar, dan ia takut Darren mengulanginya.
"Asya,"
"Ya?"
"Kamu terluka. Ya Tuhan, Darren kamu terluka." Asya memotong ucapan Darren saat sadar terdapat memar di wajah lelaki itu. Asya menyentuhnya pelan. Tidak ada reaksi apa-apa yang Darren tunjukkan.
"Darren, kamu terluka karena ku."
"Ini bukan luka. Hanya memar sedikit."
"Tetap saja. Ini karena aku."
"Asya, dengarkan aku! Luka ini tidak sebanding dengan apa yang akan terjadi padamu jika aku tidak datang tepat waktu. Jangan pikirkan lagi, okey?"
Asya mengangguk pelan. "Iya." Jawabnya.
Darren tersenyum mendengar jawaban Asya. Ia lalu berdiri dan menatap Asya. "Baiklah. Sekarang, tidurlah kembali. Aku akan memanggil Aurel di kamar sebelah untuk menemanimu." Ucap Darren, membantu Asya berbaring dan menyelimutinya hingga sebatas dada.
"Aurel?"
"Ya. Dia dan Darrel juga ikut bersamaku." Jawab Darren. Tangannya terulur mengusap lembut rambut Asya.
"Lalu, kamu mau kemana?"
"Aku dan Darrel ada urusan. Istirahatlah." Asya mengangguk. Darren lagi-lagi tersenyum dan berbalik memunggungi Asya. Baru satu langkah, Asya kembali menghentikannya.
"Darren!"
Lelaki itu menoleh dan kembali mendekati Asya. "Ada apa, hmm?"
"Aku... Mau bertanya sesuatu."
__ADS_1
"Apa?" Darren bertanya balik dengan penuh kelembutan.
"Apa kamu mencintaiku sejak dulu?"
Darren menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. "Waktu itu, tidak ada cinta tapi rasa sayang. Atau mungkin, aku sudah cinta tapi tidak menyadarinya." Jawabnya.
Asya tersenyum mendengarnya. Dengan cepat ia bangun dan mengecup pipi Darren.
Cup...
Gadis itu lalu kembali berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Pergilah!" Ucap Asya dari balik selimut.
Darren tersenyum lebar. Asya membuatnya terkejut sekaligus tersenyum karena tingkahnya.
"Hanya itu?" Darren bertanya sambil mengulum senyumnya.
"Ya. Kamu pergilah!"
"Ngaak mau melihatku sebentar?"
"Enggak."
"Baiklah. Aku pergi dulu." Darren menunduk dan mengecup kening Asya yang terhalang selimut. "Aku mencintaimu."
"Hmm..." Jawab Asya membuat Darren terkekeh pelan. Lelaki itu menepuk pelan kepala Asya, lalu berjalan keluar.
Asya bernafas lega setelah mendengar pintu tertutup. Ia menurunkan selimutnya. Jujur saja, dia malu karena sudah mengecup pipi Darren tiba-tiba.
Suara pintu yang kembali terbuka membuatnya menoleh. Seulas senyum muncul saat melihat sahabatnya yang masuk.
"Asya."
"Aurel." Kedua gadis itu saling berpelukan.
"Maaf aku sudah membuatmu khawatir. Kamu harus ikut bersama Darren Darrel malam-malam begini karena ku."
"Apa yang kamu katakan? Aku sahabatmu, saudaramu. Sudah seharusnya aku berada di sisimu dalam keadaan apapun."
"Maafkan aku, Aurel. Aku memang bodoh! Aku melihat kepalsuan dan malah menganggapnya ketulusan."
"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang, tenanglah dan jangan menangis lagi, okey?" Aurel mengusap air mata Asya.
"Hmm." Asya mengangguk.
"Sekarang, kamu kirimkan pesan pada Paman dan tante. Mereka pasti sangat khawatir. Mereka nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi, perasaan orang tua pasti akan selalu khawatir pada anaknya. Terlebih lagi, mereka melihat reaksi kami tadi. Pasti mereka cemas."
"Ya." Asya bergerak meraih tasnya yang berada di atas nakas. Entah siapa yang membawa tas itu dan meletakkannya disana.
Asya
Papa, aku baik-baik saja. Kalian pasti
mencemaskanku saat melihat reaksi berlebihan Aurel dan si kembar. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Kami sedang bersama. Kami akan menginap di hotel malam ini. Katakan pada Mama untuk jangan cemaskan aku. Kalian tidurlah, aku akan kembali besok. Good night, Pa, Ma. Mimpi indah.
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Asya kembali meletakkan handphonenya. Ia lalu menatap Aurel yang duduk di sisi ranjang.
"Sudah hampir jam 2 pagi. Ayo, tidurlah. Jangan mengajari ponakan ku untuk begadang." Ujar Asya, mengusap perut Aurel.
"Aku tidur sebentar tadi. Tapi, tidak buruk jika tidur lagi." Ujar Aurel, lalu mereka terkekeh bersama.
Sementara di kediaman Edo, pasangan suami istri itu bernafas lega setelah mendapatkan pesan dari putri mereka. Irene mengusap air matanya, lalu kembali memeluk Edo.
__ADS_1
"Tidak terjadi apa-apa pada putri kita. Sekarang, Ayo tidur!"
"Hmm." Irene mengangguk lalu bergegas menuju ranjang bersama suaminya.