
Asya duduk di sofa sambil memeluk Darren dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Sudah dua hari setelah pertemuan mereka dengan Elisa, dan Darren terus mengurung dirinya di kamar hotel. Lelaki itu seperti tidak pernah puas dengan dirinya.
"Sayang,"
"Hmm?" Darren menunduk, lalu mengecup puncak kepala Asya.
"Kita kok di kamar terus?"
"Kenapa?"
"Aku mau jalan-jalan. Atau, kita ke apartemen tente lagi."
"Aku lebih suka disini."
"Ya jelas kamu lebih suka disini. Kan kamu banyak untungnya. Suka-suka kamu kan mau ngapain aku." Kesal Asya dengan wajah cemberut.
Darren terkekeh pelan. Meskipun ia tidak melihat wajah istrinya, ia yakin Asya sedang cemberut dengan begitu menggemaskan.
"Ya, tentu saja aku suka. Aku bahkan sangat menyukainya."
Jawaban Darren membuat Asya semakin kesal. Lalu dengan beraninya ia menggigit dada Darren yang terutup kaos yang melekat pada tubuh lelaki itu.
"Shhh... Sayang," Darren meringis pelan.
"Aku kesal sama kamu." Asya melepas pelukannya dan duduk tegap dengan tangan yang bersidekap. "Kamu gimana sih? Katanya kita kesini buat ketemu sama tante dan meminta tante pulang. Sudah empat hari, tapi kita ketemu tantenya cuman sekali. Sisanya, kita berduaan terus di kamar ini. Kita seperti sedang liburan atau bulan madu saja."
Darren yang melihatnya pun tersenyum. Tapi, hanya beberapa detik. Setelah itu, ia merubah ekpresi wajahnya menjadi serius.
Darren menunduk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Asya. Tangannya meraih dagu Asya, dan mengarahkan wanita itu untuk menatapnya.
"Kamu menggodaku? Hmm?"
"Aku nggak menggodamu!"
"Menggigit dadaku, jika bukan menggoda, apalagi?"
"Itu bukan menggoda! Itu karena aku sedang ke... Hmmpp."
Darren langsung membungkam bibir Asya dengan ciumannya. Ciumannya begitu lembut. Asya yang awalnya kesal dan berusaha menolak, akhirnya menikmati ciuman itu juga. Ia membalas ciuman suaminya tak kalah lembut.
Darren melepas ciumannya dan menatap mata Asya. "Kita akan keluar, pergi ke mana pun kamu mau. Tapi, setelah kita menyelesaikan ini." Ujar Darren, lalu kembali mencium bibir Asya.
Lelaki itu menggendong Asya dan merebahkan tubuh itu di atas ranjang. Dengan tidak sabarnya ia menindih tubuh sang istri. Darren mulai melancarkan aksinya, mengambil haknya sebagai suami, dan lagi-lagi dengan harapan usahanya tidak akan sia-sia.
***
Darren dan Asya kembali menemui Elisa. Pintu apartemen sudah di ketuk, namun belum ada yang membukanya. Saat tangan Darren hendak mengetuknya lagi, terdengar suara Elisa yang berjalan ke arah mereka.
"Darren? Asya?"
__ADS_1
"Tante." Asya dan Darren berucap bersamaan.
Asya segera mendekati wanita itu dan meraih belanjaan yang dibawa Elisa. "Biar aku yang bawakan."
"Tidak apa-apa. Biar tante saja."
"Tante, apa tante manganggapku sebagai putri tante?"
"Tentu saja."
"Jadi, biarkan aku yang membawanya, okey?"
Elisa tersenyum. Ia tidak bisa menolak lagi. Gadis ini, dimana Darren menemukan gadis seperti ini. Dia cantik, manis dan baik. Elisa langsung menyukainya sejak pertemuan pertama mereka.
Elisa memberikan belanjaannya pada Asya, lalu bergegas membuka pintu.
"Oh ya, tante belanja banyak. Apa tante tahu, kami akan menemui tante hari ini?" Tanya Asya sambil berjalan ke dapur bersama Elisa. Sementara Darren, lelaki itu duduk di ruang tamu.
"Firasat tante mengatakan, akan ada tamu hari ini. Tante harus berbelanja untuk menjamu mereka. Dan ternyata benar, kalian datang hari ini. Tante juga berbelanja untuk persiapan menyambut suami tante."
"Suami?"
"Iya."
"Tante sudah menikah?"
"Iya, sayang." Jawab Elisa. Tangannya bergerak mengeluarkan barang belanjaannya dari kantong. Asya juga membantu dan menatanya di kulkas.
"Dia ada pekerjaan di luar kota."
"Waah... Aku nggak sabar bertemu dengannya. Jam berapa paman tiba?"
Elisa menatap jam yang menempel di dinding. "Setengah jam lagi, dia sampai."
"Sebentar lagi. Ayo, tante mau masak apa? Asya mau bantuin."
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa dong. Kan Asya sama suami Asya juga numpang makan disini nanti, hehehe..." Ucap Asya dengan kekehan kecilnya. Membuat Elisa juga ikut terkekeh oleh ucapan gadis itu. Keduanya lalu memasak bersama.
Sejak tadi, Darren duduk sendiri ditemani segelas minuman, sambil terus berbalas dengan Jiyo dan Darrel. Kedua lelaki itu terus bertanya padanya. Baik itu soal pekerjaan maupun soal dirinya dan Asya. Lebih banyak pertanyaan tentangnya dan Asya.
Ketika sedang fokus pada ponselnya, pintu apartemen tersebut kembali diketuk. Bel juga dibunyikan. Karena Asya dan tantenya sedang sibuk di dapur, Darren yang membuka pintu.
Klak...
Pandangan Darren dan juga orang yang mengetuk pintu saling bertatapan. Darren menatap dengan sorot tajam tak suka. Sementara orang itu, dia menatap Darren dengan tatapan terkejut.
"Ada urusan apa kau kesini?" Tanya Darren, dengan nada tak suka.
__ADS_1
"Sayang. Syukurlah kamu sudah sampai." Elisa datang dan langsung memeluk orang tersebut, yang tak lain adalah suaminya, Rendra.
"Sayang?" Darren bergumam kecil. Dan dengan kesadaran penuh, ia menarik tangan tantenya menjauh dari lelaki itu.
"Jangan mendekatinya, tante!" Ucapnya.
"Darren, ada apa?"
"Jangan berhubungan dengannya tante! Dia lelaki brengsek! Dia menyakiti Ibuku. Dia menghina Ibuku dengan mulutnya. Jangan sampai dia menghina tante lebih buruk dari yang ia ucapkan pada Ibuku."
"Nak..."
"Apa yang ingin kamu katakan? Hah?" Darren memotong ucapan Rendra. "Walaupun saat itu aku masih kecil, wajahmu terekam jelas di ingatanku. Ibuku terluka dengan semua ucapanmu!"
Asya dan Elisa terdiam mendengarnya. Elisa juga sangat terkejut mendengar kenyataan bahwa Rendra menghina Alula. Ia tahu betul, bagaimana perasaan Rendra pada Alula dulu.
"Darren. Suami tante tidak mungkin melakukan itu."
"Suami?" Ulang Darren. "Tinggalkan dia, tante!" Ucapan Darren yang tiba-tiba sontak membuat Elisa, Asya maupun Rendra terkejut.
"Sayang," Asya meraih tangan Darren.
"Nak, aku tahu aku salah. Saat itu aku memang menghina Ibumu. Aku memang sengaja melakukannya. Aku ingin Ibumu membenciku sedalam mungkin. Aku ingin Ayahmu membalasnya padaku. Hanya itu caraku agar bisa merasakan sakitnya Ibumu karena perbuatanku. Aku ingin merasakan semua kesalahanku. Maafkan aku."
"Tante dengar? Dia melakukan semuanya. Tante, tinggalkan dia!"
"Darren,"
"Sayang! Apa yang kamu katakan?" Asya melepas genggaman tangannya dari Elisa, dan melangkah lebih dekat pada suaminya. "Lihat aku! Dengarkan aku!" Ucapnya.
"Apa yang kamu katakan? Kamu menyakiti tante sekarang. Kamu ingin memisahkan dua orang yang saling mencintai?"
"Asya, kamu nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya."
"Aku memang nggak tahu apa yang terjadi pada masa lalu. Tapi, kenapa kamu menjadi egois seperti ini? Tante nggak melarangmu menikahi wanita yang kamu cintai. Tapi sekarang, kamu memintanya menjauh dari suami yang ia cintai? Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?"
Asya mendekat lagi. Ia kemudian menangkup wajah Darren. "Dengarkan aku! Kita masih bisa membicarakan ini dengan baik. Bukankah kita ingin hubungan tante dan keluarga kita kembali terjalin? Jika begini, kita hanya membuat hubungan kita semakin renggang."
"Sayang, pikirkan semuanya dengan baik. Jangan gegabah. Aku yakin, jika Ibu disini, dia akan mengatakan hal yang sama. Tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja. Paman nggak akan mungkin melukai tante, orang yang ia cintai."
Darren terdiam mendengar setiap perkataan istrinya. Ia lalu menarik nafasnya. "Baiklah. Mari kita bicarakan ini." Ucap Darren. Ia lalu merangkul pinggang istrinya dan membawanya masuk.
Elisa menatap punggung Darren yang berjalan bersama Asya. Anak itu benar-benar mirip Gara. Pembelaan Darren dan kekhawatiran yang terlihat di mata anak itu, membuat Elisa merasakan kehangatan. Ponakan yang dibencinya dulu, kini berdiri membelanya, dan mengkhawatirkan kehidupannya.
Alula. Kamu benar-benar berhasil dalam mendidik putramu. Batin Elisa.
Tangan Rendra yang melingkar di pinggangnya, membuat Elisa mendongak menatapnya. Lelaki itu mengecup keningnya sedikit lama.
"Aku mencintaimu. Maaf jika aku menjadi lelaki brengsek. Tapi, aku akan berusaha membuat keluargamu merestui kita."
__ADS_1
"Aku percaya pada keluargaku. Untuk Darren, dia memang mewarisi sifat keras Gara. Tapi, ada darah Alula juga yang mengalir dalam dirinya. Aku yakin, dia akan luluh jika kamu berusaha."
"Aku akan berusaha." Ucap Rendra. Keduanya lalu menghampiri Darren dan Asya yang berada di ruang tamu.