Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Ban 109


__ADS_3

Lima menit berlalu, tapi tidak satupun diantara mereka berempat yang bersuara. Darren terdiam, masih dengan wajah dinginnya. Rendra juga terdiam dengan mata yang terus mengamati Darren.


"Aku minta maaf." Ucap Rendra. Darren masih tetap diam. Tangannya yang tadinya digenggam Asya, kini berbalik. Ia yang menggenggam tangan Asya, berusaha untuk mengendalikan rasa marahnya.


"Seperti yang ku katakan tadi. Aku hanya ingin merasakan bagaiamana sakitnya dibenci oleh Ibumu. Aku ingin merasakan penderitaan Alula yang ku sebabkan. Aku merasa lega saat merasakan sakit hati dan fisik. Aku merasa pantas dihajar habis-habisan oleh Ayahmu. Kamu bisa menanyakan kebenarannya pada kepala pengawal Ayahmu. Dia yang membawaku ke rumah sakit setelah aku dipukul Ayahmu."


"Kamu benar. Aku memang seorang laki-laki brengsek. Tapi, aku mencintai tantemu dengan tulus. Jika kamu memintanya meninggalkanku, aku akan menahannya di sisiku. Jika kamu memintaku meninggalkannya, maaf. Aku tidak bisa melakukannya. Dia hidupku. Bagaiamana aku bisa hidup jika aku sendiri meninggalakan hidupku?"


Dia memang keluargaku. Tapi, kamu hidupku. Bagaimana aku bisa hidup jika aku meninggalkan mu?


Darren teringat kembali ucapannya beberapa hari lalu pada istrinya. Ia merasakan ketulusan dalam ucapan itu. Saat ia menatap mata Rendra, ia menemukan kejujuran disana. Lelaki itu benar-benar mencintai tantenya.


"Kamu menikahi tanteku tanpa restu dari keluarga kami. Bagaimana jika aku memintamu menemui keluargaku, dan meminta tanteku secara resmi pada Kakek Nenek? Bagaimana jika aku memintamu meminta maaf secara langsung pada Ibuku?"


Rendra terdiam. Asya dan Elisa merasa deg-degan menanti jawaban Rendra. Keduanya saling menatap, lalu beralih menatap Rendra.


"Baiklah. Aku akan meminta restu pada Kakek dan Nenek mu, lalu meminta maaf pada Ibumu." Jawab Rendra, yang langsung membuat Asya dan Elisa tersenyum.


Asya mengangkat tangan Darren yang menggenggam tangannya, lalu mengecupnya. "Terima kasih, sayang." Ucapnya. Darren tersenyum tipis, lalu balas mengecup tangan istrinya.


"Sama-sama, sayang. Tapi, kenapa kamu terlihat sangat senang?"


"Ya, tentu saja aku senang. Kita bisa pulang bareng tante sama paman." Ucapnya.


Asya menatap wajah Darren, lalu menatap Rendra dan Elisa. Pasangan suami istri itu terlihat tidak bereaksi apa-apa. Kedunya hanya diam tanpa ekspresi apapun di wajah mereka. Senyum yang mengembang di bibir Asya perlahan pudar. Ia menundukan kepalanya.


"Maaf. Asya nggak bermaksud memaksa tante dan paman. Jika tante dan paman nggak ingin kembali bersama kami, nggak masalah." Ujar wanita itu.


"Siapa bilang?" Suara Rendra membuat Asya mendongak. "Paman dan tante akan pulang bersama kalian."


"Iya. Kamu jangan khawatir ya, nak. Kita akan pulang bersama. Tapi, tante mau minta sesuatu sama kalian."


"Apa?" Jawab Asya cepat. Ia begitu semangat. Darren sampai menggeleng-geleng melihat tingkah istrinya.


"Bisakah kalian menginap disini malam ini?" Ucap Elisa. Ia lalu menatap Darren. "Darren? Tante ingin lebih dekat dengan istrimu. Menginap disini ya, malam ini?"


Asya menatap suaminya. Ia bergeser lebih dekat pada Darren. Ia memeluk lengan suaminya itu.


"Sayang. Boleh, ya?" Darren menggeleng. "Sayaaaang." Wanita itu merengek, membuat Darren gemas. Sementara Elisa dan Rendra terkekeh pelan.


"Iya, iya. Kita nginap disini malam ini."


"Terima kasih, sayang."


"Hmm..." Gumamnya. Asya terlihat begitu menggemaskan. Jika saja tidak ada sang tante dan suaminya, sudah pasti ia tidak akan menahan diri untuk memcium Asya.

__ADS_1


"Ya, sudah. Pembicaraan kita udah selesaikan? Ayo, kita makan dulu!"


"Ayo." Balas Asya. "Ayo, sayang! Aku sama tante masak makanan enak. Kamu pasti suka."


"Aku selalu suka apa yang kamu masak."


"Apaan sih?"


"Beneran."


"Iya-iya. Terserah kamu." Balas Asya, lalu terkekeh pelan.


Elisa dan Rendra yang melihatnya pun ikut terkekeh. Seperti ini rasanya punya anak. Sayangnya, mereka tidak bisa memilikinya. Tapi, mereka tetap bersyukur karena Tuhan masih mengizinkan mereka bersama.


***


Malam menjelang. Malam ini, mereka menginap di apartemen Elisa. Darren sudah sejam berada di kamar. Tapi Asya, wanita itu belum juga kembali. Dia sedang berbincang dengan Elisa. Sudah Memakan waktu tiga jam mereka berbincang. Namun, belum ada tanda-tanda Asya kembali.


"Bicara apaan mereka? Sampai jam segini, Asya belum juga ke kamar."


"Apa aku panggil saja? Iya, aku panggil saja." Darren bergegas untuk memanggil Asya. Saat tangannya hendak meraih gagang pintu, pintu terbuka. Asya muncul sambil tersenyum manis.


Deg...


Jantung Darren berdetak cepat. Asya begitu cantik. Gaun tidur milik Elisa yang melekat di tubuh Asya terlihat sangat cocok.


"Sayang, kenapa memelukku begitu erat?"


"Kamu menemui tante dengan gaun tidur ini?"


"Iya."


"Apa paman melihatmu?"


"Enggak. Paman sudah tertidur. Dia lelah."


"Huuhh... Syukurlah. Lain kali, jangan gunakan pakaian seperti ini, kecuali di kamar."


"Kenapa?"


"Kamu terlihat menggoda." Bisik Darren, membuat Asya merasa merinding.


"I-itu, kamu saja yang mesum!"


"Bagian dada baju itu terbuka. Aku bisa melihatnya meski sedikit. Dan itu, membuatku ingin..."

__ADS_1


"Darren!" Asya balas memeluknya dengan erat. "Jangan lanjutkan! Aku malu."


"Malu? Kenapa malu? Bukankah kita sering..."


Cup...


Asya berjinjit dan mengecup bibir suaminya. Ia lalu menangkup kedua pipi Darren. "Aku milikmu." Ujarnya, lalu kembali mencium bibir Darren.


Darren cukup terkejut dengan sikap istrinya. Tapi, tidak bisa ia pungkiri, ia bahagia Asya memulainya lebih dulu. Dan dengan senang hati Darren membalasnya.


Ia menggendong Asya menuju ranjang. Menikmati malam indah mereka dengan ketulusan dan kelembutan.


***


Darren, Asya, Elisa dan Rendra sudah berada di ruang makan. Asya kini mengenakan baju yang begitu tertutup. Berbeda dengan yang dirinya kenakan semalam. Darren sendiri yang meminta baju itu pada Elisa.


"Kalian akan kembali ke hotel pagi ini?" Elisa memulai pembicaraan.


"Iya. Sehari sebelum pulang, kami akan kembali." Jawab Darren.


"Kapan pulangnya? Paman akan memesan tiket untuk kita."


"Anak buahku yang akan mengurus tiketnya."


Rendra hanya mengangguk menanggapi perkataan Darren. Meski Darren masih cukup dingin padanya, ia tidak masalah. Yang terpenting, Darren tidak memintanya meninggalkan Elisa.


"Sebelum kalian ke hotel, boleh kah tante ajak istrimu shopping?"


"Boleh tante." Asya menjawab dengan cepat pertanyaan yang ditujukan untuk Darren itu.


"Sayang, bolehkan?"


"Boleh."


Asya tersenyum pada Elisa. Keduanya akan membeli banyak hal sebagai buah tangan saat kembali nanti. Sudah tersusun rapih dalam otaknya, daftar barang yang ingin dia beli nanti.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka dan membersihkan piring dan meja makan, Asya dan Elisa bersiap-siap.


"Asya, sayang. Ayo!"


"Iya, tan." Wanita itu segera menghampiri tantenya. Namun, kening keduanya langsung mengerut melihat Darren dan Rendra berdiri menanti mereka.


"Kalian mau kemana?"


"Aku ikut ke mall." Jawab dua lelaki itu, bersamaan.

__ADS_1


Asya dan Elisa sama-sama memutar bola mata. Rencananya, mereka akan bersenang-senang tanpa memikirkan suami mereka. Namun, siapa sangka kedua lelaki itu juga ikut pergi? Tapi, tidak masalah. Mereka bisa memanfaatkan Darren dan Rendra untuk membawa belanjaan mereka. Dan mereka bisa bebas tanpa harus menenteng barang belanjaan kemana-mana.


__ADS_2