Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 20


__ADS_3

Di Yunanda Group, Naomi dengan angkuhnya hendak memasuki lift khusus CEO. Gadis itu begitu sombong dan selalu membawa nama Edo saat beberapa karyawan tidak menurutinya. Dia juga mengancam agar mereka membungkam mulut mereka atas apa yang dia lakukan.


"Maaf, nona. Anda tidak boleh masuk ke lift khusus CEO." Ujar seorang karyawan, saat Naomi hendak memasuki lift khusus untuk Asya.


Wajahnya langsung muram saat di berhentikan karyawan tersebut. Ia berbalik menatapnya dengan tatapan nyalang.


"Coba ulangi perkataanmu?! Kau pikir kau ini siapa melarangku? Aku bisa meminta Asya memecatmu sekarang juga."


"Tapi, nona. Nona muda Asya..."


"Sudahlah! Urus saja pekerjaanmu!" Sergah Naomi dan langsung memasuki lift.


Tak lama, lift itu berhenti di lantai dimana ruangan Asya berada. Naomi segera berjalan ke arah ruangan Asya. Namun, suara seseorang menghentikannya.


"Maaf, nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak! Urus saja pekerjaanmu! Aku mau bertemu Asya!" Ucap Naomi, menunjukkan keangkuhannya.


Perempuan yang usianya sedikit lebih tua dari Naomi itu tetap saja menahannya. "Maaf nona, nona muda Asya sedang tidak di ruangannya."


Naomi mengerutkan keningnya. "Jangan membohongiku!"


"Tidak. Saya tidak berbohong, nona. Nona muda sedang bertemu klien."


"Dimana?"


"Di Grisam Group."


"Ya, sudah!" Naomi meninggalkan wanita itu begitu saja. Ia bergegas ke parkiran setelah keluar dari lift. Dengan bantuan Google Maps, Naomi tiba di Grisam Group. Sebelum dia turun dari mobilnya, dia mencaritahu tentang Grisam Group.


"Grisam Group, perusahaan terkenal yang saat ini dipimpin oleh seorang CEO bernama Darren Alvaro Grisam." Naomi membaca yang tertulis di layar handphonenya.


"Darren Alvaro Grisam? Apakah dia Darren?" Gumam Naomi. Dia terus mencoba mencari tahu sesuatu yang lebih spesifik dari Darren si pemimpin Grisam Group itu. Namun, nihil. Yang ia temukan hanyalah tulisan yang menjelaskan Darren sebagai pemimpin Grisam Group. Biodata maupun fotonya tidak terlihat.


Naomi menarik nafasnya. "Sudahlah! Aku akan mengetahuinya segera dari Asya."


Naomi turun dari mobil dan segera menuju meja resepsionis.


"Ada yang bisa kami bantu, nona?"


"Ya. Saya mau bertemu Darren Alvaro Grisam."


"Apakah anda sudah membuat janji, nona?"


"Huh, apa harus membuat janji dulu?" Sinis Naomi. Kedua karyawan resepsionis itu tidak merespon sifat sombongnya. Mereka terus memasang wajah ramah.


"Inilah peraturannya, nona. Setiap yang ingin bertemu, harus membuat janji dengan Tuan."


"Ck. Ribet. Beritahu saya, dimana ruangan tuan Darren. Saya dari Yunanda Group dan ingin menemui saudara saya, Asya." Ujar Naomi, sombong.


Dalam hatinya ia menahan mual saat mengatakan Asya saudaranya. Dia benar-benar tidak sudi menganggap Asya saudaranya. Bahkan menganggap Asya sebagai sahabatnya dia enggan. Tapi, demi kehidupan enaknya, dan bisa bertemu tuan Darren, CEO Grisam Group, Naomi rela berpura-pura. Dia ingin memastikan jika itu Darren yang ia kenal atau bukan. Karena yang ia tahu, nama Darren hanyalah Darren Alvaro.


Kedua karyawan tersebut saling memandang. "Maaf, nona. Kami tidak bisa memberitahu anda."


Emosi Naomi naik. "Kalian hanya karyawan tak berguna! Kenapa kalian berlagak seperti pemilik perusahaan?!" Bentak Naomi.


"Maaf, nona. Kami tetap tidak bisa."


"Kalian!!"


Tepat saat itu pintu lift khusus CEO terbuka. Darren, Jiyo dan Asya berjalan keluar. Asya berada di tengah-tengah kedua laki-laki itu.


Para karyawan yang berlalu lalang kembali dibuat tercengang. Ini kali pertama mereka melihat tatapan lembut Darren pada seorang perempuan selain pada adiknya waktu itu. Tatapan lembutnya terus terpaku pada Asya yang masih berbicara. Mereka juga tercengang melihat interaksi Jiyo yang cukup santai. Semua tahu, jika Jiyo adalah sahabat Darren. Tapi, mereka tidak tahu apa hubungan gadis itu dengan kedua orang penting Grisam Group tersebut. Sepertinya kedatangan Asya sedikit merubah kebiasaan Darren dan Jiyo di perusahaan.


Naomi yang melihat mereka berjalan bersama tercengang. Jadi, Darren benar-benar CEO di perusahaan besar itu. Matanya kembali berbinar, dan tekadnya untuk mendapatkan Darren semakin kuat. Ia lalu memandang Asya yang terlihat begitu bahagia berada di antara Darren dan seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Sorot matanya langsung berubah tak suka.


Dasar gadis penggoda! Ingin menggoda dua laki-laki sekaligus? Cih. Dasar murahan. Maki Naomi dalam hati.


Asya yang tak sengaja mengalihkan pandangannya ke depan langsung mendapati Naomi di meja resepsionis. Ia menghentikan ucapannya dan malah menggumamkan nama Naomi.

__ADS_1


"Naomi?"


Ucapannya membuat Darren dan Jiyo mengalihkan tatapan mereka. Wajah Darren langsung berubah dingin. Dan Jiyo, ia memicingkan matanya.


Jadi, gadis itu yang bernama Naomi? Sungguh malang dirinya jika masih mau bersama Darren. Batin Jiyo.


Jiyo lalu menatap wajah Darren. Sedikit senyum tersungging di bibirnya.


Kau harus berusaha ekstra. Tapi, aku tidak yakin kau berhasil. Tuanku hanya tunduk pada Asya. Lanjut Jiyo dalam hati.


Asya melangkah menuju Naomi, di ikuti Darren dan Jiyo.


"Naomi? Kenapa kamu disini?" Tanya Asya, lembut.


"A-aku ingin mengajakmu makan siang. Tadi mencarimu di perusahaan, sekretarismu bilang kamu disini. Jadi, aku berusaha menunggumu disini." Ujarnya berbohong. Ia sedikit melirik dua karyawan tersebut. Takut jika mereka mengatakan perbuatannya tadi.


"Kamu begitu repot-repot." Balas Asya.


"Nggak masalah." Balasnya. Ia lalu menatap Darren. "Kenapa Darren juga ada disini?" Masih berusaha memastikan.


Asya tersenyum padanya. "Dia CEO perusahaan ini. Oh ya, ini Jiyo sekretaris Darren, dia sahabatku." Ucap Asya.


Naomi sedikit meneguk ludahnya. Ia ingat tentang ucapannya pada Gara waktu di Jane cafe. Ternyata dia salah karena mencoba memperburuk hubungan Darren Asya menggunkan nama Jiyo.


Jiyo mengulurkan tangannya. Memperkenalkan diri pada Naomi.


"Jiyo."


"Naomi." Ujarnya, lalu melepaskan tangannya. "Oh ya, Asya. Ayo, kita makan siang."


"Makan siang? Kita juga mau makan siang. Ayo, gabung aja." Ujar Asya. Gadis itu lalu menoleh pada Darren. "Bolehkan, Ren? Yo?" Asya meminta persetujuan.


"Aku boleh." Ujar Jiyo. Dia ingin melihat bagaimana usaha Naomi dan bagaimana reaksi Darren.


Sementara Darren, lelaki itu masih terdiam. Melihat wajah penuh harap Asya membuatnya tidak tega menolak permintaan gadis itu.


"Darren,"


"Hmm..."


"Hmm..." Hanya deheman yang terdengar. Namun, mampu membuat senyum mengembang di wajah Asya.


"Terima kasih. Kalau begitu, ayo kita pergi." Asya segera meraih tangan Naomi dan berjalan terlebih dahulu. Membiarkan Darren dan Jiyo mengikuti mereka.


Setelah kepergian mereka, karyawan-karyawan yang melihat kejadian itu saling melempar pandang dengan tatapan tak percaya. CEO mereka yang dingin dan kejam bisa memiliki sikap lembut pada gadis lain selain nona muda dari keluarga Grisam. Bahkan dehemannya terdengar lembut.


***


Darren, Jiyo, Asya dan Naomi keluar dari mobil masing-masing saat tiba di sebuah restoran. Saat sudah memilih tempat duduk, Asya menarik kursi yang berada tepat di samping Darren. Mereka pikir, Asya yang akan mendudukinya. Namun, siapa sangka jika dia melakukan itu untuk Naomi.


"Ayo, duduk Naomi." Perintah Asya.


Naomi dengan senang hati menurutinya. "Terima kasih." Ucapnya sambil tersenyum.


Wajah Darren berubah sangat dingin atas apa yang Asya lakukan. Jiyo yang juga duduk si samping Darren menahan nafasnya. Terlebih lagi saat Asya menolak tawarannya untuk duduk di tempatnya. Gadis itu malah memilih duduk diantara dia dan Naomi.


Asya dengan semangat meraih buku menu dan milihatnya.


"Kalian mau pesan apa?" Tanya Asya dengan pandangan yang fokus pada buku menu.


Naomi dengan semangat menyebutkan makanan yang ingin dia makan. Dia lalu menoleh pada Darren.


"Darren, apa yang mau kamu pesan?" Tanya Naomi.


Darren tak menjawabnya. Raut wajahnya masih sangat dingin. Asya yang menatapnya saat mendengar Naomi bertanya tadi pun berubah tegang. Saat ini, Darren tengah menatapnya dengan wajah dingin.


Jiyo yang melihatnya merasa tidak nyaman. Dia menggaruk tengkuknya dan berusaha mencari cara untuk memecahkan suasana yang tidak baik ini.


Matanya berbinar saat melihat seorang pelayan. Mungkin dengan memanggil pelayan untuk memesan makanan bisa meredakan suasana aneh ini.

__ADS_1


"Pelayan!" Panggil Jiyo.


Wanita itu menoleh dan berjalan cepat ke arah Jiyo.


"Ya, tuan."


"Kami mau memesan makanan. Aku mau yang ini dan yang ini. Minumnya ini." Ujar Jiyo pada wanita itu. "Ayo, kalian pesan makanan kalian."


Asya dan Naomi segera menyabutkan makanan yang mereka inginkan.


"Tuan, anda ingin memesan apa?" Tanya pelayan tersebut pada Darren. Namun, Darren tak menjawabnya.


"Bawakan saja yang sama denganku." Ucap Jiyo.


Pelayan tersebut mengangguk dan segera pergi dari tempat itu. Suasana di meja tersebut menjadi hening. Namun, tiba-tiba terdengar suara Naomi.


"Bagaimana pekerjaanmu di kantor, Darren? Pasti kamu sangat kelelahan mengurus..."


"Diamlah!" Darren langsung memotong ucapan Naomi dengan suaranya yang begitu dingin. Membuat Naomi terkesiap dan meneguk ludahnya kasar.


Asya yang melihatnya, menunduk. Berkali-kali ia mencoba mendekatkan Darren dan Naomi, ini adalah kali pertama ia melihat Darren sedingin dan semarah itu.


"A-aku akan ke toilet." Pamit Asya dan langsung bergegas menuju toilet. Ia ingin menghindari Darren sejenak.


Asya memasuki toilet dan berdiri di depan wastafel sambil menatap cermin yang ada di depannya. Kemudian ia menunduk.


"Maafkan aku, Darren. Aku tidak bermaksud membuatmu marah." Gumam Asya.


"Lalu, apa maksudmu?" Asya langsung menoleh saat mendengar pertanyaan bernada dingin itu dilontarkan untuknya.


"Darren?" Gumamnya pelan. "Darren, apa yang kamu..." Sebelum semua ucapan Asya selesai, Darren menariknya hingga tubuh mereka berdua begitu dekat.


"Da-Darren," Gugup Asya, tak berani menatap sorot tajam mata Darren.


"Ayo, katakan! Kenapa kamu melakukan ini?"


"Darren, maafkan aku." Ucap Asya, pelan.


"Aku selalu memaafkan mu. Tapi, yang kamu lakukan sudah melewati batas."


"Darren..."


"Kenapa kamu terus mendorong gadis itu padaku? Hah? Katakan padaku!" Suara Darren sedikit meninggi.


Asya yang mendengarnya tak bisa menahan air matanya. Selama dirinya bersama Darren, lelaki itu tidak pernah membentak ataupun meninggikan suaranya. Ini adalah kali pertama Darren meninggikan suaranya.


Air mata Asya jatuh membasahi pipinya. Gadis itu langsung memeluk Darren. "Maafkan aku. Maafkan aku, Darren."


Darren menarik nafasnya. Dia tidak bisa melihat Asya seperti ini. Tangannya terulur membalas pelukan Asya.


"Sudahlah. Jangan menagis lagi." Ucap Darren, lembut. Asya mengangguk pelan, meskipun dirinya masih sesenggukkan.


"Ingat! Ini adalah kali terakhir kamu melakukan ini. Jika ada lagi, aku tidak bisa menjamin keselamatan gadis itu." Ucap Darren lembut, namun terdengar begitu tegas.


Asya mengangguk. Ia berjanji, ia tidak akan melakukannya lagi. Ia tidak ingin melihat kemarahan Darren lagi, dan tidak ingin keselamatan Naomi terancam.


Saat mereka sedang berpelukan, tiba-tiba pintu toilet terbuka.


"Astagaaa... Apa yang kalian lakukan? Kenapa laki-laki ada di toilet wanita?" Teriak seorang wanita.


Suara berisik wanita itu membuat Darren melirik tajam ke arahnya.


"Istri saya sedang hamil. Jadi, saya menemaninya kemari." Ujar Darren, dengan tampang datarnya.


Wajah Asya memerah mendengar pengakuan Darren. Sementara wanita itu, ia terkejut. Wajahnya juga memerah malu.


"Ma-maafkan, saya. Tapi, lain kali berdirilah di luar. Perempuan selalu malu saat laki-laki berada di toilet wanita." Ucapnya, gugup.


Darren tak menanggapinya. Dia malah mengajak Asya keluar. "Ayo, keluar!" Ucap Darren pada Asya dengan suara lembutnya.

__ADS_1


Ya Tuhan, dia sangat perhatian pada istrinya. Dan lagi... Dia sangat tampan. Aaaa... Kapan aku memiliki suami setampan dan seperhatian sepertinya. Batin wanita itu, lalu masuk ke salah satu bilik toilet.


__ADS_2