Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 69


__ADS_3

Jiyo duduk di ruangannya dengan wajah murung. Sudah empat hari dia tidak menghubungi Nita. Asya memarahinya karena mengganggu Nita dan mengambil nomor ponsel Nita tanpa sepengetahuan nya. Apalagi Darren juga turut membela Asya. Sulit sudah dia untuk mendekati Nita.


"Ekhm..." Deheman Darrel diabaikan Jiyo begitu saja.


"Kenapa kau?"


"Jangan mengganggu ku, Darrel!"


"Waaahh, tumben kau memanggil ku Darrel saja di jam kerja. Kenapa? Kau kesal dengan seseorang?"


"Darren sama Asya melarangku menghubungi Nita di luar jam kerja."


"Ooh, ku pikir apa. Tapi, apa hubungannya dengan ekspresi wajahmu itu?"


"Ck. Kau banyak tanya, Darrel."


"Ck. Ya sudah kalau kau nggak mau bercerita. Aku rasa, aku bisa membantumu. Tapi, sudahlah. Kau nggak mau." Ujar Darrel, kemudian bergegas pergi.


"Eh, tunggu!" Jiyo menahannya, membuat Darrel menoleh.


"Kenapa?"


"Kau sungguh bisa membantuku?"


"Kalau kau mau."


"Baiklah. Aku mau."


"Kalian sedang apa?" Suara seorang wanita membuat Darrel dan Jiyo menoleh. Darrel tersenyum sementara Jiyo merengut.


"Asya. Sejak kapan kamu disini?"


"Baru saja." Jawabnya. Gadis itu lalu menatap Jiyo. "Kamu kenapa, Jiyo?"


"Jangan bertanya padaku. Kamu dan pria posesif itu membuatku kesal seperti ini."


"Kamu marah?"


"Tentu saja. Aku benar-benar nggak menghubungi Nita sekalipun. Jika tidak, Darren akan mengirimku jauh."


Pfttt... Jadi, dia benar-benar menurut. Batin Asya.


"Kenapa kamu tersenyum? Kamu menertawakanku?"


"Siapa yang menertawakan mu? Sudahlah, aku mau menemui Darren dulu. Bye." Ujar Asya sambil melaimbaikan tangannya dengan ekpresi mengejek. Membuat Jiyo semakin kesal.


"Ck. Mereka benar-benar serasi. Sama-sama menyebalkan."


Darrel yang masih berada di ruangan tersebut terkekeh dalam hati melihat Jiyo. Baru kali ini dia melihat Jiyo kesal pada Asya karena masalah perempuan. Biasanya lelaki itu kesal karena Asya yang manja. Tapi kali ini beda.


"Sudahlah. Sekarang ku beritahu kamu. Cari waktu dan temui Nita. Minta maaf padanya, dan coba untuk meminta nomornya lagi."


"Aku kan sudah punya."


"Ya nggak apa-apa. Jika dia bertanya, katakan saja kamu sudah menghapusnya saat Asya menegurmu."


"Lalu?"


"Hubungi dia lewat media sosial saja. Simpan saja nomornya. Perbaiki lagi hubunganmu dengan Asya dan Darren, dan minta mereka membantu mu."


"Terus?"


"Lakukan sesuai yang ku katakan."


"Kau yakin ampuh?"


"Yakin. Cari informasinya di Asya. Dia lebih tahu Nita."


"Baiklah. Akan aku coba."


"Bagus. Aku pergi dulu. Semoga berhasil." Darrel menepuk pundak Jiyo lalu keluar dari ruangan tersebut.


Ia menatap pintu ruangan Darren. Tadinya, ia ingin menemui kembarannya itu. Tapi, dia penasaran dengan Jiyo yang murung. Dan sekarang, ada Asya didalam. Jadi, dia mengurungkan niatnya dan kembali ke ruangannya.


Di dalam ruangan Darren, Asya terus menatap lelaki itu yang masih serius bekerja. Matanya sepertinya tidak ingin beralih dari wajah tampan itu.


Darren sangat tampan. Aku sangat mencintai mu, Darren.


"Kenapa terus menatap ku?" Tanya Darren, tanpa mengalihkan tatapannya ke arah Asya.

__ADS_1


"Kamu sangat tampan."


Darren menganggkat wajahnya dan menatap Asya. Senyum tipis terukir di bibirnya.


"Kemari!" Darren menggerak pelan kepalanya, menyuruh Asya mendekat.


"Untuk apa?" Asya masih duduk santai di kursinya.


Tak sabar, Darren memilih untuk beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Asya. Ia membungkukkan badannya dan mengecup kening Asya cukup lama.


"Hadiah untukmu karena sudah memujiku." Ucapnya.


Asya tersenyum dengan pipi yang memerah. Ia menatap mata Darren tanpa rasa takut.


"Apa kamu suka dipuji?"


"Tidak."


"Kenapa memberiku hadiah kalau nggak suka dipuji?"


Darren kembali menundukkan tubuhnya dan mendekatkan mulutnya ke telinga Asya.


"Itu hanya alasan. Sebenarnya, aku ingin mengecup keningmu. Tapi, dipuji gadis cantik, tidak buruk." Ucap Darren, membuat Asya terkekeh. Ia merasa Darren mulai pandai berkata-kata.


"Hehehe... Ternyata, kamu hanya beralasan saja. Dan terima kasih sudah memujiku cantik."


"Hanya ucapan terima kasih?"


"Ya. Apa lagi?"


"Aku mau yang lain."


Asya terdiam sejenak. Ia tersenyum lalu berdiri dan berjinjit. Namun, tingginya masih belum bisa menyamai tinggi Darren.


"Haish... Kamu sangat tinggi. Menunduklah sedikit."


Darren tak banyak bertanya. Ia menurut dan menundukkan tubuhnya sedikit agar bisa sejajar dengan Asya.


Cup.


Gadis itu mengecup kening Darren. Setelah melepaskannya, ia tersenyum bahagia sambil memandang wajah Darren.


Darren hanya tersenyum tipis membalas Asya, dengan hati yang mendesah kecewa karena harapannya berbeda dengan kenyataan.


Kecupan di kening? Ya... Itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Gumamnya dalam hati.


"Darren, kita akan makan siangkan?"


"Ya."


"Dimana?"


"Di cafe Ibu saja."


"Tante ada disana?"


"Tidak."


Ibu tidak akan ke cafe, jika tanpa Ayah. Jika Ayah juga ada disana, maka cafe akan ditutup. Jadi, lebih baik Ibu di rumah. Batin Darren.


"Yaaahhh... Ku pikir tante ada disana. Sudahlah nggak apa-apa. Ayo!"


"Ayo!" Sepasang kekasih itu berjalan keluar dari ruangan tersebut sambil bergandengan. Keduanya tak sengaja bertemu Jiyo di depan ruangan. Namun, lelaki itu membuang muka, masih merasa kesal dengan dua orang itu.


Asya terkekeh pelan, sementara Darren hanya bersikap biasa saja. Sikap Jiyo sangat lucu. Tapi, mereka menyadari sesuatu dari sikap lelaki itu. Dia benar-benar suka pada Nita.


***


Asya merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Darren bersikap sangat manis padanya. Membuatnya tak berhenti tersenyum.


Tok... Tok... Tok...


"Asya... Apa aku boleh masuk? Aku mau minta tolong padamu." Suara Naomi terdengar di luar kamar.


Asya terbangun. "Masuklah Naomi! Pintunya nggak aku kunci."


Gadis itu mendorong pelan pintu kamar Asya. Ia masuk dan langsung duduk di sisi ranjang Asya.


"Kamu... Mau pergi kemana?" Asya menatap Naomi yang sudah rapih dan berdandan cantik.

__ADS_1


"Eemm.. Aku diajak bertemu oleh Hendra. Aku mau meminta tolong padamu untuk menemaniku. Kamu mau kan?"


"Apa kamu dan Kak Hendra benar-benar punya hubungan?"


Naomi menundukkan wajahnya, lalu mengangguk pelan. "Kami pacaran sekarang."


"Waah... Selamat ya? Aku turut bahagia." Asya memeluk Naomi.


"Sama-sama." Balas Naomi. "Tapi, kamu mau kan temani aku ketemu Hendra."


"Aku... mau. Tapi... Apa Kak Hendra nggak marah kalau aku ikut? Jangan sampai kayak waktu itu."


"Enggak akan. Ya ya? Temani aku ya?"


"Baiklah. Aku ganti baju dulu."


"Makasih, Asya."


"Iya."


Naomi dengan semangat keluar dari kamar Asya. Senyum licik terukir di wajahnya.


Sementara di dalam kamar, Asya mengganti bajunya, kemudian mengirimkan pesan pada Papanya. Saat pulang tadi, kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Menurut pelayan rumah mereka, pasangan suami istri itu sedang berkunjung ke rumah Gara dan Alula.


Asya


Papa, aku minta izin


temani Naomi bertemu Hendra.


Setelah mengirimkan pesan tersebut, Asya meraih tasnya dan menemui Naomi yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Ayo!" Ajak Asya


"Ayo!" Balas Naomi.


Keduanya bergegas menuju garasi dan mengendarai mobil keluar. Naomi yang berada di kursi samping pengemudi terus melirik Asya yang sedang menyetir.


"Kak Hendra ajak ketemuan dimana?" Tanya Asya dengan pandangan fokus pada jalanan.


"Di club xx."


"Hah? Ngapain disana?"


"Nggak tahu."


"Suruh Kak Hendra ketemuannya di cafe atau restoran saja. Di club, aku rasa nggak baik."


"Nggak apa-apa. Kata Hendra ketemu nya di ruang privat. Nggak ada banyak orang. Hanya kita."


"Ya udah."


Asya tetap melajukan mobilnya ke club. Setelah beberapa saat, mereka tiba di sana. Satu langkah mereka masuk, terdengar dentuman musik yang memekakan telinga. Asya merasa tak nyaman. Tapi Naomi terus menarik tangannya hingga tiba di sebuah ruangan.


"Naomi." Hendra menyapa dan langsung menghampiri kedunya. Ia tersenyum pada Naomi lalu pada Asya.


"Hai!" Sapa Naomi, tersenyum manis pada Hendra.


"Hai, Kak!" Sapa Asya.


Lelaki itu membalas keduanya dengan tersenyum. Dia lalu mengajak Asya dan Naomi duduk.


"Yang ku katakan benar kan? Nggak ada orang lain di ruangan ini selain kita." Asya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Naomi.


Hendra dan Naomi saling mengobrol. Asya juga sesekali menimpali. Seorang pelayan datang membawa minuman untuk mereka.


"Aku sudah memesannya tadi. Ayo, dimunum dulu."


Naomi meraih minumannya, begitupun Hendra. Asya juga meraih minumannya, tapi ia ragu meminumnya. Dia tidak pernah menyentuh minuman beralkohol, hingga ia tidak tahu seperti apa minuman beralkohol tersebut.


"Ada apa?" Tanya Hendra.


"Emm... Minum apa ini? Aku nggak bisa meminumnya."


"Itu hanya minuman bersoda. Nggak ada campuran alkohol nya. Kamu tenang saja."


"Ya. Minuman kita juga bebas alkohol. Lihat, aku nggak mabuk sama sekali saat meminumnya." Timpal Naomi.


Asya mengangguk, lalu meminumnya. Tanpa ia sadari, Naomi dan Hendra saling melempar senyum licik mereka.

__ADS_1


__ADS_2