Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 79


__ADS_3

Undangan pernikahan telah disebarkan sehari setelah acara ulang tahun Asya. Tidak sedikit dari karyawan Grisam Group maupun karyawan Yunanda Group yang terkejut mendengar kabar tersebut. Pasalnya, tidak ada desas-desus mengenai pernikahan Darren dan Asya. Yang mereka tahu hanyalah pernikahan tuan muda kedua dari keluarga Grisam. Hingga timbul persangaka buruk dalam hati mereka. Dan tentunya mereka tidak berani berbicara mengenai hal itu.


Sementara Darren, dia tidak peduli dengan apa yang akan orang pikirkan tentangnya dan Asya. Yang ada di otaknya adalah, dia harus segera mengikat Asya di sisinya selamanya. Dia tidak ingin kehilangan Asya.


Tok... Tok... Tok...


Ketukan pintu ruang kerjanya tak membuatnya mengalihkan tatapannya dari foto Asya, gadis yang ia rindukan.


"Masuk!"


Seorang pelayan masuk dan sedikit membungkuk, menyapa Darren.


"Maaf tuan muda. Di luar ada tuan muda Jiyo. Dia ingin bertemu dengan tuan muda."


"Suruh dia masuk." Jawabnya.


"Baik, tuan muda."


Pelayan itu kembali keluar, dan tak lama, Jiyo masuk. Kening lelaki itu langsung mengerut saat melihat Darren terus fokus pada ponselnya. Ia mendekat, lalu mendongak, mencari tahu apa yang sedang Darren lihat.


"Ck. Ku pikir kamu sedang menonton sesuatu." Ucapnya, lalu berbalik dan duduk di sofa. "Tapi, apa kamu sedang merindukan Asya?"


"Ya."


"Mau ku bantu pertemukan kalian berdua?"


Darren langsung menatap Jiyo. "Katakan saja, apa yang membawamu datang kemari." Ucap Darren, dingin.


"Ck. Kau ini. Baiklah, aku kemari untuk mengantar dokumen ini." Jiyo beranjak dari sofa, kembali mendekati Darren. "Ini dokumen dari perusahaan J. Mereka mengantarnya tadi."


Darren segera meraih dokumen tersebut lalu membacanya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Darren."


"Hmmm."


"Bagaiamana dengan tawaran ku tadi? Aku bisa membantu mu..."


Drrrttt... Drrrttt... Drrttt...


Ucapan Jiyo terpotong oleh getaran ponsel Darren. Tertera nama Paman Edo di layar ponsel tersebut. Darren dengan segera mengangkatnya.


"Hallo,"


"Hallo, Darren. Asya," Suara panik Edo di seberang sana membuat Darren merasa khawatir.


"Paman? Asya kenapa?" Darren bertanya dengan cemas. Begitu juga dengan Jiyo yang berdiri di depannya. Tidak biasanya Paman Edo sepanik itu.


"Asya... Asya tidak sadarkan diri. Dia terpeleset di kamar mandi. Dia..."


Tuutt... Tuutt... Tuutt...


Darren langsung mematikan handphonenya. Ia meraih kunci mobilnya. Tanpa mempedulikan Jiyo ataupun dokumen penting itu, Darren bergegas keluar dari ruangannya dengan langkah tergesa.


Gara, Alula, Darrel dan Aurel yang ada di ruang tamu diabaikan begitu saja olehnya. Dia bahkan tidak melirik mereka sedikitpun. Tak lama, terdengar deru mobilnya keluar dari pekarangan rumah.


"Jiyo!" Jiyo yang hendak mengikuti Darren, menghentikan langkahnya saat Gara memanggilnya.


"Ya, Paman?"


"Darren kenapa?" Tanya Alula. Dia juga mulai merasa cemas. Gara yang melihat perubahan di wajah istrinya pun, menggenggam lembut tangan sang istri.


"Itu tante, Asya terpleset di kamar mandi dan tidak sadarkan diri."


"Ya Tuhan, bagaiamana bisa terjadi?"


"Aku juga nggak tahu, tante."


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Aurel.


"Aku juga nggak tahu."


"Ayo, sekarang kita ke rumaha Paman." Timpal Darrel, yang langsung di setujui semua yang ada di ruangan itu.


Darrel beranjak dari sofa dan mengecup kening Aurel. Saat dirinya dan Jiyo hendak pergi, ponsel Gara berbunyi. Membuat kedua lelaki itu kembali berhenti.


"Edo." Ucap Gara. Dia segera menjawabnya.


"Hallo, Gara."


"Ya."


"Apa Darren sudah kesini?"


"Iya. Bagaimana keadaan Asya?"


"Ck. Putriku tidak apa-apa. Dia baik-baik saja."


"Maksudmu?"


"Tidak terjadi apa-apa pada Asya."

__ADS_1


"Kau membohongi putraku?" Suara Gara terdengar kesal.


"Kau ini! Jangan kesal begitu. Aku hanya ingin melihat, bagaimana reaksi Darren. Hitung-hitung, impas kan dia sama Asya?" Ucap Jiyo, membuat Gara terdiam.


"Gara?"


"Hmm."


"Dengan siapa kau di situ?"


"Banyak."


"Iya banyak. Tapi, siapa-siapa? Ada Alula tidak? Jika ada, sampaikan salam cintaku padanya."


"Kau!!"


"Tenang-tenang aku hanya bercanda hehehe... Katakan pada mereka dan kau juga, jangan beri tahu Darren hal ini."


"Hmmm."


"Gara."


"Hmmm!!"


"Aku mencintaimu. Mmmuuuah."


Tuuutt... Tuuutt... Tuuutt... Edo langsung memutuskan panggilanya.


"Edo sialan!!!" Umpat Gara, kesal.


"Sayang, kenapa marah-marah?" Alula menyentuh tangan Gara. Wajah lelaki itu dengan sekejap berubah menjadi lembut.


"Aku tidak marah-marah, sayang." Gara berucap lembut sambil merangkul istrinya.


Hal itu membuat Darrel, Aurel dan Jiyo tercengang. Cepat sekali Gara merubah ekspresinya.


"Ayo, kita ke kamar saja." Ajak Gara.


"Darren?"


"Tidak terjadi apa-apa. Edo hanya berbohong soal Asya."


"Apa... Paman sedang membalas perbuatan Darren waktu itu?"


"Bisa dibilang begitu." Jawab Gara. "Ayo, sayang." Alula mengangguk. Perasaannya sudah tenang. Ia meraih tangan Gara dan berdiri.


"Tidak boleh ada satu orang pun yang memberi tahu Darren. Biarkan ini menjadi urusannya dengan Edo."


"Baik Paman."


***


Mobil Darren tiba di rumah Asya. Dia berjalan cepat menuju pintu. Namun, dua orang pekerja rumah Asya langsung menghalanginya.


"Tuan muda tidak boleh masuk!" Ucap seorang lelaki yang merupakan seorang keamanan di rumah Asya.


"Ya, tuan. Tuan besar sudah memberitahu kami mengenai kesepakatan tuan muda dan tuan besar." Ucap seorang nya lagi, yang merupakan tukang kebun rumah Asya.


"Pergilah! Kalian tidak perlu ikut campur!" Darren berucap dingin. Sorot matanya menunjukkan jika dirinya tidak suka diperlakukan seperti ini.


"Minggir!" Darren langsung mendorong kedua laki-laki itu, lalu masuk. Langkahnya terhenti saat melihat Edo berdiri tegap di depannya.


"Kenapa kamu menerobos masuk?"


"Maaf jika aku tidak sopan, Paman. Aku hanya ingin melihat kondisi Asya."


"Huh, kamu lupa janjimu?"


"Tidak."


"Sekarang, pulanglah! Kamu tidak di izinkan bertemu Asya."


"Tidak! Aku tidak akan pulang."


"Kamu ingin melanggar janjimu?"


"Darren?" Asya yang baru saja dari kamarnya bingung melihat Darren di rumahnya. Begitu juga Irene yang juga baru kembali dari dapur.


Mata Darren langsung tertuju pada asal suara. "Asya," Tanpa mempedulikan Edo, ia mendekati Asya. Ia memeluk Asya dengan erat. Melepaskannya, mencium keningnya berkali-kali kemudian kembali memeluknya.


"Da-Darren, ada apa ini?"


"Syukurlah kamu baik-baik saja." Ucapnya tak membalas pertanyaan Asya.


Edo tersenyum dalam hati. Wajah bingung putrinya sangat lucu. Dan dirinya juga begitu puas melihat kekhawatiran di wajah Darren yang selalu dingin dan datar itu.


Sementara Irene, ia menatap suaminya. Melihat senyuman tipis di bibir sang suami, membuat ia paham. Ini adalah perbuatan suaminya.


"Apa yang kamu lakukan?" Bisik Irene, setelah berada di samping Edo.


"Hmm? Nggak ada."

__ADS_1


"Jangan bohong sayang. Apa yang kamu katakan sampai Darren mengkhawatirkan Asya seperti itu?"


"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Lihatlah! Darren sangat mencintai putri kita."


"Ya, kamu benar."


Edo tersenyum sambil menatap wajah istrinya. Setelah itu, ia kembali menatap ke arah Darren yang masih terus memeluk Asya.


"Ekhm... Darren!" Panggil Edo, namun didiamkan oleh Darren. Lelaki itu seperti larut dalam memeluk Asya.


"Pernikahan kalian dibatalkan."


Deg...


Jantung Asya seperti berhenti berdetak. Dia tidak ingin pernikahan ini dibatalkan. Memang, awalnya dia belum siap. Tapi sekarang, dia sudah meyakinkan dirinya dan benar-benar siap menikah.


"Papa..."


"Dia sudah melanggar janjinya. Lelaki yang melanggar janjinya, tidak bisa Papa percayakan untuk menjaga putri Papa seumur hidup." Ucap Edo.


"Pa..."


"Meskipun Paman tidak mengizinkan saya menikahi Asya, saya akan tetap menikahinya!" Jawab Darren, dengan sangat tenang dan tegas.


Ia meregangkan pelukannya dan menangkup pipi Asya. Ibu jarinya bergerak mengusap air mata Asya yang menetes.


"Jangan menangis. Kita akan tetap menikah. Seorang Ayah tidak akan menghancurkan kebahagiaan putrinya. Jangan khawatir." Ucap Darren, lembut. Asya yang mendengarnya mengangguk pelan, lalu memeluk Darren.


Edo lagi-lagi tersenyum, begitu juga dengan Irene. Manis sekali saat Darren berbicara lembut pada Asya. Perasaan keduanya menghangat saat melihat putri mereka begitu dicintai.


"Ya, baiklah. Kamu menang sekarang, Darren. Ck. Sulit sekali membuat ketenanganmu itu goyah. Tapi, hari ini aku berhasil melihat ekspresi lain di wajahmu itu. Rasanya senang sekali bisa membuatmu terlihat khawatir, hehehe..." Ucap Edo, terkekeh. "Ah.. Sepertinya aku sudah lapar. Ayo, sayang. Sudah waktunya makan siang." Lanjutnya.


"Ayo." Jawab Irene, memeluk lengan suaminya lalu beranjak menuju ruang makan.


"Papa, ini... Maksudnya bagaimana?" Tanya Asya. Gadis itu melepaskan pelukannya, dan beralih menatap sang Papa dan Mama yang berjalan ke arah ruang makan.


"Kalian jadi menikah. Yang tadi, Papa hanya bercanda." Jawab Edo sambil berteriak.


Asya langsung melompat kegirangan. Ia dengan eratnya memeluk Darren. Senyuman pun menghiasi bibirnya. Ia mendongak menatap Darren.


"Kamu dengar? Papa hanya bercanda. Pernikahan kita tetap dilanjutkan."


"Iya." Jawab Darren, mengecup kening Asya sekali.


Tak lama, terdengar teriakan dari ruang tengah. "Asyaaa..."


"Iya, Ma?"


"Ayo, ajak Darren makan siang dulu. Udah waktunya makan siang."


"Iya, Ma." Jawab Asya. "Ayo, sayang!" Gadis itu menarik tangan Darren, hendak membawanya menuju ruang makan. Namun, tarikannya malah ditahan oleh Darren.


"Ada apa?" Tanya Asya, bingung.


"Ucapkan sekali lagi!"


"Apa?"


"Yang baru saja kamu ucapkan!"


Wajah Asya langsung memerah. Ia benar-benar tidak sadar sudah memanggil Darren dengan sebutan sayang.


"Ayo, kita makan!"


"Bukan yang itu."


"Yang mana? Aku sudah lupa."


"Baiklah. Lupakan saja." Ucap Darren. "Ayo, sayang! Papa dan Mama mu sudah menunggu." Lanjutnya dengan nada mengejek.


"Darreeeen..."


"Apa?"


"Kamu mengejekku ya?"


"Enggak."


"Itu tadi, kamu bilang 'ayo, sayang!' Aku kan juga ngomong gitu tadi."


"Nah, katanya lupa. Sekarang..."


"Yaaa, kamu ngerjain aku? Ih, nyebelin! Nyebelin! Nyebelin!" Asya memukul dan mencubit lengan Darren berkali-kali.


"Aduh-aduh... Shhh..."


"Eh, kamu kenapa?" Asya menghentikan aksinya memukul dan mencubit lengan Darren. Wajahnya berubah khawatir.


"Sakit."


"Aduh, maaf-maaf. Lagian kamu sih, bikin kesal saja." Asya mengusap-usap lengan Darren. "Ayo, kita ke ruang makan. Sudah ditunggu Mama sama Papa."

__ADS_1


"Ayo." Jawab Darren, sambil tersenyum tipis.


Keduanya segera menuju ruang makan.


__ADS_2